When You Came Into My Life [Part 8]

“Ayo, sedikit lagi sampai. Jong-Hoon hwaiting!”

Ji-Young membantu Jong-Hoon untuk berjalan menuju kelas dan memberikannya semangat. Seharusnya, hari ini laki-laki itu istirahat di rumah. Namun, ia memaksa untuk tetap pergi ke sekolah.

“Tidak apa-apa, aku sudah baikan. Kau lihat sendiri kan, Ji-Young?” kata Jong-Hoon ketika masih berada di rumah Ji-Young tepat sebelum berangkat ke sekolah. Gadis itu sempat kaget ketika Jong-Hoon datang menjempunya. Dia pikir, laki-laki itu tidak akan datang dan akan beristirahat di rumah. “Aku bisa menyetir, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir.”

“Tapi kau perlu istirahat. Dokter bilang kalau lukanya ingin cepat sempuh, kau perlu banyak istirahat di rumah,” bantah Ji-Young tidak setuju kalau laki-laki itu harus berangkat ke sekolah.

Jong-Hoon mendesah. “Tapi Ji-Young, istirahat di rumah itu membosankan. Kalau membosankan, bukan istirahat namanya,” ucap laki-laki itu memberikan alasan. “Aku yakin aku baik-baik saja. Percayalah padaku,” katanya memohon.

Walaupun laki-laki itu berkata demikian, namun Ji-Young yakin pasti rasa sakit itu masih ada, walaupun intensitasnya berkurang. Ji-Young mendesah, tidak tahu harus berkata apa lagi untuk melarang laki-laki itu pergi ke sekolah. “Baiklah, aku tidak memaksa kalau itu maumu,” ucap Ji-Young pasrah.

Sampailah mereka di depan kelas Seni Rupa—kelas yang dipilih mereka di hari Rabu. Kelas masih sepi, karena mereka berangkat pagi-pagi sekali, suasana yang paling disukai oleh Ji-Young.

Ji-Young membantu Jong-Hoon duduk di tempat biasanya. Laki-laki itu sedikit mengernyit ketika mencoba untuk duduk. “Kubilang apa? Kau seharusnya istirahat di rumah hari ini.”

“Tidak. Perutku hanya sakit sedikit, tapi tidak sesakit kemarin,” ucap Jong-Hoon membela sambil memegang perutnya yang masih sakit.

Sebenarnya, bukannya laki-laki itu tidak boleh pergi ke seolah, namun yang ia takutkan adalah apakah Collin akan melayangkan balas dendam lagi dan akan melakukan sesuatu pada Jong-Hoon. Apabila berkelahi lagi, sudah pasti laki-laki itu tidak akan mampu bertahan dengan keadaan yang masih belum seratus persen pulih seperti ini. Semakin memikirkannya, semakin ia merasa ketakutan. Ia berjanji tidak akan meninggalkan laki-laki itu sendirian. Kemanapun ia dan laki-laki itu pergi, mereka harus pergi bersama-sama.

Namun, apakah dengan mereka selalu pergi bersama-sama akan memperbaik keadaan, ketika ia sadar bahwa ia tidak dapat melakukan perlawanan jika terjadi apa-apa.

Ia hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja.

***

“Kau tunggu di sini, aku akan ke toilet sebentar. Jangan kemana-mana sebelum aku kembali,” kata Ji-Young mengingatkan. Tidak ingin kejadian kemarin kembali terulang dengan dirinya meninggalkan Jong-Hoon sendirian dalam keadaan yang belum benar-benar pulih.

Jong-Hoon hanya bisa mengangguk pelan, mencoba untuk menurut apa kata Ji-Young. Syukurlah, kali ini ia dapat menggerakkan kepalanya walaupun sedikit.

Gadis itu berjalan meninggalkan kelas dengan terburu-buru—ingin cepat-cepat sampai kembali di kelas dan dapat kembali menjaga Jong-Hoon. Namun, di tengah-tengah koridor, tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Ia panik, berusaha untuk melepas tangannya dari seseorang yang berusaha menariknya. “Lepaskan!” seru Ji-Young.

Pegangan itu cukup kuat hingga membuat tangan Ji-Young sedikit kesakitan. Tiba-tiba seorang gadis berambut pirang panjang melangkah mendekat menuju keberadaan Ji-Young dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Helen! Ya, itu Helen. Ia yakin walaupun pandangannya tidak berani menatap seorang gadis yang kini berada tepat di depannya itu. Kemudian, beberapa gadis lain muncul. Mungkin 2 atau 3 orang, yang tentunya teman-teman Helen.

Tangan Ji-Young masih dipegangi oleh orang itu, yang ia yakin itu adalah Collin, atau salah satu dari teman-temannya. Namun, sekarang dirinya tidak melawan, ia hanya bisa pasrah. Pegangan itu akhirnya lepas, namun dirinya didorong ke tembok dengan sedikit keras, hingga dirinya tidak bisa menahan dorongan itu. Ia akhirnya mencoba menengadahkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Yap, diirnya kini tengah dikepung oleh Helen, Collin, dan teman-temannya. Gadis itu begitu panik dan ketakutan. Ia bertanya-tanya apakah kali ini giliran dirinya yang akan dilayangkan balas dendam? Jika ya, tidak apa. Yang terpenting baginya adalah Jong-Hoon tidak terkena imbasnya lagi. Ingin sekali jika ia bisa, ia melarikan diri dari mereka, namun sepertinya hal itu tidak mungkin dilakukannya melihat kini dirinya benar-benar dikepung sehinnga tidak dapat celah sedikitpun bagi dirinya untuk melarikan diri.

“Heh! Kau ingat kejadian kemarin?” tanya Collin sambil memasang wajah marah.

Ji-Young tidak memberi jawaban. Ia terdiam, kepalanya tertunduk ke bawah, tidak berani menatap orang-orang yang sedang mengelilinginya.

Jadi benar. Kemarin itu ulahnya Collin dan teman-temannya. Jadi benar bahwa mereka melayangkan balas dendam.

“Kenapa diam saja?” tanya Collin lagi, kali ini dengan nada yang sedikit meninggi.

“Kau lupa ya, Collin? Dia kan tidak bisa berbicara. Hahaha,”gumam Helen diiringi dengan suara tawa teman-temannya.

“Baiklah, kalau begitu. Kalau kau memang pura-pura tidak ingat, kau pasti ingat kejadian yang ini.” Collin mendengus keras. “Kejadian minggu lalu sewaktu kelas olahraga, kau ingat apa yang terjadi di sana?”

Sudah jelas Ji-Young ingat, karena dirinya menyaksikan sendiri kejadian itu. Dan, sudah jelas dirinyalah penyebab Jong-Hoon menonjok Collin. Ia hanya menangguk ketakutan, tidak berani berkata apa-apa.

“Bagus kalau kau ingat,” ucap Collin ketus. “Sekarang, apa yang kau rasakan setelah melihat keadaan teman dekat-mu itu kemarin?” tanyanya dengan sedikit menekankan pada bagian kata ‘teman dekat’. “Kau tahu apa hubungan kejadian minggu kemarin dengan kejadian kemarin?”

Ji-Young masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Kepalanya masih tertunduk. Dirinya terlalu takut untuk berbicara.

“Itu artinya aku tidak bodoh. Aku tidak akan tinggal diam. Siapapun yang berani melawanku, pasti akan mendapat balasannya. Yah, mungkin kau akan lebih familiar dengan istilah balas dendam,” jelas Collin menjawab hubungan dua kejadian itu. Lagipula, Ji-Young sudah tahu kalau Collin memang berencana balas dendam. Dan, bodohnya ia baru menyadarinya ketika semuanya sudah terjadi.

“Jadi, kau tahu mengapa kejadian minggu lalu itu bisa terjadi? Kau tahu apa penyebab teman dekat-mu itu melakukannya?”

Aku. Suara itu tidak keluar dari mulut gadis itu, hanya bergaung-gaung di dalam kepalanya.

“Itu akibat dia membelamu. Maka dari itu ia berani melawan Collin.” Kali ini giliran Helen yang menjawab dengan tangan terlipat di depan dada. Menatap Ji-Young dengan tatapan seolah menuduh.

Ya, memang benar. Itu semua gara-gara ia mencoba membelaku, pikir Ji-Young dalam hatinya.

“Oke, kami tidak mau berlama-lama. Jadi, kesimpulannya… kau tahu apa yang harus kau lakukan agar kejadian itu tidak terulang?” tanya Collin dengan nada ketus.

Pertanyaannya sudah jelas membuat gadis itu bingung harus menjawab apa. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Sederhana, hanya satu kata.”

Ji-Young penasaran menunggu kata-kata Collin selanjutnya.

“Menjauh.”

Apa? Apakah Ji-Young tidak salah dengar? Hal itu pasti sulit dilakukannya mengingat kini dirinya dengan laki-laki itu sudah cukup dekat. Kalau saja pertemanan mereka belum sejauh ini, hal itu pasti bukanlah masalah baginya. Oh tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Pikirannya semakin kalut—tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, apa yang harus dikatakannya pada laki-laki itu untuk membuatnya menjauh.

“Kau tahu kan maksudku menyuruhmu menjauh? Itu agar dia tidak perlu repot-repot lagi membelamu, jadi dia tidak punya alasan untuk melawanku. Tentunya ia akan terbebas dari kejadian seperti kemarin, dan… akan kupastikan kami tidak akan mengganggunya lagi,” kata Collin memberi alasan mengapa gadis itu harus menjauh.

Ji-Young masih diam bergeming. Dirinya masih memikirkan cara untuk berbicara dengan laki-laki itu dan menyuruhnya menjauh.

“Mengerti, tidak?!” teriak Helen membuyarkan lamunan Ji-Young. Suaranya terdengar begitu melengking dan begitu memekakkan telinga gadis yang berada tepat di hadapan Helen itu.

Akhirnya Ji-Young terpaksa menganggukkan kepalanya—pura-pura mengerti apa yang dikatakan mereka.

“Kau pilih saja. Mau melihat hidupnya tenang sementara kau menjauh, atau…” Collin berpikir-pikir, lalu melanjutkan kata-katanya, “atau kau tetap berteman dengannya. Kau sudah tahu kan akibatnya? Yah, walaupun mungkin kau akan berusaha membantunya melawan kami, aku yakin kau tidak akan bisa membantu apa-apa,” gumam Collin dengan nada suara mengejek. “Jadi, sekarang kurasa kau tidak punya pilihan selain menjauh darinya.”

Menjauh. Kata-kata itu semakin lama semakin memekakkan telinga Ji-Young. Dirinya dibuat bingung hanya dengan satu kata itu.

“Sebaiknya, kau pikirkan lagi saja apa pilihanmu. Semoga saja pilihanmu tidak salah.”

“Pikirkan lagi, anak manis,” ucap Helen dengan nada mengejek. Ia berjalan meninggalkan Ji-Young sambil menubruk sebelah bahu gadis itu.

Kata-kata Collin masih bergaung di telinganya, sementara mereka mulai pergi meninggalkan Ji-Young. Setidaknya, dirinya dapat sedikit bernapas lega karena mereka sudah tidak lagi mengepungnya. Namun, napas lega itu tidak akan berlangsung lama mengingat sekarang, kata-kata menjauh masih terngiang-ngiang di dalam pikirannya.

Ji-Young cepat-cepat beranjak dari tempatnya, melangkah menuju toilet. Ia mempercepat langkahnya dan segera masuk ke dalam toilet dan berdiri di depan wastafel dengan cermin di atasnya. Dirinya menatap cermin itu—menatap pantulan dari dirinya yang ada di cermin. Sambil menatap pantulan dirinya, sambil ia memikirkan hal itu. Oh, Tuhan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Dirinya tidak mungkin secara tiba-tiba menjauh dari laki-laki itu. Ia harus punya alasan mengapa ia menjauh, dan tentunya bukan alasan karena ancaman Collin. Tidak, alasan itu hanya akan semakin memperpanjang masalah. Mungkin ia akan mencoba alasan bahwa dirinya sedang ingin sendiri, lalu dengan begitu ia akan terbebas dari laki-laki itu sementara laki-laki itu menjauh dan mungkin akan segera melupakan dirinya. Tidak. Jong-Hoon pasti akan terus bertanya-tanya padanya. Ia bukan tipe orang yang tidak peduli. Tapi, untuk saat ini ia tidak punya pilihan lain selain alasan itu yang mungkin cukup masuk akal baginya, dan bagi laki-laki itu. Ya, ia akan mencobanya.

Gadis itu mencuci tangannya di wastafel, untuk terakhir kalinya melihat pantulan dirinya di depan cermin sambil berkata di dalam hatinya, oh, Ji-Young, mengapa hidupmu begitu sial? Dalam waktu dekat ini saja, kau akan kehilangan seseorang yang selama ini melindungimu dan membuatmu bisa tersenyum, bisa dibilang satu-satunya temanmu. Apa jadinya hidupmu ketika kau sudah benar-benar kehilangannya? Ingin rasanya dirinya menangis, ingin sekali dirinya menceritakan semua masalahnya kepada seseorang. Tapi, ia tidak tahu sekarang siapa lagi yang bisa diceritainya. Ia sudah tidak punya teman lagi.

Ji-Young dengan segera mengenyahkan pikiran-pikiran itu. Ia tahu, di saat seperti ini dirinya harus kuat—di saat tidak ada seorang pun yang memberinya semangat kecuali ibunya sendiri. Dan tentu saja ia tidak bisa menceritakan masalahnya pada ibunya. Ia tahu ini masalahnya, maka dirinyalah yang harus menyelesaikannya sendiri.

Gadis itu melangkah meninggalkan toilet kembali menuju kelasnya—kelas seni rupa. Dari pintu kelas, ia dapat melihat laki-laki itu masih duduk rapi di tempatnya di antara deretan bangku yang kini sudah hampir kosong—masih setia menunggu kedatangannya. Ia ingat kalau sebelum pergi ke toilet, dirinya menyuruh laki-laki itu untuk tidak pergi kemana-mana sebelum dirinya kembali. Dirinya merasa kasihan dengan laki-laki itu, karena luka-lukanya masih dapat terlihat dengan jelas dari kejauhan—masih belum benar-benar pulih. Dirinya menjadi ragu kalau dirinya bisa menjauhi laki-laki itu setelah melihatnya. Tanpa sadar, seulas senyum terbentuk di bibirnya, terlalu senang ketika melihat bahwa laki-laki itu sekarang baik-baik saja.  Oh, tidak ia lupa. Seharusnya ia tidak tersenyum di saat ia akan memberikan alasan bahwa dirinya ingin sendiri. Akhirnya, Ji-Young menahan senyumnya sambil berjalan ke arah bangkunya.

Ji-Young mencoba melirik laki-laki yang ada di sebelahnya itu. Rupanya ia sedang menunduk sambil memainkan ponselnya. Syukurlah kini ia dapat menggerakkan tangannya. Semakin melihat wajah laki-laki itu, semakin sulit baginya untuk dapat menjauh dari laki-laki itu. Akhirnya ia mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya—mencoba menenangkan dan menjernihkan pikirannya sejenak. Sekarang, ia sudah lebih siap dalam menghadapi kenyataan yang ada di hadapannya, ia harus mulai berbicara dengan laki-laki itu sekarang.

“Jong-Hoon, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” Akhirnya Ji-Young memulai pembicaraan.

Jong-Hoon yang mendengar Ji-Young berbicara tiba-tiba segera mematikan ponselnya, lalu memasukkannya ke dalam sakunya dan segera beralih menatap gadis yang duduk di sebelahnya itu. “Ya, ada apa?”
Ji-Young berdeham. “Hmm… sepertinya, saat ini aku sedang ingin… sendiri.”

Jong-Hoon melongo, seolah-olah menunjukkan ketidakpahamannya akan kata-kata yang baru saja Ji-Young ucapkan. “Maksudmu?” tanyanya.

Ji-Young berpikir-pikir. “Hmm… maksudku, kau tahu aku sedang tidak ingin berurusan terlalu banyak dengan seseorang. Aku sedang tidak ingin diganggu. Yah, lebih tepatnya aku sedang ingin sendirian. Kuharap kau mengerti perasaanku,” jelas Ji-Young. Wajahnya menampakkan ekspresi yang susah ditebak.

Jong-Hoon mengalihkan pandangannya ke sekitar, tampak berpikir-pikir. “Aku tahu beberapa orang pernah mengalami suatu waktu di mana mereka ingin sendiri. Menurutku, itu seperti ingin mencari ketenangan dalam diri mereka. Mungkin, kau juga mengalami hal yang sama, jadi… aku memakluminya.”

Ji-Young tidak menyangka bahwa Jong-Hoon akan dengan mudah percaya apa yang dikatakannya, akan dengan mudah menerimanya. Ia tahu, jarang ada laki-laki yang seperti ini. Kali ini, ia merasa bersalah telah berbohong kepadanya. Laki-laki ini sudah begitu baik padanya.

“Tapi, yang kutahu setelah mengalami waktu sendiri itu mereka akan kembali seperti semua. Setelah mereka mendapatkan ketenangannya kembali,” Jong-Hoon melanjutkan kata-katanya.

Itu masalahnya. Aku tidak akan kembali. Aku akan terus menjauhimu hingga akhirnya kau benar-benar bisa melupakanku.

“Kalau boleh tahu, sampai kapan Ji-Young?”

Sampai kau benar-benar melupakanku. “Sampai… aku belum tahu pastinya,” kata Ji-Young. Akhirnya kata-kata itulah yang keluar dari mulutnya.

“Hmm… ngomong-ngomong kenapa kau ingin sendiri, Ji-Young? Apakah selama ini aku selalu merepotkanmu sehingga kau tidak ingin lagi kuganggu?”

Ji-Young menggeleng. Bukan berarti tidak setuju akan pernyataan Jong-Hoon, melainkan ia tidak tahu alasannya ia ingin sendiri.

“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan memaksa kalau kau benar-benar ingin sendiri,” simpul Jong-Hoon.

Ji-Young segera bersiap-siap mengambil tasnya, lalu beranjak dari bangkunya. “Terima kasih sudah mengerti. Kalau begitu, aku pamit. Sampai jumpa,” ucap Ji-Young singkat. Ekspresinya kembali seperti ketika pertama kali ia berbicara dengan laki-laki itu. Ji-Young mulai melangkahkan kaki melewati bangku Jong-Hoon untuk keluar kelas.

“Hei, Ji-Young. Kau tidak ingin kuantar pulang?” seru Jong-Hoon, sementara Ji-Young menghentikan langkahnya tepat di dekat pintu kelas.

“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Maaf, kalau selama ini merepotkanmu.”

Ji-Young melangkah meninggalkan kelas, meninggalkan Jong-Hoon yang masih berada di dalamnya. Semoga saja pilihan yang dilakukannya ini tepat.

Dan harus tepat.

***

Sudah kurang lebih sepuluh panggilan tak terjawab dari Jong-Hoon yang tertera di layar ponsel Ji-Young. Semua pesan yang dikirimkan laki-laki itu hanya ia baca, tanpa ada yang dibalas satupun.

‘Ji-Young, sudah sampai di rumah?’

‘Ji-Young, apakah kau baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Tolong balas pesanku.’

‘Aku ingin memberitahumu bahwa aku sedang serius. Aku serius mengkhawatirkanmu, Ji-Young.’

‘Ji-Young, mengapa telponku tidak diangkat? Pesanku tidak dibalas? Kau baik-baik saja kan?’

Ji-Young merasakan matanya begitu berat untuk membuka. Ia tahu, matanya sudah mulai sedikit membengkak karena sejak dirinya sampai di rumah, ia segera masuk ke kamarnya, menguncinya rapat-rapat dan merebahkan diri di tempat tidurnya, kemudian membenamkan wajahnya pada bantal dan seketika dalam waktu singkat bantalnya sudah basah oleh air matanya. Ia menangis terisak-isak, dadanya sudah terlalu sesak untuk menahan air mata yang sebenarnya ingin dikeluarkannya sejak ia selesai berbicara dengan laki-laki itu di kelas. Dirinya tidak siap untuk menghadapi kenyataan yang sedang menunggu di hadapannya.

Sepulang sekolah tadi, Ji-Young terpaksa menaiki kendaraan umum. Sudah lama sekali dirinya tidak menaiki kendaraan umum. Ia mencoba memberanikan diri—melawan dentuman-dentuman yang sudah lama tidak dirasakannya—namun, di dalam terlalu banyak penumpang dan langsung menatap Ji-Young dengan tatapan aneh. Tidak, itu hanya perasaannya saja, sebenarnya tatapan itu biasa saja—tatapan ketika seseorang melihat orang lain yang baru masuk ke sebuah bus. Kepala Ji-Young terasa sedikit pusing, napasnya sedikit sesak, namun beruntunglah di dalamnya suasana tidak terlalu ribut, jadi dirinya tidak perlu menutup kedua telinganya untuk menghindari suara-suara abstrak yang membuat kepalanya pusing dan napasnya semakin sesak. Kemudian, ia duduk di salah satu kursi kosong dekat pintu keluar, menatap jalanan dalam keadaan diam sepanjang perjalanan. Sekarang ia sadar, bahwa dirinya kembali pada kebiasaan lamanya—sendiri, tanpa teman, menjalani hari-hari yang membosankan sendirian—dan ia harus membiasakan hal itu kembali.

Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah pesan masuk. Ia tahu siapa pengirim pesan itu, siapa lagi kalau bukan laki-laki itu. Diambilnya ponsel yang ia letakkan di atas meja di samping tempat tidurnya, lalu dibukanya tombol kunci dan dibukanya pesan itu.

‘Ji-Young, aku janji tidak akan menelponmu dan mengirimimu pesan lagi setelah kau memberitahuku apakah kau sudah sampai rumah atau belum. Sekali lagi, tolong balas pesanku.’

Ji-Young merasa bersalah pada Jong-Hoon itu. Ia, tahu bahwa niat laki-laki itu begitu baik ingin menanyakan keadaannya mengingat tadi dirinya pulang tidak diantar laki-laki itu. Dirinya ingin menangis lagi, namun ia sudah tidak bisa mengeluarkan air matanya mengingat tadi dirinya sudah begitu banyak mengeluarkan air mata.

Akhirnya, Ji-Young mengetikkan sebuah kata-kata, ‘Ya, sudah sampai rumah daritadi. Aku baik-baik saja,’ untuk membalas pesan Jong-Hoon. Ia pikir, dengan mengirim pesan ini dirinya tidak akan lagi menerima pesan dari laki-laki itu. Kemudian, ia menekan tombol send untuk mengirim pesan itu. Terkirim.

Ternyata memang benar apa yang dikatakan Jong-Hoon. Setelah pesan itu dikirim Ji-Young, tidak ada lagi pesan yang masuk dari laki-laki itu. Dalam hatinya, ia merasa lega karena dirinya tidak lagi mendengar suara-suara pesan masuk ataupun telepon masuk, dengan begitu dirinya tidak perlu memikirkan alasan untuk menjawab pesannya dan menunggu waktu hingga akhirnya bunyi ponselnya berhenti. Namun, di sisi lain ia khawatir kalau memang ini adalah pesan dan telpon terakhir yang akan diterimanya dari laki-laki itu. Kalau memang ini adalah terakhir kalinya ponselnya berdering menerima pesan dan telpon dari laki-laki itu. Dirinya semakin takut menghadapi kenyataan yang ada di depannya dan suatu saat nanti harus ia hadapi seorang diri.

Dilemparnnya ponsel itu ke atas tempat tidurnya, sementara dirinya ikut melemparkan tubuhnya dan jatuh dalam posisi terlentang di atas tempat tidurnya—mencoba menjernihkan pikirannya sejenak, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan—sambil memikirkan apa alasan selanjutnya yang akan ia katakan pada laki-laki itu esok hari. Alasan yang tentunya masuk akal dan tidak membuat laki-laki itu curiga.

Ia harus berani mengatakannya pada laki-laki itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s