When You Came Into My Life [Part 11]

Kriiing… kriiing…

Bunyi ponsel membangunkan Ji-Young dari tidurnya. Matanya terlalu malas untuk membuka dan melihat siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Ia hanya berharap ponsel itu berhenti berdering dan ia dapat melanjutkan tidurnya.

Kriiiing… kriiing…

Namun, ponsel itu kembali bedering. “Ck,” Ji-Young berdecak kesal, lalu meraba-raba meja di samping tempat tidurnya untuk mencari ponsel yang ia letakkan di sana. Ia terpaksa membuka matanya untuk melihat siapa yang menelponnya. Dalam layar itu tertulis sebuah nama—.  Tunggu. Apa ia salah lihat? Ia mengerjapkan matanya tidak percaya, kemudian mencoba melihat tulisan dalam layar ponselnya sekali lagi. Dan masih menunjukkan nama yang sama.

Lee Jong-Hoon.

Kontaknya masih tersimpan dalam ponselnya. Ia lupa kalau belum sempat menghapusnya sejak kejadian minggu lalu—sejak mereka memutuskan pertemanan mereka. Oh Tuhan, untuk apa dia menelponku malam-malam? ucapnya dalam hati. Ia melirik jam yang ada di kamarnya. Sudah jam sebelas malam rupanya, dan untuk apa laki-laki itu menelponnya? Bukannya urusannya dengan laki-laki itu telah selesai? Alih-alih menekan tombol angkat, ia menekan tombol reject. Telpon terputus. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu melanjutkan tidurnya.

Kriiing… kriiing…

Ponselnya berdering lagi untuk yang ketiga kalinya. Akhirnya Ji-Young mengambil ponselnya dengan malas dan menekan tombol angkat, kemudian menunggu seseorang di sana untuk memulai pembicaraan.

“Kau lama sekali. Dan tadi kenapa telponnya kau matikan?” Suara itu terdengar berbeda. Dari logatnya, Ji-Young yakin bahwa itu bukan suara yang berasal dari pemilik nomor ini.

Selagi Ji-Young memikirkan kata-kata apa yang hendak ia jawab, ia mendengar suara-suara ramai melalui ponselnya. Sesaat ia mendengar suara lagu bergenre dugstak, ia pikir seseorang itu sedang berada di sebuah club atau semacamnya. “Kupikir, tidak ada alasan aku harus mengangkatnya.”

Laki-laki itu berdeham. “Oke, baiklah langsung ke intinya saja. Jadi…” laki-laki itu mendesah. “Temanmu ini—maksudku mantan temanmu ini—sedang berada di club dan dalam keadaan mabuk berat. Aku tidak memaksanya untuk datang, tapi itu atas kemauannya sendiri. Tadi aku sempat mengajaknya untuk datang karena… aku merasa kasihan karena ia sempat bercerita padaku kalau dirinya sedang mengalami banyak masalah. Ia tidak bercerita tepatnya apa masalahnya, jadi kuajak ke tempat ini untuk refreshing.” Laki-laki itu berhenti bercerita.

“Apa?” sahut Ji-Young sambil mengubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk. “Lalu, apa urusannya denganku?” tanya Ji-Young tak acuh.

“Urusannya?” Laki-laki itu tertawa sinis. “Begini. Sekarang keadaannya sudah sangat kacau. Aku menyuruhnya untuk pulang, tapi… aku tidak yakin kalau ia dapat mengendarai mobilnya dengan selamat. Yah, kau tahu aku tidak bisa mengantarnya sekarang karena aku masih harus menemani pacarku di sini. Maka dari itu, aku berinisiatif untuk meminta bantuan padamu untuk mengantarnya pulang karena aku tahu kau pasti sedang berada di rumah, bagaimana?”

Ji-Young tahu yang sedang menelponnya adalah Collin. Ia menggeleng, walaupun tahu Collin tidak dapat melihatnya. “Tidak. Aku tidak bisa dan aku tidak mau melakukannya.” Tentu saja dirinya tidak mau melakukannya setelah laki-laki itu baru saja—beberapa waktu yang lalu—mengatainya bodoh dan masih lemah.

Laki-laki itu mendesah. “Baiklah kalau kau tidak mau. Kecuali kau bisa menjamin kalau ia dapat mengemudi dengan selamat dalam keadaan mabuk berat seperti ini. Dan… aku tidak menanggung resiko kalau-kalau terjadi apa-apa,” jelasnya tidak memberikan pilihan agar Ji-Young dapat menolaknya.

Ji-Young memejamkan kedua matanya. Mencoba memikirkan kembali tindakan yang akan dilakukannya. Ia memang sudah tidak melakukan pembicaraan dengan laki-laki itu selama hampir seminggu dan sudah mengatainya dengan kata-kata yang tentu saja tidak ingin ia dengar, namun bukan berarti dirinya tidak harus menolongnya dalam keadaan seperti ini. Baiklah, ia berjanji. Ini terakhir kalinya ia menolong laki-laki itu. Anggap saja sebagai balas budi setelah selama ini laki-laki itu yang selalu menolongnya waktu dulu. Lagi pula pertolongan ini menyangkut keselamatan hidupnya, menyangkut nyawanya. “Baiklah, di mana aku harus menjemputnya?”

Laki-laki itu memberikan alamat jelas club itu dan menerangkan rute-rute yang harus ditempuh Ji-Young. Ia hanya mengangguk-angguk mengerti, lalu setelah selesai menutup teleponnya dan segera bersiap-siap.

Semoga saja ini terakhir kalinya dirinya berurusan dengan laki-laki itu.

 

***

 

Taksi yang ditumpangi Ji-Young berhenti tepat di depan club yang dikatakan Collin. Dari luar, tempat itu tampak sepi—hanya terdapat seorang penjaga dengan postur tubuh tinggi dan berotot. Di bagian lengannya yang terbuka—karena ia memakai kaus hitam tangan pendek—gadis itu dapat melihat dengan jelas tato yang menutupi hampir semua bagian lengannya. Orang ini cukup menakutkan. Siapa pun yang akan masuk ke tempat itu, pasti diseleksi terlebih dahulu, pikirnya tidak sembarang orang dapat memasuki tempat itu.

Beberapa laki-laki baru saja keluar dari tempat itu dan dalam keadaan yang begitu kacau—mabuk berat. Jalannya sempoyongan, dan omongannya tidak karuan. Ia tidak menyangka kalau laki-laki yang pernah dikenalnya sebagai anak baik-baik dapat masuk ke tempat seperti ini. Ia merogoh ponsel dari tasnya untuk menghubungi Collin. Dirinya tidak berani untuk keluar duluan dan memilih untuk menunggu di dalam taksi sebelum Collin membawa Jong-Hoon keluar dari tempat itu. Ia takut kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya. “Halo. Ya, aku sudah sampai.” Ia menutup teleponnya, memasukkannya kembali ke dalam tas. Pandangannya beralih pada pintu masuk sekaligus menjadi pintu keluar dari tempat itu. Meperhatikan kalau-kalau ada yang keluar.

Tak lama, ia melihat dua orang laki-laki baru saja keluar dari tempat itu. Ia melihat sesuatu yang… berbeda. Ini seperti bukan dirinya yang pernah ia kenal. Ia terasa begitu asing baginya. Keadaan laki-laki itu sama buruknya dengan laki-laki yang keluar sebelumnya. Ia pikir laki-laki itu benar-benar sudah tidak sadar. Kelakuannya sudah seperti layaknya orang gila yang sedang berbicara dengan seorang pria di sebelahnya sambil sedikit tertawa. Berbeda dengan Collin yang masih terlihat sadar. Mungkin ia belum terlalu banyak minum, atau mungkin sudah terbiasa?

Ji-Young menggelengkan kepalanya, menandakan dirinya begitu kecewa setelah melihat keadaan laki-laki itu sekarang. Ia membuka pintu taksi, lalu turun ke jalanan dan menutup pintu di belakangnya. Dirinya harus melewati jalan sepi sebelum sampai ke tempat itu. Dengan tergesa-gesa ia melangkah, sampailah akhirnya ia di depan tempat itu. Dari jarak ini, ia dapat melihat dengan jelas bahwa tato penjaga itu tidak hanya pada lengannya, tapi ada juga pada lehernya. Kemudian pandangannya beralih pada dua orang laki-laki yang tengah menanti kehadirannya.

“Dia… siapa?” Jong-Hoon bertanya dengan nada berat sambil menunjuk dengan jari telunjuknya.

“Dia? Kau… tidak ingat? Dia ini kan pacarmu,” jawab Collin berbohong sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ji-Young.

Pacar apanya? .”Tidak. Aku bukan pacarmu,” bantah Ji-Young cepat, tidak rela dirinya dianggap sebagai pacar Jong-Hoon. Ia pikir perkataannya itu sia-sia karena laki-laki itu tidak mendengarkannya.

“Oh, mungkin aku lupa,” Jong-Hoon memegangi kepalanya sendiri. “Maafkan aku, sayang,” ucapnya lembut. Salah satu tangannya menyentuh pipi gadis itu. Ji-Young segera melepaskan tangan laki-laki itu yang sedang menyentuh pipinya cepat-cepat, lalu menghindar.

Collin yang melihatnya hanya bisa tertawa. “Syukurlah kau sudah ingat. Sekarang kau pulang dengan pacarmu, aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan.” Collin menepuk pundak Jong-Hoon, kemudian menghilang di balik pintu club.

“Ayo kita pulang!” seru Jong-Hoon sambil merangkul Ji-Young erat.

Napas Ji-Young tercekat. Kini tubuhnya semakin sulit untuk digerakkan, beban laki-laki itu terlalu memberatkan pundaknya. Ia mencoba untuk melangkah, menopang laki-laki itu untuk berjalan menuju taksi.

Jong-Hoon menyandarkan kepalanya ke kepala Ji-Young, membuat kepala mereka saling bersentuhan. “Kau ke mana saja? Aku merindukanmu.”

Ji-Young tak kuasa menahan beban yang semakin berat di kepalanya. Sambil ia tetap berjalan, sambil ia memikirkan kata-kata itu. Siapa yang sebenarnya dirindukannya? Siapa sebenarnya wanita yang seharusnya ia ajak bicara? Ia melepaskan rangkulan Jong-Hoon, tak kuat lagi untuk menahan beban tubuh laki-laki itu. “Kau jalan sendiri!”

Ji-Young cepat-cepat menghincari Jong-Hoon sementara laki-laki itu menarik tangannya. “Hei, tunggu. Kau mau ke mana?”

Ji-Young berusaha melepaskan tangan Jong-Hoon, namun pegangan itu terlalu kuat. “Lepaskan!” serunya dengan nada yang sedikit tinggi. Tiba-tiba dirinya berubah menjadi ketakutan terhadap laki-laki itu. Ingin dirinya berlari lalu meninggalkan laki-laki itu sendirian, namun tidak bisa. Tangannya masih belum bisa terlepas dari laki-laki itu.

“Hei, biarkan aku bicara sebentar.” Jong-Hoon menarik Ji-Young kuat dan mendorongnya ke dinding yang ada di pinggiran jalan itu. Kedua tangannya bertumpu pada dinding—menghalangi Ji-Young kabur darinya.

Mendadak Ji-Young tidak bisa bernapas. Tak ada yang dapat dilakukannya kecuali menatap wajah laki-laki yang ada tepat di hadapannya itu. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Ia dapat merasakan hembusan napasnya yang berbau alkohol dari mulut laki-laki itu.

Tangan Jong-Hoon meraih rambut Ji-Young, lalu menyelipkannya ke balik telinga. “Kau begitu… cantik, dan aku… menyukaimu,” gumamnya sambil tersenyum.

Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Ji-Young. Ia tahu, kata-kata itu tidak sungguhan, karena laki-laki itu mengucapkannya secara tidak sadar. Mungkin saja kata-kata itu ditujukan kepada wanita lain, mengingat dirinya tidak tahu laki-laki itu tengah dekat dengan siapa sejak mereka tidak lagi saling bicara. Untuk sesaat ia merindukan berada di dekat laki-laki itu. Sudah lama dirinya tidak berbicara dengan laki-laki itu, tidak mendengar suaranya, tidak melihatnya tersenyum seperti ini. Tidak melihat dirinya yang sesungguhnya dari tatapan ramah dan lembutnya. Namun, di sisi lain dirinya ketakutan. Takut kalau laki-laki itu akan berbuat macam-macam terhadapnya. Ia menepis tangan laki-laki itu yang menghalangi tubuhnya dengan keras, lalu dengan cepat melayangkan tangannya dan mendarat di pipi Jong-Hoon dengan satu tamparan yang cukup keras dan langsung membuat bekas kemerahan di pipinya.

“AH!” Laki-laki itu mengerang kesakitan. Kedua tangannya terlepas dan berpindah memegangi pipinya yang sakit, membuat Ji-Young dapat terbebas darinya.

“Sadarlah!” seru Ji-Young, lalu berjalan sambil menarik jaket yang dikenakan laki-laki itu. Melangkah menuju taksi yang masih setia menunggu.

Ji-Young membukakan pintu taksi bagian belakang untuk menaruh Jong-Hoon yang masih memegangi pipinya di sana, kemudian menutup pintu sementra dirinya duduk di depan. Ia pikir, terlalu berbahaya apabila dirinya berada dekat-dekat laki-laki itu untuk saat ini.

“Jalan, Pak,” seru Ji-Young pada sopir taksi. Sang sopir taksi langsung mengangguk dan menginjak gas untuk melajukan taksinya dengan kencang—melewati setiap kencaraan lain yang menghalanginya—menuju apartemen Jong-Hoon. Ia tidak pernah mengunjungi apartemennya, namun ia tahu di mana alamatnya.

Sang sopir menginjak rem dan memberhentikan taksinya tepat di depan lobi sebuah gedung bertingkat yang cukup mewah dan tinggi. Ji-Young membuka pintu taksi dan segera beranjak keluar setelah menyuruh sopir untuk menunggu dirinya sebentar. Ia memastikan bahwa dirinya hanya akan mengantar laki-laki yang tengah mabuk itu ke ruang apartemennya. Kemudian, ia membuka pintu belakang dan menarik dengan berat tubuh Jong-Hoon keluar dari taksi. Bau alkohol menyeruak ke hidungnya sementara gadis itu meraih sebelah tangan Jong-Hoon dan merangkulnya, membantunya berjalan menuju ruang apartemennya. Melangkahkan kakinya dan menopang beban tubuh laki-laki itu yang cukup berat menuju lift dan menekan tombol angka 15. Seketika lift membuka, ia segera melangkah dan mencari pintu nomor ‘05’. Ia ingat ruangannya bernomor 1505 yang berarti berada di lantai 15 dan urutan 5. Mereka berhenti tepat di depan pintu bernomor tersebut. Tunggu. Bagaimana ia dapat membukanya? Kunci! Bodoh, di mana laki-laki itu meletakkan kuncinya? Ji-Young tidak tahu di mana laki-laki itu meletakkan kuncinya, hal itu baru saja terpikirkan olehnya.

“Di mana kau menyimpan kuncinya?” tanya Ji-Young pada laki-laki yang masih setengah sadar itu. Berharap laki-laki itu setidaknya ingat di mana ia menaruh kunci apartemennya.

“Ha?” Laki-laki itu hanya bergumam tak jelas. Bodoh. Tidak mungkin orang setengah mabuk sepertinya dapat mengingat hal itu. Alih-alih mengulang pertanyaannya, Ji-Young segera merogoh ke dalam saku jaket Jong-Hoon, mencari kemungkinan ia meletakkan kuncinya di sana. Tidak ada. Kemana lagi dirinya harus mencari. Mungkin ada di saku celananya. Ia memperhatikan ada sesuatu benda berwarna hitam yang sedikit menonjol keluar dari saku celananya. Diambilnya benda itu dan… Sebuah kunci mobil! Sial, di mana kunci apartemennya?

Ji-Young pasrah. Ia berpikir untuk meninggalkan laki-laki itu di depan pintu apartemennya saja ketika ia secara tidak sengaja melihat tiga buah kunci yang menggantung bersama kunci mobil itu. Haruskah ia mencoba kunci itu satu persatu? Ya. Tidak ada cara lain lagi. Ia menyingkirkan kunci yang sudah jelas kunci mobil, mencoba dua kunci lainnya. Satu kunci telah dicobanya dan tidak berhasil. Pasti kunci yang ini, pikirnya. Sambil menopang tubuh Jong-Hoon yang berat, ia memasukkan kunci itu dan memutarnya. Menekan pegangan pintu dan pintu apartemen sontak terbuka. Ia dapat sedikit bernapas lega. Sesaat ia mengamati bagian dalam ruangan apartemen milik Jong-Hoon. Ruangannya tampak sedikit berantakan, seperti yang pernah laki-laki itu katakan kalau apartemennya berantakan karena tidak ada yang mengurusnya. Terdapat sisa-sisa makanan yang belum sempat laki-laki itu bersihkan, mungkin ia tidak punya waktu untuk itu atau mungkin terlalu malas membereskannya. Ruangan itu tidak terlalu besar, cukup untuk dihuni oleh sebuah keluarga kecil yang sedang tinggal sementara.

Ia melihat sebuah sofa panjang di sana, kemudian dengan cepat mendudukkan Jong-Hoon di sana. Laki-laki itu langsung tertidur di sana. Ia dapat sedikit bernapas lega karena tidak lagi mendengar laki-laki itu bergurau mengatakan sesuatu yang tidak tidak.

“Ji-Young,” gumam laki-laki itu ketika Ji-Young baru saja akan meninggalkan tempat itu. Tunggu. Apa laki-laki itu kini sudah sadar dan sudah dapat mengenalinhya? Ia berbalik memperhatikan laki-laki itu yang kini masih tertidur di sofanya. Ternyata, laki-laki itu hanya bergurau. Tapi, kenapa ia menyebut namanya? Mungkinkah dirinya yang sedang ada dalam pikiran Jong-Hoon?

Saranghaeyo.”

Jantung Ji-Young berdegup kencang setelah mendengar pernyataan tersebut. Dirasakan, pipinya mulai merona karena malu. Dirinya sontak terkejut. Dengan mulut menganga dan mata melebar ia memperhatikan keadaan laki-laki itu yang kini kembali tertidur. Ia hanya bergurau, bukan sungguhan. Kata-kata itu tidak benar-benar diucapkannya. Ia masih belum sadar, pikir Ji-Young.

Tanpa berlama-lama lagi, Ji-Young keluar dari apartemen, menaruh kunci di balik pintunya, dan menutup pintu apartemen secara perlahan. Secepatnya ia harus pergi dari laki-laki itu sebelum dirinya sempat mendengar kata-kata gurauan yang digumamkannya.

Sebelum dalam benaknya muncul semakin banyak pertanyaan akan gurauan-gurauan laki-laki itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s