Selalu

Gadis itu sedang duduk seorang diri, terpaku pada gambarannya. Rambutnya yang panjang terurai. Poninya yang terlalu panjang jatuh menutupi setengah bagian wajahnya. Sepatunya ia lepas dan kedua kakinya terangkat dengan posisi duduk sila. Tanpa berpikir panjang, ia mencoba untuk mendekati gadis itu. Menyadari seseorang tengah menghampirinya, gadis itu mendongak lalu tersenyum tipis.

“Sendiri saja Ra”? tanya Vero, lebih sekedar basa basi. Ia tahu bahwa gadis itu memang selalu sendirian.

“Hmm… iya Vero,” jawab Aurora singkat, masih terkonsentrasi pada gambarannya.

Tak lama, Aurora mulai membereskan peralatan gambarnya, lalu beranjak untuk berdiri dan tak lupa untuk memakai sepatunya. Vero terus memperhatikan Aurora karena ia tak kunjung selesai mengikat tali sepatunya. Berulang kali ia lepas, lalu ia ikat kembali. Sebenarnya, hal ini telah sering dilihatnya. Namun hingga saat ini, ia tidak pernah tahu penyebab persisnya ia selalu seperti ini—tidak bisa mengikat tali sepatu—walaupun ia sudah berteman dengannya cukup lama.

Vero segera bertindak. Ia berjongkok di hadapan Aurora. “Sini, biar aku bantu mengikatnya,” katanya.

“Hmm… terima kasih,” jawab Aurora sepertinya ragu-ragu sekaligus malu.

Vero lantas mengikatkan tali sepatu Aurora. Sebenarnya, tadi ia menghampiri gadis itu untuk bertanya, apa yang terjadi pada gadis itu. Mungkin rasa penasarannya tertunda dulu saat ini. Ia masih penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada sahabatnya itu.

Setelah mengikat tali sepatu, mereka berjalan kembali menuju kelas. Pelajaran saat ini adalah Bahasa Indonesia dan materinya adalah membaca. Setiap murid disuruh satu persatu untuk membaca suatu teks, lalu menyimpulkan makdusnya. Vero mendapat giliran terakhir—karena absennya berada di urutan paling akhir—sedangkan sahabatnya sendiri mendapat giliran paling pertama.

“Ya, Aurora. Silahkan baca teks pada paragraf pertama!” perintah Ibu guru.

Aurora tampak ragu-ragu dan cemas. Akhirnya ia membaca, “Guna menbukung keperhasilan pijaw lajarbe 9 tuhan…” bacanya dengan terbata-bata dan lambat.

Vero yang mendengar apa yang sedang Aurora bacakan merasa sangat aneh. Sepertinya ada yang salah, pikirnya. Teman-teman lain yang ikut mendengar, malah menertawakannya dan menganggap itu sebagai lelucon.

“…sekarang ban bi sama mebatang,” lanjut Aurora.

Ibu guru hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ya, sekarang coba jelaskan apa maksud dari paragraf tersebut?” tanyanya.

Aurora berpikir-pikir. “Hmm… maaf, saya tidak mengerti bu,” jawabnya polos.

“Apa?” seru Ibu guru, terkejut mendengar jawaban Aurora. “Ibu tidak suka kau main-main seperti ini. Nilaimu tidak pernah tuntas sejak masuk sekolah. Apa yang terjadi padamu?”

Aurora tampak kebingungan. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tak paham.

Vero pikir, sepertinya Aurora tidak sedang main-main. Ia tahu betul tentang sahabatnya yang satu itu. Ia selalu serius ketika belajar. Namun yang ini sepertinya semakin membuatnya penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.

***

Tanpa terasa, bel berbunyi yang menandakan sekolah telah berakhir. Hari ini, terpaksa Vero harus menunggu Aurora terlebih dahulu karena ia dipanggil ke ruang BK akibat peristiwa tadi. Tak lama, Aurora muncul dari pintu ruang BK sambil memegang kertas di sebelah tangannya.

“Apa itu Ra?” tanya Vero penasaran sambil berjalan beriringan dengan Aurora menuju gerbang sekolah.

“Hmm… surat panggilan orang tua,” jawab Aurora. “Aku tidak yakin mereka akan datang.”

Vero tahu jika orang tua Aurora sangat sibuk. Ayahnya sekarang sedang berada di luar negeri, sementara Ibunya terlalu sibuk dengan pekerjaan kantornya.

Vero berdeham. “Hmm… Ra, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Hmm…” Aurora tampak ragu-ragu. “Apa?”

“Sebenarnya, apa yang terjadi padamu selama ini? Kau punya masalah?”

Aurora tampak kebingungan. “Hmm… tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja.”

Vero tahu, sahabatnya ini berbohong padanya. “Ra, jawab yang jujur. Pasti ada sesuatu tapi kau tidak mau menceritakannya padaku.”

“Maaf Vero, tapi aku tidak bisa. Kau tidak akan mengerti,” kata Aurora, lalu kepalanya tertunduk.

Vero benar-benar merasa kecewa. Sahabatnya itu tidak mau memberitahukan yang sebenarnya, walaupun ia adalah sahabatnya—mungkin dapat dikatakan satu-satunya temannya. Padahal, selama ia menjadi temannya, ia selalu bercerita walaupun hal yang diceritakannya tidak terlalu penting.

Vero menghentikan langkahnya sesaat. “Baiklah, kalau kau memang tidak mau memberitahuku. Mungkin aku tidak bisa kau percaya.” Ia kini menatap Aurora. “Kau cari saja teman lain, yang bisa kau percaya tentunya.”

Vero meninggalkan Aurora sendirian di belakangnya. Terlalu malas untuk menghadapinya.

***

Keesokan harinya, suasana berubah. Vero tak lagi bersama-sama Aurora, tak lagi menyapanya, dan tak lagi bercerita padanya. Mereka telah sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Hari ini adalah giliran pelajaran olahraga dan materi hari ini adalah bermain basket. Seperti biasa, dibagi menjadi 2 tim. Dengan sangat menyesal, terpaksa Vero harus berada satu tim bersama Aurora. Biasanya, ia paling senang jika mendapat satu tim bersama Aurora.

Setelah peluit tanda bermain dibunyikan, Vero yang pertama mendapat bola segera meng-opernya ke Aurora. Namun, Aurora bukannya menangkap, ia malah menghindar lalu kebingungan seperti orang bodoh.

“Arrgghh! Kau bisa menangkap bola tidak sih?” gerutu Vero pada Aurora. Suaranya setengah berteriak.

Aurora hanya tertunduk dalam-dalam, merasa malu atas ucapan Vero. Apalagi di hadapan teman-temannya sekarang. Akhirnya Vero meninggalkan Aurora yang masih tertunduk, kembali melanjutkan olahraganya, tidak peduli lagi akan mantan sahabatnya itu.

***

Sepulang sekolah, Vero terpaksa pulang sendiri dan berjalan sendiri keluar gerbang sekolah—biasanya dirinya ditemani Aurora. Tak sadar, ia melewati ruang BK dan mendapati Aurora dan dengan Ibunya berada di dalamnya.

“Bu, tolong Bu. Beri anak saya kesempatan untuk bisa melanjutkan sekolah di sini.” Hanya kata-kata itulah yang sempat didengar Vero dari luar ruangan. Karena penasaran, ia akhirnya menguping pembicaraan mereka dari luar. Vero merasa sedikit bersalah, tapi mungkin melalui jalan inilah dirinya bisa mengetahui yang sebenarnya—agar tidak ada kesalahpahaman lagi.

“Tapi,  Bu. Prestasinya sejak masuk sekolah tidak ada peningkatan. Bahkan nilainya tidak pernah lulus saat ulangan. Saya rasa, Ibu harus memindahkan putri Ibu ke sekolah lain, yang lebih mengerti keadaannya sekarang.”

“Tapi, Bu. Saya mohon. Sekali lagi saja. Saya berjanji akan membimbingnya di rumah dan tidak akan sibuk lagi mengurusi pekerjaan saya. Tolong ya Bu?”

“Hmmm… baiklah. Saya pegang janji Ibu. Kalau dalam sebulan ini tidak ada perubahan, terpaksa saya akan mengeluarkan putri Ibu dari sekolah ini.”

“Terima kasih banyak, Bu.”

“Sama-sama. Semoga Aurora cepat sembuh dari diseleksianya ya Bu!”

Diseleksia? Apa itu? Pikir Vero. Aku harus mencari tentang dieleksia sekarang. Vero segera beranjak lalu berlari-lari kecil ke perpustakaan untuk mencari istilah itu. Pikirnya, ia akan segera menemukannya di perpustakaan.

Setelah mendapat ijin dari penjaga perpustakaan, ia segera mencari buku yang dicarinya. Dapat. Ia segera duduk di lantai dan membuka buku itu, bahkan ia tak sempat untuk duduk di bangku.

Kesulitan membaca (Diseleksia) adalah adanya hambatan dalam perkembangan kemampuan membaca pada seseorang. Gangguan ini tampak pada 3 gelaja pokok: tidak teliti dalam membaca, membacanya dengan lambat, dan pemahaman yang buruk dalam membaca. Vero jadi teringat akan kejadian kemarin.

Vero melanjutkan membaca. Kesulitan membaca itu berupa ketidakmampuan dalam mengeja kata, misalnya putih dibaca putu. Ada juga yang membacanya terbalik, topi dibaca ipot. Diluar aspek bahasa, seringkali terdapat gangguan perkembangan lain. Misalnya, konsentrasi yang buruk dan kontrol diri kurang. Terkadang penderita mengalami kesulitan melempar tangkap bola atau mengikat tali sepatu.

Hmm… Persis seperti yang terjadi pada Aurora, pikirnya. Mungkin dengan faktor lingkungan yang mendukung, ia bisa sembuh. Vero berjanji, akan bicara kembali dengannya besok dan ia akan mencoba mengajarinya cara mengeja dan hal apapun yang ia tidak bisa. Ia tahu, dengan menjauhinya hanya akan membuat keadaannya semakin memburuk, bukannya membaik.

***

Keesokan harinya, Vero sangat bersemangat ke sekolah. Ketika ia tiba di kelas, ia langsung mencari sosok Aurora, menghampirinya, dan segera memeluknya.

“Ra, aku merindukanmu.” Vero melepaskan pelukannya.

“Aku di sini Vero,” ucap Aurora sambil terssenyum tipis. “Kau tidak marah lagi?” tanyanya ragu.

“Tentu saja tidak. Aku sudah tahu semuanya, Ra,” jelas Vero. “Sekarang, aku bisa mengerti keadaanmu.”

Aurora berpikir-pikir, “Hmm… darimana kau tahu semuanya?”

Vero terpaksa jujur walaupun sedikit memalukan rasanya, “Kemarin aku menguping di ruang BK. Hehehe,” jawabnya sambil terkekeh.

“Ha?” Aurora hanya melongo mendengar jawaban Vero.

“Tapi, aku jadi tahu semuanya kan?”

“Iya sih. Ah, sudah lupakan saja. Yang terpenting kau sudah kembali seperti semula.” Aurora tersenyum.

“Ya, aku berjanji akan mengajarimu beberapa hal. Seperti mengeja, mengikat tali sepatu, dan melempar tangkap bola.”

“Benarkah? Terima kasih Verooo!” seru Aurora gembira, lalu memeluk Vero. “Mungkin, mulai sekarang aku tidak akan terlalu menutup diri. Aku berjanji akan selalu menceritakannya padamu.”

“Hahaha. Okeee.”

Vero tahu, walaupun sahabatnya memiliki kekurangan, namun sahabatnya tetaplah sahabatnya. Yang selalu ada bersamanya setiap saat. Yang selalu menolongnya. Yang selalu menghiburnya. Orang penderita diseleksia seperti Aurora sebaiknya bukan dijauhi. Mereka seharusnya diajarkan beberapa hal mengenai kelemahannya agar mereka bisa berubah menjadi normal seperti orang seusianya.

Mulai saat ini, Vero akan selalu menjadi sahabatnya dan bersamanya. Lagi pula, sudah seharusnya seorang sahabat selalu ada di saat suka maupun duka.

Selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s