When You Came Into My Life [Part 6]

Ia terus berjalan hingga ruangan itu penuh dengan kabut. Kabut itu begitu tebal hingga menghalangi pandangannya. Ia sendirian di sana, dan sekarang ia tersesat. Tak ada tujuan ke mana ia akan melangkah. Ia pun tidak tahu mengapa dirinya bisa berada di sini. Semuanya serba tidak jelas.

Lama-lama kabut itu menghilang. Ia dapat melihat dengan jelas sekarang. Baru disadarinya, ternyata ia sedang memakai dress putih yang lusuh dan sangat kotor. Rambut yang biasanya dikepang, kini terurai namun berantakan. Ia tahu, pasti dirinya terlihat sangat kacau. Dan, ya ia tidak memakai alas kaki apapun.

Tiba-tiba ia berada di sebuah ruangan yang familiar. Ia berjalan lurus ke depan tanpa henti, lalu tiba-tiba ruangan itu dipenuhi orang-orang. Beberapa ada yang dikenalinya. Siapa mereka? Oh ya, diantara mereka ada teman-temannya. Dan sekarang mereka sepertinya sedang menyambut kedatangannya. Suara tepuk tangan dan siulan semakin meriah. Ia hanya bisa balas tersenyum pada mereka sambil melambaikan tangan seolah-olah ia seorang artis terkenal.

Tapi, tunggu dulu. Keadaan menyenangkan itu kini berubah menjadi sebaliknya. Mereka tidak lagi bertepuk tangan, malah melemparinya dengan kertas, minuman kemasan, dan apapun yang ada. Dan kini suara-suara menyenangkan itu berubah seketika menjadi suara dengan bunyi, “Huu…” yang dilengkapi dengan kata-kata cemoohan.

Ia masih terus berjalan, mengacuhkan lemparan-lemparan yang ditujukan untuknya. Namun dalam pikirannya masih bingung dengan keadaan yang tiba-tiba berubah ini. Di ujung sana, ia melihatnya. Apa aku salah lihat? pikirnya. Tidak. Itu memang benar dia. Ia memang tidak salah lihat. Jong-Hoon sedang berdiri di kejauhan di ujung sana.

Tiba-tiba ruangan itu berubah menjadi hitam dan orang-orang menghilang seketika. Ia berusaha untuk menghampirinya—sebenarnya lebih untuk meminta perlindungannya. Dirasakannya langkahnya begitu berat untuk bisa mencapai laki-laki itu. Ia baru tersadar bahwa kakinya masih belum sembuh. Perban masih menempel di kakinya, namun kini sudah setengah terbuka. Tanpa mempedulikan itu semua, ia tetap berusaha menghampiri laki-laki itu. Jauhnya melebihi dari yang diduganya. Dirasa laki-laki itu semakin menjauh dan jauh. Akhirnya, ia memaksakan diri untuk berlari.

Ia mencoba meneriakkan sesuatu, namun tidak ada yang keluar dari mulutnya. Namun pada akhirnya, sampailah ia di hadapan laki-laki itu. Laki-laki itu hanya menunduk, tidak merasakan kedatangannya. Dilihatnya, pakaiannya rapi seperti biasanya, menandakan ia baik-baik saja. Gadis itu hanya bisa tersenyum lega sambil meraih kedua tangan laki-laki itu lembut.

“Ini aku,” katanya lembut setelah akhirnya ia bisa mengeluarkan suara dari mulutnya. Suaranya terdengar lirih, hampir seperti bisikan. Ia tidak tahu apa laki-laki itu bisa mendengarnya atau tidak.

Mungkin laki-laki itu mendengar apa yang dikatakan gadis itu tadi, karena sekarang ia mulai mengangkat kepalanya sedikit untuk menatapnya. Ada yang salah di sini, ia pikir. Tatapannya kosong tanpa ekspresi namun matanya tertuju padanya, seolah-olah dirinya bisa tembus pandang. Ia pikir, laki-laki ini lebih seperti boneka hidup atau apalah. Yang jelas, bukan reaksi ini yang ia harapkan.

Sesosok tubuh tinggi muncul di belakang Jong-Hoon, mengagetkan gadis itu. Ia lantas melepas genggamannya pada tangan laki-laki itu dan tersentak mudur. Lama-lama, sosok itu semakin jelas dan ia sepertinya familiar dengan bentuk wajahnya. Ia mencoba mengingat-ngingat siapakah orang itu.

Astaga, Collin!

Ya, tidak salah lagi orang itu memang Collin teman sekolahnya. Ia menatap gadis itu sambil tersenyum sinis. Sebuah pisau dikeluarkannya. Begitu mengilat hingga pantulannya menyilaukan mata gadis itu walaupun di sekitarnya tidak ada cahaya apapun. Kemudian Collin merangkul Jong-Hoon dan pisau itu diarahkannya tepat pada leher laki-laki yang sekarang tidak berdaya itu.

Gadis itu hanya bisa melongo kaget dan dirinya semakin tersentak mundur ke belakang. Pikirannya mengisyaratkannya untuk menjauh. Lari menjauh darinya, bukan menolongnya. Akhirnya ia berusaha lari sekuat mungkin menjauh hingga mereka benar-benar menghilang dari pandangannya.

Kini ia sendirian. Terjebak di sebuah ruangan yang entah berada di dimensi apa dan entah berasal dari mana dan berujung di mana. Tak ada apapun selain gelap dan dirinya sendiri. Ia hanya bisa duduk menangis. Tak ada yang dapat dilakukannya. Sampai ia pikir ia lebih baik mati.

Ia mulai beranjak berdiri dan mencoba untuk lari mencari jalan keluar secepat mungkin. Tiba-tiba tubuhnya tersentak jatuh ke sebuah jurang dan itu membawanya kembali berada di kelas. Aneh sekali, pikirnya.

Kelas itu tampak seperti biasanya. Bangkunya, orangnya, suasananya, dan yang terpenting ada Jong-Hoon di dalamnya sedang duduk dengan tenang di bangku yang biasa ia tempati. Ia terlihat sangat sehat dan rapi sekarang. Ia sudah aman sekarang.

Gadis itu tidak lagi mengenakan dress putih, namun ia mengenakan bajunya seperti biasa. Dihampirinya anak laki-laki itu. “Hei,” serunya sambil melambai-lambaikan tangan dan memamerkan sederet gigi putihnya.

Laki-laki itu hanya balas menatapnya datar. “Siapa kau?”

“Siapa kau? Ini aku,” jelasnya merasa ada yang aneh.

“Siapa?” pernyataan Jong-Hoon membuat seisi kelas menertawainya. Ekspresinya mungkin terlihat seperti orang tolol sekarang. Gadis itu benar-benar kecewa sekarang. Tak lama, Helen muncul entah dari mana datangnya dan menarik paksa gadis itu keluar dan mendorongnya ketika sampai di pintu. Ia akhirnya jatuh tersungkur dan terbangun.

Kini ia berada di kamarnya. Ia baru saja terbangun dari mimpi. Ternyata hanya mimpi. Syukurlah, pikirnya merasa lega. Setidaknya hal buruk itu bukanlah kenyataan. Sekarang ia kembali memakai piyama-nya.

Ia mulai beranjak untuk bangun dan melihat jam. Namun yang dilihatnya kini Jong-Hoon sedang berdiri di hadapannya dengan pakaian dan rambut yang tertata rapi, seperti hendak pergi ke suatu tempat. Ia terpaksa untuk turun dari tempat tidur dengan malas dan menghampirinya.

“Sedang apa kau di sini?” katanya serak dan dengan mata yang masih setengah terbuka. Kemudian ia melirik jam. “Sekarang masih jam tiga.” Pandangannya kembali beralih pada laki-laki di hadapannya. “Kau mau pergi ke sekolah sekarang?”

“Tidak. Bukan itu masalahnya,” jelas Jong-Hoon. “Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku akan pergi.”

“Ke mana? Pergi berlibur? Belum waktunya,” tanya gadis itu polos.

“Tidak. Ini serius. Aku akan pergi jauh. Ya, mungkin dalam waktu yang lama.”

“Oke, aku akan ikut,” katanya singkat tanpa berpikir panjang.

Jong-Hoon mendesah. “Tidak bisa. Kau tidak bisa ikut. Urusanku sudah selesai di sini, tapi kau belum.”

“Sejak kapan kita punya urusan?”

“Kau tidak ingat?”

Gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti, bukannya tidak tahu.

“Maaf, tapi kita harus berpisah. Aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Percayalah, aku akan sangat merindukanmu.” Itulah kata-kata terakhir yang ia ucapkan sebelum ia menghilang di balik pintu.

Gadis itu berusaha mengejarnya namun terlambat. Ia sudah pergi. Entah pergi ke mana ia masih tidak tahu. Ia mencoba membuka pintu kamarnya dan mulai melangkahkan kakinya keluar. Namun bukanlah lantai yang diinjaknya, melainkan sebuah ruang kosong dan menyebabkan ia terjatuh dan berpindah dari alam mimpi ke dunia nyata yang kini benar-benar nyata.

Bukan mimpi di dalam mimpi.

***

Ji-Young tersentak bangun. Ternyata tadi itu masih mimpi, pikirnya. Atau sekarang masih mimpi. Tidak. Ini memang benar-benar nyata. Ia percaya itu karena ia mencoba mencubit tangannya dan terasa sakit.

Dilihatnya jam dinding. Pukul tiga! Hmm… seperti di dalam mimpi. Ia masih memikirkan arti dari mimpi itu ketika Jong-Hoon berkata, aku akan pergi jauh dan maaf, tapi kita harus berpisah… aku akan sangat merindukanmu. Mungkinkah mimpi itu bisa menjadi kenyataan? Ataukah hanya bunga tidur tanpa arti. Ia masih bingung dan tidak dapat berpikir jernih. Atau itu berarti… dia akan… Jangan-jangan… Aaah tidaaak!

Tanpa berpikir panjang Ji-Young segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Jong-Hoon. Terlalu takut jika hal yang sedang dipikirkannya benar-benar terjadi.

Ji-Young berdecak. “Ayo angkat teleponnya.”

Jangan berpikir yang aneh-aneh Ji-Young. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Ia mencoba untuk possitive thinking.

Bunyi tut tut tut tanda telepon tidak terhubung berbunyi di ponselnya. “Aaah kenapa tidak diangkat?” keluhnya. Ia mencoba sekali lagi.

Diangkat! Akhirnya.

“Halo,” Ji-Young memulai pembicaraan ragu-ragu.

“Ya, ada apa? Ini masih jam tiga pagi. Kau tidak minta dijemput sekarang kan?” jawab Jong-Hoon dengan suara serak. Lalu terdengar suara menguap dari seberang sana.

“Tidak,” jawabnya singkat.

“Lalu ada apa menelepon?”

Ji-Young berpikir-pikir. “Hmm… tidak ada apa-apa.” Ia bingung harus mengatakan apa selanjutnya. Ia rasa semuanya baik-baik saja. Tidak ada hal aneh yang terjadi. “Kau baik-baik saja kan?”

“Kau perhatian sekali. Tentu sa—aaarrgh!” Suara ponsel jatuh terdengar dari seberang membuat Ji-Young tersentak kaget.

“Halo… Jong-Hoon! Halooo…” Ji-Young semakin cemas. “Haloo… apa yang sedang terjadi? Kau baik-baik saja kan? Haloo….” Tidak ada jawaban.

Ji-Young melihat layar ponselnya, masih terhubung. “Haloo…,” ia mencobanya sekali lagi.

Tak lama kemudian, suara orang mengumpat terdengar dari ponselnya. “Ya, hallo. Maaf, tadi aku jatuh dari tempat tidur dan ponselku jatuh,” jelas Jong-Hoon panjang lebar.

“Oh, syukurlah,” katanya pelan. Ji-Young bersyukur karena ternyata tidak seperti yang diduganya.

“Apa katamu? Syukurlah? Jadi, kau senang kalau aku jatuh kesakitan dan ponselku rusak?” protes Jong-Hoon.

Ji-Young yang sebenarnya bukan bermaksud begitu menjadi bingung. “Bu.. bukan begitu maksudnya. Tadinya kukira terjadi hal yang tidak-tidak, ya… kau taulah maksudku. Tapi ternyata tidak seperti yang kuduga,” jelasnya panjang lebar, tidak ingin laki-laki itu salah paham.

“Oh. Bicara yang jelas,” kata Jong-Hoon datar. “Oke, tidak ada lagi kan? Semuanya baik-baik saja jangan khawatir. Aku mau tidur lagi. Daaah.”

“Oke, daaah.” Terdengar bunyi tut tut tut dari ponselnya.

Sekarang Ji-Young dapat menyimpulkan bahwa, tidak semua mimpi itu menjadi kenyataan. Ada mimpi yang hanya sebagai bunga tidur, namun tak sedikit juga yang memiliki arti di balik mimpi-mimpi itu. Mimpi itu bisa berarti baik atau buruk.

Tapi, bagaimana dengan mimpi yang sebelumnya? Apakah itu juga hanyalah bunga tidur? Ia tidak tahu.

***

“Hei… hei…”

Ji-Young baru tersadar bahwa Jong-Hoon sedang mengibas-ngibas sebelah tangan di depan wajahnya. Lamunannya lantas buyar seketika, membawanya kembali ke kehidupan nyata.

“Kau banyak melamun hari ini. Ada apa?”

Ji-Young sedang duduk di bangkunya di kelas dengan buku Fisika terbuka di atas mejanya. Seperti biasa, kelas sepi diwaktu istirahat. Ia akhirnya angkat bicara, “Tidak apa-apa, hanya saja…”.

“Hanya apa?” potong Jong-Hoon.

Ji-Young tengah memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan selanjutnya. “Hmm… bukan apa-apa. Bukan sesuatu yang penting. Lupakan saja,” katanya tidak ingin membahas mimpinya semalam.

“Ooh, baiklah.” Jong-Hoon melanjutkan mengerjakan soal Fisika yang tadi sempat tertunda karena lamunan Ji-Young.

Entah mengapa Ji-Young merasakan suasana yang sangat hening dan canggung. Atau mungkin ini hanyalah perasaannya saja. Sementara laki-laki itu sedang berkonsentrasi mengerjakan soal, Ji-Young hanya bisa duduk diam sambil memperhatikan dan menunggu hingga akhirnya laki-laki itu menyelesaikan soalnya. Dan tentunya, yang dilakukan setelah itu adalah mentransfer pemahaman yang didapat kepada gadis itu.

Sambil memperhatikan gerak gerik tangan Jong-Hoon yang sedang menulis, ia berpikiran bahwa laki-laki yang pintar itu keren. Ia menduga pasti Jong-Hoon menjadi juara di kelasnya ketika ia masih bersekolah di Korea. Berbeda dengan dirinya yang pastinya berada di peringkat bawah di kelas. Ya, aku harus belajar banyak dari Jong-Hoon, pikirnya dalam hati.

Tiba-tiba terlintas di benak Ji-Young untuk merencanakan belajar bersama sepulang sekolah. “Ehem,” ia berdeham untuk mendapatkan perhatian dari Jong-Hoon.

Tidak ada respon apa-apa, laki-laki yang duduk di sebelahnya itu tetap fokus pada pekerjaannya.

“Serius amat.” Akhirnya Ji-Young angkat bicara.

Tetap tidak ada respon. Ji –Young lama-lama merasa kesal karena dirinya diacuhkan. Akhirnya ia berinisiatif untuk mengambil buku yang sedang dipelajari oleh Jong-Hoon. Diambilnya buku yang cukup tebal itu dan ditutupnya halaman yang sedang dikerjakan oleh laki-laki itu.

“Hei, kembalikan bukuku. Aku belum menyelesaikan soalnya,” gerutu Jong-Hoon kesal karena bukunya diambil oleh Ji-Young.

Gadis yang memang sudah membuat Jong-Hoon kesal itu tidak mengacuhkannya dengan buku tetap pada perlindungannya yang tidak dapat dijangkau oleh laki-laki itu. “Hel-lo~ sejak tadi aku berbicara tapi kau tidak mendengar perkataanku,” ungkap Ji-Young memberikan penjelasan.

Jong-Hoon hanya melongo layaknya seorang anak polos yang tidak mengerti apa-apa dengan pensil di tangannya masih dalam posisi menulis, “Memangnya tadi kau berbicara? Sepertinya aku tidak mendengarnya.”

Ji-Young kesal dan langsung memutar kedua bola matanya. “Sudahlah lupakan saja,” katanya sambil mengibaskan salah satu tangan di depan wajahnya. “Tadi aku ingin mengatakan kalau mulai hari ini aku ingin mengajakmu belajar bersama. Yah, kau tau kan aku tidak terlalu paham tentang pelajaran di sekolah. Jadi, kau bisa?”

“Hmm… di mana?”

Ji-Young berpikir-pikir, “Hmm… di rumahku saja. Atau… di rumahmu?”

“Jangan. Di rumahmu saja,” usul Jong-Hoon. “Rumahku berantakan, tidak ada yang mengurus dan menjaga rumah seperti ibumu. Yah, kau tau kan kalau ibuku sedang dirawat,” jelasnya.

“Hmm… baiklah. Jadi, sepulang sekolah di rumaku yaa,” kata gadis itu sambil tersenyum.

“Oke, asalkan siapkan camilan yang banyak ya, hehehe,” jawab Jong-Hoon sambil terkekeh. “Oh ya, mana bukuku?” katanya sambil menjulurkan tangan dengan telapaknya terbuka ke atas seolah-olah sedang meminta sesuatu. “Maaf tadi mungkin aku terlalu terfokus mengerjakan soalnya,” kata Jong-Hoon sambil memamerkan deretan gigi putihnya.

Akhirnya gadis itu menyerahkan buku milik laki-laki itu. “Oke, tidak apa. Santai saja,” katanya menenangkan.

Gadis itu akhirnya mendapatkan seseorang yang dapat diajak belajar bersama setelah sekian lama dirinya selalu berusaha sendiri.

***

“Jadi, sigma F sama dengan m dikali a. “

Jong-Hoon sedang menjelaskan mengenai pelajaran fisika subab dinamika yang memang membutuhkan pemahaman dan logika ketika mengerjakan soal. Sudah hampir dua jam mereka membahas soal. Sekarang, mereka tengah berada di ruang keluarga di rumah Ji-Young—rumah yang tidak terlalu besar, namun nyaman berada di dalamnya—dengan sebuah meja besar berbahan kayu cokelat tua yang ikut menemani mereka belajar, sedangkan mereka duduk di bawah dengan beralaskan karpet tebal.

“Karena berada di depan sudut, jadi W sin teta,” jelas Jong-Hoon sambil menulis pada secarik kertas untuk diperlihatkan kepada Ji-Young.

“Oh ya ya, aku mengerti,” ucap gadis itu senang karena akhirnya ada pelajaran yang ia mengerti. Sekarang, gadis itu sedang  mencoba mengerjakan salah satu soal.

Tanpa disadari, ketika tangan Ji-Young hendak mengambil camilan namun bukanlah potongan cookies cokelat yang didapatnya, melainkan sesuatu yang lain. Gadis itu akhirnya beralih dari menatap pekerjaannya ke tangannya yang kini ternyata sedang memegang tangan laki-laki yang ada di depannya itu, lalu mereka sama-sama saling menarik tangan mereka buru-buru, “Lho, kemana camilannya?” tanyanya bingung sekaligus gugup.

Jong-Hoon tampak kebingungan sama seperti Ji-Young, “Tidak tahu. Setahuku tadi masih ada disini.”

“Ha? Aneh.” Suasana menjadi canggung, dan gadis itu pun kehabisan kata-kata. Akhirnya yang dapat ia lakukan hanyalah diam dan melanjutkan mengerjakan soal. “Sudahlah lupakan saja. Mungkin tanpa sadar sudah habis dimakan kita kuenya,” katanya menenangkan suasana yang canggung.

“Oke, baiklah.”

Mereka melanjutkan mengerjakan soal-soal dalam diam, tidak ada yang memulai pembicaraan sepatah kata pun. Suasana yang tadi canggung, kini menjadi semaki canggung dan sunyi. Hingga yang terdengar hanyalah suara goresan pensil pada kertas. Gadis itu telah selesai mengerjakan 5 soal. Yah, setidaknya dalam suasana seperti ini gadis itu dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin. Dan tentu saja ia dapat lebih berkonsentrasi dalam mengerjakan soal. Sekarang, ia akan mengerjakan soal ke 6. Baru saja ia akan memulai…

“Emm… Ji-Young, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” Tiba-tiba laki-laki di depannya itu berkata demikian.

Ji-Young meraih rambut yang menghalangi matanya untuk diselipkan di balik telinganya untuk yang kesekian kalinya sejak tadi mengerjakan soal, lalu mengalihkan pandangannya pada laki-laki di depannya itu. “Ya, ada apa?”

“Kau yakin ingin mendengarnya?”

Ji-Young berpikir-pikir dengan otak yang berputar memikirkan apa yang akan dikatakan laki-laki itu padanya. Apakah sesuatu yang tidak penting ataukah sebaliknya. Walau bagaimanapun, ia tetap penasaran apa yang akan dikatakannya, “Ya, katakan saja.”

Jong-Hoon tampak berpikir-pikir, “Hmm…”.

Gadis itu tengah menanti apa kata-kata selanjutnya. Ia menduga, mungkin inilah saatnya ia akan berkata… ah, tidak mungkin. Kini jantungnya berdebar cukup kencang, sampai-sampai ia khawatir apakah laki-laki itu dapat mendengar detak jantungnya. Semoga saja ia tak dapat mendengarnya.

“Sebenarnya,” Jong-Hoon melanjutkan dengan gerak-gerik terlihat sedikit gugup.

Ya, ayo katakan saja, ucap gadis itu dalam hati penasaran dengan kata-kata selanjutnya.

Jong-Hoon menghela napas sejenak, “Sebanarnya, aku… ingin menanyakan dimana letak toiletnya, hehehe,” lanjutnya sambil sedikit terkekeh. “Tadinya aku akan mencarinya sendiri. Namun, berhubung belum sempat kutemukan, jadi aku tanyakan saja padamu.”

Kukira mau berkata apa, dengus Ji-Young dalam hati sedikit kesal. “Oke, letaknya di sebelah sana. Di dekat tangga,” jawab gadis itu sambil menunjuk dimana letak toiletnya.

Pandangan Jong-Hoon beralih kepada tempat yang sedang Ji-Young tunjukkan, lalu kembali menatap gadis itu, “Oh ya, maaf ya tadi sempat membuatmu penasaran dan… membuatmu berpikiran yang tidak-tidak.”

“Tidak-tidak maksudnya?” tanya Ji-Young penasaran.

“Yah, kau taulah. Belum waktunya…“. Kata-kata Jong-Hoon terputus, dan menggantung di udara begitu saja. “Sudahlah, lupakan saja. Anggap aku tidak pernah berkata apa-apa, oke? Aku mau ke toilet dulu, jangan berhenti mengerjakan soal ya.”

“Hmm… oke, terserah kau saja,” kata Ji-Young tak acuh, namun otaknya masih memikirkan kata-kata yang seharusnya diucapkannya. Ia yakin bahwa bukan kata-kata itulah yang hendak diucapkan laki-laki itu. Atau mungkin memang benar, ia tidak seharusnya berpikir yang tidak-tidak. Namun, dirinya masih penasaran. Dan kini ia tak dapat melupakan kejadian tadi. Semakin melupakannya, semakin ia ingat. Mungkin, dengan menegerjakan soal lama-lama dirinya akan lupa. Mungkin.

Soal ke 6 yang sejak tadi dikerjakannya tidak kunjung selesai, dirinya masih disibukkan dengan pemikiran-pemikiran yang lain. Ia merasakan laki-laki itu datang, lalu ia segera berpura-pura mengerjakan soal seolah-olah ia benar-benar telah melupakan kejadian tadi. Gadis itu merasakan laki-laki itu duduk di depannya dan… sesuatu benda ditempelkan di kepalanya, membuat seluruh rambut yang menutupi separuh wajahnya itu hilang seketika. Ya, sebuah bando.

Gadis itu sontak kaget, namun sebagian dari dirinya senang karena laki-laki itu begitu perhatian padanya. “Kau mendapatkannya dari mana ini?” tanya Ji-Young sambil menatap Jong-Hoon.

“Tadi aku menemukannya di meja televisi. Aku lihat, aku ambil saja. Habis aku kasihan melihatmu yang terus-menerus menyelipkan rambutmu ke balik telinga. Setidaknya dengan kupasang bando ini akan membuatmu lebih berkonsentrasi dalam belajar, “kata Jong-Hoon menjelaskan sambil tersenyum lega.

Ji-Young tampak tersipu malu. “Hmm… sebenarnya tadi aku berniat untuk mencarinya, tapi… yasudahlah, terima kasih,” katanya sambil tersenyum malu, lalu mereka saling diam, suasana masih sedikit canggung walaupun tidak se-canggung tadi.

“Oh ya, sudah mengerjakan berapa soal?” Akhirnya Jong-Hoon angkat bicara memecah keheningan. “Maaf ya, tadi suasananya jadi canggung.”

“Tidak apa. Karena itu aku berhasil mengerjakan 6 soal. Yeay!” seru gadis itu bangga. “Oh ya, jujur saja. Tadi sebenarnya kau mau berkata apa? Hmm… menurutku itu bukan yang ingin kau katakan sebenarnya—maksudku mungkin kau ingin berkata sesuatu hal yang lain, namun kau berusaha untuk mengalihkan topiknya. Bukan begitu?”

“Rahasia,” jawab laki-laki itu singkat. “Memang kau pikir aku akan mengatakan apa?”

Ji-Young berpikir-pikir, “Hmm… rahasia,” katanya sambil menjulurkan lidahnya keluar tanda meledek laki-laki di depannya itu. Sebenarnya, ia lebih memilih kata-kata yang aman untuk diucapkan yaitu ‘rahasia’ karena ia tidak mau menjelaskan yang sebenarnya ia pikirkan kepada laki-laki itu. “Kalau kau punya rahasia, aku juga punya rahasia.”

“Oke. Berarti kita impas sekarang,” kata Jong-Hoon tidak mau kalah. “Tapi aku janji akan memberitahumu suatu saat nanti.”

“’Nanti’ kapan? 1 minggu kah? 1 bulan kah? Atau mungkin 1 tahun kah?”

Jong-Hoon tampak berpikir-pikir sambil memainkan ibu jari dan jari telunjuk pada dagunya, “Hmm… saat aku menemukan waktu yang tepat.”

Skak mat. Itu bukan merupkan jawaban yang kuantitatif. Tidak bisa diperkirakan seberapa lamanya. “Baiklah, aku juga berjanji akan mengatakannya kalau kau sudah mengatakan rahasiamu,” ucap Ji-Young.

“Oke, deal?” Jong-Hoon menyodorkan jari kelingkingnya menunggu Ji-Young untuk melingkarkan jari kelingkingnya.

“Deal,” seru Ji-Young tanpa berpikir panjang. Menandakan sebuah persetujuan telah disepakati. Mereka tersenyum geli ketika melihat jari kelingking mereka yang saling bertautan—seolah-olah seperti anak kecil yang sedang baikan setelah bertengkar.

Kini yang gadis itu takutkan adalah, sampai kapan ia akan dihantui rasa penasaran seperti ini? Apakah rahasia Jong-Hoon sesuai dengan apa yang ia pikirkan? Jika tidak, apakah ia sanggup mengungkapkan rahasianya pada laki-laki itu? Entahlah ia tidak tahu.

Hanya waktu yang akan menjawab semuanya.

***

“Hmm… terima kasih sudah mau datang ke rumahku.”

Hari sudah sore. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00. Mereka akhirnya mengakhiri belajar di hari ini. Hari yang cukup melelahkan otak. Walaupun tadi suasana sempat canggung, namun tidak berlangsung selamanya—walaupun masih ada sedikit rasa canggung itu yang berhasil mereka tutupi dengan obrolan-obrolan dan candaan.—karena mereka berhasil mengatasi suasana canggung itu dan kembali normal layaknya seperti biasanya. Jong-Hoon pamit untuk pulang dan mereka kini tengah berdiri di pintu depat rumah Ji-Young.

“Hehehe, sama-sama. Makasih camilannya, maaf kalau merepotkan,” ucap laki-laki itu sambil menggaruk kepalanya, terlihat sedikit gugup. Mereka kini saling diam, masih berdiri di pintu depan rumah. Ngomong-ngomong camilan, Ji-Young jadi teringat sesuatu. “Hmm… Ji-Young…?”

“Ya?”

Jong-Hoon berpikir-pikir, “Hmm—“.

“JI-YOUNG!” seru Ibu Ji-Young tiba-tiba memotong pembicaraan Jong-Hoon.

“Iya bu, ada apa?” teriak Ji-Young pada Ibunya yang mungkin sedang berada di dapur.

Terdengar bunyi langkah sandal yang semakin lama semakin mendekat. Sosok wanita paruh baya muncul dari arah dapur dengan pakaian santai ala rumahan, sedang berjalan mendekat ke arah mereka. “Sudah mau pulang, ya? Yasudah, terima kasih sudah datang dan mau mengajarkan Ji-Young ya.”

“Iya, bu sama-sama. Maaf kalau merepotkan,” balas Jong-Hoon terlihat malu sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

“Oh ya, Ibu dengar dari Ji-Young katanya ibumu sedang sakit? Semoga cepat sembuh, salam untuk Ibumu,” kata Ibu Ji-Young tampak khawatir.

“Iya, bu. Nanti akan saya sampaikan salamnya. Sekali lagi terima kasih, bu.”

“Ya, hati-hati di jalan ya.” Ji-Young dan ibunya melambaikan tangan sambil melihat Jong-Hoon yang berjalan semakin menjauhi rumah—menuju mobilnya.

Mobil Jong-Hoon telah hilang dari jangkauan pandangannya. Mungkin saat ini ia menghilang untuk sementara, namun percayalah esok hari ia akan muncul kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s