When You Came Into My Life [Part 5]

Kriiing… Kriiing…

Bunyi ponsel berdering membangunkan tidurnya. Bahkan mengalahkan bunyi alarm yang sepertinya telah berbunyi sekitar sejam yang lalu. Ia melirik jam. Masih jam tujuh rupanya.

Siapa yang meneleponnya pagi-pagi begini? Gerutunya kesal karena telah mengganggu tidurnya yang nyenyak. Dengan malas, ia langsung mengangkat telepon tanpa melihat layar untuk mengetahui siapa yang meneleponnya. Ia terlalu malas untuk melakukan hal itu. “Haloo…”

“Aku tebak. Pasti kau baru bangun. Ya, kan?”

“Kau ternyata. Kukira siapa,” jawab Ji-Young setelah mengenali suara familiar itu.

“Kau ini perempuan tapi malas ya,” simpul Jong-Hoon membuat Ji-Young cemberut.

“Setiap hari aku selalu bangun pagi. Jadi, tidak ada salahnya kan bangun siang di hari Minggu?”

Jong-Hoon berdeham. “Tadinya aku akan mengajakmu… emm… pergi…” katanya ragu-ragu. “Tapi, sepertinya kau malas dan ingin menghabiskan liburan di rumah.”

Ji-Young berpikir-pikir. Sekarang ia mengubah posisinya menjadi duduk. “Hmm… tidak juga. Pergi… ke mana?” tanyanya ingin tahu.

Jong-Hoon berpikir-pikir sejenak. “Hmm… belum tahu. Kau punya ide?” ia balik bertanya.

Ji-Young masih berpikir-pikir dan akhirnya menemukan jawaban yang tepat. “Bagaimana kalau keliling kota? Akan lebih menyenangkan dan lebih mengenal kota ini.”

“Oke, baiklah” jawab Jong-Hoon singkat. “Jadi, kau mau ikut atau tidak?”

Ji-Young mengangguk-angguk. “Mau.”

“Oke, nanti kujemput di depan rumah.”

Ji-Young menutup telepon, menaruhnya lalu beranjak menuju kamar mandi. Ia ingin dirinya terlihat sempurna hari ini.

***

“Memang, kau tahu banyak tentang kota ini?”

Ji-Young merapikan rambut panjangnya yang terurai walaupun sudah rapi. Sudah cukup lama dirinya berdiam di depan cermin—sebelum Jong-Hoon datang menjempurnya—mencari ketidaksempurnaan yang tampak pada dirinya. Ia telah memutuskan untuk mengenakan kaus putih lengan pendek dengan bawahan celana jeans. Berhubung sekarang cuaca sangat dingin, ia memutuskan untuk mengenakan jaket berwarna cokelat yang ukurannya pas dengan tubuh mungilnya. Tak lupa, sepatu boot berbahan beludru berwarna cokelat juga dipakainya sebagai pelengkap kostumnya hari ini.

Sementara Jong-Hoon pakaiannya simpel namun rapi. Ia hanya memakai kaus abu dan sweeter berwarna biru donker dengan bawahan celana jeans dan sepatu kets putih.

“Hmm… tidak juga. Kau tahu kan, aku jarang pergi keluar rumah,” jawab gadis itu. Sekarang telah selesai merapikan rambutnya.

“Kalau begitu, bagaimana kita bisa tahu jalan tanpa tersesat?”

Ji-Young berpikir-pikir. “Ada GPS di ponselku. Tenang saja.”

“Hmm… oke,” jawab Jong-Hoon singkat. Pandangannya terpaku pada jalanan di hadapannya.

“Ngomong-ngomong, sekarang kita mau ke mana?”

“Lihat saja nanti.” Jong-Hoon melirik Ji-Young sekilas sambil tersenyum. Ji-Young hanya balas menatapnya dengan wajah cemberut.

Ji-Young pikir, kejutan apa lagi yang akan diberikannya?

Tak lama, mobil berbelok memasuki sebuah tempat berplang ‘New York Day Festival’. Ji-Young pikir itu sebuah perayaan atau pesta dengan berbagai hiburan. Ya, semacam tempat keramaian. KERAMAIAN?

“Kupikir, kita salah tujuan,” gumam Ji-Young cepat sebelum Jong-Hoon memarkirkan mobilnya. Namun sepertinya terlambat karena laki-laki itu kini sedang memarkirkan mobilnya.

“Kupikir tidak,” bantah laki-laki itu singkat. Sekarang telah selesai memarkirkan mobilnya.

Ji-Young mendengus. “Oke, aku akan tunggu kau di sini.”

Jong-Hoon menatap Ji-Young dengan muka datar. “Tadi kau bilang kau mau ikut.”

“Hmm… iya. Tapi…” tapi ia tidak tahu masalahnya. Ji-Young memang sangat trauma terhadap tempat keramaian. Selama ini, sebisa mungkin ia menghindarinya. Terakhir kali ia mengunjungi suatu festival, dirinya tersesat di antara kerumunan. Ia merasa begitu ketakutan dan susah bernapas, seperti dirinya akan meninggal. Ia tidak ingin mengalami hal serupa dua kali dalam hidupnya.

“Ya, aku tahu. Mamaku pernah mengatakan, kalau phobia dapat diatasi dengan habituasi,” jelas Jong-Hoon. Ia menghela napas. “Jadi, kalau kau ingin phobiamu hilang, kau harus memberanikan diri untuk melawan rasa takut itu dengan membiasakan diri berada dalam phobia itu sendiri.”

Ji-Young masih ragu-ragu akan perkataan laki-laki itu. “Tapi aku tidak yakin akan berhasil.” Ia menghela napas dalam-dalam. “Aku terlalu… takut.” Kini ia menunduk dalam-dalam, teringat akan kejadian itu.

Jong-Hoon mengelus lengan Ji-Young lembut, lalu tersenyum. “Ketakutan tidak akan membawamu pada keberhasilan. Hanya keberanianlah yang akan membawanya.” Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya, “Semua orang pasti pernah merasa takut.”

Pandangan Ji-Young beralih pada laki-laki di sebelahnya itu, merasa tertarik pada topik yang sedang diperbincangkannya. “Memang, kau pernah merasa takut?”

“Ya. Tentu saja.” Jong-Hoon menghela napas sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya, “Aku takut… kehilangan… orang-orang yang kusayangi. Yah, maksudku aku takut ditinggal pergi untuk selamanya oleh orang-orang yang kusayangi, dan—,” pandangannya jauh menerawang, “Untuk saat ini… aku takut kehilangan Ibuku.” Raut mukanya saat ini terlihat serius, tidak ada kebohongan dalam kata-katanya.

Ji-Young tampak sedih mendengarnya. Tak pernah terpikir olehnya, bahwa laki-laki seperti Jong-Hoon—yang terkadang mengesalkan dan menjengkelkan, sekaligus bisa selalu menghiburnya dengan berbagai kejutan dan candaannya—bisa merasa takut juga. “Kupikir, orang sepertimu tidak pernah merasa takut.” Ji-Young terkekeh untuk memecah keheningan.

“Mungkin, hingga saat ini aku telah berhasil menyembunyikan ketakutanku,” kata Jong-Hoon menatap Ji-Young sambil tersenyum.

Ji-Young berdeham. “Ya, tapi kurasa tidak baik untuk dipendam. Maksudku, kau bisa menceritakan masalahmu padaku kapan-kapan,” gumam Ji-Young memberi saran.

Jong-Hoon berpikir-pikir, “Hmm… boleh. Tapi ada satu syarat.”

“Syarat apa?”

“Sekarang, kau harus ikut aku ke festival itu.”

Ji-Young tidak bisa menolak, sepertinya. Tidak ada pilihan. Akhirnya, ia menurut dan memberi anggukan kecil pada Jong-Hoon sambil memasang muka datar tanda pasrah.

Untuk saat ini, terpaksa ia mengikuti kata-katanya dan melawan rasa takutnya. Ia tahu, laki-laki itu benar.

***

“Kita akan kemana sekarang?” tanya Ji-Young setelah menerima sebuah gulali besar berwarna merah muda dari Jong-Hoon. Pandangannya menyusuri sekitar yang belum begitu ramai. Ia merasa sedikit tenang.

Laki-laki itu baru selesai membayar gulalinya, lalu mencobanya sedikit, “Hmm… menurutmu kemana? Kau kan lebih lama tinggal di sini. Jadi, seharusnya kau yang lebih tau tempatnya.”

Ji-Young mendengus, lalu berpikir-pikir, “Hmm… biasanya di festival selalu diadakan atraksi-atraksi dari super hero dan pertunjukan semacam sulap.”

“Oke, di mana?” tanyanya singkat, masih asyik memakan gulalinya.

“Di depan Gedung Museum. Biasanya.”

“Oke, kita ke sana sekarang,” kata Jong-Hoon sambil menarik tangan Ji-Young oleh tangannya yang tidak memegang gulali.

Mereka berjalan menelusuri jalan berbatu, berjalan bersisian sambil memakan gulali yang tadi mereka beli. Sepanjang perjalanan, mereka mendapati beberapa kelompok wanita sedang berbincang satu sama lain. Ada seorang pria tua sedang menuntun anjingnya. Ada pasangan kekasih yang sedang duduk berdua di taman. Tak sadar, bibirnya terangkat mengulas sebuah senyum. Ada juga seorang ibu yang sedang menenangkan anak perempuannya yang sedang menangis karena merengek ingin dibelikan sesuatu. Ji-Young pikir, anak itu ingin dibelikan sebuah balon baru. Mungkin beberapa menit yang lalu ia baru saja memecahkan balonnya, karena kini ia hanya tinggal memegang talinya, sedangkan pecahan balonnya yang berwarna merah tersebar di sekitar kakinya berbentuk puing-puing kecil karet tak berbentuk. Sedari tadi tangannya terus menunjuk balon yang masih berada di penjual balon. “Tunggu,” kata Ji-Young, bermaksud meminta Jong-Hoon untuk menghentikan langkahnya. Gadis itu segera menuju penjual balon untuk membeli sebuah balon baru yang warnanya sama—merah.

Ji-Young menghampiri anak itu setelah dirinya selesai membayar. “Ini,” katanya sambil berjongkok dan menyerahkan balon yang baru. “Jangan menangis lagi,” katanya lagi sambil tersenyum. Tangisan anak itu kini digantikan dengan sebuah senyuman bahagia. Sementara ibunya merasa sedikit malu, lalu mengucapkan terima kasih pada Ji-Young.

Setelah melambaikan tangan pada mereka, Ji-Young kembali menghampiri Jong-Hoon yang masih berdiri di tempatnya. Mungkin sedari tadi memperhatikannya. “Kau punya jiwa sosial yang tinggi ternyata,” gumamnya. “Kupikir, kau juga takut menemui orang-orang baru. Yah, seperti bagaimana pertama kali kau bertemu denganku… dan kau terlihat seperti menghindariku.”

“Itu beda kasus,” timpal Ji-Young. “Kupikir, tadinya kau tidak benar-benar ingin berteman denganku. Kupikir kau jahat seperti yang lainnya. Dan aku juga merasa—“ Ji-Young menghela napas sejenak, ”Malu akan kejadian waktu itu. Maksudku, waktu aku secara tidak sengaja menumpahkan es krim ke bajumu dan… aku pergi begitu saja tanpa ada permintaan maaf.”

“Ooh,” jawab Jong-Hoon singkat.

“Dan, waktu itu menurutku sikapmu sangat menjengkelkan.”

Jong-Hoon masih melahap gulalinya yang kini tinggal setengahnya, “Ya, waktu dulu. Sekarang tidak,” katanya sambil memasang senyum jail.

Ji-Young berpikir-pikir, “Kupikir masih. Sedikit menjengkelkan. Terkadang.”

“Hmm… oke,” laki-laki itu berjalan meninggalkan Ji-Young setelah sebelumnya memasang muka datar.

“Hei, tunggu!” seru Ji-Young, berusaha menyamakan langkahnya dengan laki-laki itu. “Maaf, tadi aku bermaksud… bercanda. Jangan marah,” katanya setelah berhasil menyejajarkan langkahnya dengan laki-laki itu.

Jong-Hoon tidak menanggapi kehadiran Ji-Young, Pandangannya tetap lurus ke depan, seolah-olah Ji-Young tak pernah ada di sampingnya.

Melihat tidak ada reaksi dari laki-laki itu, Ji-Young akhirnya menarik lengan laki-laki itu yang kini tertutupi oleh sweeter biru donkernya. Mengisyaratkannya untuk berhenti. Sementara itu, Jong-Hoon menghentikan langkahnya, menghadap Ji-young, dan memasang wajah malas. Laki-laki itu hanya diam, menunggu perkataan gadis itu selanjutnya. Oh, tidak. Ini terjadi lagi. Ia berubah seratus delapan puluh derajat lagi. Alih-alih berkata, Ji-Young hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Telalu takut untuk menatapnya.

“Kenapa? Kau takut? Baru segitu saja kau takut,” kata Jong-Hoon menantang.

Ji-Young semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Yang dapat ia lihat hanyalah jalan yang ada di bawahnya, sepatu boot cokelatnya, dan sepatu berwarna putih milik Jong-Hoon. Tak lama, ia mendengar suara tawa. Ia mendongak untuk melihatnya. Benar. Ia sedang dikerjai. “Kupikir tadi sungguhan,” rengek Ji-Young kesal sambil mendorong bahu Jong-Hoon keras.

“Hahaha. Aktingku berhasil,” seru Jong-Hoon senang. “Kau tahu? Mukamu lucu sekali waktu ketakutan.” Jong-Hoon masih saja tertawa.

Ji-Young merasa kini mukanya memerah karena malu. Seharusnya ia tahu bahwa tadi laki-laki itu hanya bercanda. Merasa tidak adil jika hanya dirinya yang dikerjai, sekarang ia balas mengerjai laki-laki itu. “Hmm… oke,”

“Yaah. Ya, maaf. Aku kan hanya bercanda tadi. Jangan marah.”

Ji-Young tidak menanggapi kata-kata laki-laki itu, ia hanya berjalan meninggalkannya, sambil diam-diam terkekeh. Merasa dirinya diikuti, ia semakin mempercepat langkahnya, dan berlari, lalu bersembunyi di balik sebuah pohon. Di balik pohon, diam-diam ia melihat Jong-Hoon yang tengah kebingungan mencarinya. Merasa terlalu lucu melihat ekspresi wajahnya yang kebingungan, ia akhirnya berbalik dan tertawa, lalu terduduk di bawah pohon itu. Tak lama, ia beranjak. Ketika ia akan melangkah pergi, ia dikejutkan oleh seseorang yang tiba-tiba berada di hadapannya sedang berkacak pinggang. Ia tahu, siapa orang itu. Ji-Young akhirnya mendongak, lalu memamerkan sederetan gigi putihnya sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf ‘V’.

“Oke, kurasa impas sekarang,” kata Jong-Hoon menyerah.

Mereka akhirnya melanjutkan perjalan mereka yang sebenarnya, pergi ke depan Gedung Museum untuk melihat pertunjukan. Ji-Young merasa semakin lama, semakin penuh. Semakin ramai. Langkah mereka terhenti pada suatu kerumunan orang. Dari tempat mereka berdiri, hanya terlihat atap Gedung Museum itu.

“Kurasa ini tempatnya,” gumam Jong-Hoon. Ia lantas menarik tangan Ji-Young, lalu menuntunnya menembus sela-sela kerumunan orang-orang untuk dapat melihat pertunjukannya lebih jelas. Ji-Young hanya bisa pasrah, mengikuti kemana dirinya dibawa.

Sampailah mereka di barisan paling depan, dan melihat bahwa itu adalah pertunjukan sulap. Pertunjukannya sudah terlalu umum—yah, seperti memasukkan sesuatu ke dalam sebuah topi, lalu menghilangkannya dengan seketika, lalu mewujudkannya kembali—namun cukup untuk membuat orang-orang terhibur dan mengerumuninya. Terdengar suara tepukan tangan dari penonton dan mereka ikut bertepuk tangan.

Suaranya semakin keras. Semakin ramai. Semakin terdengar abstrak. Suara-suara itu terlalu banyak, terlalu rumit, dan bercampur menjadi suara bising yang tak karuan. Suara-suara itu membuat kepala Ji-Young sakit dan napasnya semakin sesak. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah keluar. Keluar dari semua keramaian ini. Dentuman-dentuman itu semakin keras ketika penonton mulai menyoraki si pesulap dan berteriak-teriak. Ia melihat Jong-Hoon masih berada di sebelahnya. Aku harus kuat. Aku harus bisa menahannya. Ia tahu itu sulit, namun ia pikir ia tidak dapat menahannya lagi. Kepalanya terasa semakin sakit. Akhirnya ia menyerah pada keadaan. Ditutupnya kedua telinganya dengan kedua tangannya yang bebas, tak sengaja ia menjatuhkan gulali yang tadi dipegangnya. Ia lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu memejamkan mata.

Tak lama, seseorang menariknya untuk keluar dari kerumunan itu, karena dirasanya suara-suara itu semakin lama semakin mengecil dan menghilang. Lalu, seseorang itu mendudukannya di sebuah kursi. Dirasakannya dirinya berkeringat, walaupun ia tahu cuaca sangat dingin sekarang.

“Hei, sekarang sudah berakhir. Buka matamu,” bujuk Jong-Hoon lembut sambil menarik kedua tangan Ji-Young yang menutupi kedua telinganya.

Ji-Young membuka matanya secara perlahan. Masih merasakan sakit di kepalanya. Dilihatnya Jong-Hoon sedang membungkuk di hadapannya sambil tersenyum. “Aku merasa… pusing,” kata Ji-Young lirih.

“Oke, aku tidak memaksa jika kau ingin pulang,” kata laki-laki itu.

“Tidak apa-apa. Aku hanya pusing sedikit. Lama-lama juga hilang,” gumam Ji-Young pelan. “Mungkin aku akan berdiam di sini dulu, sebentar saja sampai rasa sakitnya hilang.”

“Oke, baiklah.” Jong-Hoon menangguk sebentar, lalu berkata, “Oh ya, tunggu di sini. Aku akan pergi sebentar,” katanya lalu beranjak pergi.

Ji-Young hanya balas mengangguk pelan karena kepalanya yang masih terasa sakit. Untuk kali ini, ia mencoba untuk menurut. Tak lama kemudian, Jong-Hoon datang dengan 2 buah es krim di masing-masing tangannya, lalu segera menyodorkan salah satu es krim vanilla bersaus cokelat ke arah Ji-Young.

Tanpa berikir panjang, Ji-Young segera mengambil es krim itu. Jujur saja, es krim dapat membantu menenangkan hatinya untuk saat ini. “Terima kasih.”

“Sama-sama. Bagaimana? Sudah mulai membaik, kan?” kata Jong-Hoon yang kini duduk di sebelah Ji-Young sambil melahap es krim miliknya.

“Hmm… lumayan membaik.” Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Ji-Young untuk pulang. Kepalanya sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya. Untuk hari ini rasanya sudah cukup melelahkan. “Kurasa, aku ingin pulang.”

“Hah? Kenapa?” tanya Jong-Hoon terkejut sambil melongo pandangan ke arah Ji-Young yang duduk di sebelahnya. “Kau serius tidak ingin melanjutkan perjalanannya?”

“Ya. Sepertinya kepalaku sudah tidak kuat menahan rasa sakit lagi. Aku ingin istirahat saja di rumah. Lagipula tadi kau bilang, kau tidak akan memaksa jika aku ingin pulang. Maaf ya.”

“Oke, tidak apa-apa kalau itu maumu. Habiskan dulu es krimnya, lalu kita pulang,” ucap Jong-Hoon sambil tersenyum pada Ji-Young.

“Okee. Siaaap!” sahut Ji-Young dengan wajah senang. Untuk kali ini, ia terpaksa menghentikan perjalanannya walau dirinya ingin melanjutkannya bersama laki-laki itu.

Dan lagi-lagi, ia dikalahkan dengan phobianya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s