When You Came Into My Life [Part 2]

“Omonaa!” desah Ji-Young karena bangun kesiangan. Mungkin akibat susah tidur semalaman karena memikirkan kejadian di sekolah kemarin. Kata-kata laki-laki itu benar-benar sudah mengganggu pikirannya.

Dimasukannya buku-buku ke dalam tas dengan tergesa-gesa, mandi cepat, lalu seperti biasa mengepang satu rambut hitamnya yang panjang. Kali ini, ia terpaksa harus meminta antar ayahnya ke sekolah. Demi anak satu-satunya itu, ayahnya menyanggupi permintaannya untuk mengantarnya hingga gerbang sekolah.

Gerbang sekolah sudah hampir ditutup. Ia cepat-cepat masuk ke dalamnya sambil mencemaskan kemungkinan yang akan terjadi. Sekolah sudah ramai. Ia menutup kedua telinganya, tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.

Kali ini ia menuju kelas Bahasa Inggris. Terdengar ramai dari luar. Degan ragu-ragu ia masuk ke dalamnya, memberanikan diri menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Ia tidak menutup kedua telinganya lagi.

“Hei, si aneh datang!” suara Helen terdengar jelas ketia JI-Young memasuki kelas.

“Aneh, biasanya dia datang lebih awal,” sahut Christy, salah satu teman Helen.

Ji-Young cepat-cepat berjalan menuju bangkunya tanpa menyadari bahwa tiba-tiba tubuhnya melayang jatuh ke lantai. Ia tersandung sebuah kaki yang sepertinya sengaja untuk menjebaknya. Sekarang ia benar-benar berada di lantai dalam posisi tengkurap. Rasa sakit mulai menjalari kedua lutut dan sikunya.

Semakin hari keadaan ini semakin memburuk. Sempat ia berpikir bahwa keputusannya untuk memasuki sekolah formal itu salah. Seisi kelas sedang menertawakannya sekarang. Ji-Young berusaha untuk bangun walaupun rasa sakit itu terus menyerangnya. Suara itu semakin keras terdengar ketika ia berusaha meredamnya dengan menutup kedua telinganya dengan tangannya. Ia juga menutup kedua matanya dan diam dengan posisi meringkuk di lantai, menghindari setiap dentuman mengerikan yang membuatnya sesak. Ia tak dapat berpikir jernih lagi sekarang selain pasrah menunggu semuanya berakhir dengan sendirinya.

Sebuah tangan menarik tubuhnya untuk berdiri. Cengkeramannya lembut, namun tegas. Ji-Young berusaha untuk bangkit namun belum berani membukakan kedua telinganya.

“Hei, kenapa dia menolongnya?” Terdengar nada bingung Christy walaupun Ji-Young masih metutup kedua telinga dan matanya. Mereka mulai saling membisikkan sesuatu, mengira-ngira apa yang sedang terjadi.

Sebuah suara terdengar seperti sedang mengata-ngatai seseorang, namun tidak terlalu jelas apa yang dikatakan orang itu. Saat ini yang dapat dilakukan Ji-Young hanyalah pasrah, mengikuti arah cengkeraman itu membawanya. Ternyata ia dibawa ke bangkunya dan disuruhnya untuk duduk.

“Sekarang coba lepaskan tanganmu dan buka matamu,” pinta orang itu dengan nada rendah, lebih terdengar seperti bisikan. Cukup dekat untuk dapat terdengar dengan telinga tertutup.

Ji-Young menuruti perintahnya, masih dalam keadaan menunduk. Dibukanya kedua tangan dan matanya, dibantu oleh cengkeraman orang itu pada kedua tangannya secara perlahan. Sekarang ia dapat mendengar seisi kelas tidak lagi membicarakannya, melainkan sudah kembali ramai seperti biasanya. Dilihatnya orang yang berada di depannya itu—orang yang sudah menolongnya tadi—sedang menunduk dan tersenyum padanya.

“Sekarang sudah merasa lebih baik?”

***

Kebaikan laki-laki itu sudah terlalu banyak bagi Ji-Young—mulai dari kejadian di kantin kemarin, hingga menolongnya dari terjatuh di lantai. Ia merasa semakin bingung untuk membalasnya. Mungkin permintaan berteman dengannya itu benar-benar tulus, pikirnya. Mulai saat ini ia akan berusaha baik dan berbicara padanya. Namun ia masih belum berani untuk memulai pembicaraan duluan. Menunggu untuk diajak bicara.

Namun anehnya, laki-laki keluar duluan saat jam istirahat, tidak menunggunya seperti kemarin. Tanpa memedulikannya, Ji-Young segera beranjak dari bangkunya—karena kelas sudah kosong—kemudian cepat-cepat melangkah menuju kelas selanjutnya—Geografi—tanpa pergi ke kantin terlebih dahulu.

Semakin lama, ia semakin memikirkan kemana perginya laki-laki itu. Mengapa ia pergi secepat itu. Apa kelas yang diikutinya selanjutnya, dan apakah ia masih bisa bertemu dengannya. Oh tidak. Sejauh ini ia tidak pernah memikirkan seseorang seperti ini. Pada akhirnya ia mengeluarkan sebuah komik untuk meredam pikiran-pikirannya.

Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebuah es krim vanilla bersaus cokelat kesukaannya. Ji-Young sedikit terkejut, lalu menengadah agar dapat melihat wajahnya. Sedikit ia merasa senang akan kehadiran laki-laki yang sedang menatapnya sambil tersenyum tipis itu. Menurutnya kehadiran laki-laki itu selalu penuh kejutan, yah walaupun sedikit menjengkelkan.

“Ayo, sebelum es krimnya meleleh,” kata laki-laki itu.

“Terima kasih,” gumam Ji-Young sambil menerima es krim itu. Sebuah senyum tipis terulas di bibirnya. Senyum bahagia yang jarang dikeluarkannya.

Laki-laki itu segera menduduki bangku di sebelah Ji-Young. Melahap es krim cokelat yang ternyata dipegangnya di tangan yang satunya. Matanya menatap lurus ke depan. “Ngomong-ngomong, maaf tadi meninggalkanmu.” Laki-laki itu memandangi es krimnya sejenak. “Aku harus cepat-cepat membeli es krim ini untukmu sebelum orang-orang kembali ke kelas.” Pandangannya beralih kepada gadis itu. “Aku tahu, kau selalu menunggu sepi kan?”

Ji-Young mengangguk, menandakan bahwa penyataan laki-laki itu benar.

“Hmm… kalau boleh tahu, kenapa?” tanya laki-laki itu penasaran.

Hening lama. “Aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Maaf,” jawab Ji-Young sedikit merasa bersalah.

“Oke, tidak apa-apa. Kau boleh menceritakannya padaku kapan-kapan,” kata laki-laki itu dengan raut wajah yang meminta gadis itu untuk memercayainya. “Oh ya, aku hampir lupa. Kita belum berkenalan, bukan?

Ji-Young baru tersadar bahwa selama ini mereka belum sempat berkenalan. Hingga saat ini, ia tidak mengetahui nama laki-laki itu. Gadis itu berhenti melahap es krimnya, lalu mengangguk dan menatap laki-laki itu. Wajah tampannya semakin terlihat jelas di bawah pantulan sinar matahari.

“Namaku Lee Jong-Hoon, panggil saja Jong-Hoon. Aku berasal dari Korea. Dan aku tahu namamu Ji-Young,” kata laki-laki itu ramah sambil tersenyum tipis. “Nama kepanjanganmu apa?”

“Han Ji-Young. Aku juga berasal dari Korea, tepatnya di Seoul.”

“Ooh… kalau aku dari Busan.” Es krim yang tadi dilahapnya sudah habis sekarang. “Oh ya, siapa tadi gadis yang suka mengataimu itu?”

“Helen. Penguasa kelas di setiap kelas yang diikutinya,” desah Ji-Young, lebih tidak ingin membicarakannya saat ini.

Jong-Hoon berpikir-pikir. “Hmm… tidak salah,” gumamnya sambil mengangguk-angguk memikirkan sesuatu. Pandangannya beralih.

“Apanya?” tanya Ji-Young penasaran.

“Ia cantik,” jawab Jong-Hoon. Matanya kembali menatap lurus ke depan.

Ji-Young terdiam, mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sedikit kecewa atas pernyataan itu.

“Tapi hatinya tidak.” Sekarang Jong-Hoon kembali menatap gadis itu. “Tidak perlu merasa cemburu begitu. Lagi pula aku tidak akan menyukainya,” godanya sambil tertawa geli.

Gadis itu masih terdiam. Pura-pura tidak peduli dengan perkataannya. Lagi-lagi laki-laki ini membuatnya jengkel. Namun di bagian hatinya yang terkecil, ia merasakan sedikit perasaan lega.

***

“Siapa itu Ji-Young?” tanya ibunya dengan raut wajah cemas sambil berjalan menghampiri Ji-Young yang baru saja turun dari sebuah mobil BMW berwarna hitam. Kemudian gadis itu melambai ke arah mobil.

“Teman ma,” jawab Ji-Young sambil tersenyum senang pada ibunya.

Ibunya memasang raut wajah heran. Mungkin karena tidak biasa melihat putrinya tersenyum sepulang sekolah. “Laki-laki atau perempuan?” selidik mamanya.

“Hmm… laki-laki ma,” jawab Ji-Young ragu-ragu, takut akan tanggapan mamanya nanti. “Tapi dia baik kok ma. Mama tidak perlu khawatir,” kata Ji-Young memastikan.

Ibunya hanya mengangguk pelan. “Ya, tapi kau harus tetap berhati-hati Ji-Young. Jangan terbawa dengan sikap baiknya.”

“Ya, Ma,” jawab Ji-Young singkat. Ia yakin, Jong-Hoon adalah orang yang benar-benar baik.

Pulang sekolah tadi, memang Jong-Hoon memaksa untuk mengantarnya pulang. Sebenarnya ia senang akan tawaran laki-laki itu, namun ia hanya tidak ingin merepotkannya. Yah, daripada harus menaiki bus atau berjalan kaki.

“Tenang saja, aku tidak akan menculikmu,” kata Jong-Hoon memastikan.

Selama berada di dalam mobil, Ji-Young lebih banyak diam. Ia mendengarkan dengan baik semua hal yang diceritakan laki-laki itu padanya. Mulai dari alasan kepindahannya ke Amerika karena Ibunya hrus menjalani perawatan di Amerika selama 1 tahun. Ibunya mengidap penyakit …………–yang memang jarang ditemukan—dan dokter menganjurkan untuk melakukan perawatan di Amerika. Ji-Young yang mendengarnya merasa sedih.

“Semoga cepat sembuh. Sampaikan salamku pada ibumu.”

“Terima kasih. Akan kusampaikan nanti,” kata Jong-Hoon sedih. Pandangannya konsentrasi pada jalanan di depan.

“Apakah kau akan kembali ke Korea setelah perawatan ibumu selesai?” tanya Ji-Young.

“Hmm… mungkin. Aku belum tahu.”

Ji-Young terdiam setelah mendengar pernyataan itu. Berbagai pemikiran jauh tentang dirinya akan segera kehilangan seseorang suatu saat nanti melanda Ji-Young. Ia sendiri tidak tahu entah kapan keluarganya akan kembali ke Korea.

“Kenapa? Takut kehilanganku ya?” tebak Jong-Hoon memecah keheningan dengan candaannya.

Ji-Young memukul tangan laki-laki itu dan memasang wajah cemberut. Laki-laki itu hanya balas tertawa geli.

“Oh ya, sekarang giliranmu bercerita,” pinta Jong-Hoon.

Ji-Young akhirnya bercerita tentang dirinya yang pindah ke Amerika karena ikut ayahnya yang sedang bertugas. Ia juga bercerita bahwa dirinya anak tunggal. Maka dari itu, ia tidak mempunyai teman di rumahnya. Di rumah ia hanya berkomunikasi dengan orang tuanya, itupun jarang dilakukannya.

“Lalu, kenapa kau selalu menunggu sepI?” tanya laki-laki yang sejak pertama kali mengenal gadis itu penasaran.

“Hmm… aku memiliki phobia terhadap keramaian. Terkadang suara-suara itu membuatku sakit dan sesak. Jadi, aku selalu berusaha meredamnya dengan menutup kedua telingaku.” Gadis itu berhenti sejenak. “Maka dari itu teman-teman mengataiku aneh. Keadaan itu menjadikanku jarang berkomunikasi dengan orang lain dan memilih untuk selalu menyendiri,” jelas Ji-Young panjang lebar menjawab rasa penasaran laki-laki itu selama ini.

“Pantas saja kau bicara singkat. Kukira tadinya kau tidak bisa bicara, “guman Jong-Hoon. “Kurasa kau harus membiasakan diri berada di tempat ramai,” katanya menatap Ji-Young sambil tersenyum dengan raut wajah memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ya, memang selama hidupnya Ji-Young hampir tidak pernah keluar rumah. Home Schooling selalu menjadi pilihannya daripada masuk sekolah formal. Hanya ketika ia memasuki jenjang High School, ia memilih sekolah formal—mencoba untuk menjadi normal seperti anak-anak lainnya—walaupun sebenarnya ia menyesali pilihan itu.

Tapi sekarang ia menarik kembali rasa penyesalan itu, karena ia tak perlu lagi khawatir. Ia telah memiliki seseorang yang akan selalu melindunginya dan menjaganya selama ia berada di sekolah. Maka dari itu, Jong-Hoon akhirnya memutuskan untuk memilih kelas yang sama dengan Ji-Young. Dan mulai besok, laki-laki itu akan mengantar-jemputnya ke sekolah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s