When You Came Into My Live [Part 7]

Untuk kesekian kalinya Ji-Young melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah hampir satu jam ia menunggu di taman—yang berada di tengah-tengah sekolah. Namun, Jong-Hoon tak kunjung datang. Laki-laki itu menyuruhnya untuk menunggu di taman dan berjanji bahwa ia akan menjemputnya karena mereka akan belajar bersama lagi di rumah Ji-Young.

Taman semakin lama semakin sepi—walaupun suasana ini disukai Ji-Young—namun, dirinya belum tenang jika laki-laki itu belum datang. Ketika kelas matematika, laki-laki itu menawarkan untuk belajar bersama, kali ini mereka akan membahas pelajaran matematika.

“Jadi, hari ini mau belajar bersama lagi?”

“Hmm… boleh. Kali ini pelajaran matematika yang kita bahas, bagaimana?” sahut Ji-Young sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

“Oke. Sepulang sekolah tunggu aku di taman, nanti akan kujemput kau,” kata Jong-Hoon memberi kesepakatan.

Ji-Young memasang raut wajah bingung, “Kenapa harus di taman? Kenapa tidak langsung saja?”

“Aku… hmm… mau mengambil sesuatu, sebentar saja, ya?”

“Baiklah,” ucap Ji-Young meyakinkan. “Tapi jangan terlalu lama, oke?”

“Oke. Aku janji paling lama 5 menit.”

Dan. Sekarang sudah lebih dari satu jam gadis itu menunggu. Ji-Young merasa kecewa, laki-laki itu tidak menepati janjinya, katanya 5 menit, ini sudah lebih dari satu jam. Lagi-lagi, ia melirik jam tangannya.

Kalau saja 5 menit lagi tidak datang, aku akan pulang dan marah besar padanya, ucap Ji-Young dalam hatinya—memberi keputusan.

Oke, waktunya tinggal 1 menit lagi.

Ponsel Ji-Young tiba-tiba berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk. Ia menduga bahwa pesan itu pasti dari Jong-Hoon. Diambilnya ponsel dari saku di celananya. Dugaannya pun benar, karena di layar tertulis nama ‘Jong-Hoon’ yang menandakan bahwa ialah si pengirim pesan tersebut.

Dibukanya isi pesan tersebut dan ditatapnya layar ponselnya untuk membaca isi pesannya yang berisi, ‘Temui aku di lapangan sekarang!”

Ji-Young merasa aneh dengan laki-laki itu. Sebelumnya, ia menyuruhnya untuk menunggu di taman, lalu setelah selama satu jam lebih ia tiba-tiba menyuruhnya untuk bertemu di tempat lain. Sudahlah, dirinya tidak peduli, ia langsung menyimpan ponselnya kembali ke saku celana dan segera melangkahkan kaki menuju tempat yang dikatakan Jong-Hoon.

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan buru-buru—setengah berlari—tak sabar ingin memarahi laki-laki itu. Dirinya sudah sangat kesal. Kini ia tak peduli sekolah masih ramai ataupun tidak, ia hanya memikirkan kekesalannya.

Sampailah Ji-Young di lapangan, matanya segera menelusuri area lapangan—mencari sosok Jong-Hoon. Dan, yang ia dapati adalah laki-laki itu kini tengah duduk bersandar di bawah pohon yang satu-satunya berada di lapangan itu. Dari sudut pandangannya, ia hanya dapat melihat punggung laki-laki itu. Dasar aneh. Aku sudah menunggu lama sejak tadi, sedangkan kau malah asyik bersandar di sana, gerutu gadis itu dalam hati.

Gadis itu semakin mempercepat langkahnya dan bersiap-siap memasang muka marah. Sampailah ia di tempat di mana Jong-Hoon sedang duduk besandar. Ji-Young mendengus kesal. “Kau ini bagaimana, sih? Aku sudah menunggumu lama di taman. Kau malah asyik bersantai di sini.”

Jong-Hoon tidak menjawab. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hal itu membuat Ji-Young semakin kesal.

Akirnya gadis itu berputar agar dapat melihat wajah laki-laki itu. “Kau ini kenapa? Kenapa tidak menj—aaa!”. Gadis itu teriak dengan mata melotot. Terkejut karena yang dilihatnya kini adalah wajah Jong-Hoon yang dipenuhi dengan luka memar dan darah di sekitar mulutnya. Laki-laki itu kini sedang mengernyit kesakitan sambil memegang bagian perutnya yang mungkin terluka juga. Gadis itu menduga bahwa laki-laki itu habis berkelahi hebat dengan seseorang, atau mungkin lebih. Dirinya terlalu ketakutan, terlalu bingung harus melakukan apa.

Ji-Young akhirnya berjongkok di hadapan laki-laki itu. “Jong-Hoon, apa yang terjadi? Siapa yang telah melakukan ini padamu? Siapa?” tanya Ji-Young panik. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan yang bercampur dengan kepanikan. “Oke, sekarang aku akan membawamu ke rumahku, tapi nanti kau harus menceritakan semua yang terjadi padaku.”

Jong-Hoon tidak berkata apa-apa, bahkan menggerakkan kepala untuk mengangguk pun tidak. Mungkin terlalu sulit untuk menggerakkan kepala di saat terluka, Ji-Young memakluminya. Gadis itu mengeluarkan posnelnya untuk menghubungi ayahnya untuk segera meminta dijemput dan mengantarnya ke rumah sakit terdekat. Tangannya bergetar ketika mencoba mengambil ponsel dari saku celananya. Kontak yang ia cari sempat salah-salah karena terlalu panik. Ahirnya ia berhasil menemukan kontak ayahnya.

“Halo, ayah. Bi…bisa jemput aku se… sekarang?” ucap Ji-Young terbata-bata.

Terdengar suara dari seberang sana. “Ya, Ji-Young. Tentu saja bisa. Tapi ada apa Ji-Young? Tiba-tiba kau minta dijemput? Bukankah bisanya kau selalu diantar oleh temanmu itu?” tanya ayahnya merasa ada yang aneh pada anak perempuan satu-satunya ini.

Ji-Young menghela napas—mencoba mengumpulkan oksigen ke dalam paru-parunya—untuk menenangkan dirinya. “Iya ayah, tapi sekarang temanku ini sedang terluka. Kita harus membawanya ke rumah sakit. A… aku juga tidak tahu secara persis bagaimana kejadiannya. Tiba-tiba saja seperti ini.”

“Baiklah, ayah akan segera menjemputmu. Kau tunggu di sana sampai ayah datang.” Terdengar suara tut tut tut tanda telepon putus. Gadis itu segera memasukkan ponsel ke saku celananya dengan otak yang berputar, terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menduga-duga apakah laki-laki ini telah dirampok, atau mungkinkah ia dikepung oleh sekelompok orang, lalu mereka menghajarnya. Tapi, siapa mereka yang berani melakuka hal itu. Setahunya, Jong-Hoon tidak punya masalah dengan siapapun, kecuali…

Ji-Young tiba-tiba teringat akan kejadian minggu lalu, saat Jong-Hoon berhasil menonjok wajah Collin. Namun, apakah benar jika semua ini adalah bentuk balas dendam Collin dan kawan-kawannya? Apakah benar ini semua ulah Collin dan kawan-kawwannya? Kini gadis itu menjadi merasa bersalah atas semua kejadian ini. Seharusnya ini semua tidak terjadi kalau saja waktu itu Jong-Hoon tidak membela dirinya dan tidak menonjok Collin.

Seharusnya ia tahu kalau Collin tidak akan tinggal diam dan membiarkan dirinya terlihat kalah. Suatu saat mereka pasti akan balas dendam. Dan inilah waktunya.

 

***

 

Jong-Hoon masih belum sadarkan diri. Kini seluruh lukanya telah selesai diobati, dan wajahnya dipenuhi dengan perban putih. Jujur saja, perban itu sedikit merusak wajah tampannya.

Ji-Young masih duduk di samping tempat tidur di mana Jong-Hoon berbaring sejak dirinya diperbolehkan masuk oleh dokter. Dokter berkata bahwa lukanya masih tergolong dalam luka yang dapat disembuhkan dengan cepat, namun tetap saja membutuhkan istirahat agar lukanya benar-benar pulih. Dan yang terburuk adalah luka pada bagian perutnya—luka karena terkena tonjokkan hebat—yang membutuhkan pengobatan secara rutin untuk mengurangi rasa sakitnya. Dirinya tidak dapat membayangkan seberapa kerasnya tonjokkan itu sampai-sampai Jong-Hoon mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia masih ingat ketika dirinya menemukan laki-laki itu dalam keadaan mulut berdarah.

Hingga saat ini, kurang lebih sudah 2 jam Ji-Young menunggu laki-laki itu, namun laki-laki itu tak kunjung sadarkan diri. Gadis itu semakin khawatir. Ia terus menerus menangis—membasahi kedua pipinya dengan air mata—merasa dirinya begitu bersalah. Tidak seharusnya laki-laki itu menjadi korbannya, ia tidak salah apa-apa.

Gadis itu sudah merasa lelah dan pegal. Sudah hampir 4 jam ia menunggu. Akhirnya ia memutuskan untuk menyandarkan kepalanya ke tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Matanya sudah tidak mampu lagi untuk tetap terbuka. Dirinya seolah-olah tergoda untuk memejamkan matanya perlahan-lahan.

Oke, untuk kali ini ia kalah dengan godaan itu. Akhirnya ia memasrahkan diri untuk memejamkan matanya—tidur untuk sejenak saja.

 

***

 

“Ji-Young, bangun Ji-Young,”

Gadis itu masih setengah sadar. Sebagian dari dirinya masih berada di alam mimpi. Di dalam mimpinya, ia tengah berada di suatu tempat yang penuh dengan kabut. Dirinya tidak dapat melihat apapun, kecuali dirinya sendiri. Ia terus berjalan—mencari jalan keluar dari kabut itu—namun yang didapatinya, ia masih berada di dalam kabut itu.

Dirinya tersesat.

Ya ampun. Apa yang harus kulakukan sekarang? Ia terus memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari kabut itu. Dirinya mencoba meneriakkan sesuatu, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Ia menyerah. Akhirnya yang dapat dilakukannya hanyalah duduk diam dengan tangan memeluk kedua lututnya sambil membenamkan wajahnya, berharap ada seseorang yang datang agar dirinya tidak sendirian seperti ini.

“Ji-Young!” tiba-tiba sebuah suara terdengar. Suara itu terdengar jelas dan begitu dekat. Ia mendongakkan kepala untuk mencari siapa pemilik suara itu, namun tidak ada siap-siapa di sana.

“Ji-Young, bangun!”

Suara itu terdengar lagi. Kali ini semakin jelas dan dekat suaranya. Tunggu, apa yang tadi dikatakannya? Bangun? Apakah ia sedang bermimpi? Ya, Ji-Young sadar kalau dirinya sedang bermimpi. Tapi, bagaimana caranya ia keluar dari mimpi itu?

Tiba-tiba Ji-Young teringat kalau dirinya pernah membaca kutipan, ‘Jika kau tersadar bahwa kau sedang berada di alam mimpi dan kau ingin segera bangun dari mimpimu, yang harus kau lakukan adalah mencoba menjatuhkan diri dari suatu tempat yang sangat tinggi’. Selain itu, ia juga ingat film yang berudul ‘Inception’, ketika seseorang mencoba keluar dari mimpi dengan menjatuhkan dirinya dari suatu gedung yang sangat tinggi.

Akhirnya, ia mencoba membayangkan sebuah jurang yang sangat dalam berada di depannya. Dan, terbentuklah jurang itu tiba-tiba. Dirinya harus menjatuhkan tubuhnya ke dalam jurang itu. Rasa takut itu mulai muncul. Namun, ia sadar kalau ini hanyalah mimpi, jadi ia mencoba melangkah dan menjatuhkan diri ke dalamnya.

Lalu, semuanya menjadi gelap.

Suasana yang gelap itu segera digantikan oleh bau rumah sakit. Dirinya sudah bangun. Ia mencoba membuka matanya secara perlahan. Yang pertama disadarinya adalah ia sedang berada di suatu ruangan di rumah sakit. Ya ampun, ia baru menyadari kalau dirinya tertidur ketika sedang menjaga Jong-Hoon. Ia cepat-cepat mengangkat kepalanya dari tempat tidur, lalu memutar kepalanya untuk melihat laki-laki itu.

Ji-Young melihat laki-laki itu tidak sedang tidur. Yang ia lihat adalah kini laki-laki itu tengah tesenyum kepadanya. “Kau… sudah sadar?” tanyanya basa basi, walaupun sudah jelas ia tahu bahwa laki-laki itu sudah tersadar.

“Menurutmu, bagaimana kelihatannya?” ucap Jong-Hoon, suaranya terdengar lirih.

Gadis itu mengeluarkan sebuah ulasan senyum di bibirnya. “Bagaimana, masih terasa sakit?” Mukanya berubah menjadi serius.

“Hmm… sedikit,” gumam Jong-Hoon sambil melihat-lihat bagian tubuhnya yang ditutupi perban. “Oh ya, kau yang membawaku ke sini?” tanyanya.

Ji-Young mengehela napas sejenak. “Ceritanya panjang. Aku dan ayahku yang membawamu ke sini. Tadi ayah menjemput di sekoah,” katanya menjelaskan.

“Ooh, begitu rupanya,” kata Jong-Hoon memberi tanggapan.

Ji-Young tiba-tiba teringat kejadian di sekolah tadi. “Jong-Hoon, siapa yang telah melakukan ini padamu?” tanya gadis itu, wajahnya serius dan penuh kekhawatiran.

Laki-laki itu mengalihkan pandangannya, seperti mencoba mengingat-ngingat kejadiannya. “Tunggu sebentar, aku mencoba mengingatnya kembali.”

“Ya ampun, maaf. Aku lupa kau masih sakit. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya, lain kali saja kau ceritakan,” kata gadis itu baru teringat kalau Jong-Hoon masih sakit, pasti akan sedikit sulit baginya untuk mengingat kejadian yang baru saja dialaminya dalam keadaan seperti ini.

“Tidak apa. Aku sudah ingat,” gumam Jong-Hoon, lalu menghela napas sejenak. “Tadi itu… aku sudah akan kembali ke taman, tapi… tiba-tiba beberapa orang datang dan mengepungku di lapangan. Mungkin ada sekitar empat atau lima orang di sana. Lalu…” Kata-katanya terhenti sejenak, ia terlihat sedang mengingat kejadian selanjutnya. “Lalu, salah seorang dari mereka maju menghadapku, kupikir ia adalah pemimpinnya. Aku baru sadar kalau itu Collin ketika ia mencoba mendekat.”

Sudah kuduga, ternyata ini ulah Collin dan teman-temannya, ucap Ji-Young dalam hatinya.

“Ia mencoba berbicara denganku. Intinya seperti memperingatkan untuk tidak mencoba melawannya lagi, terutama ketika kejadian minggu lalu, ketika aku mencoba menonjok wajahnya hingga berdarah dan mempermalukannya di hadapan teman-temannya. Pembicaraan itu berlangsung agak lama, mungkin disengaja untuk membuat suasananya menjadi tegang.”

Ji-Young merubah posisi duduknya. “Lalu, apa yang selanjutnya terjadi?”

“Aku mencoba meminta maaf padanya. Ia bilang kalau aku meminta maaf, mereka tidak akan menyerangku. Jadi aku sudah minta maaf padanya dan aku segera pergi meninggalkan mereka untuk menemuimu di taman. Namun…” Jong-Hoon menghela napas sejenak. “Ia berbohong. Tiba-tiba tubuhku ditarik dan diserang. Aku mencoba melawan mereka. Dua orang berhasil kulumpuhkan, namun yang lain tetap menyerangku hingga aku kalah dan terjatuh. Aku sudah tidak mampu melawan mereka. Perutku sudah terasa sangat sakit karena terkena tonjokkan berkali-kali.”

Ji-Young mengernyit, membayangkan rasa sakit yang dirasakan Jong-Hoon ketika ia diserang.

“Lalu Collin mendekat, mengangkat wajahku dan mengancamku untuk tidak lagi berurusan dengannya. Akhirnya mereka berhenti menyerangku dan pergi menjauh. Aku mencoba menyandarkan diri di pohon. Lalu aku mencoba meminta bantuan, namun tidak ada satu orang pun di sana. Akhirnya aku teringat untuk menyuruhmu menungguku di taman. Mungkin saja kau masih ada di sana, jadi aku mengirimkan pesan padamu. Aku senang kau akhirnya datang, namun waktu itu kau datang dengan marah-marah. Aku tahu perasaanmu waktu itu, tapi setelah melihat keadaanku, kau menjerit. Lalu, kau menghampiriku dan melontarkan padaku beberapa pertanyaan yang tidak bisa kujawab pada waktu itu. Kemudian aku melihat kau mengeluarkan ponselmu dan menelpon seseorang, lalu aku tidak ingat apa-apa tiba-tiba aku sudah berada di sini,” kata Jong-Hoon panjang lebar. Akhirnya ia selesai menceritakan semuanya.

Ji-Young tidak berkata apa-apa. Pikirannya masih membayangkan kejadian tadi. Wajahnya masih serius dan penuh kekhawatiran.

“Hei, Ji-Young. Kenapa mukamu terlihat serius sekali? Santai saja, aku tidak apa-apa,” kata Jong-Hoon tiba-tiba menenangkan setelah melihat ekspresi Ji-Young yang seperti itu.

“Aku… mengkhawatirkanmu. Aku ketakutan. Aku panik,” kata gadis itu terbata-bata. Menjawab alasan mengapa ekspresi yang dikeluarkannya seperti ini.

“Ya, aku tahu kau ketakutan. Aku dapat melihatnya ketika kau menjerit, ketika kau dengan tangan gemetaran mencoba mengeluarkan ponselmu,” gumam Jong-Hoon. “Itu tandanya, kau peduli padaku. Terima kasih telah menolongku, Ji-Young,” katanya. Suaranya terdengar lembut. Lalu ia memberikan seulas senyum di bibirnya sambil menatap gadis itu.

Ji-Young mengehela napas. “Aku pikir, kau akan…” Ji-Young menggelengkan kepalanya. “Yah, kau tahu maksudku. Kupikir aku tidak akan melihatmu lagi. Tapi aku senang akhirnya sekarang kau baik-baik saja.” Tunggu, apa yang tadi baru saja dikatakannya? Aku senang akhirnya sekarang kau baik-baik saja. Ji-Young tidak mengerti kenapa kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulutnya.

“Kau tahu, apa yang kupikirkan ketika aku diserang?”

“Apa?”

“Kau. Aku takut mereka melakukan sesuatu terhadapmu. Aku tahu kau pasti tidak bisa melawan kalau terjadi apa-apa. Maka dari itu, aku mengkhawatirkanmu, Ji-Young.”

Napas Ji-Young tercekat, jantungnya berdebar begitu kencang. Benarkah laki-laki itu mengkhawatirkannya? Apakah sekarang dirinya masih bermimpi? Tidak, dirinya sudah terbangun dan ini kenyataan. “Benarkah?” Akhirnya hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya.

“Menurutmu? Aku terlihat sedang bercanda atau serius?” tanya Jong-Hoon, tidak memberi jawaban.

“Aku tidak bisa membedakan kau sedang bercanda atau serius, karena menurutku kau tidak pernah serius,” jawab Ji-Young sambil terkekeh.

Jong-Hoon tiba-tiba memasang muka datar. “Jadi, kau pikir semua ini bohong?” tanyanya.

“Ya, mungkin saja kau sedang mengarang cerita, dan semua lukamu itu adalah bohongan. Dan kau menyuruh dokter untuk berakting seolah-olah kau benar-benar sakit.”

“Astaga Ji-Young, otakmu benar-benar harus dicuci. Kita harus segera memanggil dokter untuk mencuci otakmu,” gumam Jong-Hoon dengan wajah polos yang membuat Ji-Young tertawa.

Ji-Young tertawa mendengar ekspresi laki-laki itu. Akhirnya ia berusaha berhenti tertawa. “Jadi, bagian mana yang tidak serius?”

Jong-Hoon tampak berpikir-pikir. “Hmm… rahasia.”

“Oh, ayolah jangan membuatku penasaran lagi. Kau terlalu banyak menyimpan rahasia,” gumam Ji-Young kesal.

“Biar saja, agar kau belajar membedakan kapan aku bercanda, kapan aku serius,” jelas laki-laki itu lagi-lagi tidak memberi jawaban yang pasti.

“Hmm… oke, terserah kau saja,” ucap Ji-Young tidak acuh. Walaupun ia berkata tidak acuh, namun dalam hatinya ia akan berusaha belajar membedakan kapan laki-laki itu sedang berdanda, kapan laki-laki itu sedang serius.

“Aku tahu, kau pasti akan berusaha belajar bagaimana cara membedakannya,” ucap Jong-Hoon seolah-olah dapat membaca pikiran Ji-Young.

Ji-Young kaget, merasa laki-laki itu dapat membaca apa yang sedang dipikirkannya. “Kau… bisa membaca pikiran?” tanyanya. Bodoh. Seharusnya ia tidak menanyakannya. Dengan begitu, laki-laki itu pasti tahu kalau dirinya sedang berpikiran seperti itu. “Oh, tidak,” katanya sambil menepuk jidatnya.

“Tidak. Aku hanya menebak. Jadi, memang benar kau sedang berpikiran seperti itu? Hahaha tebakanku tepat. Mungkin, aku memang berbakat menjadi seorang peramal,” gumam laki-laki itu. Mulai dengan khayalannya menjadi seorang peramal.

Ji-Young bingung akan membalas apa. Ia mulai merasa jengkel karena laki-laki itu mulai banyak bicara. Aneh, orang sakit seharusnya diam. Ini malah banyak bicara. “Sudahlah, sebaiknya kau tidak terlalu banyak bicara dan berpikiran yang tidak-tidak. Kau ini sedang sakit, jadi perlu istirahat yang banyak, oke?” Akhirnya ia berkata-kata untuk menghentikan pembicaraan.

Jong-Hoon mendengus pelan. “Iya, bu dokter atau bu suster. Aku akan istirahat. Hei, ngomong-ngomong kau cocok juga jadi seorang dokter atau perawat, ya?” gumamnya, lagi-lagi berbicara.

“Terima kasih. Tapi, kalau saja aku dokternya, aku akan memberimu obat bius agar kau diam.”

“Kalau begitu, kau tidak cocok menjadi dokter. Kau terlalu kejam memperlakukan pasienmu,” gumam laki-laki itu.

Ji-Young kehabisan kata-kata. Ia hanya berharap dokter atau siapapun segera masuk ke dalam ruangan. Kemudian, terdengar suara buka pintu ruangan.  Harapannya segera terkabul. Ia segera memutar kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Ternyata dokter datang dengan stetoskop yang digantung di lehernya. Gadis itu tetap duduk di tempatnya, sambil memperhatikan dokter yang sedang memeriksa keadaan Jong-Hoon.

“Keadaannya sudah semakin membaik, tapi disarankan harus banyak istirahat dan minum vitamin agar luka-lukanya lebih cepat sembuh,” kata dokter kepada Ji-Young setelah selesai memeriksa Jong-Hoon.

Ji-Young mengangguk paham. “Baiklah. Terima kasih dokter.”

“Sama-sama,” balas dokter sambil tersenyum. “Hari ini, sudah boleh pulang dan istirahat di rumah. Tapi, jangan lupa diminum obatnya.” Ji-Young beralih menatap Jong-Hoon yang sama-sama mengeluarkan ekspresi senang. “Kalau begitu, saya permisi dulu.”

Tiba-tiba, seseorang datang masuk ke dalam ruangan. Ji-Young berputar untuk dapat melihatnya, itu adalah ayahnya. “Papa.”

Ayahnya membalas dengan seulas senyum di bibirnya. “Bagaimana keadaan temanmu ini, Ji-Young?” tanya ayahnya.

“Dia sudah baikan pa. Baru saja siuman. Kata dokter, hari ini sudah boleh pulang dan istirahat di rumah,” jelas Ji-Young pada ayahnya.

“Baiklah kalau begitu, kita antar pulang saja ya, Ji-Young.”

“Iya, Pa. Aku akan membantunya bersiap-siap dulu,” ucap Ji-Young sambil membantuk Jong-Hoon bangun.

“Baiklah, Papa akan mengurus administrasinya dulu, nanti Papa tunggu di lobi ya,” kata ayahnya.

“Iya, Pa,”

“Terima kasih banyak Papa-nya Ji-Young,” seru Jong-Hoon, mungkin merasa tidak enak sudah begitu merepotkan.

“Ya,” balas ayah Ji-Young sambil mengangkat sebelah tangannya.

Ayah Ji-Young telah pergi meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Ji-Young dan Jong-Hoon yang sedang bersiap-siap.

“Untunglah, dokter cepat datang jadi kau bisa berhenti bicara,” gumam Ji-Young sambil membantu Jong-Hoon bersiap-siap.

“Jadi, kau tidak suka kalau aku banyak bicara? Oke, aku akan diam mulai sekarang.”

“Hmm… tidak, bukan begitu maksudku.”

Jong-Hoon benar-benar tidak berkata-kata. Ia hanya menatap Ji-Young dengan muka datar, lalu kembali mengalihan tatapannya.

“Jong-Hoon jangan marah. Maksudku kau tidak seharusnya banyak bicara saat sakit seperti ini.”

Jong-Hoon tiba-tiba tertawa. “Tidak, aku tidak marah. Tapi, memang benar yang kau katakan. Nah, yang tadi itu aku sedang bercanda. Hehehe,” katanya sambil terkekeh. “Kau ini polos sekali, ya.”

“Jong-Hoon!” seru Ji-Young kesal sambil mendorong tubuh laki-laki itu. Jong-Hoon mengernyit kesakitan ketika tubuhnya didorong. Astaga, gadis itu lupa kalau Jong-Hoon sedang sakit. Akhirnya, ia mencoba meraih lengan laki-laki itu agar tidak terjatuh.

“Kau boleh mendorong, tapi jangan terlalu keras,” ucap Jong-Hoon sambil memasang ekspresi wajah yang pasti membuat setiap orang yang melihatnya akan merasa kasihan padanya.

Ji-Young memamerkan deretan gigi putihnya. “Maaf, aku lupa kau sedang sakit. Ayo, sudah siap kan? Aku akan membantumu berjalan.”

“Sudah. Lagipula aku ingin cepat-cepat meninggalkan rumah sakit. Aku tidak suka bau rumah sakit.”

Ji-Young meraih sebelah lengan Jong-Hoon untuk membantunya berjalan. Laki-laki itu belum sepenuhnya pulih dari sakitnya, namun ia senang akhirnya ia dapat melihat laki-laki itu tersenyum, tertawa, dan berada di dekatnya. Jujur,iItu saja sudah membuat hatinya tenang dan merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tiba-tiba, Ji-Young jadi teringat. Apakah semua kata-kata tentang kekhawatirannya pada gadis itu adalah serius?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s