When You Came Into My Life [Part 10]

Ji-Young menutup komiknya, baru saja selesai membaca chapter ke-20 yang baru dibelinya kemarin. Kemudian dirinya segera memasukkan komik dan buku-bukunya ke dalam tas, tampaknya kelas sudah benar-benar sepi. Ia mulai beranjak keluar dan meninggalan kelas.

Tak terasa, sudah hampir selama seminggu ia tidak berbicara dengan laki-laki itu. Walapun ada kesempatan, ia selalu menghindar berhadapan dengan laki-laki itu, mungkin juga sebaliknya laki-laki itu melakukan demikian. Rasanya ada sesuatu yang… aneh. Padahal, seharusnya ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Pernah suatu ketika dirinya terpaksa berhadapan dengan laki-laki itu. Bermula ketika ia sedang berjalan melewati koridor menuju kelas Matematika, dengan membawa setumpuk buku yang cukup tebal yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan sekolah. Dengan terburu-buru ia berjalan sementara secara tidak sengaja seseorang menabrak sebelah bahunya sehingga melemahkannya dan membuat buku-buku yang sedang dibawanya terlpas dan terjatuh ke lantai.

“AH!” Ji-Young mengernyit kesakitan.

Ji-Young tahu, laki-laki itu menabrak secara tidak sengaja karena ia tidak sedang memperhatikan jalan. Ia hanya terpaku pada ponsel yang kini sudah dimasukkan ke dalam saku celananya. Kemudian laki-laki itu berbalik, menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya lalu segera berjongkok untuk mengambil buku-buku yang tadi berjatuhan. Gadis itu tidak ikut berjongkok karena ia tahu dirinya tidak akan banyak membantu. Laki-laki itu sudah hampir membereskan buku-bukunya yang berjatuhan. Ia bergeming di tempatnya berdiri sambil memperhatikan laki-laki yang sedang berjongkok membereskan buku-bukunya. Ia memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan laki-laki itu. Ia juga memperhatikan mulai dari rambutnya yang—tunggu.

Sepertinya ia mengenali rambut itu.

Rambut yang begitu familier, hanya satu yang memiliki rambut seperti itu.

Kini ia tahu siapa pemilik rambut itu. Oh tidak. Kalau laki-laki itu tahu siapa yang sedang ditolongnya, pasti ia akan menyesal telah menolongnya.

Ji-Young mencoba untuk menyembunyikan wajahnya di balik poni rambutnya yang sudah panjang ketika laki-laki itu baru saja selesai dan berdiri. Sontak kaget karena laki-laki itu dengan mudahnya mengenali wajahnya walaupun sebagian wajahnya kini tertutup oleh rambutnya.

“Kau,” gumam Jong-Hoon ketus. Senyum ramah yang dulu sering ia lihat tak lagi ditampakkannya. Ji-Young sontak terkejut dan segera menyelipkan rambut yang menghalang wajahya dengan cepat—mencoba keluar dari tempat persembunyiannya, karena ia rasa tidak ada gunanya ia lakukan—kemudian menatap kedua mata laki-laki itu ketakutan. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya, tatapannya seolah-olah terkunci.

Laki-laki itu segera menyerahkan tumpukan buku milik Ji-Young dengan kasar, lalu cepat-cepat meninggalkan Ji-Young yang masih memperhatikannya selagi dirinya menghilang di balik koridor. “Gomawo,” ucap Ji-Young lirih, walaupun Jong-Hoon tidak dapat mendengarnya, walaupun laki-laki itu sudah pergi meninggalkannya.

Itu hanya salah satu dari sekian banyak perubahan yang ada dalam diri laki-laki itu. Perubahan lainnya yang tampak adalah, kini ia memiliki semakin banyak teman. Dirinya yang berkepribadian ramah, menyenangkan, dan tentu saja tampan membuat dirinya menjadi seperti itu. Ia tahu, itu perubahan yang positif. Namun, bukan itu permasalahannya. Laki-laki itu menjadi sering duduk di barisan belakang—barisan anak-anak populer—bergabung bersama Collin dan teman-temannya. Entah bagaimana caranya ia dapat dengan mudah bergabung dengan mereka di antara seluruh murid SMA yang berusaha ingin masuk ke dalam geng mereka selama berbulan-bulan lamanya dan dengan persyaratan yang tidak mudah, Ji-Young tidak tahu. Yang jelas, seorang Jong-Hoon yang dulu pernah dikenalnya, kini tampak berbeda sepenuhnya, tampak asing baginya. Seolah ini bukan… dirinya. Ini bagian dari dirinya yang lain, atau mungkin inilah dirinya yang sebenarnya, yang selama ini ia sembunyikan selama berada bersama gadis itu.

Seluruh masalah-masalah ini semakin lama semakin menjadi rumit. Sudah seharusnya ia tidak berurusan dengan laki-laki itu sejak awal. Seharusnya ia tidak menumpahkan es krim itu ke jaketnya. Es krim itu adalah yang menjadi masalahnya. Ya, kini ia tidak mau lagi memakan es krim.

Dirinya baru saja melangkahkan kaki keluar dari koridor, melewati lapangan basket. Desiran angin menerpa wajahnya dan menerbangkan rambutnya, hanya saja rambutnya tidak berjatuhan seperti daun-daun yang berguguran dari pohon di sekolahnya—memenuhi sebagian permukaan lapangan dengan dedaunan kering berwarna merah kecokelatan. Di lapangan itu ia melihatnya. Ia melihat dirinya. Tengah bermain basket bersama teman-teman barunya. Wajahnya tampak jelas dari tempatnya berdiri. Ia terus memandangi laki-laki itu lekat-lekat—memperhatikan setiap gerakan yang dilakukannya dalam upaya memasukkan bola, dan itu terlihat begitu… keren.

Dirinya penasaran, dan ingin lebih lama mengamati permainan bola basketnya. Ia baru tahu kalau laki-laki itu bisa bermain basket. Mengingat selagi ada kesempatan dan berhubung sekolah tampaknya sudah sepi, ia segera menduduki bangku yang terletak sedikit jauh dari sana, berharap laki-laki itu tidak dapat melihatnya dari tempat sejauh ini dan tidak menyadari kehadirannya. Oh Tuhan, apa yang sedang ia lakukan sekarang? Seharusnya ia segera melupakan laki-laki itu. Tapi, sekarang ia malah duduk di sini dan ingin memandanginya berlama-lama. Bagaimana dia bisa cepat melupakannya mengingat yang tengah dilakukannya saat ini? Ia mecoba menghilangkan pikiran-pikiran itu. Untuk saat ini, ia melanggar janjinya. Ia terpaksa dan untuk terakhir kalinya—ia berjanji—memandangi laki-laki itu. Namun setelah ini, ia harus segera melupakannya. Harus.

Tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa minggu lalu ketika kelas olahhraga, ketika ia meneriakkan nama Jong-Hoon dan menyemangatinya ketika ia tengah berlari mengejar Collin yang berada di posisi pertama. Mungkin saja kalau keadaannya masih sama, ia akan meneriakkan namanya untuk mendukungnya dari kejauhan ini. Namun, sekarang sepenuhnya telah berbeda. Ia senyum-senyum sendiri membayangkan kejadian itu. Bagaimana bisa betapa dirinya begitu berani menyerukan namanya dengan lantang tanpa rasa malu dan takut apapun.

Tiba-tiba lamunannya buyar seketika ketika ia melihat bola yang baru saja dilempar oleh salah satu pemain dan tidak berhasil ditangkap oleh Jong-Hoon yang menjadi sasaran lemparannya. Bukan itu yang dikhawatirkannya. Bola itu kini tengah menggelinding dan terus menerus bergerak ke arahnhya. Tidak menjadi masalah kalau bukan Jong-Hoon yang mengambil bola itu, tapi ini—

Ia yang melakukannya.

Apa yang harus dilakukannya? Kalau ia tidak segera beranjak dari tempatnya duduk, laki-laki itu pasti akan melihatnnya. Ia harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum laki-laki itu berjalan mendekat. Cepat-cepat ia beranjak dan menjauh dari sana, dengan pandangan yang masih tertuju pada laki-laki itu tanpa memperhatikan jalan yang menyebabkan dirinya tersandung oleh sesuatu dan terjatuh dalam posisi telungkup di atas tanah penuh dedaunan. Oh tidak. Masalah datang lagi. Laki-laki itu pasti akan segera menemukannya dalam keadaan seperti ini.

Rasa sakit mulai menyerang kedua siku dan lututnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk bangkit dan duduk, kemudian membersihkan sisa-sisa kotoran dari tanah yang menempel di bajunya. Baru sesaat, ia mendengar suara tawa seseorang dan beberapa yang lainnya.

“Hei, sudah lama kita tidak melakukan ini,” ucap salah satu dari kumpulan orang itu.

“Ya, kini sudah tidak ada lagi yang bisa menolongnya. Kasihan,” gumam yang lainnya sambil meninggalkan suara tawa yang terdengar mengerikan. Ia baru tersadar bahwa dirinya tengah dikepung dan lagi-lagi dikerjai oleh Helen dan teman-temannya. Oh tidak. Ini benar-benar terjadi lagi. Ini benar-benar dialaminya lagi setelah sekian lama ia tidak mengalaminya dan perasaan damai tiba-tiba terenggut darinya.

Suara tawa-tawa itu semakin keras, membuat dentuman-dentuman itu datang lagi menyerangnya. Membuat suara-suara abstrak yang bercampur menjadi suara bising dan membuat kepalanya sakit dan napasnya sesak. Ia mulai meringkuk—menekuk kedua lututnya yang masih terasa sakit dan membenamkan wajahnya di sana—sambil menutup kedua telingnya untuk meredamkan suara-suara itu.

Salah seorang diantaranya mendorong kepala Ji-Young membuat dirinya sedikit tersentak ke samping. “Dia tidak berubah! Dia masih terlihat aneh dan bodoh!” Suara olokan itu lagi-lagi didengarnya, membuat dirinya semakin tidak berdaya dan pasrah menunggu hingga mereka benar-benar menyerah dan meninggalkan dirinya sendirian di sini. Mereka benar, sekarang tidak akan ada lagi yang menolongnya.

Namun, mereka tak kunjung pergi, hanya saja  suara itu tiba-tiba menghilang sejenak. Tergantikan oleh suara-suara yang sedang menggerutu dan bergumam tak jelas, seolah-olah ada sesuatu yang aneh di sini.

Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengan gadis yang masih meringkuk itu dan menariknya berdiri secara paksa. Ia berusaha untuk berdiri walaupun lututnya masih terasa sakit. Siapa orang yang tengah menariknya berdiri? Mungkin saja itu Helen yang sedang menariknya menuju kolam sekolah dan mereka akan segera menjatuhkan dirinya ke dalam kolam. Itu benar-benar sudah sangat buruk. Untuk memastikan siapa orang yang tengah menariknya, ia terpaksa membuka mata dan telinganya. Melihat yang kini sedang dilihatnya, ia tekejut. Sangat terkejut ketika mendapati sosok Jong-Hoon yang tengah berdiri di hadapannya. Laki-laki itu kini melepaskan pegangannya.

“Bodoh, ternyata kau masih lemah.”

Kata-kata itu terngian-ngiang di telinga Ji-Young dan bergaung-gaung di kepalanya seperti sebuah gaung yang suaranya semakin lama semakin mengecil. Dirinya tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Selama ia mengenal laki-laki itu, tidak pernah sekalipun ia menyebut kata-kata bodoh dan lemah, apalagi kata-kata itu ditujukan untuknya—kata-kata yang begitu menyakitkan hatinya, kata-kata yang sering diucapkan Helen untuknya. Laki-laki itu menolongnya bukan untuk menjauhkannya dari masalah itu dan membuat dirinya menjadi lebih tenang, namun ia malah memperparah keadaan dengan mengolok gadis itu dan membuatnya tampak dipermalukan.

Ia tahu, merupakan keinginannya untuk membuat Jong-Hoon menjauh darinya, namun tidak keterlaluan dan berbalik menjadi musuhnya seperti ini. Bukan inilah yang diharapkannya. Menjauh bukan berarti menghilangkan sifat baik dirinya—membuat dirinya berubah seratus delapan puluh derajat—, bukan berarti berbalik menjadi musuh. Dirasakannya pandangannya mulai buram. Ia tahu, sebentar lagi buliran air mata akan jatuh membasahi pipinya.

“Kau berubah.” Itulah kata-kata terakhir yang Ji-Young utarakan sebelum dirinya pergi menjauh dari laki-laki itu. Mencoba berlari sekuat tenaga walaupun kedua lututnya masih terasa sakit. Lari dari masalahnya. Lari dari sosok laki-laki yang kini telah berubah menjadi salah satu musuhnya, laki-laki yang dulu pernah menolongnya persis seperti ini, namun dengan cara yang berbeda dan maksud yang berbeda. Laki-laki yang dulu selalu penuh dengan senyum dan keramahan, kini berubah menjadi ketus dan kasar.

Laki-laki itu sudah berubah, tidak seperti dulu lagi.

Dan ini termasuk salah satu perubahan lain ketika ia berhadapan dengan laki-laki itu.

Teman yang selama ini selalu melindunginya, kini berbalik menjadi musuhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s