Cerita di Pulau Tidung [Part 2]

Perjalanan di Kapal Ferry terasa begitu singkat bagi Minori. Padahal, ia ingin terus-menerus berada di dalam kapal, duduk bersama Akira. Hanya berdua. Tapi, sekarang ia sudah terbangun dan kembali ke dunia nyata bahwa ia sedang menuju ke Pulau Tidung.

Di luar sana, matahari mulai meninggi dan begitu menyilaukan. Yang terasa bukan lagi hangat, melainkan panas yang terik. Sekarang, mereka telah sampai di Pulau Tidung.

Minori segera mengeluarkan kertas ‘jadwal acara kegiatan’ dari dalam ranselnya. Di dalam jadwal tertera ‘makan siang’. Jadi, Minori dan teman-temannya terlebih dahulu menuju salah satu restoran di tepi pantai sebelum mulai bersenang-senang di Pulau Tidung.

Di dalamnya, telah tersedia berbagai macam makanan yang dijejerkan di sebuah meja panjang. Makanan yang disediakan di sini hampir semuanya serba seafood. Jadi, untunglah Minori tidak memiliki alergi terhadap makanan laut. Tanpa berpikir lagi, Minori dan teman-temannya segera mengambil antrian untuk mengambil makanan. Karena tidak terlalu nafsu makan, ia hanya mengambil sedikit amkanannya. Setelah mengambil makanan, ia segera mencari meja yang kosong bersama Yuki, Aoi, dan Kyo.

Di kejauhan, Minori melihat Akira sedang mencari meja yang kosong, tetapi ia akhirnya kecewa karena Akira tidak memilih untuk duduk di mejanya, melainkan di meja Kara dan Hyorin. Mood nya yang sedari tadi senang, sekarang berubah menjadi bete.

***

“Eh, kita naik Balon Udara yuk!” seru Hyorin usai makan siang.

“Ayooo!” seru semuanya gembira.

Kyo, yang paling berani untuk berbicara, mencoba untuk bertanya pada pemilik sewa Balon Udara itu.

“Muat untuk berapa orang, Pak?”

“Hmm… 5 orang dengan 1 pemandu. Jadi totalnya 6 orang.

“Ooh. Kalau biayanya berapa?”

“Untuk 1 orang 100.000 rupiah,“

“Hah?” sahut semuanya. Terkejut mendengan harga yang tergolong mahal.

“Karena sedang dalam acara karyawisata, mendapatkan potongan 30.000 rupiah,”

“Wah, lumayan banyak turunnya!” gumam Aoi sermbari berpikir.

“Bagaimana? Setuju?” tawar pemilik sewa Balon Udara itu.

“SETUJU!!!” seru semuanya, tampak gembira.

“Nah, sekarang, tulis di kertas satu lembar. Satu kertas 5 nama untuk menjadi 1 kelompok.” Ucap pemilik sewa Balon Udara itu sembari membagikan kertas.

Kara yang terlebih dahulu berseru. “Siapa yang mau bareng aku?”.  “Kamu mau ra?”, tanyanya langsung kepada Akira.

“Hmm… oke,” jawab Akira.

Terlintas di benak Minori, mengapa yang diajak terlebih dahulu harus Akira? Minori tidak mau terlalu jauh memikirkan hal itu. Saat ini yang harus dilakukannya adalah berpikir, apabila ternyata Kara dengan Akira—hmm… sudah 2 orang, berarti ia harus membuat namanya tertulis dalam kertas itu.

“Aku dan Yuki!” seru Minori tanpa banyak berpikir lagi.

Ternyata, tak hanya Minori yang berseru pada Kara, tetapi teman-temannya yang lain pun ikut berseru secara bersamaan, membuat Kara tampak kebingungan, “Aduuuh, iya bentar ya! Sabar semuanya!”

Sekarang, Minori tidak peduli lagi dengan hal lain di sekitarnya, karena sekarang ia dapat menaiki Balon Udara bersama Akira.

Tak, lama, Kara menyerahkan kertas yang tadi ditulisnya dengan 5 nama. “Ini Pak.”

“Oke, Bapak bacakan.”

Hati Minori sangat gembira. Sebentar lagi, ia akan merasakan kebahagiaan itu. Menaiki Balon Udara sembari menikmati keindahan Pulau Tidung dari atas bersama Akira.

“Kelompok 1. Kara, Akira, …”

Ya, Kara, Akira, lalu aku,Yuki, mungkin dengan Kyo, pikir Minori.

“Kyo, Hyorin, dan Tako,” lanjut pemilik sewa Balon Udara itu.

Hah? Apa Minori tak salah dengar? Namanya tidak disebutkan? Bukankah tadi ia sudah terlebih dahulu memesan tempat dengan Yuki pada Kara? Otak Minori semakin berputar memikirkan hal janggal tersebut.

Tanpa membuang-buang waktu untuk berpikir lebih jauh lagi, Minori segera menanyakan hal tersebut pada Kara, “Kara, bukannya tadi aku dan Yuki sudah bilang terlebih dahulu sama kamu ya?”

“Ooh.. gitu ya? Maaf, aku lupa.Habis tadi riweh banget. Maaf ya!”

Mood Minori yang tadi masih dalam tingkat bête, sekarang telah berubah menjadi bête tingkat dewa. Harapannya untuk dapat menaiki Balon Udara bersama Akira lenyap sudah. Tiba-tiba, ia bertemu pandang dengan Aoi. Ia baru teringat, bahwa hanya nama Kyo yang disebutkan, sedangkan Aoi sendiri tidak. Padahal, Kyo merupakan teman duduk Aoi di bis. Sepertinya Aoi mengerti apa yang Minori pikirkan, Aoi hanya membalas tatapannya dengan mengangguk pelan sembari menunjukkan raut wajah bad mood nya.

Sementara itu di saat yang sama, berbanding terbalik dengan mood Kara yang terlihat sangat bahagia, tengah memanggil  4 orang teman-temannya untuk bersiap-siap menaiki Balon Udara.  “Ayo teman-teman!”

Minori kesal. Ia segera berjalan menjauhi keberadaan Kara dan teman satu kelompoknya. Tidak ingin melihat kebahagiaan mereka di atas penderitaannya sendiri dan teman-temannya. “Sudah, kita batalkan saja rencana untuk menaiki Balon Udara,” ucap Minori dengan nada yang terdengar sedikit meninggi karena kesal.

“Yah, kenapa? Padahal aku ingin menaiki Balon Udara!” seru Yuki, tidak tahu perasaan Minori saat ini.

“Sudahlah, kita kembali saja ke restoran,” gumam Aoi yang satu pendapat dengan Minori untuk membatalkan rencana menaiki Balon Udara.

Kini, mereka duduk di tepi restoran dalam diam, sembari melihat keasyikan Kara dan teman lainnya mengamati keindahan Pulau Tidung dari Balon Udara dengan rasa kesal. Terutama Minori—yang sedari tadi diam—merasa sakit hatinya. Merasa dihianati oleh temannya sendiri.

Minori tidak akan meminta banyak. Dapat selalu bersama Akira pun sudah cukup membuatnya bahagia.

***

Cuaca yang sedari tadi cerah, kini berubah menjadi mendung. Langit yang berwarna biru pun, kini telah tergantikan oleh langit yang berwarna kelabu. Seperti mengetahui perasaan Minori saat ini. Seperti langit mendung. Yang sebentar lagi akan turun hujan, seperti air matanya yang telah berontak ingin keluar dari kedua matanya, namun ia tahan selama ini. Tak ingin terlihat oleh teman-temannya.

Tak lama, Kara dan teman yang lainnya pun muncul dengan memasang raut wajah gembira.

“Eh, tahu tidak? Tadi bagus sekali lho dari atas!” seru Kara santai.

“Ngomong-ngomong, kalian tidak jadi naik Balon Udara?” Tanya Hyorin, baru menyadarinya.

“Tidak. Kita kurang 2 orang,” jawab Yuki.

“Yaah. Kan ada Sora dan Suki. Ajak saja mereka!” ucap Hyorin member saran.

“Hmm… gak deh.” Hanya itu yang terucap dari mulut Minori. Padahal hal yang sebenarnya ingin ia katakan adalah, Ya, benar. Ada Sora dan Suki. Salah dua anak nakal di kelas. Pecinta mabal ke WC dan ke kantin saat jam pelajaran. Dan tentu, tidak sejalan dengan kita. Kau pikir kita mau? Aku pasti menduga kau pun tidak mau dengan mereka. Jangan so soan ngasih saran deh!

“Ooh.. yasudah,” ucap Hyorin sambil memainkan BB nya.

Hening sejenak. Tiba-tiba suara pengumuman dari pengeras suara memecah keheningan.

“PENGUMUMAN! Bagi para peserta tour menuju ‘Pulau Tidung’ harap segera kembali menuju Kapal karena kita akan melakukan perjalanan kembali menuju Bandung. Para peserta diharapkan memeriksa barang-barang bawaannya. Terima kasih.”

“Yah, tidak terasa ya sudah selesai lagi. Padahal aku masih betah di sini,” gumam Kara.

“Yuk, teman-teman!” seru Kyo sembari berbalik menuju pintu keluar.

Yasudah, lebih baik kau tidak usah pulang saja sekalian, agar tak ada lagi penghalang antara aku dan Akira, ucap Minori dalam hatinya kesal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s