Soul [Prolog]

Waktu terus berjalan. Tak peduli kala seseorang sedang berburu dengan waktu, ia tak mencoba untuk memperlambatnya sedikit pun. Ia tetap berjalan seperti normal walaupun seseorang merasa waktu berjalan seperti lebih cepat dari biasanya.

Ia hanya mempunyai waktu sekitar sepuluh menit lagi sebelum dirinya benar-benar menghilang. Sementara itu, sekarang ia tak tahu apa yang harus dilakukannya terlebih dahulu. Kini dirinya mulai terlihat kabur dari pandangannya sendiri dan tubuhnya merasa begitu lemas—walaupun ia bukan berada dalam tubuhnya sendiri.

Sepuluh menit? Apa yang dapat dilakukan dengan waktu sepuluh menit? pikirnya.

Ia pun tidak tahu kapan seseorang yang ia sedang gunakan tubuhnya ini akan tersadar dan terbangun dari tidurnya. Sekarang sudah hampir pukul lima pagi.

Ia hanya harus mengambil ramuan untuk mengembalikan tubuhnya yang luka, dan ia akan kembali berada di tubuhnya. Kembali seperti normal, lalu semuanya akan beres. Namun, yang ia sedang permasalahkan adalah kotak itu.

Ya, kotak itu. Sebuah benda yang akan menyelamatkan semuanya, membebaskan semuanya. Ia harus melakukannya—mencari kotak itu—dengan cara apapun yang harus dilaluinya, walaupun membahayakan dirinya sekalipun. Ia tidak tahu persis bentuk dan dimana tepatnya kotak itu berada, namun yang ia tahu kotak itu berada di sebuah ruangan tersembunyi di bawah tanah.

Akhirnya, ia melangkah keluar dari ruangan penuh obat-obatan dan beberapa ramuan yang tidak dikenalinya—setelah mengambil sebuah ramuan untuk dirinya—lalu berjalan menelusuri lorong yang tampak remang-remang—hanya terdapat beberapa obor yang cukup untuk penerangan.

Setelah sampai di ujung lorong, ia menemukan sebuah tangga yang akan mengantarnya menuju ruang bawah tanah. Di bawah sana benar-benar gelap tanpa penerangan sedikit pun. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil sebuah obor yang berasal dari lorong yang dilaluinya tadi.

Tak hanya gelap, di dalam sana ia mulai mencium bau aneh. Bau darah, pesing, dan bau busuk bercampur menjadi satu sehingga memuakkan indera penciumannya. Beruntunglah, ia masih tetap bertahan dengan bau-bau ini. Ia tahu, di bawah tanah merupakan tempat untuk menahan atau lebih tepatnya memenjarakan orang-orang yang dinyatakan telah berbuat salah. Entah orang itu berasal dari luar maupun dalam istana. Bahkan, tak jarang ada yang tidak bertahan dan akhirnya mati di sana. Setiap penjara hanya memuat untuk satu orang dan tampak sangat sempit, hanya berukuran sekitar satu kali satu meter. Belum ditambah dengan udaranya yang begitu pengap di dalam sana karena jarak atapnya yang terlalu rendah. Ia hanya mengetahuinya, tetapi belum benar-benar melihatnya, dan sekarang ia sedang melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Oleh karena itu, ia merasa sedikit terkejut karena yang sebenarnya ia lihat saat ini lebih buruk daripada yang diketahuinya selama ini.

Ia memperlambat langkahnya untuk dapat melihat beberapa orang yang sudah tidak berdaya berada di balik jeruji itu. Ada beberapa yang ketakutan melihat dirinya—takut karena dirinya kini sedang menyamar sebagai salah satu anak dari orang penting di istana ini—ada yang menatap dirinya penuh dengan kebencian. Ada juga yang menatap dirinya seraya memohon untuk dibebaskan. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan bingung, namun sekaligus merasa iba. Ingin rasanya ia membebaskan mereka semua, khususnya mereka-mereka yang tidak benar-benar bersalah.

Ia meneruskan langkahnya dan mempercepatnya. Berusaha tidak mempedulikan mereka untuk saat ini. Yang ia fokuskan adalah mencari kotak itu.

Di ujung lorong, ia menemukan sebuah pintu yang akan mengantarnya ke sebuah ruangan di mana kotak itu berada. Di antara pintu itu terdapat sebuah obor di masing-masing sisinya, cukup jelas untuk melihat dengan jelas bahwa pintu itu telah berkarat. Tak mudah memasuki pintu itu. Tepat di depan pintu itu, kita akan dihadapkan oleh sebuah kunci pemutar yang cukup besar. Mustahil rasanya untuk membuka pintu itu seorang diri. Tanpa terlalu memedulikan hal itu, ia berusaha untuk memutar kunci pintu itu namun begitu berat rasanya, apalagi dengan keadaan tubuhnya yang sudah terasa begitu lemas saat ini.

Ia mencoba memutarnya lagi. Lagi, dan lagi.

Gagal.

Ia berbalik, lalu menyenderkan tubuhnya di atas pintu, memejamkan matanya sesaat. Keringat dingin mulai bercucuran keluar dari kulitnya. Ia merasa begitu lemas. Ia membuka mata dan pandangannya mulai kabur. Kini waktunya tersisa lima menit lagi. Ia pikir waktunya tidak cukup untuk melakukan semua ini.

Dengan berat hati, terpaksa ia harus mengurungkan niatnya untuk mencari kotak itu. Sebenarnya, tujuan dirinya mencari kotak itu adalah untuk menyelamatkan seseorang yang berpengaruh terhadap hidupnya. Seseorang yang telah membuatnya menjadi pemberani seperti ini.

Ya, orang itu adalah ayahnya.

Ayahnya terjebak bersama beberapa orang lainnya. Terjebak di dalam kotak itu. Tubuhnya bisa disembuhkan, namun jiwanya tidak dapat kembali.

Aku memang bodoh. Aku tidak berguna. Aku tidak bisa menyelamatkan ayah. Ia tahu, jika ia tidak menyelamatkan dirinya sendiri, ayahnya akan merasa sangat kecewa. Ayahnya ingin jika dirinya tetap hidup, sekalipun ayahnya harus meninggalkannya untuk selamanya.

Aku berjanji. Tidak akan mengecewakan ayah.

Akhirnya ia beranjak dari tempat itu dan melangkahkan kaki menuju tempat di mana tubuhnya yang sebenarnya berada. Ia mempercepat langkahnya dan setengah berlari. Langkahnya terhenti sesaat ketika seseorang yang berada di balik jeruji memohon untuk dibebaskan. Dari fisiknya, laki-laki itu tampak berumur sekitar dua puluh tahunan. Rambutnya acak-acakan dan wajahnya tampak kotor. Bajunya terlihat lusuh dan penuh dengan sobekan di mana-mana. Di salah satu punggung tangannya terdapat sebuah luka. Mungkin, luka itu baru karena darahnya belum benar-benar mengering. Ia pikir, setidaknya ia menyelamatkan pria ini walaupun ia tidak bisa menyelamatkan ayahnya. Diambilnya sebuah kunci yang berada tepat di luar jeruji itu dan dibukanya pintu penjara dengan hati-hati.

“Te..terima kasih. Tuan,” katanya dengan terbata-bata setelah berhasil dibebaskan, lalu membungkukkan tubuhnya.

Laki-laki itu hanya menganngguk. “Sebaiknya kau cepat keluar dari sini sebelum semuanya terbangun,” katanya mengingatkan.

Laki-laki itu akhirnya beranjak, setelah sebelumnya menjabat tangan laki-laki yang telah membebaskannya itu.

Tanpa berpikir banyak, laki-laki itu cepat-cepat menutup kembali pintu penjara dan menguncinya, kemudian menaruh kunci itu kembali di tempat yang semestinya kunci itu berada—untuk tidak menaruh kecurigaan.

Laki-laki itu segera beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kaki setengah berlari untuk keluar dari ruang bawah tanah dan kembali menelusuri lorong untuk menuju sebuah ruangan dimana tubunya berada.

Akhirnya sampailah ia di sebuah ruangan tersembunyi, tempat di mana tubuhnya berada. Hanya orang-orang tertentu—yang sudah benar-benar menguasai semua tempat di istana—yang dapat memasuki ruangan ini, karena tampak dari luar, ruangan itu seperti tak berpintu—hanya tampak seperti dinding biasa—namun sebenarnya pintu itu terletak tersembunyi dan menyamar menyerupai dinding seperti kamuflase. Sebenarnya, ruangan itu merupakan sebuah gudang tua yang memang sudah tidak pernah digunakan lagi.

Ia mulai mencari celah di antara dinding yang terbuat dari batu bata itu untuk dapat membuka pintunya. Seperti sudah cukup terampil, dengan mudah ia menemukannya. Dibukanya pintu itu dan didapatinya seseorang yang sedang menjaga tubuhnya. Air mukanya menunjukkan kekhawatiran dan ketegangan. Laki-laki itu terkejut melihat siapa yang datang, namun ia tahu bahwa yang sedang dihadapinya bukanlah seorang anak raja sungguhan, melainkan seorang temannya karena ia melihat sebuah ramuan yang sedang digenggam laki-laki yang tengah menyamar itu.

“Ini,” kata laki-laki itu sambil menyerahkan ramuan itu pada temannya. “Aku akan kembali untuk mengembalikan tubuh pangeran ke tempat di mana seharusnya ia berada.” Ia melirik jam di tangannya. Satu menit lagi.

Laki-laki itu beranjak, namun langkahnya terhenti. “Tunggu,” kata temannya, “apakah rencanamu berhasil?” ia teringat akan tujuan temannya itu untuk menyelamatkan ayahnya yang terjebak.

Laki-laki itu berbalik, lalu menggelengkan kepalanya dengan berat. Dirinya terpaksa dibawa kembali mengingat kejadian itu. Ia berusaha untuk tetap tegar dan mencoba untuk menerima semuanya.

“Turut berduka cita atas ayahmu,” ucap temannya iba.

Laki-laki itu berdeham. “Terima kasih.” Ia membalikkan tubuhnya dan beranjak.

Dibukanya kembali pintu gudang itu. Ditelusurinya kembali lorong-lorong itu. Pandangannya saat ini kosong, masih memikirkan kejadian tadi. Tiba-tiba langkahnya terhenti di sebuah ruangan berpintu mewah berlapis emas. Dibukanya pintu itu, lalu ditutupnya kembali. Ia menyebrang melintasi ruangan menuju sebuah ranjang. Kemudian, ia membaringkan tubuhnya—lebih tepatnya tubuh pangeran—di atas ranjang itu, agar semuanya tampak seperti semula. Di dalam benaknya, ia masih memikirkan ayahnya. Dadanya terasa sesak seakan beban menekannya.

Ia berjanji.

Akan membalas semuanya suatu saat nanti.

Ditariknya napas dalam-dalam, lalu dipejamkanlah kedua matanya. Tak lama, ia merasa dirinya seolah-olah ditarik. Dirinya berusaha untuk tidak melawan dan memasrahkan semuanya, mengikuti arah ke mana dirinya akan dibawa. Rasanya seperti sedang terjatuh dari sebuah ketinggian dan terjadi dengan begitu cepat.

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Tak lama, sebuah cahaya putih menyilaukan kedua matanya. Ia berusaha untuk membuka kedua matanya secara perlahan. Pandangannya tampak buram, namun cukup jelas untuk melihat seorang laki-laki yang tampak sedang memperhatikannya, kemudian tersenyum lega.

“Syukurlah, akhirnya kau kembali.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s