Soul [Part 1]

Awan yang putih telah berubah menjadi kelabu, menandakan sudah tak sanggup lagi menahan uap air di dalamnya. Langit yang tak lagi berwarna biru terlalu takut untuk dilihat—seperti akan datang badai besar. Angin berhembus kencang hingga mampu menggerakkan kincir angin di depan sebuah rumah dengan cepat.

Dan dugaannya pun benar.

Tak lama, air mulai menetes jatuh ke permukaan bumi berupa titik-titik hujan. Semakin lama semakin deras dan dalam jumlah banyak. Ia hanya berharap semua keluarganya aman berada di rumah di saat-saat hujan deras seperti ini. Ia juga berharap semoga hujan itu tidak mendatangkan badai yang mungkin saja dapat menghancurkan rumahnya.

Gadis berambut cokelat itu kini sedang duduk di sebuah bangku kayu tua dekat perapian sambil menyesap teh hangatnya yang sengaja ia buat tanpa gula. Dirinya hanya ditemani ibunya yang kini hanya bisa terbaring lemas di ranjangnya. Sudah dua hari ini ibunya sakit dan terlalu sulit bagi mereka untuk membeli obat. Yang dapat ia lakukan hanyalah merawat ibunya sebaik mungkin di rumah.

Gadis itu menoleh untuk melihat keadaan ibunya sejenak, lalu berbalik menatap perapian di hadapannya sembari melamun. Terkadang ia membayangkan dirinya terlahir dari kalangan bangsawan, mungkin ia tidak akan menjadi seperti ini—tidak akan duduk di kursi tua sambil melamunkan nasib, meminum teh, dan tinggal di rumah sederhana yang dindingnya sudah mulai retak-retak dan atapnya bocor.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Ia beranjak untuk membukakan pintu. Di balik pintu, terlihat seseorang dengan rambut cokelatnya basah kuyup dan acak-acakan. Ia tahu orang itu adalah kakak laki-lakinya, kakak laki-laki satu-satunya. Di saat-saat seperti ini, ia menyadari betapa dirinya begitu mirip dengan kakaknya. Mulai dari warna rambut dan mata, cokelat, bentuk alis yang tidak tebal namun tidak terlalu tipis, bentuk hidung mancung, dan wajah yang tirus. Beberapa orang berpendapat bahwa mereka sama-sama tampan dan cantik.

Melihat kakaknya yang sepertinya merasa kedinginan, ia mempersilakannya masuk untuk menghangatkan tubuh di perapian, lalu menutup pintu. Di luar, hujan masih cukup deras dan hari sudah malam.

Ia kemudian menghampiri kakanya yang kini sedang duduk di dekat perapian sambil membuka sepatu bootnya yang basah kuyup. Lalu, ia duduk di sebelahnya, memperhatikan kakaknya.

“Hari ini ada orang hilang lagi,” ucap kakaknya. Masih sibuk membuka sepatu bootnya. “Yang ini berasal dari distrik 3.”

Akhir-akhir ini memang banyak ditemukan orang hilang. Hingga saat ini masih belum ditemukan apa penyebab orang-orang hilang itu dan tidak ada yang mau mengungkapnya secara pasti. Ia yang sudah terbiasa mendengar berita ini hampir setiap hari hanya bisa mengangguk tak acuh.

Kakaknya telah selesai dengan sepatunya, kemudian ia mengambil sesuatu dari sebuah kantung plastik. “Ini obat untuk ibu,” katanya sambil menyerahkan bungkusan obat, “dan ini untukmu, khusus untuk hari ulang tahunmu yang ke 17,” ia menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang sambil menatap adiknya itu dan tersenyum tipis.

Ia balas menatap dan tersenyum pada kakanya. Kotak itu sederhana, hanya dibungkus oleh sebuah kertas bermotif warna pink dengan pita berwarna ungu besar yang melingkari kotak itu. Di atas kotak itu terdapat sebuah tulisan yang emrupakan tulisan tangan kakanya. Sedikit acak-acakan namun masih dapat terbaca.

Untuk adikku, Acelyn. Semoga kau suka dengan hadiahnya :)

Gadis itu membuka kotak dan melihat isinya. Sebuah jam.

Jam itu terlihat sederhana. Dilihat dari bahan dan bentuknya, jam ini bukan termasuk jam murah. Jam itu hanya sebuah jam tangan biasa dengan jarum-jarum penunjuk waktu yang dilengkapi dengan hari, tanggal, dan bulan. Warna jam itu emas—bukan emas sungguhan—cukup untuk memaniplasi warna emasnya.

“Terima kasih, kak,” ucap Acelyn menatap kedua mata cokelat kakanya seraya tersenyum tipis.

“Apapun untukmu,” kata kakaknya. Ia memeluk adik perempuan satu-satunya itu, lalu mengacak-acak rambutnya.

“Tunggu,” kata Acelyn sambil melepaskan pelukan kakaknya. “Jason, darimana kau mendapatkan obat ini?” katanya sambil memperlihatkan bungkusan obat. “Bukankah harga obat ini terlalu mahal?”

Jason berdeham, pandangannya beralih menatap obat di tangan adiknya itu. “Maaf, untuk yang itu—“ ia menghela napas, lalu melanjutkan, “aku terpaksa mencurinya.” Tatapannya beralih pada adiknya itu.

“Kau mencuri… lagi? Kupikir kau sudah berubah.” Acelyn tampak sedih setelah mengetahui bahwa kakaknya kembali kepada kebiasaan buruk lamanya. Mencuri. Pandangannya mulai buram. Setetes air kini jatuh dari matanya.

“Tidak ada cara lain, Acelyn. Aku terpaksa. Aku tidak ingin membiarkan ibu sekarat.” Laki-laki itu menghela napas sesaat, pandangannya beralih menatap perapian di depannya, “kalau saja aku mampu membelinya, aku tidak akan mencuri.”

Acelyn terdiam di tempatnya, tidak bisa berkata apa-apa. Ia tahu, ini bukan salah kakanya sepenuhnya. Ia hanya terpaksa melakukan ini semua. Demi keselamatan ibu.

Jason beranjak dari duduknya, lalu mengambil sepatu bootnya yang setengah kering. Acelyn menatap kepergian kakaknya tanpa berkata apa-apa. Sebelum membuka pintu rumah, ia membalikkan tubuhnya seraya berkata, “Apapun caranya, aku telah berusaha sebisaku.” Laki-laki itu kemudian membuka pintu, membuat suara hujan di luar terdengar jelas, lalu menutupnya kembali, dan suara hujan redam kembali.

Pandangan Acelyn beralih menatap bungkusan obat di tangannya. Tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan benda di tangannya itu. Apakah ia akan membuangnya—karena didapatkan dengan cara yang tidak semestinya—ataukah ia akan tetap memberikannya pada ibunya.

Mungkin, ia akan memilih pilihan kedua karena ia tidak mempunyai pilihan lain. Dirinya tidak ingin membiarkan ibunya sekarat.

Untuk saat ini, ia akan memaafkan kesalahan kakaknya itu, namun tidak untuk kesalahan-kesalahan selanjutnya.

***

Obat itu bekerja dengan cepat. Beberapa menit setelah ia memberikan obat itu, ibunya langsung terjaga. Tampak sehat dan segar kembali.

Sebelum benar-benar meminumkan obat itu pada ibunya, ia memperhatikan lekat-lekat benda itu. Obat itu dibungkus oleh sebuah botol kaca dan berukuran tidak terlalu besar. Dari luar, tampak warnanya yang hijau seperti warna daun. Setelah dibuka, ternyata wujudnya cair. Ia pikir, obat ini lebih tepat jika disebut sebagai ramuan penyembuh.

Gadis itu langsung memeluk ibunya yang baru saja terjaga. “Syukurlah, ibu sudah sembuh sekarang,” kata Acelyn, lalu melepaskan pelukannya dan menatap ibunya senang.

“Syukurlah, ibu sudah sembuh sekarang,” kata Acelyn, lalu melepaskan pelukannya dan menatap ibunya senang.

Ibunya balas tersenyum. “Acelyn, dimana Jason?” Hal itulah yang pertama kali ditanyakannya. Anak pertamanya dan anak laki-laki satu-satunya itu.

“Sebentar, aku panggilkan.” Acelyn beranjak dari duduknya di ranjang, lalu melangkahkan kaki menuju pintu keluar rumah. Ia tahu, di saat-saat sulit seperti ini, Jason akan pergi lalu menyendiri di rumah pohon. Ya, rumah pohon yang sengaja mereka dan ayahnya bangun sebagai tempat untuk berkumpul. Sudah tidak pernah terurus sejak kepergian ayahnya dua tahun lalu. Penyebab kematiannya tidak pernah terungkap jelas sampai saat ini. Ia hanya diberitakan meninggal oleh orang-orang, jasadnya pun tidak pernah ditemukan.

Rumah pohon itu terletak tidak jauh dari rumahnya berada. Dibangun diantara pohon-pohon yang menjulang tinggi di sekitarnya. Dulunya, tempat itu adalah salah satu hutan di distrik 7, namun sekarang pohon-pohon itu mulai ditebangi untuk dijadikan pemukiman warga.

Sampailah ia di tempat yang ia tuju. Baru ia sadari, ternyata hujan sudah mulai reda. Dari bawah, ia dapat melihat kakaknya yang sedang duduk di ujung lantai kayu serambi rumah pohon itu. Dinaikinya tangga menuju rumah pohon itu. Tangga itu berupa tangga yang digantung lurus, terbuat dari bambu.

Sesampainya di atas, ia melihat kakanya sedang terdiam, termenung. Tatapannya lurus ke depan, seperti memikirkan sesuatu. Air mukanya menyiratkan kesedihan yang mendalam terhadap luka yang membekas di masa lalu, dan masih menganga hingga saat ini.

Acelyn duduk di sebelah kakaknya, membiarkan kedua kakinya melayang-layang di udara dengan bebas, sebebas perasaannya saat ini. “Ibu sudah sembuh,” katanya sambil mencur-curi pandang pada laki-laki di sebelahnya itu.

Laki-laki itu menghela napas sejenak, “Kukira kau akan membuang obat itu.”

“Kupikir, itu bukanlah pilihan yang tepat untuk saat ini.” Gadis itu sekarang memebranikan diri untuk menatap kakanya. “Kau tahu? Obat itu bekerja dengan cepat. Kau hebat sekali bisa mendapatkannya. Yah, walaupun dengan cara mencuri,” sindirnya.

Laki-laki itu balas menatap Acelyn. “Jadi, kau sudah memaafkanku?”

“Ya, mungkin. Tapi tidak untuk kesalahan-kesalahan selanjutnya.” Mereka berdua saling diam, menciptakan suasana hening. “Kau tahu?”

“Apa?”

“Aku merindukan ayah,” kata Acelyn setengah berbisik. Ia ingat masa-masa ketika mereka tersenyum bersama, tertawa bersama, merasakan kebahagiaan bersama. Namun, kini semua itu hanya tinggal berupa kenangan yang berbekas di memori otaknya, dan akan selalu tersimpan di sana tanpa ada yang berubah sedikit pun.

“Aku juga.” Jason meraih tubuh adiknya itu, lalu merangkulnya erat. Mencoba melindungi adiknya itu walapupun ia tahu, tidak ada bahaya apa-apa yang mengintai mereka.

“Oh ya. Omong-omong, kau harus mempersiapkan diri untuk mulai bekerja besok, karena itu akan sangat melelahkan,” kata Jason mengingatkan.

Di distriknya, bekerja adalah merupakan sebuah kewajiban. Baik itu perempuan ataupun laki-laki, bagi mereka yang telah berumur 17 tahun, diwajibkan untuk bekerja. Ada yang bekerja sebagai buruh angkut, kuli, ada juga yang mendapatkan pekerjaan yang cukup ringan, yaitu bekerja di bagian istana seperti menjadi pengawal raja atau ratu. Berhubung saat ini umur Acelyn yang sudah menginjak usia 17 tahun, ia sudah harus bekerja. Kakaknya sendiri kini bekerja sebagai buruh angkut, setelah sebelumnya menjadi pengawal raja. Dipecat karena ia ketahuan mencuri oleh salah seorang petugas istana. Beruntunglah ia tidak mendapat masalah dengan pihak istana hingga saat ini.

“Oh ya, aku hampir saja lupa,” kata Acelyn sambil menepuk keningnya. “Tadi, ibu menanyakanmu. Sebaiknya, sekarang kita menemui ibu.”

Jason melepaskan rangkulannya, lalu segera menuruni tangga. Acelyn mengikutinya dari belakang dalam diam. Gadis itu bisa sedikit bernapas lega, karena setidaknya kini ibunya telah sembuh dan yang terpenting, hubungannya dengan kakaknya semakin membaik.

Ia berharap akan seperti itu selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s