Memories [Prolog]

Cuaca panas memang melelahkan. Energi dalam tubuh kita seolah-olah diserap oleh panas matahari yang memancarkan sinarnya secara radiasi mengenai permukaan kulit. Ditambah lagi dengan berbagai polusi udara di kota yang sudah terlalu padat penduduknya ini. Asap knalpot, asap pembakaran sampah, dan asap pabrik bercampur menjadi satu membentuk suatu senyawa yang dapat membuat napas kita menjadi sesak.

Aku sedang berjalan di sebuah trotoar—yang kini bergeser makna, bukan lagi untuk pejalan kaki, melainkan sebagai jalur alternatif bagi pengendara motor yang tidak ingin terkena macet—seorang diri sambil membawa beberapa tumpuk buku bahan mata kuliah dengan tangan kiri, sedangkan bagian tangan kanan sibuk memegangi sebuah tas berukuran besar yang kugantungkan di pundak.

Aku mempercepat langkahku, ingin cepat-cepat sampai di rumah. Sebenarnya, lebih tidak ingin berada di luar terlalu lama karena anggapanku bahwa di luar sana tidaklah aman, orang jahat berada di mana-mana dan tidak dapat diduga—walaupun orang itu sepertinya bermuka baik-baik, namun belum tentu ia baik. Maka dari itu, semua orang kucurigai.

Dalam perjalanan trotoar itu, aku mencurigai gerak-gerik seseorang. Aku berusaha menghindar dengan berjalan menjauh dan mengamankan barang bawaanku, terutama tas yang berisi laptop, handphone, iPod, dan harddisk berukuran 1 Terrabyte. Aku berjalan menyamping, berusaha menghindar. Namun, ketika misi penghindaranku sedang berlangsung, tiba-tiba bahu sebelah kiriku menabrak seseorang dan otomatis semua buku yang kupegang jatuh berserakan.

“Ck,” aku berdecak kesal, lalu berkacak pinggang dilanjutkan dengan memutar bola mata sambil melihat orang yang menabrakku tadi kini sedang mengambil buku-bukuku yang berserakan. “Anda tidak lihat saya sedang berjalan di sini?!” Gertakku lebih karena takut orang itu ingin bermaksud jahat. Sebenranya, aku tidak tega memarahi orang itu. Bisa saja ia tidak bermaksud jahat dan tadi itu tidak sengaja dilakukannya. Namun, semua orang tetap harus dicurigai.

“Ya maaf, namanya juga gak sengaja,” jawab pria itu santai sambil menyerahkan buku-bukuku yang tadi diambilnya.

Aku mengibaskan rambut yang menghalangi mataku, tidak berani untuk menatap matanya karena takut orang itu akan menghipnotis. Maka dari itu, aku hanya menatap bagian lain selain matanya—pria itu berpenampilan santai, memakai jaket dengan kaus di dalamnya, celana jeans, dan sepatu kets ala anak sekolah SMA.

Tak ingin berurusan lebih lama dengan pria itu, aku berbalik pergi tanpa berkata-kata. Namun…

“Tunggu!” Pria itu menahan lengnan kananku yang sedang mengapit tas. Kupikir ia tidak berhasil menghipnotis, tapi ia akan mencopet tasku. Baru saja aku akan berteriak ‘Tolong’, namun kutahan dan yang kulakukan hanyalah menghempaskan lenganku dari genggamannya dan mendengus, “Apa sih?!”.

Kini, aku terpaksa berbalik, dan aku terpaksa bertatapan dengan pria itu.

Mata itu. Mata yang sama—tidak berubah sejak dulu. Mata yang memaksaku untuk kembali kembali mengingat masa lalu yang ingin kulupakan, bahkan kalaupun bisa ingin kuhapus dan berharap bahwa aku tidak pernah ingat pernah melalui itu semua.

Mata itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s