When You Came Into My Life [Part4]

Hari ini, Ji-Young tidak bangun terlalu pagi. Ibunya yang melihat tingkah laku anaknya yang tidak biasa itu membuatnya bertanya-tanya. Bahkan, ia menyempatkan diri untuk sarapan—yang biasanya tidak dilakukannya.

“Kau yakin tidak akan berangkat pagi-pagi?” tanya ibunya, ingin mengetahui jawaban pastinya.

“Yakin, Ma,” jawab Ji-Young singkat sambil menggangguk pasti menatap ibunya. Sekarang, ia sedang memakai sepatunya dengan santai di teras depan rumahnya.

Tak lama, sebuah mobil BMW hitam datang. Seperti biasa, pengemudinya akan membukakan pintu, turun dari mobil, lalu berjalan mendekat dan membungkuk menyalami ibu Ji-Young.

Ji-Young melesat terlebih dahulu menuju mobil, sementara Jong-Hoon berada di belakangnya. Tiba-tiba ia tersadar bahwa Jong-Hoon tidak lagi mengikutinya,, namun langkahnya terhenti. Ia berbalik untuk melihat apa yang terjadi sebenarnya. Ternyata ibunya menarik Jong-Hoon untuk kembali, seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting. Dari kejauhan, hanya terdengar gumaman tak jelas antara ibunya dengan laki-laki itu. Tak lama, laki-laki itu mengangguk pasti sambil tersenyum, lalu pergi meninggalkan ibunya sendirian untuk menyusul dirinya yang kini sudah berada di dalam mobil.

“Apa yang dikatakan ibuku padamu?” tanya Ji-Young setelah Jong-Hoon memasuki mobilnya dan menyalakan mesin mobil.

“Hanya memberi keperayaan padaku untuk menjagamu. Maka dari itu, kau jangan coba-coba kabur dariku,” kata Jong-Hoon memperingati.

“Memang siapa kau?” balas Ji-Young datar.

Jong-Hoon tidak menanggapi pertanyaan Ji-Young. Gadis itu pikir, mungkin ia menganggapnya bahwa gadis itu hanya bercanda. Tapi yang sebenarnya, ia serius dengan kata-katanya itu.

Tanpa menunggu lagi, laki-laki itu sudah menancap gas mobilnya, meninggalkan ibu Ji-Young yang masih berdiri di depan rumah sambil menatap mereka khawatir.

***

Seperti saat kemarin, Jong-Hoon mengajaknya berbicara sepanjang jalan menuju kelas mulai dari mereka turun dari mobil. Dan cara ini kembali berhasil mengalihkan perhatian Ji-Young dari kekhawatirannya terhadap orang banyak, apalagi jika sesiang ini.

Seperti biasa ketika mereka mulai memasuki kelas, mulai terdengar beberapa suara bisikan kecil tertuju pada mereka. Ji-Young tersadar, namun sepertinya tidak terlalu menghiraukan keadaan itu, terlarut dalam pembicaraannya dengan Jong-Hoon sepanjang jalan.

“Sepertinya, mereka benar-benar pacaran sekarang.”

“Tapi aku masih tidak percaya.”

Hanya kata-kata itulah yang sempat tertangkap oleh pendengaran Ji-Young.

Jam pelajaran pertama kali ini adalah olahraga. Ji-Young segera bersiap-siap berganti pakaian olahraga dan segera menuju lapangan. Tak biasanya, ia begitu bersemangat hari ini.

Olahraga kali ini adalah lari. Yang tercepat, yah tentu saja akan mendapat nilai yang lebih besar. Ji-Young menyadari bahwa dirinya terbilang lambat untuk urusan lari dan selalu mendapat posisi terakhir, namun hal itu terhalangi oleh semangatnya hari ini.

Kebetulan, yang mendapat giliran pertama untuk lari adalah kelompok putra. Ji-Young sudah tidak sabar untuk melihat Jong-Hoon melakukan aksinya dalam berlari. Ia penasaran apakah laki-laki itu cukup jago dalam hal lari.

Semuanya sudah bersiap-siap di jalurnya masing-masing. Dari kejauhan, laki-laki itu memberi sebuah isyarat kepada Ji-Young berupa ibu jari terangkat dan kedipan sebelah matanya. Gadis itu membalasnya dengan hal serupa yang dilakukan Jong-Hoon.

Peluit telah berbunyi.

Laki-laki itu sudah menghilang dari tempatnya ia berdiri tadi. Sekarang ia sudah melesat lari seperti kuda. Begitu cepat hingga Ji-Young tidak menyadari bahwa laki-laki itu sekarang akan melewati putaran kedua. Terdengar suara seperti menyerukan nama seseorang. Karena penasaran siapa dibalik suara itu, ia segera menolehkan kepalanya dan mendapati Helen yang ternyata sedang menyemangati pacarnya, Collin.

“Collin, Collin. Aaaa!! I know you can!” serunya keras.

Tak mau kalah, kali ini Ji-Young memberanikan diri untuk ikut berteriak menyemangati Jong-Hoon—yah, walaupun ia bukan pacarnya atau belum menjadi pacarnya. Gadis itu sekarang benar-benar melakukannya, berseru seperti halnya yang dilakukan Helen tadi. Ia merasa, seperti ada sesuatu yang mendorongnya melakukan hal itu. Ia tak pernah merasa seberani ini, dan sesemangat ini selama hidupnya terutama di sekolah. Tapi bukannya merasa cemas ketika ia melakukan hal itu, tapi ini berbeda. Ia tidak merasakan beban apapun.

Satu putaran terakhir, Collin masih memimpin. Wajar saja ia adalah seorang atlit basket. Seorang atlit basket sudah seharusnya berlari lebih cepat. Namun ia bangga karena Jong-Hoon yang berada tepat di belakang Collin. Ia sendiri tidak tahu apakah laki-laki itu seorang atletis atau apa. Wajar saja, ia baru berkenalan dengannya beberapa hari dan belum mengenalnya lebih jauh.

Putaran terakhir dimenangkan oleh Collin dan tentu saja Jong-Hoon berada di posisi kedua. Walau begitu, Ji-Young tetap mengacungkan dua jempolnya pada laki-laki itu. Ia pikir laki-laki itu sudah berusaha keras walaupun ia bukan juaranya.

“Hmm.. tadinya aku ingin menunjukkan padamu kalau aku bisa mengalahkan Collin. Tapi sepertinya sulit mengalahkannya,” ucapnya ketika Ji-Young berjalan menghampirinya.

“Tak apa, yang penting kau sudah berusaha,” kata Ji-Young. “Kupikir kau terlihat keren saat lari.”

Jong-Hoon hanya senyum-senyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Yah, walaupun sesudah lari kau terlihat biasa-biasa saja,” kata gadis itu datar.

Wajah Jong-Hoon berubah menjadi datar, lalu menoleh menatap Ji-Young. “Jjaaa… kau menyebalkaan!” serunya sambil mengacak-acak rambut gadis itu.

“Hhaa ampuun!” seru Ji-Young cepat-cepat. “Peace,” katanya sambil mengangkat dua jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf ‘V’.

Tak lama, kelompok putri dipanggil untuk bersiap-siap ke lapangan.

“Ayo, sekarang giliranmu. Kau pasti bisa! Hwaiting!” kata Jong-Hoon memberi semangat sebelum akhirnya Ji-Young berjalan menuju lapangan sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.

Peluit sudah berbunyi. Ji-Young masih semangat untuk berlari. Putaran pertama ia bersyukur bahwa dirinya tidak menjadi yang terakhir seperti biasanya. Ayo Ji-Young kau pasti bisa melakukannya. Jangan sampai menjadi posisi terakhir lagi. Ayo, kau pasti bisa.

Setelah berhasil melewati putaran kedua, Ji-Young tidak berada di posisi terakhir lagi. Didengarnya sesaat, seseorang meneriakkan namanya. Ia menoleh sesaat ke kerumunan siswa, ternyata Jong-Hoon sedang menyemangatinya.

“Ayo, kau pasti bisa. Hwaiting!”

Ji-Young membalasnya dengan mengangkan sebelah tangannya yang sedang terkepal. “Fighting!” serunya lantang.

Hampir melewati putaran ketiga, dirinya merasa hilang keseimbangan. Kedua kakinya kini seperti sudah tidak bersentuhan lagi dengan tanah. Kini ia mulai melambat, napasnya mulai sesak. Kepalanya sudah mulai terasa sakit. Beberapa orang telah berhasil menyusulnya dan menjadikannya berada di posisi terakhir saat ini. Saat melewati putaran ketiga, ia kehilangan sosok laki-laki itu. Kemana ia pergi? Matanya menelusuri di dalam kerumunan, tapi tidak ditemukannya. Pikirannya sudah tidak dapat berkonsentrasi lagi pada jalur yang ada di hadapannya. Pikirannya sibuk mencari laki-laki itu.

Sekarang Ji-Young benar-benar sudah tertinggal jauh. Hampir semuanya telah selesai dan mencapai finish, sementara putaran keempat saja belum dilaluinya. Kepalanya benar-benar terasa sakit sekarang dan ia mulai merasa mual. Tubuhnya seperti hilang keseimbangan dan terasa akan jatuh. Namun ia tetap mempertahankannya. Ayo, sedikit lagi Ji-Young!

Pnadangannya kini mulai remang-remang, tiba-tiba seseorang menabraknya—tidak, mungkin sengaja menabraknya karena ia tahu bahwa semua peserta sudah selesai lari dan tidak ada siapapun di belakangnya—dan tubuhnya ditarik ke bawah dan jatuh terhempas ke permukaan tanah. Ji-Young setengah tidak sadar. Kini ia sudah berada dalam posisi telungkup. Ia tak dapat merasakan apa-apa sekarang. Namun lama-kelamaan, ia tersadar bahwa sesuatu yang basah dan lengket membasahi kakinya. Ia mulai merasa sakit yang menjalar pada sebelah kakinya, terutama di bagian lututnya. Rasa sakit itu bertambah parah dan air mata mulai keluar dari kedua matanya.

“Dasar aneh… bodoh…Hahaha…”

Kata-kata itu kembali terdengar di telinga Ji-Young—kata-kata yang biasa didengarnya namun tidak akhir-akhir ini semenjak ada laki-laki itu—namun kini ditambah dengan rasa sakit pada lututnya. Kata-kata itu terucap semakin keras dan suara tawa semakin kencang. Ia mulai berusaha untuk berdiri namun ia tahu bahwa usahanya itu sia-sia karena bukannya berdiri, ia malah meringkuk sambil menutup kedua telinganya karena tidak tahan lagi dengan suara-suara itu.

Sempat Ia berpikir, aku hanya seorang gadis yang aneh, bodoh, dan lemah. Tidak ada yang mau menolongku. Bahkan Jong-Hoon tiba-tiba menghilang dan tidak datang menolongku.

“Aaaa! Collin tolong aku!” terdengar suara ketakutan dari Helen. Ji-Young memberanikan diri menengadah untuk dapat melihat apa yang sedang terjadi. Dilihatnya, Jong-Hoon sedang mencengekram lengan Helen dan dengan tatapan marah.

“Kau apakan dia? Kau apakan dia?” Suara Jong-Hoon semakin meninggi membuat Helen tidak bisa berkata-kata dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak jelas.

”Beraninya dengan perempuan.” Suara Collin yang santai datang dari arah yang berlawanan membuat Jong-Hoon melepaskan cengkeraman di lengan Helen dan beralih menatap Collin tajam. Laki-laki itu sekarang mengangkat kepalan tangannya tinggi-tinggi, bersiap untuk melayangkan tonjokkan pada Collin. “Ayo tonjok kalau berani,” tantang Collin.

Merasa ditantang, Jong-Hoon akhirnya melayangkan salah satu tangannya yang terkepal mengarah tepat ke bagian wajah Collin. Laki-laki yang tadi ditonjoknya sekarang jatuh tersungkur ke tanah. Darah mulai menetes dari hidungnya. Sementara Helen yang berada tidak jauh darinya hanya bisa terdiam bingung dengan mulut melongo seolah-olah tidak percaya apa yang sedang terjadi.

“Peringatkan pacarmu untuk tidak membully dia lagi,” ucap Jong-Hoon, sementara Collin masih tersungkur di tanah. Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati Ji-Young dan sengaja menabrak bahu Helen dengan keras setelah sebelumnya menatap tajam seolah memperingatkannya.

Ji-Young tidak dapat berkata apa-apa selain pasrah, menunggu dirinya untuk ditarik berdiri oleh Jong-Hoon dan dibawa untuk diobati lukanya.

***

“Aaah!” Ji-Young mengernyit kesakitan ketika kakinnya—terutama bagian lututnya—mulai diobati oleh petugas kesehatan sekolah. Sekarang ia sedang terduduk sambil tersandar pada sebuah ranjang sempit khas rumah sakit. Bau khas obat mulai menjalar masuk ke hidungnya diiringi dengan rasa sakit yang mulai menjalar ketika setetes demi tetes obat itu mengenai bagian lukanya. Ya, hari ini terpaksa dirinya tidak mengikuti kelas selanjutnya karena kejadian ini.

Suasana ruangan itu sepi, walaupun Jong-Hoon ada di dekatnya—tidak mengoceh seperti biasanya. Sedari tadi laki-laki itu hanya duduk terdiam sambil sesekali melirik gadis itu dengan muka datar, lalu cepat-cepat beralih lagi. Ji-Young yang melihat keadaan itu sepertinya tidak berani untuk memulai percakapan. Kini kakinya sudah mulai dibalut dengan perban.

“Sebaiknya kau jangan terlalu banyak jalan-jalan sampai lukanya sembuh,” kata petugas itu setelah selesai membalut kaki Ji-Young dengan perban. “Lukanya akan sembuh lebih cepat kalau kau tidak terlalu banyak bergerak.”

Ji-Young yang mendengarkan kata-kata petugas itu hanya mengangguk sambil melihat hasil karya petugas itu yang telah membalut kakinya dengan perban. Ia sudah mau beranjak ketika dirinya tersadar bahwa laki-laki di dekatnya itu masih belum berkata-kata, bahkan merespon pun tidak. Ia merasa kedaan ini semakin terasa semakin canggung jika berlama-lama.

Gadis itu mulai beranjak, mengambil ranselnya sambil berjalan dengan susah payah. Ia terdiam di hadapan laki-laki yang masih duduk itu, lalu berdeham sebagai isyarat untuk mengajaknya keluar dari ruangan itu.

Tanpa ekspresi, Jong-Hoon beranjak dan mengambil ranselnya. “Terima kasih,” gumamnya pada petugas itu. Kemudian berjalan mendahului Ji-Young yang berada di belakangnya.

Tidak pernah terpikir di benak Ji-Young bahwa dirinya akan merasakan berjalan sesusah payah ini. Tanpa dibantu siapapun pula. Jong-Hoon berjalan di depannya, tanpa memedulikan gadis di belakangnya yang kini berjalan dengan sangat lambat. Meskipun begitu, sepertinya laki-laki itu juga memperlambat jalannya, mungkin tidak bermaksud meninggalkan gadis itu sendirian.

Walaupun begitu, Ji-Young tetap saja kesal karena laki-laki itu bertingkah seolah ia tidak peduli keadaannya saat ini. Terbesit di pikirannya untuk meneriakkan kata-kata, Hei, kau tidak lihat apa aku berjalan susah payah begini, tapi ia telan kembali kata-kata itu karena merasa tidak enak. Ia merasa aneh mengapa laki-laki itu tidak mempedulikannya sama sekali, malah mengacuhkannya seolah dirinya tidak ada. Padahal dari dulu, ia orang yang paling care terhadap Ji-Young apabila ia mendapat masalah. Sempat ia berpikir, laki-laki ini bisa bersikap sangat baik padanya, namun dapat berubah seratus delapan puluh derajat secara tiba-tiba.

“Eh, tunggu!” seru Ji-Young. Tidak tahan dengan keadaan canggung ini.

Laki-laki itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menatap Ji-Young. Ia kini memperhatikan Ji-Young yang sedang berjalan susah payah ke arahnya.

Gadis itu kini menghentikan langkahnya, karena dirasa sudah berada dekat Jong-Hoon. “Emm… kau marah? Dari tadi tidak bicara.”

Laki-laki itu berdeham, “Tidak,” jawabnya singkat, namun sepertinya ragu-ragu. “Hanya itu?” tanyanya dengan muka datar.

Ji-Young menatapnya bingung, lalu ia mendapati laki-laki itu berbalik dan mulai berjalan menjauhinya. Ia merasa semakin kesal. Tidak biasanya Jong-Hoon bersikap se-aneh ini.

Ji-Young berjalan cepat, berniat mengejar Jong-Hoon di depannya. Dengan susah payah ia menggerakkan kakinya cepat lalu berhasil menarik lengan baju laki-laki itu. “Tunggu dulu!”

Jong-Hoon menatapnya dengan muka datar, “Apa lagi?” ia menghentikan langkahnya dengan terpaksa.

“Kau ini aneh sekali sejak tadi. Tidak seperti biasanya,” kata Ji-Young menjelaskan.

“Aneh apanya?” jawabnya singkat, pura-pura tidak menyadari.

“Kau berubah seratus delapan puluh derajat. Dari tadi kau tidak bicara dan mengoceh seperti biasanya. Dan kalau kutanya kau hanya menjawab singkat. Bahkan kau tidak mempedulikan aku yang sedang kesakitan dan berjalan dengan susah payah.”

“Jadi aku harus mempedulikanmu, hah? Itu salahmu,” jawab Jong-Hoon sambil memajukan wajahnya mendekati wajah gadis itu hingga hanya tersisa jarah beberapa senti.

“Tidak juga,” gumam Ji-Young kesal. “Ha? Salahku? Apanya?” Ji-Young bertanya balik.

“Salahmu kau menjadi seperti ini. Seharusnya tadi kau melawan. Bukannya pasrah sambil menutup telinga begitu. Kalau begitu mereka akan semakin mengolok-olokmu,” jelasnya laki-laki itu panjang lebar hampir dengan nada tinggi, menjelaskan penyebab keanehan ini

Ji-Young tidak bisa berkata-kata. Ia hanya dapat tertunduk malu, tidak berani melihat wajah laki-laki itu. Laki-laki itu benar, seharusnya ia bisa melawan Helen dan teman-teman jahatnya. Tapi ia tahu bahwa melawan mereka adalah hal yang mustahil dilakukan, tidak semudah itu. Ia merasa dirinya begitu bodoh dan kata-kata ejekan yang biasa didengarnya itu dirasa memang pantas untuknya.

Pandangannya kini mulai buram. Lama-lama semakin buram dan sesuatu yang menghalangi pandangannya itu kini berubah menjadi air yang menetes keluar dari matanya. Ia berusaha untuk menahan air itu keluar, namun tidak bisa. Ia tidak ingin dirinya terlihat menangis di depan Jong-Hoon. Itu akan semakin menunjukkan bahwa dirinya lemah.

Tiba-tiba kedua tangan Jong-Hoon mendarat di pundaknya lalu memeganginya kuat. “Dengar, aku tidak bermaksud memarahimu tadi,” ucapnya lembut. Nadanya berubah seratus delapan puluh derajat dengan sebelumnya.

Gadis itu mulai menghapus air mata yang keluar dengan telapak tangannya sambil sedikit terisak-isak. Ia memberanikan diri menengadah untuk menatap laki-laki itu. Walau kini diduganya matanya pasti sudah berwarna merah, ia tidak memedulikannya.

“Tadi aku hanya kesal saja melihat kau diperlakukan seperti itu. Kasus bully membully di sini memang benar-benar sudah keterlaluan,” jelas Jong-Hoon. “Aku berusaha meredam emosi. Maka dari itu aku diam, bukan marah,” kata Jong-Hoon semakin menegaskan keanehan yang terjadi. “Jangan menangis,” katanya lembut sambil tersenyum pada Ji-Young.

Ji-Young menghapus sisa sisa air mata yang keluar, lalu mengangguk pasti. Tiba-tiba Jong-Hoon melepaskan pegangannya dan berbalik sambil merubah posisi ranselnya menjadi di depannya. Kemudian ia berjongkok.

Melihat tidak ada reaksi dari Ji-Young, ia menoleh, “Ayo naik! Tunggu apa lagi?”

Ji-Young ragu-ragu, alisnya terangkat. “Kau yakin? Aku masih bisa berjalan sendiri.” Ia melipat tangannya didepan dada.

“Ya, sampai-sampai tahun depan. Habis, kau berjalan lama sekali. Seperti siput,” protes Jong-Hoon. Ia masih menunggu gadis itu naik ke punggungnya.

“Hmm… oke. Jangan menyesal, aku lumayan berat.” Gadis itu akhirnya menuruti perintah Jong-Hoon dan segera naik ke punggungnya dan merangkulnya kuat-kuat.

Laki-laki itu mulai beranjak untuk berdiri, namun sepertinya agak sulit. “Wah, ternyata kau memang berat. Yah, seperti yang kuduga.” Ia memperbaiki posisi Ji-Young di punggungnya sambil mendesah.

“Kubilang apa? Jadi maksudmu aku terlihat gemuk?”

“Hmm… mungkin. Kemungkinan besar. Tidak salah lagi,” jawab laki-laki itu datar.

“Apa katamu, hah?” Ji-Young merangkul leher Jong-Hoon erat-erat hingga mencekiknya.

“Hei, jangan mencekikku nanti kita jatuh,” jawab Jong-Hoon dengan susah payah.

“Itu salahmu. Kurasa aku tidak gemuk. Matamu terbalik ya?” Ji-Young masih mencekiknya.

Jong-Hoon berusaha untuk melepaskan cekikan Ji-Young, namun sepertinya terlalu sulit karena rangkulannya terlalu kuat. “Gemuk atau tidak itu relatif. Tapi kurasa kau cukup gemuk dan berat.”

“Kau cari masalah ya? Ayo katakan aku tidak gemuk!” paksa Ji-Young tidak mau kalah.

“Kau memaksa. Aku tidak mau berbohong,” gerutu laki-laki itu. “Lepaskan! Aku tidak bisa bernapas.”

“Sekarang giliranku memaksa. Bilang dulu aku tidak gemuk, baru aku lepaskan,” ancam gadis itu.

“Sial, aku dijebak. Ya, ya, ya, kau tidak gemuk,” akhirnya kata Jong-Hoon terpaksa karena tidak ingin mati gara-gara tercekik.

Ji-Young melonggarkan rangkulannya. “Nah, coba kau katakan itu dari tadi,” katanya sambil tertawa.

“Aku terpaksa mengatakannya,” kata laki-laki itu datar. Sekarang ia mencoba bernapas kembali setelah tadi benar-benar dicekik.

“Jadi, kau terpaksa?”

“Tidak, tidak. Ampuuun madaam,” kata Jong-Hoon pasrah, tidak mau lagi mengalami hal buruk serupa.

“Yasudah, ayo cepat jalan!” perintah Ji-Young cepat.

Jong-Hoon mendengus. ”Siap madam. Nah, kalau begini akan sampai lebih cepat.”

Ji-Young merangkulnya kuat-kuat sambil tersenyum bahagia. Jarang-jarang ia merasakan momen bahagia seperti ini setelah kejadian tadi. Rasa sakitnya seketika hilang, tergantikan oleh perasaannya yang senang. Senang karena dirinya ternyata tidak sendirian. Senang karena ia kini mempunyai seorang teman yang selalu membuatnya tertawa bahagia.

Namun yang terpenting adalah, sekarang laki-laki itu telah kembali menjadi normal—seperti biasanya—dan berada bersamanya. Selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s