When You Came Into My Life [Part 3]

Sudah hampir setengah jam Ji-Young menggu di teras depan rumahnya, menanti Jong-Hoon datang menjemputnya. Ia memang sudah berjanji akan menjemputnya, tapi tidak diduga akan sesiang ini. Sesekali ia mondar-mandir sepanjang teras rumah. Ibunya yang dari tadi melihat tingkah laku anaknya itu hanya bisa terdiam memandangi anaknya dengan raut wajah cemas.

“Sudahlah Ji-Young, biar ayah saja yang mengantarmu,” kata ibunya cemas. “Mungkin dia lupa menjemputmu.”

Gadis itu hanya menggeleng. Lupa? Tidak mungkin Jong-Hoon lupa. Kalau memang benar terjadi, benar-benar keterlaluan. “Tunggu sebentar lagi Ma,” sahut Ji-Young yang kini beralih duduk di teras depan rumahnya sambil bertopang dagu.

Sebuah mobil BMW hitam tiba-tiba berhenti di depannya. Seorang pengemudinya membukakan pintu, lalu turun dari mobil.

“Kau lama sekali,” desah Ji-Young. Tiba-tiba berdiri.

“Tapi aku datang kan?” kata Jong-Hoon membela diri.

“Tapi tidak sesiang ini.”

“Aku tidak janji akan menjemputmu pagi-pagi. Lagi pula kau tidak meminta untuk dijemput pagi-pagi,” bantah Jong-Hoon.

“Sekarang bagaimana?”

“Sekarang bagaimana? Naik ke mobil, lalu pergi ke sekolah.”

“Masalahnya sekolah pasti sudah ramai.” Itulah yang dikhawatirkannya.

“Ooh… kau tidak perlu khawatir. Selama ada aku, kau pasti aman.”

Ji-Young mengangkat bahu. “Oke, terserah kau saja,” sahutnya tidak peduli.

Ji-Young menghampiri ibunya untuk pamit dan segera masuk ke mobil. Jong-Hoon yang melihat ibu Ji-Young langsung membungkukkan badannya—kebiasaan sopan santun di Korea. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah kursi pengemudi. Menunggu pengemudinya masuk, menyalakan mesin, lalu melajukan mobilnya ke jalanan yang mulai ramai.

“Sudah siap?”

***

“Ayo, keluar!” perintah Jong-Hoon setelah selesai memarkirkan mobilnya, lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya.

Ji-Young ragu-ragu menuruti perintah Jong-Hoon. Sebagian dari dirinya merasa ingin kembali pulang. Namun sebagian lainnya, ia merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ada laki-laki itu.

“Kau mau kugendong sampai kelas?” tanya Jong-Hoon memberikan pilihan.

Ji-Young cepat-cepat keluar dari mobil, lalu menutup pintu mobil. Ia tak ingin melakukan hal bodoh itu. Gadis itu menatap Jong-Hoon dengan wajah cemberut. Lalu ia menutup kedua telinganya dengan tangannya.

“Ayo, jalan!” kata Ji-Young ketus.

“Tapi tidak seperti ini,” kata Jong-Hoon sambil melepaskan tangan Ji-Young yang menutupi kedua telinganya. “Biasakanlah tanpa melakukan hal ini. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku,” katanya dengan nada rendah, lebih terdengar seperti bisikan. “Ayo!”

Ji-Young menuruti perintah Jong-Hoon dan memercayainya. Baru saja ia mulai melangkah tiba-tiba laki-laki itu memegangi sebelah lengannya. Gadis itu menolehkan kepalanya ke samping untuk melihat lengannya yang dipegang, lalu beralih menatap laki-laki itu dengan wajah bertanya-tanya mengapa melakukan hal ini?

“Sekadar jaga-jaga agar kau tidak kabur,” kata Jong-Hoon menjawab tatapan Ji-Young, bahkan sebelum gadis itu bertanya.

Ji-Young membiarkan laki-laki itu memeganginya. Sebenarnya, memang sempat terlintas dalam pikirannya untuk kabur kembali ke rumah. Namun sekarang ia tidak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa mengurungkan niatnya itu.

“Kau terlihat seperti pengawalku,” gumam Ji-Young di tengah-tengah perjalanannya menuju kelas Seni Rupa.

“Mana ada pengawal setampan aku,” bantah Jong-Hoon.

“Karena belum ada, kau akan menjadi yang pertama.”

“Berarti kau mengakui kalau aku tampan.”

“Ah, tidak juga,” kata Ji-Young, bingung harus menjawab apa. Sepertinya, ia salah kata-kata.

“Jadi kau mengakuinya atau tidak?” desak laki-laki itu sambil menatap Ji-Young.

Ji-Young berpikir-pikir. “Hmm… tidak sa—“

“Ya, tidak salah lagi kau memang mengakuinya,” potong Jong-Hoon cepat. Pandangannya sudah beralih.

“Hei, aku belum selesai bicara,” bantah Ji-Young sambil menatap laki-laki itu.

“Aku hanya menebak kata-katamu selanjutnya.”

“Lagi pula, bukan itu yang akan kukatakan.”

“Lalu apa?”

“Tidak sama sekali.”

Jong-Hoon berpikir-pikir. “Hmm… kau pasti berbohong.” Matanya kembali menatap gadis itu.

“Kau memaksa.”

“Tidak. Hanya mencari cara agar kau mengakuinya.”

“Itu sama saja.”

“Tidak. Itu berbeda.”

Perdebatan itu tak kunjung berakhir. Sekarang mereka mulai menaiki tangga menuju lantai dua.

“Jadi, kau belum mengakuinya?” tanya Jong-Hoon ketika mereka selesai menaiki tangga dan mulai berjalan di koridor kelas.

“Belum.”

“Berarti suatu saat nanti kau akan mengakuinya.”

Jeda sesaat sementara Ji-Young berpikir-pikir. “Eh.” Ia baru tersadar kata-katanya salah lagi. “Pertanyaanmu menjebakku,” katanya jengkel.

“Kau saja tidak teliti,” bantah Jong-Hoon.

“Yasudah, aku mengakuinya asal kau diam.”

Jong-Hoon tertawa geli. “Akhirnya. Kenapa tidak bilang dari tadi?” Langkah mereka terhenti di depan sebuah kelas. “Baiklah madam, sudah sampai.”

Ji-Young terdiam sejenak. Dirinya tidak menyadari bahwa hal yang tadi sangat dikhawatirkannya seakan hilang begitu saja. Seakan teralih oleh pembicaraannya dengan Jong-Hoon tadi. Ia menatap laki-laki itu dengan tatapan bingung, “Ha? Tapi aku tidak merasakan apa-apa tadi.”

“Sudah kubilang, semuanya akan baik-baik saja selama ada aku,” jawab Jong-Hoon santai.

Ji-Young menaruh jari telunjuk pada dagunya. “Hmm… berarti lain kali kau harus mengajakku bicara sepanjang jalan. Yah, seperti memperdebatkan hal tidak penting tadi,” gumamnya.

“Ya, kau harus mempersiapkan topik perdebatannya dulu,” kata Jong-Hoon. “Ayo, masuk!”

Mereka mulai berjalan memasuki kelas. Kemudian mengambil tempat seperti biasa. Ji-Young mempunyai firasat, pasti seisi kelas akan memerhatikan mereka berdua. Bertanya-tanya dan menduga-duga atas apa yang sedang mereka lihat. Namun pemikiran tentang hal itu kini tidak dipedulikannya lagi. Beberapa suara bisikan mulai terdengar lagi selama mereka masih berjalan menuju bangku.

“Ha? Apakah mereka pacaran sekarang?”

“Tidak mungkin. Tidak secepat ini.”

“Tapi kelihatannya.”

“Kurasa belum. Mungkin suatu saat nanti.”

Bisikan-bisikan itu mini tidak dipedulikannya lagi. Yang terpenting saat ini baginya adalah ia merasa aman dan bahagia. Memiliki seorang pengawal tampan seperti malaikat yang selalu menjaga, melindungi, dan membuatnya bahagia berada di dekatnya.

You are my guardian angel.

***

Ji-Young mengetuk-ngetukkan pinsilnya di kepalanya, masih bingung memikirkan sesuatu yang akan digambarnya. Sesekali matanya melirik laki-laki di sebelahnya yang kini mulai menggambar sketsa pada kertas gambarnya. Kemudian gadis itu kembali menatap kertas gambar miliknya yang masih bersih. Masih belum mendapatkan ide.

Gadis itu mendesah. “Hmm… gambar apa ya?” Ia kembali mengetuk-ngetukkan pinsil di kepalanya.

Jong-Hoon terdiam. Pandangannya terfokus pada gambarannya. “Hmm… apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?” tanyanya.

“Hmm…” Ji-Young berpikir-pikir. “Es krim vanilla bersaus cokelat yang lezat,” jawabnya polos.

Jong-Hoon menatap Ji-Young dengan wajah datar. “Coba hal-hal yang lebih nyata.”

“Memangnya es krim tidak nyata?” tanya Ji-Young dengan suara agak keras.

“Ssst… bukan begitu maksudnya,” bantah Jong-Hoon sambil berbisik, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kelas. Ji-Young yang melihat tingkah laku laki-laki itu segera mengikutinya. Ya, seisi kelas kini sedang melirik ke arah mereka dengan tatapan bertanya-tanya. Laki-laki itu kembali menatap Ji-Young. “Pikirkan yang lain, yang lebih nyata.”

“Tokoh dalam komik?” kata Ji-Young sambil berbisik pula.

“Terlalu kekanak-kanakan. Lagi pula tokoh dalam komik itu tidak nyata.”

“Hmm… apa ya? Aku masih belum dapat ide.” Ji-Young tak lagi mengetuk-ngetukkan pinsil di kepalanya. Beralih dengan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kalau masih belum tahu, gambar saja yang ada di sekitarmu,” kata Jong-Hoon memberi saran. Pandangannya kembali beralih pada kertas gambar dihadapannya.

“Misalnya?”

“Ya, apapun yang kau lihat.”

Ji-Young mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kelas. “Tidak ada pemandangan bagus,” gumamnya. “Kau pikir aku harus menggambar orang-orang yang sedang menggambar?”

“Ya, setidaknya itu lebih nyata.”

“Objeknya terlalu banyak. Sulit menggambarnya.”

“Pilih saja salah satu objek.”

“Hmm… menurutmu siapa?”

“Cari saja objek terdekat yang mudah dilihat.”

Ji-Young melirik orang yang ada di sebelahnya itu. “Kau? Tidak. Itu tidak termasuk pilihan.”

“Lalu siapa lagi?” Laki-laki itu sekarang beralih menatap Ji-Young. “Kau selalu protes. Kapan kau akan mulai menggambar?” tanyanya.

“Kau selalu memaksa,” gumam Ji-Young dengan wajah cemberut.

“Karena kau tidak punya pilihan lain,” kata Jong-Hoon datar. Pandangannya kembali beralih pada gambarannya.

Akhirnya Ji-Young terpaksa menggambar Jong-Hoon yang sedang dalam posisi menggambar pada kertas gambarnya dari samping. Ia mulai memerhatikan setiap detail gambarannya. Sekilas dilihatnya gambaran laki-laki itu yang kini mulai membentuk sebuah wajah.

“Oh ya, pulang sekolah nanti aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” kata Jong-Hoon setengah berbisik.

“Hmm… tempat apa?” tanya Ji-Young penasaran. Ia berhenti menggambar, lalu menatap laki-laki itu.

“Akan menjadi kejutan.”

Ji-Young hanya terdiam, tidak memberi kepastian bahwa dirinya ingin atau tidak.

“Biasanya tidak banyak pengunjung yang datang ke tempat itu. Tapi aku yakin kau pasti suka,” kata Jong-Hoon memastikan.

“Hmm… oke,” jawab Ji-Young singkat. Apa lagi yang akan direncanakannya? pikirnya. Ia tidak sabar ingin mengetahuinya.

Jong-Hoon hanya balas tersenyum tipis sambil menatap gadis itu, lalu kembali pada gambarannya. Ia pikir, terkadang laki-laki itu begitu menjengkelkan. Namun di sisi lain, laki-laki itu begitu baik padanya. Mengingat berbagai perlakuan terhadapnya selama ini—melindunginya, menghiburnya, dan memberinya berbagai kejutan.

Ya, laki-laki itu selalu penuh kejutan.

***

“Kau yakin ini tempatnya?”

Jong-Hoon menutup pintu mobilnya. “Ya, dari luar memang terlihat biasa-biasa saja. Tapi aku yakin tempatnya tidak akan mengecewakan,” katanya meyakinkan gadis itu.

Mereka mulai melangkah memasuki tempat itu. Sebuah logo bergambar es krim berwarna merah dan kuning berada tepat di atas pintu masuk—menandakan bahwa tempat ini pasti menjual es krim. Jong-Hoon membukakan pintu masuk, dikikuti dengan Ji-Young di belakangnya.

Aroma es ktim menyeruak ketika memasuki tempat itu. Bagian dalamnya tidak tampak seperti bagian luarnya. Dindingnya di cat berwarna merah dan kuning berselang seling, serupa dengan warna logonya dilengkapi dengan kombinasi tekstur yang menarik di tengah-tengah dinding. Lantainya yang berbahan kayu membuat suasana hangat di dalamnya, walaupun udara di luar begitu dingin.

Ji-Young mengedarkan pandangan ke sekitar, “Kau benar, tempatnya memang sepi.” Sekarang ia benar-benar percaya bahwa Jonh-Hoon tidak berbohong kepadanya.

Mereka melangkah mencari tempat yang kosong—walaupun hamper semuanya kosong—dan menemukan tempat yang berada di pojok dekat jendela. Mereka duduk, lalu seorang pelayan datang dan member mereka buku menu.

Jong-Hoon telah selesai memesan, sementara Ji-Young masih sibuk membalik-balikkan buku menu. “Kau mau pesan apa?” Tanya Jong-Hoon.

“Hmm…” Ji-Young masih berpikir-pikir. Sepertinya ia ingin mencoba semuanya, namun menyadari bahwa uang yang dibawanya tidak akan cukup.

“Sudah, aku yang traktir. Pesan saja sesukamu,” gumam laki-laki itu seperti mengetahui apa yang sedang dikhawatirkan gadis itu.

Gadis itu beralih menatap laki-laki di depannya. Wajahnya berseri-seri senang. “Benarkah?”

Jong-Hoon hanya menggangguk pasti. Ekspresinya datar.

Ji-Young bertepuk tangan kecil. Pandangannya kembali teralih pada buku menu, “Aku pesan vanilla ice cream with chocolate dua…,” ia pikir satu rasanya tidak cukup, ”…muffin cokelat 1, pudding strawberry 1…”

Jong-Hoon memandang Ji-Young kaget dengan mata terbelalak. “Hei, jangan pesan semuanya juga,” sahutnya mengingatkan Ji-Young.

“Hmm… sudah kok itu saja,” kata Ji-Young sambil memamerkan sederetan gigi putihnya. “Lain kali aku akan membuat daftar pesanannya deh.”

“Omong-omong, tadi kau memesan atau merampok?”

“Tadi kau bilang pesan sesukaku,” jawab Ji-Young, teringat akan perkataan laki-laki itu tadi.

“Oke, ini salahku. Lain kali aku akan membatasi jumlah pesanannya,” kata Jong-Hoon datar.

Sambil menunggu pesanan tiba, mereka berbincang. Ji-Young yang memulai pembicaraan mulai menanyakan keadaan ibu Jong-Hoon yang sedang sakit. Laki-laki itu berkata bahwa ibunya sedang menjalani perawatan dan berbagai terapi untuk menyembuhkannya. Keadaannya sekarang sedikit membaik.

Tak lama, pesanan mereka datang. Jong-Hoon hanya memesan sebuah es krim cokelat, sementara Ji-Young memesan empat sekaligus.

“Emmm… rasa es krim di tempat ini memang yang paling enak di Amerika,” laki-laki itu sekarang sedang asyik melahap es krimnya.

“Oh ya? Memangnya, sudah berapa tempat yang kau coba di Amerika?” Tanya Ji-Young penasaran.

“Baru ini sih,” jawabnya singkat.

“-_-“, Ji-Young memasang muka datar. Tiba-tiba ia tertawa.

Jong-Hoon yang merasa dirinya sedang ditertawakan, mengalihkan pandangannya pada gadis di depannya yang kini sedang tertawa dengan puas.

“Maaf, apa ada yang lucu?” tanya Jong-Hoon bingung.

Gadis itu tidak menjawabnya. Kemudian ia mencari-cari sesuatu di dalam tasnya dan mengeluarkan sebuah cermin kecil yang selalu dibawanya. Dibaliknya cermin itu menghadap Jong-Hoon agar laki-laki itu dapat melihat pantulan wajahnya pada cermin.

Ternyata benar ada sesuatu yang salah di wajahnya, terutama pada bagian hidungnya yang kini sudah dilumuri es krim cokelat. Laki-laki itu hanya dapat tersenyum kecil melihat pantulan wajahnya sendiri di cermin.

Merasa tak mau kalah, ia mencolek es krim dengan telunjuknya lalu mengoleskannya pada hidung Ji-Young. “Hahaha… kau juga kena.”

“Kau curang! Yang ini kan disengaja,” sahut Ji-Young dengan wajah cemberut, lalu kembali tertawa.

Alih-alih mendengar, Jong-Hoon masih tertawa puas. Terlalu bahagia karena mungkin kini ia akhirnya melihat gadis itu tertawa puas. Ya, memang sebelumnya ia belum pernah melihat gadis ini tertawa sebagagia ini.

Sepertinya, ia tidak ingin momen bahagia ini berakhir.

***

Sudah kesekian kalinya Ji-Young merubah posisi tidurnya. Ia tidak bisa tidur malam ini, walaupun waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Apalagi setelah Jong-Hoon menghubunginya tadi, membuatnya semakin sulit untuk memejamkan mata. Setiap kali ia memejamkan mata, bukanlah bayangan gelap yang terlihat, namun bayangan wajah laki-laki itu sedang tertawa dan tersenyum kepadanya. Kini ia merubah posisi tidurnya lagi menjadi terlentang menghadap langit-langit kamarnya.

Ya, tadi Jong-Hoon memang meneleponnya, setelah tadi di tempat es krim mereka saling bertukar nomor ponsel—selama ini mereka memang belum saling bertukar nomor ponsel. Saat itu, Ji-Young sedang membereskan buku-bukunya untuk dimasukkan ke dalam tas. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Tadinya, ia tidak sempat terpikir bahwa yang menghubunginya adalah Jong-Hoon. Mungkin salah sambung atau apalah. Memang siapa yang mau menghubunginya malam-malam begini.

Dengan malas, ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja belajarnya. Lalu diangkatnya langsung tanpa dilihat siapa yang menghubunginya, terlalu malas. Ia menempelkan ponselnya ke telinganya.

“Hallo,” sapanya datar dan singkat.

“Kau marah? Kau tidak suka ya kalau aku telepon?”

Merasa familiar dengan suara itu, Ji-Young segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya, dan menatap layar ponsel itu yang menampilkan nama ‘Jong-Hoon’. “Emmm… maaf. Tadi kukira telfon salah sambung,” katanya menyesal. “Ada perlu apa meneleponku?”

“Kau pikir harus ada alasan? Ku pikir kau senang kalau aku telepon. Ya sudah aku tidak akan meneleponmu lagi kalau tidak ada perlu.”

“Bukan begitu maksudnya,” bantah Ji-Young cepat-cepat. “Aku senang kau menghubungiku. Jangan marah.”

“Hahaha… iya iya. Aku bercanda tadi.”

Ji-Young terdiam, sedikit kesal.

Laki-laki itu berdeham. “Yah, sekadar menanyakan kabar. Bagaimana kabarmu?” tanyanya, terdengar agak canggung.

Ji-Young yang mendengarnya, merasa ikut canggung. “Emm…ehh…baik. Kau sendiri?”

“Baik,” jawab Jong-Hoon, tidak tahu harus mengatakan apa. “Lagi apa?”

“Membereskan buku.” Jeda lama, Ji-Young angkat bicara, “Emm… thanks for today.”

Laki-laki itu berdeham. “You’re welcome. Lain kali mau kalau kuajak lagi?”

“Tentu saja,” ucap Ji-Young, ia merasa jantungnya mulai berdebar. Ia tersenyum, walaupun Jong-Hoon tidak dapat melihat senyumannya.

“Oh ya, maaf. Besok aku tidak bisa menjemputmu pagi-pagi. Kau pasti tidak mau kalau kujemput agak siang.”

“Hmm… tak apa. Kau tidak perlu menjemputku pagi-pagi. Lagi pula semuanya akan baik-baik saja kan? Yah, selama ada kau tentunya.”

“Apa katamu tadi? Aku tidak mendengarnya?” Tanya Jong-Hoon seperti pura-pura tidak mendengar.

“Tidak. Aku ralat kata-kata terakhir itu,” bantah Ji-Young kesal sekaligus malu.

“Hmmm… okee. Aku tidak akan menjemputmu besok.”

“Jangan! Iya iya, semuanya akan baik-baik saja selama ada kau,” kata Ji-Young akhirnya terpaksa, ketimbang tidak dijemput oleh laki-laki itu.

“Hahaha…yasudah sekarang tidur, sudah malam. Kita ketemu lagi di mimpi, oke?”

“Hmmm… memangnya bisa? Hahaha… iya iya, aku tidur sekarang. Dadah,” ucap gadis itu sambil senyum-senyum sendiri.

“Selamat malam. Jo-eun kkum kkwo,” ucap Jong-Hoon sebelum menutup teleponnya.

“Malam,” balas Ji-Young, lalu terdengar bunyi tut tut tut, tanda telepon putus. Ia menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Tak pernah ia merasa sebahagia ini seumur hidupnya.

Dan ia tidak ingin momen bahagia ini berakhir juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s