Friendship [Part 1]

Sebuah lagu mengalun keras dari headset yang sedang ia kenakan. Ia sendiri tidak tahu apa judul lagu yang tengah didengarnya saat ini. Tidak terlalu peduli akan hal itu sementara dirinya sudah bosan menunggu lamanya perjalanan menuju apartemen barunya di Jepang. Pemandangan bunga-bunga bermekaran di musim semi yang kini tengah dilewatinya tidak begitu menarik perhatiannya, berbeda dengan teman yang duduk di sebelahnya itu yang kini perhatiannya tertuju pada setiap pemandangan yang dilewatinya, sambil sesekali mengulas senyum kagum.

Ia melepaskan headset yang sedang dikenakannya, lalu melirik teman yang ada di sebelahnya itu. “Myung-Jae-ssi, berapa lama lagi kita akan sampai?” tanyanya dengan nada yang sedikit kesal.

Laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari pemandangan musim semi untuk sejenak, lalu beralih menatap temannya. “Lokasinya sudah dekat dari sini. Kurang lebih sekitar lima menit lagi,” katanya, lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke luar kaca jendela mobil.

Ia kembali mengenakan headsetnya. Lagu yang tadi didengarnya kini sudah berganti dengan lagu yang mengalun sedikit lembut, sangat cocok untuk pengantar tidur. Ia membenarkan posisi duduknya, lalu bersandar pada jok mobil taksi yang sedang ditumpanginya dan memejamkan kedua matanya sejenak.

***

“Nomor apartemen kalian 302, yang berarti berada di lantai 3 urutan ke 2.”

Mereka mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti setelah bibi pemilik apartemen selesai menjelaskan tentang ruangan apartemen yang akan mereka tempati. Apartemen itu merupakan sebuah apartemen kelas menengah bertingkat empat dan setiap lantainya memiliki empat apartemen dengan dua apartemen saling berhadapan.

“Kalau kalian membutuhkan batuan, jangan sungkan-sungkan temui bibi di apartemen nomor 101,” kata bibi pemilik apartemen sambil menunjukkan sebuah ruangan yang terletak tepat di belakangnya. Di depan pintu bagian atas tertulis nomor ‘101’.

Myung-Jae menganggukan kepala, sementara temannya sibuk mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen. “Kalau begitu, kita akan naik ke atas sekarang. Dōmo arigatō gozaimashita,” katanya sambil membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.

“Dō itashimashite,” balas bibi pemilik apartemen sambil ikut membungkukkan badannya.

Myung-Jae mulai melangkah menaiki tangga sambil menarik lengan temannya itu yang masih meihat-lihat sekitar. Tersadar ketika Myung-Jae menariknya, laki-laki itu segera mengambil kopernya dan mengikuti langkah Myung-Jae menaiki tangga menuju apartemennya.

“Myung-Jae-ssi, apakah kita harus melakukan ini setiap harinya?” tanya laki-laki itu setelah selesai melewati anak tangga terakhir menuju lantai tiga. Napasnya terengah-engah.

Myung-Jae yang berada di belakang temannya itu masih menaiki tangga sambil membawa kopernya. “Kita tidak punya pilihan.” Ia selesai menaiki anak tangga terakhir. Sama seperti temannya, napasnya terengah-engah. “Kita hanya belum terbiasa saja.”

Laki-laki itu mulai menarik kopernya dan mulai melangkah. “301…” gumamnya ketika melewati ruangan nomor 301. “302! Myung-Jae-ssi, mana kunci apartemennya?” tanyanya sambil melirik ke arah Myung-Jae.

Myung-Jae meletakkan kopernya di depan ruang apartemennya. “Tunggu sebentar.” Ia mulai merogoh saku jaketnya mencari kunci apartemen sementara terdengar suara pintu mengayun terbuka dari apartemen sebelah—apartemen nomor 301.

Seorang gadis bertubuh kecil dan berambut pendek muncul dari balik pintu. Pakaian yang dikenakannya santai—hanya kaus berlengan pendek dengan celana jeans selutut dan sepasang sandal rumah berbulu berwarna putih. Kehadirannya yang secara tiba-tiba menarik perhatian dua orang laki-laki yang baru saja akan memasuki ruangan apartemen mereka.

Gadis itu tersenyum tipis dan berjalan ke arah mereka. “Kalian pasti penghuni baru di sini,” tebaknya, lebih ke arah sekadar basa basi. “Tadi aku melihat kedatangan kalian dari jendela apartemenku, lalu aku mendengar kalian berjalan ke arah sini. Dan, pasti kalian yang akan menempati apartemen kosong di sebelah apartemenku ini,” katanya panjang lebar sambil menunjuk apartemen sebelahnya dengan jari telunjuknya.

Gadis itu berbicara sedikit cepat, namun Myung-Jae mengerti apa yang dikatakannya. “Hai, sō desu,” tanggapnya sambil tersenyum pada gadis itu. Kini ia sudah berhasil mengeluarkan kunci apartemennya.

Gadis itu mengangguk. “Dewa, hajimemashite. Watashi wa Yuki desu. Douzo yoroshiku,” katanya sambil membungkukkan badannya.

“Watashi wa Myung-Jae desu. Douzo yoroshiku,” kata Myung-Jae balas membungkuk, lalu tersenyum.

“Watashi wa Jong-Min desu. Yoroshiku,” kata Jong-Min sambil memasang muka datar, ikut memperkenalkan diri mengikuti Myung-Jae. Aksen Korea nya terdengar aneh ketika menyebutkan kata-kata itu.

“Oh ya. Ngomong-ngomong kalian sepertinya bukan dari Jepang, ya?”

Mereka mengelengkan kepala. “Bukan. Kami berasal dari Korea dan akan melanjutkan sekolah kami di sini.” Akhirnya Myung-Jae angkat bicara karena ia tahu bahwa Jong-Min belum terlalu mahir berbicara dan mendengarkan orang berbicara dalam bahasa Jepang. “Sebenarnya sejak sekolah menengah pertama, saya sudah bersekolah di sini. Tapi teman saya, Jong-Min-san,” ia menunjuk Jong-Min yang berada di sebelahnya itu, lalu menlanjutkan, “Baru ketika masuk sekolah menengah atas, bersekolah di sini. Jadi, saya memutuskan untuk pindah apartemen dan tinggal bersamanya sambil membantunya dalam memahami bahasa Jepang,” jelasnya panjang lebar—menjelaskan alasan kedatangannya ke negeri sakura ini.

“Wah, kau baik sekali, ya,” gumam Yuki sambil memainkan jari-jarinya. Tiba-tiba saja tercium bau hangus dari dari dalam apartemen Yuki. “Oh, ya ampun aku lupa,” gerutunya pelan sambil menepuk jidatnya.

Myung-Jae mengangkat alis. “Ada apa, Yuki-san?”

Yuki hanya menggeleng. “Bukan. Bukan apa-apa. Kalau begitu, aku masuk dulu. Kalau ada yang ingin ditanyakan jangan sungkan-sungkan tayakan padaku, oke?”

“Baiklah Yuki-san, domo arogatō!”

Yuki dengan cepat masuk ke ruang apartemennya, menghilang di balik pintu bertuliskan nomor 301. Dua laki-laki itu kini saling bertatapan dan mengangkat bahu, sama-sama tidak tahu apa yang tengah terjadi di apartemen Yuki. Jong-Min segera merebut kunci apartemen dari tangan Myung-Jae, memasukkannya ke lubang pintu dan segera memutarnya.

Jong-Min memasuki ruangan apartemen barunya sementara Myung-Jae mengikuti di belakangnya. Kondisi ruangan itu tampak tidak jauh berbeda dengan bagian luar. Ruangannya cukup nyaman dan besar dengan dinding yang dilapisi wallpaper berwarna cream. Di dalamnya terdapat dua buah kamar tidur, satu kamar mandi dan satu dapur dengan satu set peralatan yang sudah lengkap dan siap pakai. Di seberang ruangan terdapat balkon sehingga kita dapat melihat pemandangan di luar. Lokasi apartemen mereka kebetulan terletak di daerah yang cukup tinggi, sehingga pemandangannya tidak akan terhalang oleh bangunan lain.

Jong-Min menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk berwarna cokelat yang terletak di ruang tengah setelah meletakkan kopernya di kamar depan—kamarnya, sementara Myung-Jae di kamar belakang.

“Jong-Min-ssi, kurasa bibi pemilik apartemen ini orang yang sangat ramah. Begitu juga Yuki-san yang sekarang menjadi tetangga baru kita,” kata Myung-Jae yang baru saja keluar dari kamarnya untuk menyimpan kopernya. Ia kembali berbicara dengan bahasa Korea.

Jong-Min mendengus pelan. Matanya setengah terpejam. “Menurutku dia seorang yang freak.”

Myung-Jae terkekeh pelan, kemudian ikut duduk di sebelah Jong-Min dan menyandarkan punggungnya. Ia tahu, laki-laki itu tidak sedang tidur dan akan mendengar perkataannya. “Jong-Min-ssi, kau selalu memandang orang seperti itu.” Ia mulai mengacak-acak rambutnya, lalu menghembuskan napas. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membuka hati temannya itu.

Semoga saja tempat ini cukup nyaman untuk dihuni selama beberapa tahun ke depan.

***

“Myung-Jae-ssi, kau tidak mau ikut?”

Jong-Min membuka pintu apartemennya, sementara Myung-Jae masih merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Mungkin temannya itu terlalu lelah hari ini. Malam ini ia berencana akan mencari makanan untuk makan malam, karena sedang malas memasak.

“Tidak, kau saja. Aku sedang tidak enak badan.”

Jong-Min masih memegangi pintu apartemen dan berkata, “Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu.” Ia berbalik meninggalkan Myung-Jae sendirian di ruang apartemennya. Sementara itu, dirinya cepat-cepat melangkah menuruni tangga dan keluar dari apartemen.

Jalanan yang tengah dilaluinya cukup sepi. Dirinya sempat berpikir akan dengan mudah seorang pencuri melakukan aksinya di jalanan ini. Begitu jarangnya kendaraan yang lewat—mungkin hanya ada satu dua, lalu jalanan sepi kembali. Suasana di Jepang mungkin tidak berbeda jauh dengan Korea, mengingat kedua negara itu masih berada di kawasan Asia. Namun, hanya satu permasalahannya, ia tidak terlalu mahir berbicara dan mendengarkan orang berbicara dalam bahasa Jepang. Namun, dalam membaca dalam bahasa Jepang, ia cukup mengerti. Mungkin ia harus banyak belajar dari Myung-Jae.

Udara malam memang sedikit dingin. Ia mulai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti pada sebuah toko yang terletak tidak jauh dari apartemennya berada. Toko itu hanyalah sebuah toko kecil bernuansa biru dengan lampu terang yang menyala di atas plang yang bertuliskan nama toko tersebut.

Ia masuk ke dalamnya dan mengambil beberapa makanan cepat saji seperti mie dan makanan kaleng. Kemudian berhenti di meja kasir untuk membayar dan mengambil beberapa yen dari dalam dompetnya.

“Jong-Min-san?”

Sebuah suara mengalihkan perhatiannya. Ia terpaksa beralih menatap pemilik suara itu. Gadis itu sedang berdiri di ujung meja kasir, sepertinya baru selesai membayar. Tunggu, sepertinya ia baru saja melihat wajah itu. Yap! Dia adalah gadis yang tadi berada di apartemennya. Dia gadis yang tinggal di apartemen sebelahnya. Tanpa berkata apa-apa, pandangannya kembali beralih pada barang belanjaannya yang kini sudah selesai dibayar.

“Aku duluan,” kata Jong-Min datar. Tanpa memedulikannya, ia mulai melangkah keluar meninggalkan Yuki yang masih berada di dalam toko.

“Jong-Min-san, tunggu!”

Jong-Min melirik ke belakang sementara dirinya masih berjalan walaupun sedikit diperlambat. Gadis itu mencoba mengejarnya dan menyamakan langkah kakinya. “Ada apa?” katanya setelah Yuki berhasil menyamakan langkahnya dan kini berada di sebelahnya.

“Kita bisa berjalan ke apartemen bersama-sama. Daerah di sini sepi, berbahaya kalau jalan sendirian. Apalagi kalau malam hari,” jelas Yuki membuat Jong-Min mengangkat alisnya.

Laki-laki itu dapat memahami sedikit apa yang dikatakan gadis itu. “Itu berlaku untukmu. Tidak untukku,” gumamnya datar, lalu matanya beralih pada jalanan di hadapannya.

Yuki berdecak kesal. “Baiklah kalau begitu. Tidakkah kau berpikir untuk menemani seorang gadis pulang malam-malam apalagi melewati jalanan yang sepi seperti ini?” Suaranya terdengar begitu nyaring. Kalau saja tempat ini ramai, orang-orang pasti sudah melihat ke arah mereka. Tapi beruntunglah tempat ini sepi.

Jong-Min tidak terlalu peduli pada perkataan gadis itu. Ia tetap berjalan dengan pandangan lurus ke depan.

Yuki mendengus kesal. “Jong-Min-san, menemani dan mengantar seorang wanita hingga rumahnya di malam hari sudah menjadi hal yang biasa dilakukan. Jadi—“

“Yuki-san, bisakah kau berhenti bicara? Aku tidak mengerti apa yang kau katakan. Kau bicara terlalu cepat,” bantah Jong-Min cepat sementara ia menghentikan langkah kakinya sejenak dan menghadap gadis itu.

Gadis itu secara reflek ikut menghentikan langkahnya dan sontak terkejut. “Gomen,” gumamnya sambil memamerkan sederetan giginya, kemudian dilanjutkan dengan aksi angkat jari telunjuk dan jari tengah secara bersamaan membentuk huruf ‘V’.

“Diamlah dan teruslah berjalan,” perintah Jong-Min dingin, kemudian melanjutkan langkahnya, sementara Yuki lagi-lagi terpaksa harus mengejarnya dan menyamakan langkahnya.

Semoga saja dirinya tidak lagi dipertemukan dengan gadis yang selalu banyak bicara itu.

***

“Myung-Jae-ssi! Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Jong-Min sempat terkejut ketika mendapati Myung-Jae yang baru saja akan menaiki tangga dari lantai satu. Bukankah tadi temannya itu berkata bahwa dirinya sedang tidak enak badan?

“Oh, Jong-Min-ssi dan… kau Yuki,” kata Myung-Jae sambil mengangkat sebelah tangan ketika menatap gadis yang berada di sebelah Jong-Min. Pandangannya kembali beralih pada seseorang yang tadi bertanya padanya. “Tadi aku meminta air panas untuk membuat teh. Tapi ternyata bibi malah menyuruhku masuk dan membuatkan teh untukku. Syukurlah sekarang aku sudah merasa lebih baik. Tapi, ngomong-ngomong kalian—“

“Tadi secara tidak sengaja aku bertemu dengannya di toko. Sepertinya dia memintaku untuk menemaninya berjalan ke apartemen dan aku terpaksa menemaninya,” bantah Jong-Min bahkan sebelum Myung-Jae menyelesaikan pertanyaannya.

Mata Yuki sontak melotot. “Aku tidak berkata seperti itu,” bantahnya tidak terima.

“Tapi itu maksudmu kan, Yuki-san?”

“Hei, sudahlah tidak perlu berdebat. Kasihan penghuni apartemen yang merasa terganggu dengan suara keributan kalian,” kata Myung-Jae mencoba meredam keributan ala anak SMA yang sedang disaksikannya.

Jong-Min mulai berjalan menaiki tangga mengikuti Myung-Jae yang berjalan di depannya sambil membawa barang belanjaannya, sementara ia tidak memedulikan Yuki yang masih tertinggal di lantai satu.

Myung-Jae mulai membuka pintu apartemen sementara mereka masuk ke dalamnya. Jong-Min segera berjalan menuju ruang dapur sambil membawa barang belanjaannya untuk menyiapkan makanan untuk dirinya dan Myung-Jae. Jujur saja, dirinya dan temannya itu belum makan sejak kedatangannya ke apartemen ini.

“Jong-Min-ssi!” seru Myung-Jae yang ini tengah berjalan menuju ruang dapur, menghampiri Jong-Min yang tengah menyiapkan makanan.

“Ya?” balas Jong-Min dengan tatapan masih tertuju pada makanan yang tengah disiapkannya.

“Sekolah akan dimulai besok. Jadi, sebaiknya kita segera menyiapkannya.”

Oh ya, sekolah! Jong-Min hampir saja lupa dengan tujuan utamanya ke negeri sakura ini. Tentu saja sekolah akan mulai pada awal April ini ketika musim semi.

Semoga saja ia mendapatkan pengalaman baru dan pengetahuan baru selama dirinya bersekolah di Jepang, karena ia tidak mau mengecewakan kedua orangtuanya.

Dan tentunya, teman baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s