Cerita di Pulau Tidung [Part 1]

Pagi itu cuaca cerah sekali. Langit tampak berwarna biru seluruhnya, dilengkapi dengan awan yang membentuk cirrus. Udara masih sangat sejuk untuk dihirup. Matahari pun belum muncul seutuhnya, sehingga sinarnya belum begitu menyilaukan tetapi cukup menghangatkan udara yang dingin.

“Hmm.. masih jam setengah tujuh rupanya,” gumam Minori sembari melirik jam di tangannya. Dia harus sudah berada di sekolah pada pukul 7. Oleh karena lama perjalanan dari rumah menuju sekolahnya ditempuh dalam waktu setengah jam, maka ia memutuskan untuk berangkat sekarang.

“Ma, aku berangkat sekarang yaa!” seru Minori pada Mamanya sembari menghampiri Mamanya yang sedang berada di ruang dapur.

“Hati-hati di jalan ya! Sudah diperiksa lagi? Barang-barangnya ada yang ketinggalan?” ucap Mamanya khawatir.

“Sudah Ma. Sudah lengkap semuanya,” ucap Minori. “Aku pergi ya! Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam. Kalau ada apa-apa, hubungi Mama ya!”

Minori segera mengambil ranselnya dan berjalan menuju serambi rumah. Lalu, menyetop taksi dan melesat pergi menuju sekolah.

***

Setibanya di sekolah, beberapa temannya menyambut kehadiran Minori.

“Akhirnya, kita jadi pergi juga ya!” gumam Yuki gembira.

“Aku sudah tidak sabar melihat Pulau Tidung! Pulau Tiduuung!” seru Aoi yang berada di sebelah Yuki dengan gemas mengepal kedua tangannya.

“Kalau aku sudah tidak sabar ingin menaiki Balon Udaranya,” seru Kyo sembari menyisir rambut halusnya.

“Bagaimana ya rasanya?” ucap Hyorin yang sekarang mengambil sisir yang dipegang Kyo.

Pulau Tidung. Saat ini, Minori dan teman-temannya akan melakukan perjalanan ke Pulau Tidung. Ya, Pulau Tidung yang berada di kepulauan Seribu ini, memang salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi. Selain itu, di sana kita dapat melihat keindahan kepulauan Seribu dari atas dengan menaiki Balon Udara. Untuk melakukan perjalanan ke sana, dimulai dengan menaiki bis hingga dermaga lalu dilanjutkan dengan menaiki Kapal Ferry.

Terbawa dalam kebahagiaan teman-temannya, Minori hampir lupa untuk mencari sosok seseorang yang membuatnya selalu bersemangat bersekolah setiap harinya. Namanya Akira. Dia anak yang baik dan asyik untuk dijadikan teman, dan juga cukup dekat dengan Minori. Memiliki hobi yang sama dengan Akira, membuat ia semakin dekat dengan anak laki-laki itu. Selain itu, Akira selalu membantu Minori, dan Minori pun selalu membantu Akira.

Baru saja Minori memikirkannya, tak lama muncullah sosok yang dinantinya itu. Dengan raut wajah senang, Akira menyapa teman-temannya, ”Hai, semuanya. Pagi yang cerah ya!”

“Ya, terus kita harus bilang wau gitu?” gumam Kyo dengan raut wajah datar sambil mengibaskan rambut panjangnya—sudah terbiasa mendengar perkataan Akira yang tidak begitu penting.

Semuanya terdiam. Minori mencoba untuk ikut diam menahan tawanya. Walaupun apa yang dikatakan Akira tidaklah penting, entah mengapa ia selalu mengganggapnya lucu hingga membuatnya ingin tertawa. Sepertinya yang akan tertawa hanyalah Minori dan yang membuat Minori tertawa hanyalah Akira.

“Halo semuanya!” sapa Kara memecah keheningan. Kara juga merupakan salah satu teman Minori. Mereka berteman biasa, jadi tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat, tidak juga memiliki hubungan yang terlalu jauh. Walaupun tidak terlalu dekat dengan Kara, ada sesuatu yang membuat Minori sebal pada Kara, karena ia bisa asyik sendiri apabila sedang bersama teman-teman yang satu tipe dengannya—centil, berambut panjang, dan hobby shopping—seperti Kyo dan Hyorin. Seakan dunia hanya milik mereka, tanpa memedulikan daerah di sekitarnya. Tak hanya itu, ia pun cukup dekat dengan Akira, bahkan mereka seringkali pulang sekolah bersama. Maka dari itu, Minori tidak suka ketika melihat Kara dekat-dekat dengan Akira.

Tapi, yang terpenting saat ini adalah, Akira lebih dekat dengan dirinya daripada dengan Kara.

***

“Semuanya sudah siap?” seru bu Yoshi selaku Wali Kelas Minori dengan raut penuh kegembiraan. Ia juga, selaku pembimbing dalam perjalanan kali ini.

“Sudaaah buuu!” seru seluruh anak-anak.

Selama perjalanan, Minori duduk dengan tenang di kursinya bersama Yuki—teman sebangkunya di kelas. Di depan mereka, ada Kara dan Hyorin yang sedang asyik berfoto berdua. Di sebelah mereka, ada Aoi dan Kyo yang sedang dalam sesi curhat satu sama lain. Sedangkan Akira dan Tako duduk tepat di depan Kara dan Hyorin, sedang asyik bermain game. Lagi-lagi, Kara seperti menjadi penghalang antara Minori dengan Akira.

Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki Kapal Ferry. Para penumpang Bis dipersilahkan untuk turun dan masuk ke dalam Kapal. Tanpa disadari, Minori telah tertinggal jauh di belakang dari teman-temannya. Di belakangnya hanya tersisa beberapa anak lagi, termasuk Akira—yang saat ini berada tepat di belakangnya. Mungkin, ada hikmahnya tertinggal di belakang bersama dengan Akira.

Sesampainya di dalam Kapal, ternyata kursi sudah hampir dipenuhi oleh para penumpang yang naik. Hanya tersisa beberapa tempat di belakang. Minori segera mengambil tempat di barisan paling belakang, tepatnya di belakang Yuki, Aoi, dan Kyo.

“Hei, kalian meninggalkanku!” ucap Minori berpura-pura terlihat kesal.

Yuki yang menjawab terlebih dahulu, “Maaf ya, habis tadi kita buru-buru ngebooking tempat.”

Tiba-tiba, ingatan Minori tertuju lagi pada Akira yang sedari tadi menuju Kapal berjalan di belakangnya. Di mana dia sekarang? Ia pun segera menoleh ke belakang mencari sosok Akira dan mendapati Akira tengah berjalan mencari-cari kursi. Kebetulan, di sebelah Minori terdapat kursi kosong. Tetapi, tiba-tiba Minori menoleh ke depan, dan mendapati Kara yang sedang duduk dengan kursi kosong di sebelahnya pula. Sekarang, ia hanya bisa berharap, Semoga saja, ia duduk di sini. Semoga saja, ia duduk di sini. Semoga saja… Matanya terus mengawasi langkah Akira yang semakin dekat dengannya. Ayo belok ke sini, jangan jalan terus, kata Minori dalam hatinya penuh harap.

Akira menatap lurus ke depan, terus berjalan hingga akhirnya melewati deretan kursi yang diduduki Minori. Ah, harkos!, pikir Minori. Tetapi pada akhirnya Akira pun menoleh, dan mendapati kursi kosong di sebelah Minori. Ia pun mengurungkan niatnya untuk duduk di depan dan segera memundurkan langkahnya kembali menuju kursi kosong itu.

Minori yang melihat kejadian itu, merasa sangat bahagia seolah-olah dirinya sedang bermimpi hingga ia harus menahan senyum di bibirnya. Fiuh akhirnya.

“Hmm… duduk di sini aja deh,” gumam Akira dengan santai.

Minori yang mendengarkan gurauan Akira berpura-pura untuk tak peduli dengannya.

“Haduuh kebelet nih,”

“Yasudah ke WC!” jawab Minori dengan dingin, lagi-lagi berpura-pura untuk tak peduli.

“Hmm… oke deh. Jagain tempatnya. Jangan sampai ada yang nempatin!” ucap Akira sembari mengulas sedikit senyum.

Alih-alih menjawab, Minori hanya mengangguk-angguk kecil. Dalam hatinya ia merasa senang sekali, seolah-olah dirinya lagi-lagi sedang bermimpi. Akira memintanya untuk menjaga kursi di sebelahnya, kemudian ia tersenyum padanya.

Tentu saja Minori tidak akan membiarkan tempat ini direnggut oleh orang lain. ‘Tempat’ yang dimaksud adalah hatinya, dan ia berharap seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s