When You Came Into My Life [Part 9]

Musim belum beralih dari musim gugur yang pada umumnya terjadi pada bulan September hingga November khusus untuk belahan bumi bagian utara seperti Amerika. Jalanan  dipenuhi dengan daun-daun kering berwarna kecokelatan yang jatuh berguguran, hampir menutupi sebagian permukaan jalanan yang masih sepi. Matahari tidak menampakkan dirinya karena tertutup awan menyebabkan suhu udara yang terasa cukup dingin walaupun ini belum memasuki musim dingin. Ya, ini masih pertengahan September, musim dingin masih cukup lama dan tentunya yang dinantikan semua orang adalah liburan musim dingin. Begitu pula halnya dengan gadis yang kini tengah berjalan sendirian di bawah awan yang sedikit berwarna abu-abu, yang menantikan liburan musim dingin tiba sehingga dirinya dapat mengahbiskan waktu liburannya di rumah tanpa harus menghadapi dunia luar.

Gadis itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel bulu berwarna cokelat yang sering dikenakannya untuk mengurangi rasa dingin yang menancap masuk melewati pori-pori kulitnya, lalu mempercepat langkahnya sebelum orang-orang datang dan memenuhi jalanan. Ya, mulai hari ini ia harus kembali pada kebiasaan awalnya—pergi pagi-pagi selagi jalanan masih sepi dan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki seorang diri. Di saat orang-orang belum sepenuhnya sadar karena baru terbangun dari tidurnya dan masih bersiap-siap untuk mulai melakukan aktivitasnya, gadis itu sudah siap dan sudah hampir sampai di sekolah.

Dinikmatinya udara pagi ini sambil berjalan di atas tumpukan daun-daun yang jatuh berguguran ditemani suara kicau burung yang berasal dari setiap pohon yang ia lewati. Pikirannya sudah jernih kembali. Energi dalam tubuhnya sudah tersalur kembali, membuatnya tampak bersemangat menjalani hari-harinya. Untuk sesaat, ia dapat melupakan semua masalah-masalahnya.

Dirinya sudah sampai di sekolah. Kini, ia sedang berdiri tepat di depan gerbang besi yang akhir-akhir ini hampir tidak pernah disntuhnya. Ia sudah lupa bagaimana rasa dinginnya ketika menyentuh pagar besi itu. Ia mendorong gerbang besi yang baru sedikit terbuka itu dengan kedua tangannya, menciptakan ruang agar tubuhnya dapat melewatinya.

Ia berjalan melewati lorong-lorong, melangkah dengan hati-hati melewati setiap ubin lantai yang licin karena baru saja di pel oleh petugas kebersihan sekolah. Berjalan selagi memandangi sebuah taman di mana dirinya pernah menunggu seseorang di sana, sambil duduk di kursinya ditemani dengan bunga-bunga warna-warni bermekaran dan pepohonan yang rindang. Dan di tempat itulah semuanya bermula, bermula menjadi lebih buruk hingga saat ini. Cepat atau lambat, semuanya akan segera berubah, tak akan sama seperti dulu lagi. Cepat atau lambat, dirinya akan kehilangan satu-satunya seorang teman sungguhannya, di saat yang lain tidak dapat dikategorikan sebagai seorang teman.

Dengan cepat, ia mencoba menghapus kenangan buruk itu, dan dengan segera menghentikan langkahnya di depan sebuah kelas pertamanya—kelas olahraga. Kemudian, masuk ke dalamnya dan mendapati ruang kelas yang masih kosong. Seperti biasa dirinya memilih duduk di barisan depan paling pojok, tidak ingin bergabung dan melibatkan dirinya untuk turut serta dalam keributan-keributan yang biasa dilakukan di barisan belakang.

Ia duduk di bangkunya, menaruh tasnya setelah sebelumnya mengeluarkan sebuah komik—ya, komik yang baru dibelinya dengan laki-laki itu—yang belum sempat ia baca semenjak ia membelinya.

Laki-laki itu.

Entah mengapa, setiap hal yang dilihatnya, setiap hal yang dimilikinya, selalu ada hubungannya dengan laki-laki itu. Mencoba mengusir pikiran-pikiran itu dengan mulai membuka halaman pertama komik yang akan dibacanya ketika langkah kaki seseorang terdengar memasuki kelas. Dengan terpaksa, ia mengalihan perhatiannya pada seseorang yang kini tengah memasuki kelas sambil memandangi dirinya dengan tatapan penuh kelegaan. “Tadi aku sempat mampir ke rumahmu untuk menjemputmu, tapi ibumu bilang kau sudah pergi duluan.” Laki-laki itu menghela napas. “Ternyata kau sudah sampai duluan.”

Ji-Young bingung harus berkata apa. Sebenarnya, laki-laki itu tidak perlu lagi menjemputnya dan mengantarnya pulang. Alih-alih berkata, ia hanya memperhatikan laki-laki itu yang kini mengambil duduk di sebelahnya. Berpikir, apakah ini saatnya untuk berkata pada laki-laki itu?

“Jong-Hoon,” gumam Ji-Young. Memulai untuk membuka pembicaraan. Ekspresi mukanya kini susah ditebak.

“Ya?” tanggap Jong-Hoon yang sedang mencari sesuatu di dalam tasnya. Ia berhenti mencari, lalu mengalihkan perhatiannya pada Ji-Young. “Ada apa Ji-Young?”

Ji-Young menghela napas panjang. “Aku ingin bicara denganmu, di luar. Sebentar saja,” katanya cepat, sebelum semuanya berdatangan memenuhi sekolah.

Tidak memberikan waktu Jong-Hoon untuk menjawab, Ji-Young sudah melangkah ke luar kelas dengan cepat, sementara laki-laki itu mengikutinya di belakangnya. Ia berhenti, namun tidak berbalik. Terlalu takut untuk menatap wajahnya.

“Setelah kupikir-pikir…” Ia memulai pembicaraan. Ia merasakan tubuhnya menegang selagi kata-kata selanjutnya dikeluarkannya. “Kurasa… kita tidak bisa berteman lagi.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Terdengar begitu aneh, janggal, dan sulit dipahami. Ia memejamkan kedua matanya, belum siap mendengar pernyataan Jong-Hoon.

“Apa? Ta… tapi. Kenapa? Apa ada sesuatu yang salah selama ini?” Berbagai pertanyaan yang pasti muncul di kepala laki-laki itu kini dilontarkannya, begitu jelas dan lantang seolah-olah tidak setuju dengan pernyataan Ji-Young.

“Ya!” jawab Ji-Young lantang. Tidak pernah dirinya bersuara sekeras dan selantang ini sebelumnya. “Aku bukan teman yang baik untukmu. Sejak kau mulai berteman denganku, kau menjadi ikut terlibat dalam setiap masalah-masalahku, dan itu sudah jelas merugikan dirimu.” Ia menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “Bahkan lebih parah dari itu, kau akan menjadi sasaran utamanya karena kau selalu berusaha membelaku. Dan ini tidak akan terjadi sekali, akan terjadi berkali-kali selama kau masih terlibat denganku.” Kata-kata itu meluncur keluar dengan begitu cepatnya. Tak yakin kalau laki-laki itu akan dapat mencerna kata-katanya denga cepat.

Namun Jong-Hoon masih terdiam, tidak bersuara seraya Ji-Young menambahkan, “Melihat keadaanmu kemarin sudah membuatku ketakutan, dan aku tidak mau lagi melihatmu dengan keadaan seperti itu. Aku tidak mau melihat orang lain menderita karena aku.” Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Ia memberanikan diri berbalik untuk menatap laki-laki itu. Dirinya tidak memberikan kesempatan bagi laki-laki itu untuk menjawab, lalu menuntaskan kata-katanya, “Jadi mulai sekarang, sebaiknya kau menjauh dariku dan jangan lagi terlibat dalam masalah-masalahku. Aku yakin, dapat menyelesaikannya sendiri tanpa perlu melibatkanmu.”

“Tapi, aku pernah berjanji akan membantumu mengatasi masalah-masalahmu.”

Ji-Young menggeleng. “Itu tidak perlu kau lakukan lagi. “Aku yakin, masih banyak orang yang akan menjadi teman baikmu suatu saat nanti. Dan kau akan mempunyai banyak teman pada akhirnya. Semakin kau memiliki banyak teman, itu semakin bagus.” Ia menghela napas. “Jadi, untuk saat ini. Menjauhlah dariku.”

Jong-Hoon memejamkan kedua matanya sejenak, meletakkan kedua telapak tangannya untuk menutup wajahnya, lalu membukanya. “Baiklah kalau itu maumu. Mulai sekarang kita tidak lagi berteman. Anggap saja kejadian-kejadian kemarin tidak pernah terjadi. Dan…” kata-katanya terhenti seketika. “Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.”

Anngap saja kita tidak pernah saling mengenal. Entah mengapa kata-kata itu masih bergaung-gaung di kepala Ji-Young, sulit untuk dihilangkan. Menganggap berarti pura-pura—pura-pura tidak saling mengenal.

Ji-Young menahan air mata yang akan keluar membasahi pipinya, walaupun terasasakit di matanya. “Untuk yang terakhir…” Ia mulai berkata-kata. “Terima kasih telah mau menjadi temanku dengan tulus. Terima kasih atas yang telah kau lakukan selama ini terhadapku. Sekali lagi, terima kasih.”

“Ya. Tapi sebaiknya kau segera melupakan itu semua,” gumam Jong-Hoon datar, tanpa ekspresi ramah yang biasa ditunjukkannya. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Ji-Young yang masih berdiri di tempatnya. Mengamati kepergian Jong-Hoon, mengamati pundaknya yang bergerak semakin menjauh dan menjauh. Ingin dirinya menghampirinya dan berkata bahwa itu semua hanyalah bercanda, namun ini adalah pilihannya, pilihan yang telah dilakukannya. Pilihan agar dirinya tidak melihat lagi laki-laki itu menderita karenanya, tidak ingin melihat lagi laki-laki itu terluka. Karena dengan melihat itu saja sudah membuatnya sakit.

Dalam keheningan ia terdiam. Mengamati selagi laki-laki itu menghilang di balik ruang kelas. Menyadari kini dirinya sendiri. Sendiri dalam artian keduanya—sendiri karena tidak ada siapapun kecuali dirinya di sini dan sendiri karena kini hidupnya memang kembali sendiri seperti bagaimana ia bermula di sekolah ini. Tanpa seorang teman yang menemaninya, yang tidak membiarkan dirinya sendirian seperti ini. Ia mungkin akan kehilangan sedikit rasa kebahagiaannya, tawanya, dan candanya yang mulai saat ini tidak akan ditemuinya lagi. Entah kapan ia akan mendapatkannya kembali, ia tidak tahu. Ia juga tidak mau terlalu banyak berharap.

Tanpa ia sadari, pipinya sudah basah. Sudah basah karena air matanya yang sudah tidak kuat lagi ditahannya. Mengalir terus-menerus bagaikan masalah-masalahnya yang terus mengalir tanpa henti.

***

 

Hari ini, Ji-Young memutuskan untuk bolos sekolah. Ia rasa mungkin lebih baik untuk menenangkan dirinya di rumah dengan alasan lain untuk menghindari bertemu dengan laki-laki itu sesering mungkin, mengingat mereka selalu berada dalam kelas yang sama. Butuh waktu baginya untuk menjernihkan pikirannya dan memulai semuanya dari awal, seolah-olah dirinya baru saja memulai sekolah dan tidak ada keadian apapun yang terjadi selama ini.

Tepat yang ia lakukan setelahnya adalah segera pergi ke toilet untuk mencari wastafel dan mencuci wajahnya untuk menghilangkan bekas air matanya. Kemudian kembali ke kelas hanya untuk mengambil tasnya dan segera bergegas ke luar kelas. Sedikit memperhatikan laki-laki itu yang tengah sibuk atau pura-pura sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan sudah tidak peduli akan kehadirannya dan kepergiannya secara tiba-tiba. Karena pada kenyataannya laki-laki itu tidak bertanya padanya ke mana ia akan pergi dan kenapa ia memutuskan untuk bolos sekolah?

Tidak terlalu mempedulikan keadaan yang tiba-tiba berubah seratus-delapan-puluh-derajat itu, Ji-Young melesat keluar kelas, lalu berlari secepat mungkin—lari dari semua sumber masalah-masalahnya—untuk tiba di rumahnya yang langsung disambut dengan raut wajah bingung ibunya karena mendapati anaknya yang sudah pulang ketika jam sekolah baru saja dimulai.

“Ji-Young, ada apa? Tidak biasanya kau pulang secepat ini. Ji-Young…”

Tanpa menghiraukan pertanyaan ibunya, Ji-Young segera melewati ibunya yang sedang berada di dapur untuk melangkah menaiki beberapa anak tangga menuju kamarnya berada.

Dibukanya pintu kamarnya, lalu ditutupnya rapat-rapat. Ia langsung menghempaskan tubuhnya pada tempat tidurnya dalam posisi telungkup setelah sebelumnya menaruh tasnya di sekitar sudut kamarnya. Membenamkan wajahnya di bantalnya yang terasa wangi dan empuk.

Dirinya sudah tidak dapat menangis lagi. Air matanya sudah kering. Dirinya sudah terlalu banyak menangis akhir-akhir ini. Memandangi jam di dinding kamarnya selagi membayangkan dirinya sedang apa saat ini apabila dirinya sedang berada di sekolah. Apa yang tengah dilakukannya dan apa yang akan dilakukannya selanjutnya.

Mencoba melupakan semua kenangannya selagi kedua matanya dipejamkan. Hingga akhirnya ia terlalu lelah memikirkannya dan jatuh tertidur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s