Soul [Part 2]

Jam tangan emas melingkar manis di tangan kanannya yang mungil. Warnanya cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Acelyn menatap jam pemberian kakaknya itu, lalu tersenyum tipis. Ia pikir ini merupakan hadiah terbaik yang pernah didapatkannya. Kemudian, pandangannya beralih pada cermin di hadapannya. Ia mulai mengikat rambut cokelatnya yang panjang dan lurus menjadi bentuk buntut kuda, sementara poninya dipotong pendek hingga mencapai alisnya yang tebal.

Dirasa penampilannya sudah cukup sempurna dengan balutan kemeja putih yang dimasukkan rapi ke dalam rok cokelatnya yang mencapai lutut. Ia harus mendaftarkan diri terlebih dahulu ke Aula Pusat sebelum benar-benar memulai bekerja. Di sana, orang-orang yang mendaftarkan diri akan dilihat untuk bisa disesuaikan dengan tempat di mana mereka akan bekerja.

“Acelyn, kau sudah siap? Jangan sampai kau terlambat nanti,” kata kakaknya mengingatkan.

“Ya, aku sudah siap,” jawab Acelyn sambil menatap kakaknya melalui pantulan cermin di hadapannya. Kini kakaknya sedang berdiri berdampingan dengan ibunya, menatap balik Acelyn.

Kakaknya memang menawarkan diri untuk mengantarkan Acelyn ke Aula Pusat hari ini. Acelyn merasa sedikit keberatan karena ia tidak mau merepotkan kakaknya. Karena kakaknya terus memaksa, akhirnya ia menyerah dan membiarkannya mengantarnya hari ini.

Gadis itu berbalik, lalu menghampiri Jason dan ibunya. “Ibu, aku pergi dulu,” katanya, lalu memeluk ibunya erat.

“Berhati-hatilah. Jaga dirimu baik-baik di sana,” kata ibunya cemas.

“Aku hanya pergi sebentar, bu. Toh, nanti sore aku akan pulang.” Acelyn melepaskan pelukannya, lalu mengangguk—memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. “Ayo!” serunya pada Jason.

Acelyn dan Jason beranjak keluar rumah, lalu mereka melambaikan tangan pada ibunya. Sedih rasanya harus melalui saat-saat seperti ini, walaupun tak lama ia juga akan kembali ke rumahnya. Ke tempat yang ia anggap teraman untuk saat ini.

Perjalanan dari rumah menuju Aula Pusat memakan waktu kurang dari satu jam. Mereka hanya perlu menaiki kereta kuda untuk dapat menuju ke sana. Di luar, jalanan tampak basah dan becek—akibat dari hujan besar semalaman—namun, tak mengubah keadaan biasanya yang selalu tampak dipadati orang-orang yang berlalu lalang, sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Setelah mereka akhirnya menemukan sebuah kereta kuda kosong di pangkalannya, mereka menaikinya. Kereta itu tampak sederhana, hanya ditarik oleh seekor kuda yang tidak begitu gemuk namun tidak begitu kurus, dan dibelakangnya terdapat sebuah kotak besar yang didalamnya terdapat dua tempat duduk—untuk pengemudi dan untuk penumpangnya—dilengkapi dengan jendela dan pintu masuk. Tidak ada ukiran dan tirai mewah apapun, tidak seperti halnya kereta kuda kerajaan yang terlihat begitu istimewa, dengan ukiran-ukirannya di setiap sisi kereta, dan tempat duduk empuk serta tirai-tirai mewah untuk menutupi jendela dan pintunya.

Acelyn mencoba mengintip ke luar jendela, melihat jalanan sekitar. Masih tampak dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan kaki. Ia tahu, sekarang mereka tengah melewati sebuah tempat sejenis pasar atau pub—tempat di mana orang-orang berdatangan untuk membeli sesuatu. Ada juga yang menjual sesuatu, bahkan bertukar barang dengan barang. Di sela-sela kerumunan itu, ia melihat seorang wanita—mungkin seumurannya—yang sedang mengangkut sebuah karung yang kelihatannya tidak ringan, karena terlihat dari ekspresi muka wanita itu yang tampak kelelahan. Ia mengernyit, membayangkan apabila dirinya bekerja seperti itu, ia yakin ia tak mungkin sanggup melakukannya. Yang dapat ia lakukan sekarang hanyalah berdo’a agar ia diberikan pekerjaan yang selayaknya.

Tak lama, pasar itu berubah sepi, menjadi sebuah hutan kecil dengan pepohonan memenuhi sepanjang sisi jalan. Kereta kuda itu berbelok, dan berhenti di sebuah sudut jalan. Mereka melompat menuruni kereta kuda dengan hati-hati, setelah membayarnya.

Acelyn membalikkan tubuhnya, dan mendapati sebuah plang besar melengkung yang berada tepat di atas gerbang pintu masuk utama. Plang itu bertuliskan ‘Aula Pusat’. “Jadi, ini tempatnya?” Dirinya memang belum pernah mengunjungi tempat itu sebelumnya.

Jason mengangguk tegas. “Ya. Jauh lebih modern bukan?” Ia menghela napas sejenak, “Kau tahu? Apa yang ada di balik tembok itu?” Ia menunjuk sebuah tembok besar dan tinggi yang menjulang tepat di belakang aula pusat. “Itu adalah istana.”

Acelyn hanya mengangguk tak acuh, tidak terlalu tertarik dengan istana dan apapun itu tentangnya. Bahkan, ingin melihatnya saja tidak. “Hmm… sepertinya kita harus masuk sekarang,” ia mengalihkan perhatian kakaknya agar segera masuk menuju Aula Pusat, menuju tujuan utama mereka ke tempat ini.

“Oh, baiklah.”

Mereka berjalan memasuki gerbang utama Aula Pusat dan berjalan bersisian. Di dalamnya, terlihat sebuah taman kecil yang hijau dan cantik. Dipenuhi dengan bunga-bunga dan pepohonan. Tepat di depan aula itu, terdapat sebuah serambi yang diteduhi oleh sebuah atap dan disangga oleh tiang-tiang dari batu bata berjumlah empat yang terletak di setiap sudut serambi. Lantainya terbuat dari marmer yang mengkilat dan licin.

“Keadaannya belum berubah sejak terakhir kali aku ke sini,” gumam Jason di sela-sela langkahnya menuju pintu masuk Aula Pusat.

Tidak tahu apa yang harus Acelyn katakan, akhirnya ia hanya menjawab, “Oh, ya?” Mereka kini tengah berada tepat di pintu masuk. Pintu itu berukiran indah dan berwarna emas mengilat dengan gagang  pintu yang berukuran cukup besar, dan, pintu itu kini terbuka lebar. Tepat di depan pintu masuk, terdapat dua buah patung yang masing-masing mengapit pintu itu, sebuah patung kuno replika raja dan ratu. Ia tidak tahu tepatnya raja dan ratu itu berasal dari tahun berapa. Mereka melewati pintu itu setelah sebelumnya melawan sedikit rasa ragu untuk memasukinya. Di dalamnya tampak beberapa meja besar yang menghadap pintu masuk—meja dimana orang-orang melakukan sebuah kepentingan yang di baliknya duduk seorang atau dua orang pengurus kepentingan itu. Di depanya, kursi-kursi panjang berjajar berjumlah sepuluh ke belakang, sebagai tempat untuk menunggu antrean. Kini, suasana cukup ramai di dalam dengan orang-orang—yang sebagian besar—memiliki kepentingan yang sama dengan Acelyn.  Namun, ada juga yang ingin meminta bantuan pangan dan protes akan kebijakan-kebijakan penguasa, namun ia tahu pasti bahwa hal itu tidak akan membawa pengaruh sedikitpun.

Setelah mengambil nomor antrean yang terletak tepat di samping pintu masuk—nomor 30—mereka duduk di salah satu kursi panjang itu untuk menunggu panggilan.

Terdengar suara dari salah seorang di balik meja besar menyebutkan ‘nomor 25’. Masih lama, pikirnya. Di antara kerumunan orang-orang itu, ia memperhatikan seorang gadis yang mungkin seumuran dengannya, berambut hitam gelap, dan  sedang berjalan ke arahnya, lalu duduk tepat di sisi sebelahnya yang kosong. Rambutnya digelung tinggi di belakang dan disangga oleh sebuah benda berbentuk seperti sumpit. Ia pikir, model rambut seperti itu lebih mirip dengan keturunan  China atau Jepang. Namun, matanya yang berukuran besar—tidak seperti orang-orang China atau Jepang pada umumnya yang memiliki mata cenderung kecil dan sipit—membuktikan bahwa sebenrnya ia bukan keturunan China atau Jepang.

“Hei,“ sapa Acelyn. “Mau mendaftar juga?” tanyanya basa-basi sambil menatap wajah gadis itu yang menurutnya cukup menarik, lalu beralih pada baju yang dikenakan gadis di sebelahnya itu. Baju yang dikenakannya cukup sederhana, hanya sebuah baju terusan rok berwarna putih lusuh yang mencapai hingga mata kakinya. Baju itu dipermanis dengan sebuah tali yang diikat ke belakang tepat di atas perutnya.

Gadis itu ragu-ragu melirik ke arah Acelyn, lalu mengangguk sekali dengan tatapan malas, pandangannya kembali beralih ke sekitar. Pura-pura menyibukkan diri sendiri.

Jutek sekali,” bisik Acelyn pada Jason yang berada di sebelahnya. Suaranya begitu rendah, karena tidak ingin gadis di sebelahnya itu mendengar.

Jason hanya terkekeh pelan mendengarnya, lalu balas berbisik, “Coba ajak dia berkenalan. Tanya namanya, tempatnya di mana ia tinggal—“ Sebelum selesai, Acelyn telah mengangguk, lalu berbalik menghadap gadis berambut hitam itu.

Acelyn menepuk-nepuk pundak gadis itu hingga gadis itu berbalik menghadapnya. Ia tidak peduli kalau dirinya telah membuat kesal gadis di sebelahnya itu. “Namaku Acelyn. Namamu siapa?” tanyanya sambil menyodorkan sebelah tangannya terbuka, menunggu disambut balik oleh tangan gadis itu.

Setelah sepasang mata cokelatnya ragu-ragu menatap Acelyn, lalu beralih pada tangan Acelyn yang siap menyambut tangannya, akhirnya ia menyambut tangan itu dan berkata, “Theressa.”

“Kau tinggal di mana?” tanya Acelyn setelah melepas tangannya. Ingin tahu lebih lanjut tentangnya.

“Blok 10. Di paling ujung dekat sungai tepatnya,” jawab Theressa menjelaskan. “Kau sendiri?”

“Blok 7. Di ujung dekat sungai dan perbatasan,” kata Acelyn sambil tersenyum. “Oh, ya. Ini kakakku, namanya Jason.” Ia melirik ke arah kakanya, lalu beralih menatap gadis itu kembali. “Kau ke sini, sendiri saja?”

Theressa berpikir-pikir, walaupun mungkin sebenarnya tidak ada yang perlu dipikirkan dari jawaban itu, karena sudah jelas. “Ya. Ibu dan ayahku sibuk bekerja. Dan… aku sendiri anak tunggal. Jadi, yah, tidak ada yang mengantarku. Beruntung sekali kau punya kakak yang bisa menemanimu,” pandangannya tertuju pada Jason. Jason sendiri langsung senyum-senyum setelah mendengarnya.

Acelyn memutar matanya setelah melihat Jason, lalu beralih pada Theressa, “Ya, dia baik. Tapi, yah, kau tahu? Terkadang dia bisa begitu menyebalkan.”

“Oke, jangan pernah lagi meminta bantuan padaku,” gumam Jason. Matanya menghindari tatapan Acelyn.

“Ya, kau lihat sendiri kan, sekarang?”

Theressa hanya tertawa kecil melihat kedua kakak adik itu. Dari sela suara kerumunan orang, terdengar sebuah suara keras dari seseorang di balik meja besar, ‘nomor 29’. “Oh, ya. Itu nomor panggilanku. Aku duluan, ya! Dan… semoga kita bisa bertemu kembali.” Theressa beranjak dari duduknya, lalu berjalan menjauhi Acelyn dan Jason menuju ke depan meja besar untuk mendaftar.

“Sebentar lagi giliranmu,” kata Jason.

Mereka menghabiskan waktu hingga dipanggil dengan saling diam satu sama lain. Memandangi kerumunan orang-orang di depan mereka, dan melihat-lihat sekitar. Memandangi jendela-jendela besar berjumlah banyak, yang membiarkan cahaya matahari memasuki ruangan untuk menjadi pengganti lampu di siang hari. Lalu, Acelyn melihat sebuah lampu besar mewah bercabang empat yang menggantung tinggi di bagian atas Aula Pusat. Lampu itu mengilat di bawah pantulan sinar matahari, hingga cahayanya begitu menyilaukan matanya.

Nomor 30’. Acelyn beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju meja besar di depan setelah sebelumnya mendapat ucapan dari Jason, “Semoga beruntung,” katanya.

Acelyn berjalan menuju meja besar dengan tegang—jantung berdebar, tangan berkeringat, dan langkah goyah—belum siap menerima kemungkinan hal buruk yang akan menimpanya. Langkahnya terhenti di depan sebuah meja besar dan mendapati seseorang—mungkin berusia pertengahan 40-an—berada di baliknya. Sedang duduk dengan serius sambil membereskan lembaran-lembaran kertas di mejanya.

Pria paruh baya itu menurunkan sedikit kacamatanya, untuk dapat melihat gadis di hadapannya, “Namamu?” tanyanya.

Tanpa banyak berpikir, Acelyn menjawab, “Acelyn. Acelyn Brawn.” Sempat ia memperhatikan rambutnya yang sudah setengah beruban, dengan kepala bagian atasnya yang setengah botak. Terlihat lebih seperti seorang professor yang sedang stress karena percobaan-percobaannya yang tak kunjung membuahkan hasil.

“Brown?—cokelat,” tanyanya.

Acelyn akhirnya mengeja, “B-R-A-W-N. Brawn.”

“Hmm…” Pria paruh baya itu hanya menggangguk-anggukan kepalanya, seperti seorang dokter yang sudah paham betul akan keluhan dan gejala penyakit pasiennya, dan sekarang ia tengah memikirkan resep obat yang tepat. “Umur?”

“16,” jawab Acelyn singkat. Dirinya masih bergeming di tempatnya bediri.

Setelah menuliskan beebrapa keterangan mengenai Acelyn, pandangannya beralih menatap gadis di hadapannya itu. Matanya menyusuri gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Untukmu… kurasa…,” ia melanjutkan kata-katanya, “Kau lebih cocok menjadi… buruh angkut barang di pub.”

Apa? pikir Acelyn dalam hati. Sebenarnya, ia tak tahan ingin mengatakan kata-kata itu, tapi ia tahan. Alih-alih mengatakan itu, ia akhirnya berkata, “Apakah ada pekerjaan yang lebih ringan? Yang sesuai dengan umurku, barangkali?” tanyanya, penuh harap.

“Oh, ayolah. Sudah lebih dari sepuluh orang hari ini yang menolak pekerjaan ini,” gerutu pria paruh baya itu. “Dan, kita sedang membutuhkan orang untuk pekerjaan ini.”

“Kumohon?” Acelyn tidak peduli lagi jika dirinya telah membuat kesal pria paruh baya itu. Ia hanya mementingkan keselamatan dirinya.

“Yasudah. Kau bekerja dulu selama sebulan. Kalau kerjamu selama sebulan itu bagus, kau akan dipindahkan ke pekerjaan lain.”

Sebulan? Kau pikir sebulan itu sebentar, hah? Acelyn pikir, pria paruh baya itu sudah gila karena memilihkan pekerjaan untuknya sebagai buruh angkut barang, dan kau tahu? Untuk bisa terbebas dari pekerjaan itu dibutuhkan waktu sebulan. Dan, setelah sebulan itu belum tentu ia mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ternyata benar, penguasa di sini memang kejam. Pantas saja, banyak yang melakukan protes. Ini benar-benar tidak adil. Hel-lo~. Sudah terjungkir balikkah dunia ini?

Pria paruh baya itu berdeham, lalu menatap Acelyn yang masih saja bergeming di tempatnya berdiri. “Hmm… kurasa urusanmu sudah selesai di sini dan kau dipersilahkan untuk menunggu di luar dengan yang lainnya hingga mobil pengangkut tiba. Keputusan sudah dibuat dan tidak dapat diubah.” Ucapannya tegas, mustahil untuk dibantah sekalipun.

Alih-alih menjawab, Acelyn hanya mengangkat bahu tak acuh dan berbalik untuk melangkah pergi. Hal yang ditakutkannya terjawablah sudah. Ia hanya bisa pasrah menerima semuanya. Oh, sungguh malang nasibnya saat ini.

“Bagaimana?” tanya Jason setelah Acelyn menghampirinya, dan duduk di sebelahnya.

Acelyn tidak menjawab. Ia hanya melipat kedua tangannya, sambil memasang wajah cemberut. “Orang itu sudah gila, ya? Sampai-sampai telah memilihkan pekerjaan untukku menjadi buruh angkut barang di pub.”

“Hah? Kau bercanda? Tega sekali.”

“Ya, dan setelah aku memohon untuk diberikan pekerjaan lain yang lebih layak, ia memberikan pilihan agar aku bekerja dulu selama sebulan, dan… yah, kau tahu sebulan itu tidaklah sebentar, dan jika kerjaku bagus, aku akan dipindahkan ke pekerjaan lain dan… belum tentu pekerjaan itu lebih layak dari sebelumnya.” Acelyn mendengus kesal dan menggelengkan kepalanya, “Aku tidak yakin apakah aku sanggup melakukannya.”

Jason mendengus pelan, “Oh, tenanglah. Aku yakin kau pasti bisa melaluinya.” Lalu, mengacak-acak rambut adik perempuan satu-satunya itu dan tersenyum. “Oh, hei. Kalau begitu, kita bisa bekerja bersama dan pulang bersama setiap harinya.”

Acelyn hanya mengangguk. Baru menyadari bahwa kakaknya juga bekerja sebagai buruh angkut. Tak lama, mereka beranjak dan berjalan keluar dari Aula Pusat. Bergerak menuju kerumunan orang-orang yang sama-sama sedang menunggu sebuah mobil untuk mengangkut mereka.

Dan, di antara kerumunan orang itu, ia berharap dapat menemukan gadis berambut hitam itu. Theressa.

 

***

 

Sang sopir membuka kunci mobil bak terbuka di belakangnya—tempat bagi para pekerja yang sedang diangkut menuju tempat kerjanya. Mobil itu tidak terlihat cukup bagus. Tampak seperti mobil-mobil kuno lainnya, dengan bagian belakang berbentuk box terbuka. Di bagian depan, hanya disediakan tempat untuk dua orang—untuk sopir dan asistennya tentu saja.

Acelyn berharap, ia bisa menemukan Theressa dan mnedapatkan pekerjaan yang sama dengannya. Namun, sepertinya hal itu tidak membuahkan hasil karena hingga saat ini ia tak melihatnya, tak melihat si pemilik rambut hitam itu. Yang ditemuinya hanyalah beberapa orang seusianya dan tak satu pun dikenalinya.

Acelyn melompat dari mobil, berjalan mengikuti rombongan di depannya. Kemeja putihnya sedikit kotor akibat debu yang berasal dari mobil tadi. Salah satu pemilik kios di sana mulai mengabsen para pekerja. Aneh sekali. Bekerja saja harus di absen. Ya, dirinya tahu hal itu mereka lakukan untuk menghindari terjadinya misi melarikan-diri-dan-terbebas-dari pekerjaan.

“Kau… ambil itu, dan antarkan ke sana,” kata Pemilik kios itu kepada seorang laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya sambil menunjuk ke sebuah arah.

Kini, hanya tersisa Acelyn dan seorang gadis berambut pirang yang berdiri di belakangnya. Ia melirik ke arah gadis itu sejenak, lalu beralih.

“Oh… kau. Acelyn Brawn. Dan kau, Rizel Climberly?” tanya si pemilik kios itu ragu-ragu.

Mereka berdua hanya mengangguk bersama-sama.

“Kalian, antarkan itu—,” tunjuk si pemilik kios itu pada sebuah gerobak berisi karung, “Ke istana.” Sebelum sempat mereka beranjak untuk mengambil gerobak itu, sang pemilik kios menghampiri mereka lebih dekat, lalu berkata setengah berbisik, “Tapi, ingatlah. Ini barang penting. Jadi, jangan sampai kalian ceroboh membawanya.”

Kenapa harus ke istana? Pikir Acelyn. Dirinya tidak membantah, langsung menurut dan menghampiri gerobak itu. Oh, tetapi syukurlah. Ia tidak akan sendirian membawa gerobak itu. Selagi berjalan menuju gerobak, pandangannya bertemu dengan gadis itu, gadis berambut pirang itu. Dan ia hanya membalas sebuah anggukan pasti.

Ia pun berharap, bisa berteman baik dengannya.

 

***

       “Sudah sampai,” gumam gadis itu, tampak kelelahan. Sama seperti Acelyn yang berada di sebelahnya. Kini, mereka berada di dekat gerbang istana. Tidak tepat berada di depannya, namun terlihat jelas dari tempat mereka berdiri. Sebuah tembok besar dan tinggi menjulang mengapit gerbang itu, gerbang berbahan besi yang tampaknya cukup kuat untuk menahan serangan musuh.

Sepanjang perjalanan tadi, Acelyn mencoba berbicara dengan gadis itu. Tidak seperti halnya Theressa ketika pertama kali bertemu yang terlihat begitu jutek. Raizel lebih ramah dan mudah diajak bicara. Tidak hanya itu, orangnya ceria dan suka bercanda. Maka dari itu, Acelyn merasa nyaman berteman dengannya. Raizel juga menceritakan tentang hobinya yang suka memanah, sementara Acelyn tidak memiliki hobi khusus—kecuali hanya sekadar memanjat pohon dan berdiam di rumah pohon, itu pun tidak dapat dikatakan sebagai hobi.

Berbanding terbalik dengan Acelyn, Raizel senang mendapat bagian mengantarkan barang ke istana. Dirinya mengetahui segala hal tentang istana. Mulai dari silsilah keluarga kerajaan, hingga cerita tentang Sang Pangeran yang menurutnya sangat tampan, dan memikat walaupun sayangnya ia selalu diikuti oleh seorang gadis kerajaan yang jahat. Acelyn tahu, gadis itu sangat bersemangat sampai-sampai ia sempat mengira bahwa ia tidak merasakan beban ketika mendorong gerobak yang waw-sangat-berat. Awalnya, ia sendiri tidak akan menyangka gerobak itu tidak seberat ini. Ia pikir, mungkin karung itu hanya berisi makanan atau apalah. Tapi ternyata dugaannya salah. Yah, mungkin karung-karung itu berisi sebuah benda-benda yang ia tidak tahu pasti apa benda itu.

“Hei, Raizel. Apakah kau tahu apa yang ada di dalam karung itu?” tanya Acelyn di tengah-tengah perjalanan menuju istana.

Raizel berpikir-pikir sejenak, “Hmm… kurasa benda-benda penting. Kau ingat? Pemilik kios itu berkata bahwa ini barang penting. Tapi aku tidak tahu tepatnya apa benda itu,” ia mengangkat bahu tak acuh, “Yah, maka dari itu diantarkan ke istana, pasti sifatnya penting. Entahlah.”

Oke, kembali ke masa kini.

Acelyn memulai pembicaraan, “Oke, apa yang harus kita lakukan sekarang?” katanya sambil menatap mata biru gadis itu.

Raizel berpikir-pikir sejenak, “Hmm… kurasa, menghampiri penjaga istana, mungkin?” Mereka tahu bahwa istana itu dijaga ketat oleh para penjaganya yang kini sedang berada tepat di depan pintu gerbang.

“Hmm… oke,” kata Acelyn tanpa berpikir lebih panjang lagi. Ia ingin semuanya cepat berakhir.

Mereka akhirnya bergerak lebih dekat, dan menghampiri penjaga istana itu. “Permisi,” seru Raizel yang tampaknya sangat bersemangat dan penuh percaya diri.

“Ada perlu apa kalian ke sini?” tanya salah satu penjaga istana yang bertubuh kurus itu.

Acelyn angkat bicara, “Kami, pekerja baru di sini. Dan, kami ditugaskan untuk mengantarkan ini ke… sini.”

“Kau yakin?” tanggap penjaga istana yang satunya lagi, yang ini bertubuh gemuk.

“Bagaimana kita tahu kalau kalian tidak sedang melakukan penipuan atau… yah, semacamnya?” kata penjaga yang bertubuh kurus itu sinis.

“Untuk apa kami berbohong? Ini.” Raizel mendorong gerobak itu ke arah mereka. “Buka saja kalau tidak percaya,” katanya jutek. Penjaga itu menghampiri gerobak berisi karung-karung itu. Meraba-raba isinya, membolak-balikkannya, lalu membukanya dengan sangat hati-hati, persis seperti seorang petugas yang sedang berusaha mendeteksi bom. “Tenang saja, tidak ada bom-nya,” gumam Raizel.

Setelah berhasil dibuka, Acelyn dan Raizel mencoba untuk mengintip apa yang ada di balik karung-karung itu. Mereka benar-benar ingin tahu, barang jenis apakah yang sedari tadi mereka bawa itu dan sepenting apakah tepatnya. Tak lama, penjaga istana yang bertubuh gemuk memberi isyarat kepada temannya yang bertubuh kurus untuk memanggil seseorang dari dalam istana. Lalu, si pemilik tubuh kurus itu segera masuk menyelinap melewai gerbang besar di belakangnya.

Sekilas, Acelyn melihat sebuah benda berbentuk kotak, lebih tepatnya berbentuk kubus. Warnanya biru mengilap dan jumlahnya tidak sedikit. “Kau tahu apa itu?” tanya Acelyn penasaran pada penjaga istana itu.

“Hmm… tidak tahu. Tapi, kurasa pangeran tahu. Zack sedang memanggilnya.”

Oh, jadi penjaga yang bertubuh kurus itu bernama Zack, pikir Acelyn dalam hati.

“HAA!” seru Raizel tiba-tiba, membuyarkan lamunan Acelyn. “Kalau begitu, berarti… pa.. pangeran—“ ucapannya terhenti ketika gerbang itu tiba-tiba membuka, dan seseorang yang bertubuh kurus—si penjaga istana—itu muncul dari balik gerbang. Namun, tidak hanya dia. Seseorang bertubuh tinggi, berambut cokelat gelap, dan bermata abu dengan pakaian khas kerajaan yang rapi dan lengkap, muncul setelahnya. Raut mukanya serius, namun setengah bingung.

Acelyn tahu, apa reaksi seorang temannya saat ini. Ia akhirnya menoleh menatap temannya itu. Didapatinya gadis itu sedang terdiam dengan mulut setengah terbuka dan mata melotot, tampak tidak dapat berkata apa-apa. Orang yang selama ini diidolakannya, yang selama ini hanya terdapat dalam alam mimpinya dan dunia khayalnya, sekarang ada di hadapannya. Akhirnya, Acelyn menyikut temannya itu untuk membawanya kembali ke dunia nyata. Namun, tampaknya Raizel tak kunjung sadar.

Pangeran tampak sedang memeriksa isi karung itu. Di bawah pantulan sinar matahari, rahangnya tampak semakin tegas. Rambut cokelat gelapnya tersisir rapi dan sedikit menutupi telinganya. Jujur saja, Acelyn memang mengakui ketampanan pangeran dan ia sepertinya terpikat juga padanya. Ternyata, benar semua cerita Raizel tentang pangeran tampannya itu.

Pangeran terlihat sedang bergumam, lalu memerintahkan para penjaga untuk membawa gerobak itu masuk ke dalam istana. Tanpa berkata apa-apa, penjaga istana itu langsung menurut. Tiba-tiba, pandangannya beralih pada kedua gadis yang sudah mengantarkan gerobak itu padanya. “Terima kasih sudah mengantarkannya. Ini, aku beri tips untuk kalian,” katanya sambil menyerahkan beberapa uang koin dari balik sakunya, lalu tersenyum. Acelyn pikir, pangeran ini benar-benar orang yang sangat baik hati. Yah, seorang pemimpin memang seharusnya seperti itu.

“Sama-sama pangeran. Kami sangat senang bisa mengantarkannya pada pangeran,” ucap Raizel malu-malu, lalu tersenyum senang.

“Terima kasih juga untuk tipsnya pangeran,” kali ini, giliran Acelyn yang angkat bicara.

Pangeran balas terseyum, “Sama-sama. Kuharap kalian dapat bekerja dengan baik.”

“Tentu saja pangeran. Kalau begitu, kami akan kembali ke pub untuk melanjutkan pekerjaan kami,” ucap Acelyn mengambil alih pembicaraan. Ia tahu, sepertinya Raizel temannya itu telah kehabisan kata-kata sekarang.

Pangeran balas tersenyum, dan mereka berbalik. Lalu, berjalan menjauhi istana dengan perasaan senang yang tak dapat terungkapkan oleh kata-kata.

 

***

       Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan bagi Acelyn. Setelah bekerja selama seharian penuh—mengangkut barang yang harus diantarkan ke suatu tempat, lalu kembali lagi untuk mengantarkan barang-barang yang masih tersisa—ia merasa sangat lelah, walaupun ini adalah hari pertamanya bekerja. Ya, pekerjaan yang benar-benar menguras tenaganya.

Sementara saat ini, Acelyn dan Jason tengah dalam perjalanan pulang, berjalan beriringan di sebuah jalanan yang keadaannya setengah rusak, melewati deretan blok-blok rumah penduduk dalam diam. Acelyn terlalu lelah untuk melakukan pembicaraan dengan kakaknya itu. Kini, mereka perlu melewati 2 blok lagi untuk sampai di blok di mana rumah mereka berada. Blok 10. Rumah terujung.

“Kau tidak masuk?” kata Jason ketika melihat Acelyn yang tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri.

Acelyn berpikir-pikir sejenak, “Hmm… tidak. Kau duluan saja. Aku ingin berada di luar sebentar. Mungkin, pergi ke rumah pohon. Sebentar saja,” katanya dengan suara yang sedikit serak.

“Kau yakin? Ini sudah malam,” kata Jason ragu.

Gadis itu hanya mengangguk pasti. Berbicara hanya akan menambah suaranya semakin serak.

“Hmm… oke.”Akhirnya laki-laki itu mengizinkan. “Jangan terlalu lama di sana.”

Belum sempat ia membalas anggukan, Jason sudah menghilang di balik pintu rumah, meninggalkan Acelyn yang masih berdiri di tempatnya seorang diri.

Gadis itu mulai berbalik menuju arah rumah pohon. Ya, satu-satunya tempat yang membuatnya nyaman berada di sana, selama apapun. Rumah pohon itu selalu mengingatkannya pada masa lalunya, masa kecilnya, masa di mana ayahnya belum pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Ia tahu, setiap kali dirinya melihat rumah pohon ini ia akan rindu pada ayahnya dan berharap semoga ia berada di dalamnya, sedang menunggu kedatangannya.

Namun, hal itu terlalu mustahil. Ayahnya telah pergi selamanya dan tak akan pernah kembali lagi. Hal terakhir yang ia ingat hanyalah kata-kata ayahnya pada dirinya untuk selalu bekerja keras dan jangan menyerah.

Sejenak ia berdiri di sana, tepat berada di bawahnya. Merasakan desiran angin malam yang menerpa wajahnya. Dingin. Baru ia mulai memegangi tangga yang menggantung dan akan segera menaikinya, tiba-tiba pandangannya teralihkan oleh sesuatu yang bergerak-gerak di balik semak-semak yang terletak di seberang sungai Valencia, tepat di pagar perbatasan. Acelyn mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga menuju rumah pohon. Ia mulai melangkah mendekati sungai agar dapat melihat lebih jelas apa yang tengah dilihanya itu. Semak-semak itu masih tampak bergerak-gerak, namun ia masih belum dapat melihat dengan jelas apa yang ada di balik semak-semak itu. Kini, ia tak dapat melangkah lebih jauh lagi karena kakinya sudah sampai di tepi sungai.

Hanya ada satu cara.

Dinaikinya sebuah sekoci yang berada di tepi sungai. Didayungnya sekoci itu dengan sekuat tenaga. Ia tidak pernah merasa seberani ini tepatnya sebelum ayahnya meninggal. Ia merasa ada seseorang yang akan selalu melindunginya, namun kali ini tidak ada lagi dan ia harus melindungi dirinya sendiri.

Udara di sungai sangat dingin. Tubuhnya mulai menggigil dan giginya bergemeletuk hebat. Ia mulai menuruni sekoci itu setelah sampai di tepi seberang sungai. Ia berlari untuk menghilangkan rasa dingin yang menancap ke tubuhnya, berlari menuju semak-semak itu. Kini, semak-semak itu tidak lagi bergerak-gerak, menandakan sesuatu yang tadi berada di baliknya sudah menghiilang entah kemana.

Dugaannya pun benar. Ia tidak menemukan apa-apa di balik semak-semak itu setelah ia mencoba untuk mengintip ke baliknya. Namun, tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh hal lain. Ia tidak percaya tapi hal itu benar-benar nyata. Ya, memang tidak ada apapun di balik semak-semak itu, hanya saja…

Tubuhnya refleks bergerak di balik semak-semak yang cukup untuk menyembunyikan tubuhnya ketika dirasakannya langkah seseorang mendekat. Ia mencoba mengintip melalui semak-semak itu. Orang itu mulai berjalan ke arahnya dengan langkah yang cukup cepat, hingga akhirnya melewati semak-semak di mana gadis itu berada. Ia mengenakan baju berwarna hitam, sulit untuk mengetahui siapa orang itu dan untuk apa ia berada di sini. Mungkin ia penjaga perbatasan, pikirnya.

Setelah dirasanya aman, ia keluar dari semak-semak itu. Tak ingin mengambil resiko terlalu banyak, ia segera menaiki sekoci yang tadi dinaikinya untuk dapat kembali di seberang sungai. Jantungnya berdegup kencang, takut seorang penjaga perbatasan melihanya, dan mengira dirinya akan kabur, lalu menangkapnya dan menghukumnya dengan hukuman yang pasti sangat berat untuk pelanggaran ‘Mencoba untuk kabur’. Didayungnya cepat-cepat sekoci itu, dan akhirnya sampailah ia di seberang sungai.

Acelyn cepat-cepat turun dari sekoci, lalu berlari menjauhi sungai menuju rumah pohon berada. Dirasakannya kakinya begitu lemas dan napasnya terengah-engah. Dari rumah pohon, ia dapat melihat wujud rumahnya dengan jelas. Tak lama, pintu rumah itu mengayun terbuka, dan seseorang muncul dari baliknya. Siluet kakanya yang berpostur tinggi tengah berjalan mendekati dirinya. Acelyn berusaha agar dirinya terlihat tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

“Kau lama sekali,” kata Jason setelah dirinya sampai di rumah pohon. “Ibu mengkhawatirkanmu. Ayo pulang!”

Acelyn tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk menuruti perintah Jason dan berjalan menuju rumah mereka. Dirasakannya kini tangannya sedikit gemetar karena ketakutan. Dikepalnya kedua telapak tangannya erat-erat, untuk membunyikan getaran hebat itu. Untuk saat ini, ia tidak ingin memberi tahu kakaknya apa yang telah terjadi. Ia ingin mencari tahu semuanya sendiri. Semua hal yang selama ini berada di sisi gelap yang tersembunyi, yang terhalang oleh semua kenyataan palsu akibat permainan para penguasa.

Rasanya keadaan negeri ini sudah terlalu buruk. Terlalu buruk sampai-sampai seseorang mencoba ingin melarikan diri darinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s