Friendship [Part 2]

“Kau sudah siap Jong-Min-ssi?”

Jong-Min tengah merapikan letak dasi pada seragam barunya sementara temannya itu sudah siap dengan segala perlengkapan sekolahnya. Myung-Jae sedang duduk di sofa, menunggu Jong-Min yang masih berdiri di depan cermin yang terletak di ruang tengah.

“Myung-Jae-ssi! Bisakah kau membantuku memasangnya?” seru Jong-Min yang merasa kesulitan untuk memasang dasi. Jujur saja, ia cukup payah dalam hal ini.

Myung-Jae beranjak dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri Jong-Min. “Begini saja tidak bisa. Kau payah sekali Jong-Min,” gumam Myung-Jae sambil terkekeh sementara dirinya mulai merapikan letak dasi pada kerah baju Jong-Min.

Jong-Min yang mendengar pernyataan temannya itu hanya bisa terdiam, karena benar pada kenyataannya ia memang payah. “Aku harus belajar banyak padamu Myung-Jae,” kata Jong-Min akhirnya setelah Myung-Jae selesai dengan pekerjaannya.

Mereka mulai berjalan keluar dari ruang apartemen mereka. Sesaat mereka melirik ke arah apartemen Yuki. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tanpa terlalu mempedulikannya, mereka langsung menuruni tangga menuju halaman depan dan mengambil sepeda. Sebenarnya, sepeda itu milik paman dan bibi. Mengingat sepeda itu jarang dipakai, maka paman mengijinkan mereka menggunakannya untuk ke sekolah.

Myung-Jae mulai mengayuh sepedanya sementara Jong-Min yang tidak tahu jalan mengikuti di belakangnya. Sambil mengayuh sepedanya, Jong-Min mulai memperhatikan setiap jalan yang dilewatinya. Ia baru menyadari kalau ternyata pemandangan di Jepang memang indah ketika memasuki musim semi. Bunga-bunga sakura mulai bermekaran dan mendominasinya dengan kombinasi warna putih dan merah muda yang lembut. Tak salah kalau selama ini ia seringkali mendapati Myung-Jae sedang senyum-senyum sendiri sambil menikmati pemandangan di negeri sakura ini. Ia mulai menghirup napas segar di pagi hari dan membiarkan angin menerpa wajahnya. Untuk sesaat ia mencoba untuk menikmati kebahagiaan kecilnya.

Myung-Jae memperlambat kayuhannya di depan sebuah gedung yang cukup besar dan bertingkat. Jong-Min pikir, tidak salah lagi ini pasti sekolahnya. Mereka mulai berbelok dan masuk melewati pintu gerbang besar bercat putih yang cukup tinggi yang tidak memungkinkan seorang murid pun dapat melaluinya dengan mudah—jika ada murid yang ingin mencoba bolos sekolah.

Suasana sekolah itu masih sepi, namun sudah ada beberapa murid yang datang dengan corak baju seragam mereka yang sama dengan corak baju seragam yang kini dikenakan Jong-Min dan Myung-Jae. Memang keinginan Jong-Min untuk datang pagi di hari pertama sekolahnya. Bahkan ia sempat memaksa Myung-Jae untuk mengikuti keinginannya.

Namun, ada sedikit yang berbeda di sini. Style mereka sangat berbeda dengan murid Jepang kebanyakan lainnya—dengan potongan rambut panjang dan cara memakai seragam yang berbeda. Berbeda dengan pakaian seragam mereka yang sangat rapi dan potongan rambut mereka khas anak Korea. Walau bagaimanapun, mereka tetap harus menyesuaikan diri di lingkungan baru mereka.

Mereka mulai memarkirkan sepeda di tempat yang telah disediakan khusus untuk menyimpan sepeda, kemudian berjalan melewati koridor untuk mencari kelas mereka. Yap, mereka memutuskan untuk memilih kelas yang sama, karena Jong-Min tidak ingin dirinya merasa bodoh sendiri ketika berada di kelas. Maksudnya, ia dapat bertanya-tanya jika ada kata-kata yang sulit dimengerti jika Myung-Jae berada satu kelas dengannya.

Mereka berhenti di depan pintu sebuah ruangan. Pintu itu sudah terbuka, menandakan sudah ada orang yang masuk ke dalamnya. Dan memang benar, beberapa murid sudah berada di dalam dan tengah asyik mengobrol dengan teman-temannya. Mereka mulai melangkah masuk dan memilih bangku.

“Kau selalu duduk di barisan tiga,” gumam Myung-Jae ketika melihat Jong-Min yang memilih untuk duduk di barisan ketiga. Memang sejak mereka duduk di sekolah dasar, Jong-Min selalu duduk di barisan tiga. Ia tahu Myung-Jae berkata seperti itu karena mereka berteman sejak SD dan selalu berada dalam satu kelas. Dapat dikatakan, Myung-Jae sudah menjadi sahabatnya. Namun sejak SMP, Myung-Jae harus pindah bersekolah di Jepang, tapi ia masih ingat apa kebiasaan sahabatnya itu.

“Ini tempat favoritku. Tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang.” Jong-Min meletakkan tasnya dan mulai menduduki bangkunya. Temannya itu sempat menganggap bahwa dirinya terlalu perfectionis sampai-sampai hal ini pun perlu diperhatikan secara detail.

Myung-Jae menduduki bangku di sebelah sahabatnya itu, lalu tersenyum sambil berkata, “Kau tidak pernah berubah dari dulu.”

Tak lama kemudian, murid-murid mulai berdatangan memenuhi isi kelas. Jong-Min mulai memperhatikan penampilan beberapa murid yang sebagian besar stykenya mirip dengan murid yang ia lihat di gerbang tadi hingga pandangannya terpaku pada seorang gadis berambut pendek yang baru saja memasuki ruang kelas. Ia merasa bahwa wajah itu begitu familiar baginya. Tunggu, apakah ia salah lihat? Tidak, itu memang benar dirinya.

Sama seperti dirinya, gadis itu balas menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Gadis itu masih menatapnya sementara dirinya berjalan semakin mendekat dan semuanya semakin jelas. “Myung-Jae-san? Jong-Min-san? Kalian—.”

Jong-Min membalas tatapan gadis itu dengan mata melotot tidak percaya bahwa dirinya akan dipertemukan lagi dengan gadis itu. “Kau… tetangga apartemenku?”

Lalu bel berbunyi.

 

***

 

 

“Aku tidak menyangka akan satu sekolah dengan kalian. Bahkan satu kelas!“

Mereka sedang duduk bertiga di kantin pada jam makan siang. Yuki menyantap makan siangnya dengan lahap sambil sesekali menggumamkan kata-kata tidak percaya bahwa kedua laki-laki itu akan berada satu sekolah dengannya, bahkan satu kelas. “Kalian tidak pernah berkata padaku kalau kalian sekolah di sini.” Pandangannya beralih pada dua orang laki-laki Korea di hadapannya—yang satu mendengarnya dengan senang sementara yang satunya lagi mendengarnya dengan sebaliknya.

“Baguslah kalau begitu. Jadi, kita bisa berangkat bersama-sama setiap harinya,” gumam Myung-Jae yang menanggapi Yuki dengan senang.

“Apa? Aku tidak mau lagi berurusan dengannya,” bantah Jong-Min tidak suka. Bahasa Jepangnya terdengar sedikit aneh diucapkan.

“Tapi, kenapa?” tanya Yuki tidak terima.

Jong-Min menaruh sumpitnya dan menatap Yuki dengan tatapan meledek. “Kau berisik dan kau banyak bicara.” Ia beralih, kemudian melanjutkan menyantap makan siangnya.

Yuki kesal dan segera menggembungkan pipinya, kemudian beralih menatap Myung-Jae. “Myung-Jae-san, kenapa temanmu yang satu ini jutek sekali? Aku sempat berpikir apakah dirinya pernah mendapat kebahagiaan—.”

Myung-Jae terkekeh. “Dia memang begitu dengan orang yang baru dikenalnya. Tapi kau harus tahu, dia sebenarnya orang yang baik.”

Yuki menatap Jong-Min tidak percaya sementara laki-laki itu masih asyik menyantap makanannya. “Aku tidak yakin.” Yuki kembali memusatkan perhatian pada makanannya dan mulai menyantapnya.

“Kau harus mengenalnya lebih lama untuk mengetahuinya.”

 

***

 

Myung-Jae tengah mengaduk-aduk sup ayam yang sedang dibuatnya di ruang dapur. Aromanya begitu menyeruak ke hidungnya, membuatnya tak sabar untuk segera mencicipinya.

Uri soro darun sulpun insamaaal~

Myung-Jae sontak terkejut ketika mendengar suara Jong-Min menyanyikan salah satu lagu dari band di Korea dengan begitu keras dari dalam kamar mandi. Memang temannya yang satu itu seringkali bernyanyi di dalam kamar mandi dan itu sudah menjadi rutinitas sehari-harinya. Ia sempat menyuruh temannya itu untuk mengikuti sebuah audisi, namun Jong-Min tidak terlalu menanggapinya.

“Aku tidak mau menjadi artis. Aku menyukai hidupku sebagai orang biasa seperti ini.” Itulah kata-kata yang selalu digumamkannya ketika Myung-Jae mencoba membujuknya untuk mengikuti sebuah audisi. Ia tahu, temannya itu memang punya bakat menyanyi.

Myung-Jae berjalan menuju depan pintu kamar mandi. Ia pikir temannya itu sudah gila kalau sudah melakukan aksi teriak-teriak seperti itu.

“Jong-Min, kau sudah gila! Cepat, makanannya sudah siap,” seru Myung-Jae sambil terkekeh. Kemudian terdengar suara ketukan pintu. Siapa yang berkunjung ke apartemennya malam-malam begini? pikirnya.

Ia segera meninggalkan dapur dan membuka pintu. “Yuki-san?” Terlihat sosok Yuki yang sedang berdiri di balik pintu apartemennya. “Ada apa, Yuki-san?”

“Myung-Jae-san, maaf mengganggu. Hmm…” kata-kata Yuki terhenti. Mungkin ia sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkannya, lalu melanjutkan, “Begini. Kompor di apartemenku rusak dan sedang diperbaiki. Dan… aku takut keluar sendirian untuk mencari makanan. Jadi, sejak sepulang sekolah aku belum makan,” katanya menjelaskan alasan kedatangannya yang secara tiba-tiba. “Kau punya makanan Myung-Jae-san?”

“Oh, begitu.” Myung-Jae mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. “Kebetulan aku baru saja selesai menyiapkan makanan. Sebaiknya kau bergabung dengan kami untuk makan malam. Ayo, masuklah!”

“Benarkah? Kau baik sekali Myung-Jae-san. Domo arigato gozaimasu,” kata Yuki sambil membungkukkan badannya kemudian melangkah memasuki apartemen milik dua laki-laki itu setelah Myung-Jae mempersilahkannya masuk.

“Tunggu sebentar, aku akan mengambil makanannya.”

Yuki menduduki kursi meja makan sementara Myung-Jae berjalan menuju ruang dapur dan kembali ke meja makan dengan membawa sebuah wadah besar berisi sup ayam. “Ngomong-ngomong, di mana Jong-Min-san?” tanya Yuki setelah mengambil beberapa sendok sup ayam ke dalam mangkuknya.

“Oh, dia sedang mandi. Kita makan duluan saja,” kata Myung-Jae yang baru saja menduduki kursi meja makan. “Selamat makan! (bahasa jepang).”

Mereka saling diam, sibuk dengan santapannya masing-masing. “Myung-Jae-san, semua ini kau yang masak?” tanya Yuki tiba-tiba memecah keheningan.

“Ya,” sahut Myung-Jae yang baru saja selesai menelan makanannya.

“Wah, masakanmu enak sekali Myung-Jae-san,” kata Yuki menatap Myung-Jae tidak percaya.

Myung-Jae sedikit terkekeh mendengar pernyataan Yuki. “Arigatō. Aku belajar dari seseorang.”

“Siapa?”

Myung-Jae hanya tersenyum. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan seseorang dengan rambut basahnya muncul di baliknya sambil sesekali mengeringkannya dengan handuk yang digantung di lehernya. Gerak-geriknya santai, tiba-tiba sontak terkejut ketika melihat gadis berambut pendek yang sedang berada di dalam apartemennya, dan kini sedang duduk dengan tenang di meja makan sambil menyantap sup buatan Myung-Jae.

Jong-Min menatap Yuki sinis. “Untuk apa dia datang ke sini?” tanyanya pada Myung-Jae.

“Oh, itu. Dia sedikit ada masalah dengan kompornya. Dan… dia tidak berani keluar untuk mencari makanan. Jadi, aku mengajaknya untuk bergabung makan malam dengan kita,” kata Myung-Jae menjelaskan sementara temannya itu kini sudah duduk di sebelahnya.

Jong-Min mulai mengambil sup ayamnya. “Oh.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

“Wah, Jong-Min-san. Walaupun kau sangat jutek, ternyata kau terlihat sangat tampan setelah mandi,” gumam Yuki sambil menatap Jong-Min terkagum-kagum.

Myung-Jae terkekeh, sementara temannya itu tidak terlalu menanggapi gumaman Yuki. “Myung-Jae-ssi, apa yang barusan dikatakan Yuki-san? Aku tidak mengerti. Dia berbicara terlalu cepat,” tanya Jong-Min dengan menggunakan bahasa Korea yang sontak membuat alis Yuki terangkat tidak mengerti.

“Dia bilang walaupun kau jutek, kau terlihat tampan setelah mandi.” Myung-Jae terkekeh, kemudian menepuk bahu Jong-Min. “Jong-Min-ssi, selamat, akhirnya ada seorang gadis yang mengakui kalau kau tampan.” Myung-Jae tertawa terbahak-bahak sementara temannya itu hanya menanggapinya dengan dingin. Sebagai sahabatnya, Myung-Jae tahu kalau belum pernah ada seorang gadis pun yang mengakui secara terang-terangan kalau Jong-Min tampan.

Jong-Min tidak peduli, ia melanjutkan menyantap sup ayamnya. “Sudahlah Myung-Jae-ssi, jangan dibahas lagi.”

“Hei, Myung-Jae-san. Apa yang tadi kalian bicarakan? Aku tidak mengerti,” tanya Yuki yang sejak tadi memasang muka bertanya-tanya.

Myung-Jae menghela napas sejenak untuk menghentikan tawanya, kemudian mencoba menjelaskannya pada Yuki. Yuki mendengarkan dengan penuh antusias dan tak lama kemudian gadis itu terkekeh.

Jong-Min tampak kesal dan beralih menatap Myung-Jae. “Myung-Jae-ssi, kenapa kau menceritakannya padanya?”

Myung-Jae tahu kalau kini wajah temannya itu mulai memerah karena malu. Namun, hal itu membuat dirinya semakin menertawakannya. Begitu pula halnya dengan Yuki.

Untuk sesaat, mereka tertawa bahagia karena Jong-Min.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s