When You Came Into My Life [Part 1]

Angin musim gugur berhembus kencang. Daun-daun jatuh berguguran, memenuhi permukaan jalanan yang tampak sepi. Udara terasa dingin, namun sejuk. Gadis itu kini sedang berjalan cepat melewati deretan toko-toko kecil—yang sepertinya belum ada yang buka satu pun sepagi ini. Sesekali ia melirik ke sekitar dengan tatapan cemas, lalu kembali menatap jalanan yang ada di depannya. Rasa dingin yang menancap ke tubuhnya membuat ia merapatkan mantel cokelat yang selalu dikenakannya akhir-akhir ini, kemudian mempercepat langkahnya menuju sekolah sebelum orang-orang mulai berdatangan memenuhi jalanan.

Ji-Young dan keluarganya bertempat tinggal sementara—ia adalah pendatang dari Korea, pindah ke Amerika karena tuntutan kerja orangtuanya–di salah satu kawasan sepi dan cukup jauh dari kota di Amerika. Oleh karena itu, jarak antara rumah dan sekolahnya—yang berada di kota—terbilang cukup jauh. Ia memilih untuk menempuhnya dengan berjalan ketimbang menaiki kendaraan umum. Lagi pula, tak ada kendaraan yang beroperasi sepagi ini. Terkadang, ia memaksa ayahnya untuk mengantarnya apabila ia sedikit terlambat untuk datang pagi.

Gerbang sekolah sudah terlihat dari kejauhan dan belum terbuka lebar, menandakan belum banyak yang datang. Mungkin hanya ada dua atau tiga orang—termasuk dirinya. Rasa dingin segera menancap ke kulitnya ketika ia mencoba mendorong gerbang yang berlapiskan besi itu.

Sekolah masih sepi, yang terlihat hanyalah para petugas yang sedang membersihkan taman sekolah. Gadis itu segera menaiki tangga menuju kelas jam pertamanya—Biologi—yang berada di lantai dua. Tak ada siapapun di kelas kecuali dirinya. Ia segera mengambil bangku favoritnya—lebih karena ia merasa aman—yang berada di paling depan. Tak lama, ia duduk dan segera menyibukkan diri dengan membaca komik.

Ia adalah orang pertama yang  berada di kelas dan keadaan ini sebaiknya berlangsung setiap hari. Karena jika tidak, sesuatu yang buruk akan terjadi.

***

Kelas yang sedari tadi kosong kini mulai terisi penuh, menciptakan suasana ramai di dalamnya. Suara orang bergumam, bernyanyi dan tertawa bercampur menjadi sebuah suara abstrak yang membuat kepala Ji-Young terasa sakit dan napasnya menjadi sesak. Biasanya, ia akan segera menutup kedua telinganya apabila hal ini mulai terjadi. Tetapi kali ini ia mencoba untuk tidak melakukannya terlebih dahulu.

Di antara suara abstrak itu, sesaat ia mendengar kata-kata seperti dungu, aneh, dan bodoh—kata-kata yang sering didengarnya saat di kelas—yang ditujukan padanya. Ia tahu bahwa kata-kata itu pasti berasal dari Helen—anak populer di kelas—dan teman kelompoknya.

“Mungkin tak akan lama lagi ia akan menutup kedua telinganya dan terlihat begitu bodoh.” Terdengar suara lantang Helen diiringi tawa teman-temannya. Ia mencoba untuk tidak melakukannya, walaupun sebenarnya ia sangat ingin meredam suara-suara itu. Omongan mereka akan terbukti apabila ia melakukannya sekarang.

“Coba kita tebak. Berapa lama ia akan bertahan sampai…” Kata-katanya terputus dan menggantung di udara begitu saja. Seisi kelas seketika hening. Mr. Frank—guru Biologi—telah datang dengan buku tebal di salah satu tangannya.

Akhirnya bahaya itu pun berakhir sejenak.

***

Ji-Young pergi meninggalkan kelas menuju kantin saat jam istirahat. Ia sengaja menunggu hingga seluruh temannya keluar dan akhirnya hanya tersisa dirinya. Jujur saja, belajar di sekolah terasa begitu lama baginya. Selalu ingin cepat pulang ke rumah.

Seperti biasa, ia pergi ke kantin hanya untuk membeli es krim kesukaannya—rasa vanilla bersaus cokelat lezat. Selanjutnya, ia akan segera pergi ke taman yang dibilang cukup sepi karena sebagian besar anak-anak lainnya akan memilih menghabiskan jam istirahat di kantin bersama teman-temannya.

Sebelum mengatakan apapun, penjaga konter es krim sudah mengetahui apa yang akan dipesan Ji-Young. “Es krim vanilla saus cokelat?” kata penjaga konter es krim itu sambil tersenyum kepadanya. Gadis itu hanya balas menggangguk pasti dan tersenyum tipis.

Penjaga konter es krim menghilang seketika. Tak lama, muncullah ia dengan membawa sebuah es krim pesanan Ji-Young dan segera menyerahkannya. Ji-Young segera membalikkan tubuhnya penuh semangat hingga tak menyadari sesuatu terjadi. Ia menabrak seorang laki-laki di belakangnya. Es krim yang baru saja didapatkannya tumpah mengenai jaket laki-laki itu.

Ya ampun, betapa bodohnya aku. Bodoh. Bodoh. Seharusnya aku lebih berhati-hati. Sekarang apa yang harus kulakukan? Mungkin ia akan memarahiku habis-habisan sekarang, kemudian akan dilanjutkan dengan acara mengolok-olokku. Dan yang lebih buruk, aku akan terlihat bodoh di depan orang-orang, kata Ji-Young dalam hati.

Ji-Young menunduk dalam-dalam, berharap ia akan segera mengecil dan menghilang begitu saja. Ia terlalu takut untuk meminta maaf dan membersihkan sisa-sisa es krim yang tumpah di jaket orang itu. Saat ini tak ada yang dapat dilakukannya selain diam, sudah siap menerima hal buruk yang akan terjadi.

“Sudahlah, tidak perlu merasa bersalah. Noda ini bisa kubersihkan nanti,” gumam laki-laki itu. Ji-Young masih tidak percaya akan perkataan tadi. Apakah mungkin ia salah dengar? Atau mungkin bisa saja perkataan tadi hanya untuk mengoloknya, dan akan ada perkataan buruk selanjutnya.

Gadis itu memberanikan diri menengadah untuk menatapnya, masih tidak percaya akan perkataan tadi. Matanya menelusuri setiap bentuk wajahnya. Sepertinya, ia seumuran dengannya. Matanya yang tidak terlalu besar berwarna cokelat tua, lebih menyerupai hitam. Rambutnya yang lurus dan berwarna hitam hampir menutupi setengah bagian telinganya. Poninya jatuh menutupi seluruh bagian dahinya hingga alis, menambah kesan flower boy nya. Rahangnya tegas dan tulang pipinya terlihat jelas. Kulitnya putih bersih–kulit khas Asia. Ji-Young pikir, ia lebih seperti orang Jepang, atau mungkin Korea.

Sebuah senyum terulas di bibirnya. “Lain kali, berhati-hatilah.” Ternyata ia memiliki lesung pipi ketika tersenyum.

Ji-Young hanya membalasnya dengan raut wajah bingung akan kenyataan yang sedang dihadapinya. Yah, mungkin saja dirinya sedang tertidur di kelas dan bermimpi. Mungkin sebentar lagi, Mr. Frank akan membangunkannya dan memarahinya.

“Apakah kau orang Korea? Siapa namamu?” tanya laki-laki itu, terlalu lancang.

Ji-Young masih menatapnya, kemudian menggelengkan kepala dan segera pergi meninggalkannya tanpa jawaban yang terucap. Ia berharap dapat segera terbangun dari mimpinya dan kembali ke dunia nyata, bukan dunia mimpi.

Namun pada akhirnya ia menyadari bahwa ia tidak sedang bermimpi, melainkan kenyataan.

***

Selama jam istirahat berlangsung, Ji-Young menghabiskannya dengan duduk di kelas Matematika. Kejadian yang berlangsung di kantin itu membuatnya merasa malu dan menyesal untuk pergi ke kantin lagi. Ditambah, ia sudah bersikap tidak sopan kepada laki-laki itu–dengan meninggalkannya begitu saja tanpa pernyataan maaf dan menjawab pertanyaannya. Dan ia pun terpaksa harus kehilangan es krimnya.

Seperti biasa, ia duduk di barisan terdepan. Lambat laun, kelas mulai terisi penuh dan suara abstrak itu pun muncul kembali. Dan sialnya, Helen dan teman-temannya berada satu kelas lagi dengannya. Ia tak habis pikir, mengapa Helen memilih kelas yang sama dengannya. Apakah hanya kebetulan atau memang kesengajaan?

Semakin penuh, semakin Ji-Young menundukkan kepalanya yang mulai terasa sakit. Namun seketika, seisi kelas menjadi hening. Mr. Calc tidak akan datang secepat ini. Mungkin penyebabnya kali ini berbeda. Penasaran, ia sedikit melirik ke arah pusat perhatian, kemudian cepat cepat menundukkan kepalanya kembali. Kali ini ia merasa sangat malu karena orang itu adalah orang yang dikenai tumpahan es krim olehnya. Laki-laki itu tampak bingung, tapi berusaha mengenyahkannya. Ia tidak lagi mengenakan jaketnya yang terkena tumpahan es krim, melainkan hanya mengenakan kaus tangan panjang. Keadaan itu membuat gadis itu merasa semakin bersalah.

Selama laki-laki itu melangkah menuju bangku kosong yang berada tepat di sebelah Ji-Young, beberapa suara berupa bisikan mulai terdengar.

“Siapa dia?”

“Hmm, mungkin murid baru.”

“Mungkin asal Asia, seperti Jepang atau Korea.”

“Kasihan dia, duduk di sebelah Ji-Young.”

“Kurasa, mereka cocok. Yang satu tampan dan yang satu, yah walaupun sulit mengakuinya, Ji-Young memang cantik.”

“Ya, cantik tapi aneh.” Suara Helen terdengar lantang, disambut suara tawa teman-temannya.

Kali ini ia tidak dapat menahannya lagi. Ditutupnya kedua telinganya rapat-rapat, tak ingin lagi mendengar kata-kata cemoohan yang ditujukan untuknya.

***

Ji-Young masih duduk rapi di bangkunya, menunggu hingga kelas benar-benar kosong. Namun anehnya, laki-laki di sebelahnya itu tak kunjung beranjak dari bangkunya. Sesekali laki-laki itu melirik ke arahnya, lalu beralih mengedarkan pandangan ke sekeliling, dilanjutkan dengan melirik jam tangan yang dikenakannya untuk yang kesekian kalinya. Laki-laki itu tampak bingung, seperti menyadari suatu keanehan yang terjadi pada gadis itu.

Sekarang kelas sudah benar-benar kosong. Hanya tersisa mereka berdua.

“Kenapa kau tidak pulang?” tanya laki-laki itu memulai pembicaraan sambil menoleh ke arah gadis itu.

Ji-Young terdiam. Bingung akan menjawab apa. “Menunggu sekolah sepi,” jawabnya singkat setelah hening lama. Suaranya begitu pelan, nyaris seperti sebuah bisikan. Ia pikir, laki-laki itu tidak dapat mendengar apa yang ia katakan.

“Ooh,” jawab laki-laki itu tanpa menanyakan alasannya. Mungkin takut menyakiti hatinya. Sejenak ia mengalihkan pandangan dari gadis di sebelahnya itu, lalu kembali menatapnya. “Kalau aku tidak pulang sebelum kau pulang, apa kau akan tetap di sini?” tanyanya. Pertanyaan itu membuat Ji-Young jengkel, seperti ingin menantangnya.

Ji-Young terdiam.

“Kalau begitu aku akan menunggu sampai kau pulang,” gumam laki-laki itu bahkan sebelum mendengar jawaban dari Ji-Young.

“Aku akan pulang sekarang.” Ji-Young beranjak dari bangkunya, berusaha menghindari pembicaraan dengan laki-laki itu. Terpaksa ia mengalah untuk pulang duluan.

“Hmm… soal di kantin tadi…,” gumam laki-laki itu, mengungkit masalah itu lagi. “Sepertinya aku belum mendengar pernyataan maaf darimu.”

Ji-Young merasa semakin jengkel dengan laki-laki itu. Rasa malunya trehadap laki-laki itu berubah menjadi jengkel. Ia terpaksa berbalik menghadap laki-laki itu, mengurungkan niatnya untuk segera keluar kelas.

“Yasudah, maaf,” desis Ji-Young singkat dengan raut wajah jengkel.

“Kau kalau bicara singkat ya? Seperti robot,” gumam laki-laki itu, sambil tertawa kecil.

Apanya yang lucu? Aneh, pikir Ji-Young. Sekarang siapa yang aneh? Apakah ia sedang mengoloknya atau apa?

Ji-Young cepat cepat keluar dari kelas, meninggalkan laki-laki itu sendirian. Tidak akan menyelesaikan masalah apabila ia berlama-lama di sana.

“Ji-Young tunggu!” seru laki-laki itu, mengejar Ji-Young.

Gadis itu pura-pura tidak mendengarnya dan terus mempercepat langkahnya. Sekolah benar-benar sepi sekarang, namun jalanan pasti ramai.

“Tunggu, maafkan aku.” Akhirnya laki-laki itu berhasil mengejar Ji-Young dan menghalangi jalannya, nafasnya tersengal-sengal. “Aku tidak bermaksud mengejekmu tadi. Aku hanya ingin mengenalmu dan mencari teman. Dan mungkin aku bisa membantu mengatasi masalahmu di kelas.”

“Terima kasih mau menjadi temanku, tapi itu bukan urusanmu. Lagi pula aku tidak punya masalah apa-apa di kelas,” jawabnya kali ini dengan panjang lebar.

“Maaf, tapi kau dibilang aneh oleh teman-temanmu,” gumam laki-laki itu hati-hati, takut menyakiti perasaannya.

“Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu,” kata Ji-Young agak sedih. “Maaf aku harus pergi sekarang.”

Laki-laki itu hanya mengangguk pelan, membolehkannya untuk pergi. Lagi-lagi dengan tampak bingung. Gadis itu masih bertanya-tanya, apakah laki-laki itu benar-benar ingin berteman dengannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s