Ya Sudah Lah Yah

Pagi itu dingin menyusup hingga ke tulang. Matahari belum menampakkan cahayanya dan memberi sengatan kehangatannya. Bulan masih tampak samar-samar di langit yang sedang mengalami perubahan hari yang belum sempurna. Tanah basah dan becek pun belum beranjak kering sejak hujan tadi malam. Udara masih sejuk, ditambah lagi banyaknya pepohonan di sekolahku.

Ini merupakan minggu pertama di bulan Agustus tahun 2010, aku masuk sekolah baruku. SMA. Maksudnya, aku bukan baru saja pindah dari sekolah lain, tetapi aku baru saja lulus dari SMP tahun ini. Segenap peristiwa dimulai dari geladi resik UN, pelaksanaan UN, pengumuman hasil UN, dan sampailah di SMA ini, akhirnya terlewati juga. Sampai saat ini juga, aku masih belum mengenal seluruh teman-teman kelasku. Tak heran aku pun masih malu-malu dan canggung untuk bergaul dan bergabung dengan mereka, tapi aku akan berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan baruku ini.

Aku melangkah ke dalam kelas dan—sepi. Masih pukul 6 pagi rupanya. Sepi? Tidak. Bukan orangnya, tetapi suasananya. Di kelas sudah ada beberapa teman yang datang. Mereka yang sudah datang, diam di bangkunya masing-masing dan mungkin sesekali berbincang dengan teman lainnya. Teman sebangkuku—Wendy—pastinya ia sudah datang. Dia selalu datang paling awal setiap harinya. Tanpa berpikir, aku langsung melangkah menuju bangkuku. Hal pertama yang pasti kutanyakan ketika sampai di bangkuku padanya adalah—

“Ada PR apa saja hari ini?”

“Hmm… Cuma B. Indonesia saja, yang buat karangan naratif. Kamu sudah?” tanyanya.

“Sudah. Kamu?”

“Sudah, sudah. Coba lihat dong!”

“Nih,” ucapku sambil menyerahkan tugasku pada Wendy. Sebenarnya, perbincangan tadi hanya sekadar basa-basi saja. Toh tanpa menanyakan apakah dia sudah mengerjakan PR atau belum, aku sudah mengetahui jawabannya. Pasti sudah. Dia orangnya rajin, kalau sudah rajin tentu pintar. Aku juga rajin, yah walaupun terkadang ada malasnya juga.

Semakin hari semakin siang, semakin banyak yang mulai berdatangan menuju kelas dan sampailah hingga pukul setengah tujuh tepat—waktunya untuk mengaji—salah satu kebiasaan sekolah baruku sebelum memulai pelajaran.

***

Yee…

Akhirnya hari yang penat ini selesai sudah. Bel pulang telah berbunyi. Aku membereskan barang-barangku di meja dan bergegas pulang menuju rumah. Setiap selesai sekolah, aku selalu langsung pulang ke rumah. Aku berjalan menuju pintu gerbang depan. Sendiri. Oke, aku langsung saja menaiki angkot pertama tepat di depan sekolah. Warnanya  hijau dengan garis berwarna oranye. Yah, orang Bandung pasti tau itu angkot apa. Cuacanya sangat jauh berbeda dengan tadi pagi. Sekarang panas matahari sangat menyengat menembus kulit.

Sebenarnya, aku harus berdiam dulu di sekolah. Ada kumpul pemilihan calon MPK. Ada juga yang OSIS. Awalnya, aku sangat berminat mengikuti organisasi itu, dan juga sudah mengahdiri pertemuan pertama di hari Senin lalu. Tapi karena sifat malasku kambuh, ya,tidak jadi ikut. Ternyata, tidak hanya aku sendiri yang malas, kullihat teman-teman lain yang sebelumnya mengikuti pemilihan calon MPK, telah berada di angkot untuk pulang menuju rumahnya.

Tak terasa, jalanan hari ini tidak terlalu macet dan sampailah di tempat pemberhentian angkot kedua. Sekarang, aku akan menaiki angkot yang berwarna biru dengan garis oranye. Beruntunglah ada satu angkot, sedang berhenti karena lampu merah.Kalau tidak sedang beruntung, aku harus terus berjalan menuju tempat permberhentian angkot, yang parahnya harus melewati segerombolan pengamen-pengamen jalanan yang aku takuti. Ataupun ada alternatif kedua, yaitu harus menyeberangi jalan yang cukup lebar jaraknya menuju tempat pemberhentian angkot lainnya. Faktanya, aku tidak mahir dalam hal menyeberang jalan.

Tanpa berpikir, aku segera menaiki angkot itu sambil melihat waktu yang tersisa bagi lampu merah sebelum masuk ke dalamnya. Masih cukup lama. Sebenarnya, tidak terlalu penting juga mengetahui hal itu. Aku duduk sejajar dengan supir angkot, agak ke dalam tetapi di sebelah kiriku masih terdapat space yang memungkinkan untuk dua orang duduk. Jujur saja, aku lebih menyukai duduk di tempat yang mengarah ke pintu, dekat supir. Selain mendapatkan AC alami yang cukup besar, juga tidak perlu keras-keras mengucapkan kata “kiri” jika hendak turun. Lagi pula, keluarnya pun menjadi lebih mudah. Sambil memindahkan tas dari punggungku ke pangkuanku, tiba-tiba—

Seseorang yang berasal dari sekolah yang sama denganku masuk ke dalam angkot. Cowok. Aku mengetahuinya dari lencana yang dikenakannya. Dia berjaket dan berkacamata. Dia bergerak menuju ke tempat kosong di sebelah kiriku. Setelah duduk, dia melihat alokasiku. Sungguh, itu saja sudah membuatku kesal. Lalu ia segera memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela belakang mobil. Baru kusadari bahwa ia masih mengenakan kaus kaki SMP. Pasti masih kelas sepuluh, pikirku dalam hati.

“Kelas sepuluh apa?” Tanyanya tiba-tiba.

Lho, kok tahu aku masih kelas sepuluh? Pikirku dalam hati. Ya, aku jawab saja, “C,” hanya satu kata itu yang keluar dari mulutku. Jika dipikir-pikir, daripada diam, aku balik tanya dia hanya sekadar iseng, “kamu?”

“…”

Krena tidak jelas, aku bertanya lagi, “hah?”

“…”

Sebenarnya, aku masih tidak tahu dia berkata apa. D atau B. Karena tidak mau dikira mengidap ‘gangguan telinga’ aku jawab saja, “Oh.” Ya sudah lah yah, lupakan saja.

Hening sejenak.

Segerombolan ibu-ibu tiba-tiba naik ke dalam angkot, memenuhi isinya di saat-saat lampu merah akan segera beralih menjadi lampu hijau. Pikirku, daripada bergeser ke dalam, disamping pengap, aku tidak mau juga dekat-dekat dia. Akhirnya aku memutuskan untuk bergeser ke kanan. Dia masih menatap keluar jendela, mungkin tidak menyadari jika ada yang akan menaiki angkot. Dia berpaling. Seperti terlihat terkejut dan sedikit berpikir, dia bergeser ke—kanan. Yah, musibah. Mana penuh lagi. Kalau saja aku bisa melihat wajahku sendiri, mungkin wajahku seperti sedang dilanda bete tingkat tinggi. Aku langsung menyandarkan daguku pada salah satu tanganku.

Lampu merah pun telah berubah wujud menjadi berwarna hijau, tanda mobil akan melaju.

Setengah perjalanan. Hening. Akhirnya dia mengalah untuk bertanya terlebih dahulu.

“Ikut POD gak?” Tanyanya.

Karena tidak tahu, aku bertanya. ‘Malu bertanya sesat di jalan’. Sebenarnya tidak akan tersesat di jalan juga sih kalau tidak bertanya masalah ini. “Apaan tuh POD?”

“Pemilihan Osis Dua sama MPK.”

“Oh.” Wah, tahunya OSIS dan MPK. Masa yang begitu saja aku tidak tahu sih? Sepertinya aku telah tertinggal informasi terkini. Aku pun melanjutkannya, “Awalnya sih ikut, MPK, tapi gak jadi. Padahal udah nyatet syarat-syaratnya.”

“Males ya?” Tanggapnya.

Aku hanya mengangguk. Aku pikir dia juga tidak ikut serta dalam organisasi itu.

“Ikut kayak danus gitu gak?” Tanyanya lagi. Oh iya, tahun ini sekolahku akan mengaakan bazar, jadi ada panitia-panitia penyelenggaranya seperti danus (dana usaha), perizinan, publikasi, dan masih banyak lagi.

“Gak.”

“Yah.” Jawabnya sambil memanjangkan bunyi pada huruf ‘a’. Lebih terdengar seperti menyesal. Dalam hati aku berteriak, APA URUSAN LO, HAH?

“Ekskul wajib apa?”

“PMR”

“Sama.” Jawabnya lagi-lagi sambil menekankan bunyi pada huruf ‘m’, bagaikan terdapat tanda baca tasydid di dalam bahasa Arab sepanjang dua harakat. Tingkat kekesalanku semakin meningkat saja.

Tak lama setelah itu, aku segera mengeluarkan selembar uang lima ribu rupiah dari dalam sakuku, walaupun jalan menuju rumah masih agak jauh.

Tak terasa dalam suasana hening sepanjang setengah perjalanan, aku hampir sampai rumah. Rasanya tidak dapat menghilangkan pikiran untuk bertanya, ‘kamu turun di mana?’. Karena berhubung sebentar lagi aku akan turun, jadi kutelan kembali kata-kata itu.

“Kiri kiri,” seruku pada supir angkot. Karena tidak mau dicap sombong, aku berkata, ”Duluan ya!” Senangnya dapat terbebas dari peristiwa ini.

Aku beranjak dari tempat dudukku, tapi sepertinya dia juga sedang bersiap-siap akan ikut—turun. Hah?

“Bareng, bareng.” katanya. Arrggghh… Masa bareng lagi?

Setelah turun dari angkot, aku menyerahkan uang pada supir. Dia pun sama, tetapi uang pas.

Sambil menunggu uang kembalian dari supir angkot, dia bertanya lagi, “Emang rumah kamu di mana?”

Udah tau di sini, pake nanya lagi?, ucapku dalam hati. Karena sibuk menerima kembalian dari supir angkot, aku menyelanya, “Bentar, bentar.” Aku semoat bingung mau menjawab apa. ‘Di sini.’ Masa sih? “Nomor 54,” akhirnya jawabku sambil berjalan menuju jalan ke rumah. Tidak ada tanggapan apapun darinya.

Perjalanan menuju rumah cukup jauh. Selama perjalanan dia sibuk memainkan HP-nya. Karena belum kenal, aku berjalan di depannya. Tak terasa hampir sampai, aku pun berhenti sejenak untuk menyejajarkan langkahku dengan langkahnya. Sesaat dia melirikku, lalu kembali lagi pada HP-nya.

Akhirnya, giliranku kini yang bertanya, ”Rumah kamu ke mana?”

“Belok kanan,” sambil menunjukkan arah dengan salah satu tangannya.

“Kanan?” Tanyaku untuk meyakinkannya. Lebih disebabkan karena bingung, karena di depan ada dua belokan, yaitu belokan yang benar-benar belok kanan dan belokan serong kanan.

Dia hanya mengangguk.

“Kalau aku belok kiri.” Tadinya, aku sangka dia tidak dapat mendengar kata-kataku tadi karena uaraku kecilnya volume suaraku.

“Masuk komplek peumahan AURI?” Akhirnya ia menanggapi.

Aku menggelengkan kepala. Memang di depan ada satu lagi belokan ke arah serong kiri, itu merupakan daerah perumahan AURI yang berwarna serba biru. Sebenarnya, yang kumaksudkan di sini belok kiri adalah di sini. Sudah sampai.

“Duluan ya!” Sahutku padanya, entah kenapa aku tidak lagi kesal padanya.

“Yo!” Sahutnya sambil menganggukkan kepala, lalu berjalan terus menuju rumahnya. Oh iya, aku baru teringat jika aku belum menyanyakan siapa namanya..

Selama perjalanan pulang ke rumah, entah mengapa aku jadi merasa senang. Yah, jangan-jangan aku jadi suka lagi sama si dia.

***

Beberapa minggu telah berlalu. Aku sudah mulai akrab dengan teman-temanku, termasuk Hilda. Aku pun mulai bercerita semuanya kepada Hilda, lalu tak lupa kepada teman sebangkuku Wendy. Sebenarnya, aku sudah melupakan hal itu beberapa minggu ke belakang, tapi tetap saja aku ingin sekali menceritakannya kepada teman-temanku, rasanya seperti terbebas dari sebuah beban jika sudah bercerita.

Aku pun menunjukkan siapa orangnya pada mereka. Aku berusaha ingin menyapanya, tapi ragu dia masih mengenaliku. Ketika kami saling berpapasan, dia sama sekali tidak menyapaku. Mungkin dia sudah lupa. Ah masa sih lupa?

Tak lama setelah itu, akhirnya aku mendapat jawaban dari rasa penasaranku tentang siapa namanya, dari salah satu situs jejaring social, entah itu benar atau tidak. Ternyata benar. Namanya—

Hmm, tidak akan kuberitahu. Wah, bisa gawat kalau-kalau dia membaca cerpen ini. Hanya satu penyesalanku yang tak pernah terlupakan, ‘Andai saja waktu itu aku menanyakan namanya, dia pasti masih mengenaliku’. Ya sudah lah ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s