Friendship [Part 3]

“Hai, oppa!”

Yuki baru saja turun dari apartemen menuju halaman depan dan melihat dua laki-laki tetangga apartemannya sedang bersiap-siap mengambil sepeda.

“Oppa, bolehkah aku berangkat bersama kalian?” tanya Yuki yang gaya bicaranya sengaja diperlambat agar Jong-Min dapat mengerti perkataannya.

Myung-Jae tengah memegangi stang sepedanya dan menggiringnya keluar pagar, kemudian berhenti sesaat di pintu pagar. “Tentu saja. Kita akan berangkat sekarang.”

“Tunggu!” seru Jong-Min tiba-tiba sehingga membuat Myung-Jae dan Yuki memusatkan perhatian padanya. “Sejak kapan kau memanggil kita dengan sebutan ‘oppa’?” Ia sudah menaiki sepedanya dan berhenti tepat di sebelah Myung-Jae.

Yuki tersenyum lebar sehingga gigi putihnya terlihat. “Hmm… sejak aku baru saja menonton drama Korea episode satu.” Yap, tadi malam—setelah selesai menumpang makan malam di apartemen mereka—memang dirinya meyempatkan diri untuk menonton drama Korea yang baru saja didownloadnya di salah satu situs yang menyediakan berbagai macam drama. Dirinya begitu penasaran ingin tahu bagaimana gaya bicara dan kebiasaan sehari-hari orang Korea, terutama ia sering mendengar kata ‘oppa’ sering disebut oleh seorang gadis kepada seorang laki-laki di Korea. Maka dari itu ia menirunya, walaupun aksennya terdengar sedikit aneh.

“Jangan memanggil kita dengan sebutan ‘oppa’. Kita kan tidak lebih tua darimu,” gumam Jong-Min sinis.

“Ya, oppa adalah sebutan bagi seorang gadis ketika memanggil laki-laki yang lebih tua. Jadi, kalau dengan teman sebaya tidak perlu memanggil oppa,” jelas Myung-Jae meluruskan pemahaman Yuki tentang arti kata ‘oppa’.

“Lagipula kau terdengar aneh ketika berkata ‘oppa’,” celetuk Jong-Min yang sontak membuat Yuki menggembungkan kedua pipinya karena kesal, yah, walaupun ia mengakui kalau aksennya memang terdengar sedikit aneh.

“Yah, setidaknya aku sudah berusaha.” Yuki meninggalkan kedua laki-laki itu untuk mengambil sepeda miliknya yang ia letakkan di halaman. Tak lama, ia kembali sambil mengayuh sepedanya.

“Ayo, berangkat!”

***

Jong-Min tengah berjalan di sepanjang koridor dengan headset biru berukuran sedang terpasang di kedua telinganya. Sebuah lagu rock mengalun keras melalui iPod yang ia letakkan di saku kemeja seragamnya. Ia memang berencana untuk sekadar berkeliling sekolah barunya untuk melihat tempat-tempat yang belum pernah ia lewati sebelumnya. Kali ini Myung-Jae tidak bersamanya. Temannya itu kini sedang berada di perpustakaan untuk mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas kelompok.

Memang tadi ada tugas kelompok berjumlah empat orang yang diberikan di pelajaran sejarah. Tentu saja ia memilih untuk berada satu kelompok dengan Myung-Jae—salah satu temanya yang pintar—dan, lagi-lagi ia terpaksa harus berada satu kelompok dengan gadis tetangga aprtemennya.

“Dengan begitu, akan lebih mudah jika ingin mengerjakan tugas bersama-sama,” kata Myung-Jae menjelaskan mengingat tempat tinggal mereka bertiga yang sangat berdekatan. Oke, tinggal satu orang lagi yang mereka butuhkan untuk melengkapi anggota kelompok mereka.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Jong-Min dari belakang. “Sumimasen. Bolehkah aku bergabung dengan kalian?” Suaranya terdengar kaku dan gugup. Dari suaranya, jelas dia seorang laki-laki.

Jong-Min memutar badannya untuk melihat siapa yang tengah berbicara padanya itu. Begitu juga dengan Myung-Jae dan Yuki yang sontak memusatkan perhatian mereka pada seseorang yang sedang duduk tepat di belakang bangku Jong-Min.

Jong-Min memperhatikan laki-laki itu. Tubuhnya kurus namun sepertinya ia bertubuh tinggi. Walaupun sedang duduk, terlihat bahwa ia memiliki tubuh yang tinggi. Rambutnya yang hitam dipotong normal dan penampilannya rapi, tidak seperti kebanyakan anak-anak Jepang lainnya. Ia tampak sedikit berbeda. Jong-Min pikir ia yang paling normal dari orang-orang yang pernah dilihatnya di sekolah ini.

Laki-laki itu mengangkat alisnya menunggu jawaban sementara Jong-Min beralih menatap Myung-Jae meminta jawaban.

“Ya, tentu saja. Kebetulan kita butuh satu orang lagi,” jawab Myung-Jae sambil tersenyum ramah pada laki-laki itu.

Mereka memang berencana untuk memulai kerja kelompok hari ini. Myung-Jae merencanakan untuk mulai mencari bahan di perpustakaan sementara Jong-Min berkata kalau dirinya akan menyusul. Mungkin sekarang Myung-Jae tengah berada di perpustakaan bersama Yuki dan laki-laki itu. Ah, dia lupa nama laki-laki itu. Yang ia ingat hanyalah orang itu memiliki huruf awalan ‘A’. Akira atau… ah, ia lupa. Sambil berjalan, sambil ia memikirkan nama itu.

“AH!”

Jong-Min merasakan bahunya menabrak bahu seseorang. Ia tahu kalau ia menubruk seorang gadis. Kini gadis itu sedang berjongkok—berusaha mengumpulkan barang-barangnya yang jatuh berserakan di lantai koridor. Ia tidak tinggal diam. Ia segera ikut berjongkok dan membantu gadis itu mengumpulkan barang-barangnya yang terjatuh karena merasa dirinya bersalah. Sesekali ia melirik untuk melihat wajahnya, namun rambut hitamnya yang setangah panjang menghalangi wajahnya yang sedang tertunduk. Ia memperhatikan barang-barang gadis itu yang sebagian besar berupa lembar-lembar foto hasil cetak.

Laki-laki itu terdiam dan memeperhatikan gadis itu yang kini sedang memasukkan foto-fotonya ke dalam sebuah map plastik. Tak lama gadis itu berdiri sambil memasukkan sisa foto ke dalam mapnya. Jong-Min ikut berdiri dan masih menunggu gadis itu selesai dengan pekerjaannya. Gadis itu pun akhirnya selesai memasukkan fotonya, kemudian perhatiannya beralih pada foto-foto yang tengah dipegang Jong-Min yang dilanjutkan dengan beralih menatap wajah laki-laki itu sehingga laki-laki itu dapat melihat wajahnya yang tadi tersembunyi di balik rambutnya. Jong-Min dapat melihat mata gadis itu yang cukup besar untuk ukuran orang-orang Jepang.

“Oh, ini,” kata Jong-Min sambil menyerahkan barang milik gadis itu. Gadis itu meraihnya dan segera memasukkannya ke dalam map. “Sumimasen.”

“Jong-Min oppa! Jong-Min oppa!”

Jong-Min berbalik dan mencari sumber suara itu—suara yang terdengar begitu familiar baginya. Kini ia melihat gadis freak itu sedang berlari ke arahnya. Rambut pendeknya tampak bergoyang-goyang.

“Jong-Min oppa, kau lama sekali. Kita sudah menunggumu di perpustakaan,” gumam Yuki yang dengan sengaja memperlambat gaya bicaranya. Napasnya sedikit terengah-engah.

Jong-Min berdecak kesal. “Sudah kubilang, jangan memanggilku dengan sebutan oppa. Ini kan di Jepang. Lagipula aku tidak lebih tua darimu.”

Yuki menepuk jidatnya. “Gomen. Aku lupa.”

“Ah,” Jong-Min tiba-tiba berbalik untuk melihat gadis yang tadi menabrak bahunya itu, namun gadis itu sudah beranjak pergi.

“Ada apa Jong-Min oppa?”

Jong-Min berbalik menatap Yuki. “Tadi aku menabrak seseorang. Hmm… sudahlah lupakan saja,” gumamnya tidak terlalu peduli kejadian tadi.

“Kalau begitu, ayo kita ke perpustakaan. Myung-Jae dan Akihiro sudah menunggu,” seru Yuki sambil menarik paksa pergelangan tangan Jong-Min. Jong-Min pasrah ketika tubuhnya ditarik oleh gadis itu. Ia tidak peduli apa kata orang-orang yang tengah melihat mereka. Ia tidak bisa mengelak karena cengkeraman gadis itu terlalu erat.

Ah, Akihiro namanya. Ia baru ingat.

***

Bel berbunyi menandakan jam sekolah sudah usai tepat pada pukul tiga sore. Pelajaran matematika merupakan jam pelajaran terakhir di hari Selasa. Di hari-hari permulaan sekolah, sensei sudah menerangkan begitu banyak materi yang membuat otak sedikit panas. Itulah negara Jepang, mereka memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi sehingga waktu tidak terbuang dengan percuma.

Myung-Jae telah selesai merapikan buku-bukunya ke dalam tas. “Kita akan melanjutkan kerja kelompok besok sepulang sekolah. Tapi, tadi bahan-bahan yang dicari di perpustakaan sudah lumayan banyak,” kata Myung-Jae—yang telah ditunjuk sebagai ketua–pada ketiga teman-teman kelompoknya. “Mungkin besok kita akan mencari bahan-bahannya sedikit lagi, jadi sepulang sekolah kita sudah bisa mulai mengerjakan makalahnya bersama-sama.”

Yuki mengangguk setuju. “Tapi—,” ia mulai berkata. “Apakah Akihiro tidak keberatan kalau kita mengerjakannya di apartemenmu?”

Semua mata tertuju pada Akihiro.

“Hei, Akihiro. Di mana tempat tinggalmu?” tanya Yuki.

Akihiro menggaruk kepalanya. “Hmm… tidak apa, tidak masalah bagiku. Kita bisa mengerjakannya di mana saja. Kalau kalian ingin mengerjakannya di rumahku juga tidak apa-apa. Rumahku tidak begitu jauh dari sekolah,” jelas Akihiro panjang lebar.

Myung-Jae berpikir-pikir. “Hmm… kalau begitu, besok kita mengerjakannya di apartemenku, lalu besoknya lagi di rumah Akihiro. Bagaimana?”

“Setuju!” seru Yuki dan Akihiro secara bersamaan.

“Bagaimana denganmu, Jong-Min-ssi?”

“Aku mengikut denganmu saja,” kata Jong-Min pasrah.

Mereka keluar kelas dan berjalan menuju gerbang bersama-sama. Kemudian mereka bertiga berpisah dengan Akihiro dan berjalan menuju tempat di mana sepeda mereka diletakkan.

“Jong-Min-ssi, bagaimana kalau hari ini kutraktir kau makan? Kebetulan aku sedang malas memasak,” gumam Myung-Jae yang sedang mengambil sepedanya. Memang hari ini dia sedang malas memasak dan ia ingin mengajak temannya itu mencoba makan di restoran Jepang.

“Benarkah?” seru Jong-Min bersemangat. “Kita akan makan di mana?”

Pandangan Myung-Jae tertuju pada Yuki yang sedang sibuk membuka gembok sepedanya. “Mungkin Yuki-san mempunyai usul di mana tempatnya?”

“Ya? Ada apa Myung-Jae-san?”tanya Yuki setelah berhasil membuka gembok sepedanya.

“Kita akan berencana makan di luar. Mungkin kau mempunyai usul tempat makan yang enak di dekat sini?”

Yuki tampak berpikir-pikir. “Hmm… ha! Aku tahu di mana.”

“Baiklah kalau begit—.”

“Tunggu,” bantah Jong-Min tiba-tiba sambil mengangkat sebelah tangannya. Matanya tertuju pada Myung-Jae yang berada di sebelahnya yang kini sudah menaiki sepedanya. “Kau menanyakan usul tempat pada Yuki, bukan berarti dia akan ikut bersama kita, kan?”

Myung-Jae sedikit terkekeh. “Tentu saja dia ikut. Bagaimana kita akan tahu tempatnya kalau dia tidak ikut?”

Dan ia hanya mendapati tatapan tidak percaya dari sahabatnya itu.

***

Mereka baru saja keluar dari sebuah restoran yang baru saja mereka singgahi berkat usul Yuki. Restoran itu terletak tidak begitu jauh dari sekolah. Menu yang disediakan benar-benar menu khas Jepang dan rasanya sangat enak dan cukup mengenyangkan.

“Yuki-san, sepertinya kau harus sering-sering menunjukkan beberapa tempat yang menarik di Jepang,” gumam Myung-Jae ketika ia sudah menaiki sepedanya.

“Tentu saja. Jangan sungkan-sungkan meminta bantuan padaku.” Yuki tersenyum lebar.

“Lain kali kau beritahu alamatnya saja. Jadi kau tidak perlu ikut,” celetuk Jong-Min tidak terima kalau gadis itu terus-menerus ada kemanapun ia pergi.

Yuki berkacak pinggang. “Yasudah. Aku akan mengajak Myung-Jae saja.” Ia memegangi lengan Myung-Jae. “Kau mau kan Myung-Jae-san?” Ia menatap laki-laki itu penuh harap sementara laki-laki itu hanya membalasnya dengan melongo.

“Myung-Jae tidak akan pergi tanpa aku,” gumam Jong-Min tidak mau kalah. Matanya menatap tajam pada Yuki seolah-olah menantang.

Gadis itu kembali menatap Myung-Jae penuh harap sambil mengguncang-guncang lengan laki-laki itu. “Myung-Jae-san, katakan kalau itu tidak benar!”

“Hei, kau jangan memaksa Myung-Jae!”

“Hei hei, sudahlah tidak perlu bertengkar,” kata Myung-Jae sambil mengangkat kedua tangannya—meredakan perang yang hampir terjadi di hadapannya. “Sebaiknya kita pulang. Hari sudah malam.”

Temannya itu benar, langit sudah mulai berganti menjadi warna gelap yang dihiasi dengan sedikit taburan bintang-bintang yang bercahaya sebesar titik. Jong-Min tidak peduli. Ia mulai menaiki sepedanya dan mengayuhnya meninggalkan mereka di belakangnya.

Mereka pulang ke apartemen. Jalanan di daerah yang mereka lalui kini sangat sepi. Tidak ada satu orang pun yang berjalan kaki. Hanya sesekali terdapat kendaraan yang melintas, lalu jalanan kembali sepi. Jong-Min mempercepat kayuhan sepedanya, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia ingin cepat-cepat sampai di apartemennya sehingga dirinya dapat beristirahat dengan tenang tanpa diganggu oleh gadis itu.

“Myung-Jae-san! Jong-Min-san!” Terdengar suara Yuki berteriak di belakangnya.

Jong-Min melihat Myung-Jae berhenti mengayuh sepedanya. Sontak ia mengikuti Myung-Jae untuk berhenti dan melirik ke belakang. Ia melihat raut cemas Yuki terpampang di wajahnya.

“Ada apa Yuki-san?” tanya Myung-Jae.

Yuki melambai-lambaikan kedua tangannya—memberi isyarat agar dua laki-laki itu segera menghampirinya. Jong-Min tidak bisa menebak apakah gadis itu sedang main-main atau serius.

Jong-Min dan Myung-Jae memarkirkan sepedanya di pinggiran jalan, kemudian berjalan menghampiri Yuki. Mereka mengikuti arah mata Yuki yang tertuju pada sebuah jalan sempit yang diapit oleh dua gedung yang cukup tinggi. Daerah itu remang-remang, namun mereka dapat melihat beberapa orang laki-lak sedang berkerumun. Lalu, apa masalahnya?

“Ta… tadi aku melihat ada seorang gadis di sana. Sepertinya dia anak sekolah kita. Ia mengenakan seragam yang sama dengan kita,” kata Yuki terbata-bata. Wajahnya menunjukkan ketakutan.

Jong-Min tidak meihat tanda-tanda keberadaan gadis yang baru saja diceritakan Yuki. Ia memperhatikan kerumunan itu lagi dan… ia melihat gadis yang berambut panjang itu kini tengah dikepung oleh beberapa pria. Tidak tahu pasti apa yang tengah terjadi di sana, tapi ia yakin itu pasti sesuatu yang buruk.

“Kita harus menolongnya,” pinta Yuki sambil menatap pada dua laki-laki itu. Wajahnya masih menunjukkan raut cemas.

Jong-Min berpikir-pikir. Apakah sebaiknya dia terlibat dalam masalah ini dengan kata dirinya harus siap menanggung resiko apapun atau dia bisa pergi begitu saja tanpa memedulikan gadis yang sekarang tengah berada dalam bahaya dan melanjutkan perjalanan ke apartemen sehingga semuanya aman dan baik-baik saja bagi dirinya. Tapi…

“Yuki benar. Kita harus menolongnya,” kata Myung-Jae pada akhirnya, tidak memberikan pilihan bagi Jong-Min untuk menolak, bahkan untuk memikirkan kembali tindakannya itu.

Jong-Min mengikuti langkah Myung-Jae yang berjalan di depannya, sementara Yuki berjalan di belakangnya. Dari jarak dekat, ia dapat melihat dengan jelas wujud pria-pria itu. Mereka berjumlah empat orang. Bau alkohol mulai menyeruak ke hidungnya. Ia pikir para pria itu tengah mabuk.

“Lepaskan dia!” perintah Myung-Jae pada salah satu pria mabuk berambut gondrong itu.

Pria itu berbalik. Teman-temannya yang lain ikut berbalik dan salah satunya mencengkeram tangan gadis itu erat. Rambut panjang gadis itu tampak acak-acakan. Baju seragam yang dikenakannya tampak lusuh dan kotor. Wajahnya merah dan basah karena air mata. Gadis itu pasti merasa begitu ketakutan. Kemudian pria gondrong itu berjalan mendekat ke arah Myung-Jae sempoyongan. Tampak botol minumannya yang masih berisi separuhnya. Airnya memercik dan memantulkan cahaya dari lampu remang-remang sementara pria itu menggenggam botolnya. “Apa kau bilang? Lepaskan?” Pria itu menyeringai, kemudian mengeluarkan tawa seramnya yang terlalu dipaksakan.

“Lepaskanlah dia kalau kau masih suka cara damai.” Suara Myung-Jae terdengar sedikit bergetar.

Jong-Min masih bergeming di belakang Myung-Jae. Ia tidak pernah melihat sahabatnya itu seberani ini, walaupun ia tahu sebenarnya Myung-Jae begitu ketakutan.

Pria itu sedikit menyeringai. “Kau tahu? Kebetulan kami tidak suka cara damai,” gumamnya sambil mengeluarkan senyum liciknya. Wajahnya berjarak semakin dekat dengan wajah Myung-Jae. Dari balik bahu temannya itu, Jong-Min dapat melihat dengan jelas kerutan-kerutan di wajahnya dan lingkaran matanya yang sedikit menghitam. Ia pikir pria itu berusia sekitar 40-an.

Tunggu, apa maksudnya tidak suka cara damai? Apakah ia benar-benar harus melawan pria-pria itu yang berjumlah lebih banyak? Mereka pasti kalah. Oh, Tuhan, ia tidak mau hidupnya berakhir di sini.

“Oke!” Myung-Jae melayangkan satu tonjokannya yang mengarah ke bagian perut pria itu, namun pria itu cepat-cepat menangkisnya.

“Kau yakin akan melakukan ini?” Pria itu mencengkeram tangan Myung-Jae dengan kuat karena Myung-Jae tampak mengernyit kesakitan. “Kau hanya seorang bocah. Jadi—.” Pria itu menghempaskan botol yang tadi digenggamnya ke jalanan, kemudian mengangkat tangannya yang terkepal seolah-olah sedang bersiap-siap melayangkan satu tonjokkan. “Jangan coba-coba melawan kami.”

Dan, benar. Pria itu melayangkan tonjokannya tepat di wajah Myung-Jae.

Myung-Jae seketika jatuh tersungkur ke bawah.

Suara teriakan Yuki menggaung di telinga Jong-Min. Gerakan pria itu terlalu cepat sehingga ia tidak dapat mencegahnya dan menangkis pukulan itu. Semuanya sudah terjadi. Tubuhnya bergetar ketika melihat sahabatnya itu tengah meringkuk di atas jalanan. Ia takut terjadi apa-apa pada Myung-Jae.

Jong-Min bergeming di tempatnya berdiri. Ia tidak dapat berpikir jenih. Ia sudah terlanjur terlibat dalam masalah ini. Ia terpaksa harus melawan pria-pria mabuk ini dan melayangkan balas dendam atas apa yang mereka lakukan pada sahabatnya itu. Ia tidak mau usaha Myung-Jae untuk melawan mereka menjadi sia-sia.

“Hei, bocah! Kau mau bernasib sama dengan temanmu itu, hah?” kata pria itu menantang.

Yuki mencengkeram bahu Jong-Min dari belakang. “Jong-Min-san. Cepat, kau harus melakukan sesuatu!” bisik Yuki. Bisikannya terdengar bergetar karena ketakutan.

Jong-Min memberikan isyarat pada Yuki untuk mundur, lalu membalas pertanyaan pria itu dengan santai, “Tidak.” Satu tonjokkan berhasil ia layangkan tepat di wajah pria itu. Seketika pria itu terhuyung ke belakang dengan sempoyongan.

Pria yang lain tentu saja tidak tinggal diam. Salah satu pria yang tadi memegangi gadis itu, kini sudah melepasnya dan mendorong gadis dengan keras sehingga gadis itu jatuh terhuyung.

“Kau, cepat tolong dia. Biar ini menjadi urusanku,” gumam Jong-Min pada Yuki yang masih bersembunyi di balik bahunya. Ya, ini memang urusannya. Urusan yang harus dihadapinya. Dan ia harus melakukannya seorang diri dengan hanya berbekal pengalaman yang ia miliki. Jujur saja, selama hidupnya ia belum pernah terlibat dalam urusan berkelahi sungguhan.

Pria-pria itu mulai mendekat secara bersamaan, mulai mengepung Jong-Min. Ia tidak tahu siapa yang harus dilumpuhkannya terlebih dahulu. Akhirnya ia membuat pilihan untuk melumpuhkan pria yang ada di sebelah kanannya terlebih dahulu. Mungkin pria-pria itu berpikir kalau Jong-Min akan melakukan serangan pada pria yang berada di tengah terlebih dahulu, karena pria yang tadi ditonjoknya kini tersungkur dengan mudah.

Satu masalah sudah selesai, tinggal dua pria lagi yang kini harus dilumpuhkannya. Jong-Min berbalik dan segera melayangkan tonjokkan pada pria yang berada di sebelah kirinya. Pria itu lagi-lagi dengan mudah tersungkur. Mungkin karena mabuk, sehingga pria itu menjadi dengan mudah hilang keseimbangan tubuhnya.

Tiba-tiba napasnya tercekat. Pria yang tadi seharusnya berada di tengah, kini merangkul lehernya erat—membuat Jong-Min kesulitan untuk bernapas. Ia tidak dapat mengelak. Rangkulan pria itu terlalu kuat. Jong-Min masih berusaha untuk bernapas walau dirasa sangat sulit seolah-olah batang tenggorokannya menyempit seketika. Pria berambut gondrong yang sejak awal jatuh tersungkur, kini telah bangkit kembali dan tengah berjalan mendekat ke arahnya. Ia harus segera terlepas dari pria yang merangkulnya itu, kalau tidak pria berambut gondrong itu akan segera menghajarnya.

Tapi tetap tidak bisa walaupun ia sudah berusaha sekuat sisa tenaga yang dimilikinya.

“Apa kata-kata terakhirmu, bocah? Yah, sebelum aku menghabisimu.” Pria itu mengangkat botol minumannya yang tadi sudah dihempaskannya ke jalanan, sehingga sekarang botol itu tidak utuh—hanya berupa separuh pecahan botol dengan sisinya yang tajam. Dan ia tahu. Pria itu pasti akan membunuhnya dengan benda itu.

Ia tahu kalau hidupnya akan segera berakhir.

Bayangan orangtuanya seketika melintas dalam pikirannya, membawanya kembali ke masa lalu dan ia takut kalau tidak akan beretmu mereka lagi. Ia melihat kini gadis sedang meringkuk bersama dengan Yuki yang berada di sebelahnya, berusaha untuk menenangkannya. Lalu, ia ingat sahabatnya itu-Myung-Jae—yang tadi jauh tersungkur dan sekarang laki-laki itu tidak berada di tempat di mana ia seharusnya berada. Myung-Jae?

“AH!” Jong-Min beralih menatap pria berambut gondrong yang tadi hendak membunuhnya, kini sudah jatuh tersungkur ke bawah. Sesorang tengah memegangi tongkat kayu yang baru saja ia layangkan pada pria tadi. Ia dapat melihat sosok Myung-Jae di bawah pantulan sinar lampu jalanan yang remang-remang. Seketika rangkulan pria itu melemah dan Jong-Min dapat dengan mudahnya mengelak dari pria itu. Jong-Min menghindar sementara Myung-Jae bergerak dan memukul kepala pria itu dengan tongkat kayunya. Seketika pria itu jatuh tersungkur ke bawah.

Akhirnya masalah sudah selesai. Jong-Min beralih menatap sahabatnya yang kini berdiri di sebelahnya itu. Tak lama ia tersenyum lega. Jarang sekali ia dapat tersenyum pada orang seperti ini. Ia memeluk sahabatnya itu sesaat lalu segera melepasnya. “Kupikir hidupku akan berakhir di sini. Untunglah kau datang menyelamatkanku.” Jong-Min beralih menatap tongkat yang tengah dipegang Myung-Jae. “Ngomong-ngomong, dari mana kau dapatkan itu?”

Myung-Jae terkekeh pelan, lalu mengangkat tongkat kayu itu. “Ini kutemukan tidak jauh dari tempat tadi aku tersungkur.”

Jong-Min tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak menyangka kau akan melakukan ide gila ini. Gomawo.” Laki-laki itu mengalihkan perhatiannya pada dua orang gadis yang masih duduk di tepi jalan. Gadis berambut panjang itu masih meringkuk walaupun Yuki sudah berusaha menenangkannya.

“Kalian baik-baik saja?” tanya Myung-Jae setelah menaruh tongkatnya di sembarang tempat, kemudian berjongkok untuk berbicara dengan gadis itu.

“Ya. Ehm tapi—,” Yuki mulai bergumam. “Mungkin dia masih merasa ketakutan.” Yuki mengangkat bahunya tak acuh.

“Tenang saja, semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Kami akan mengantarmu pulang,” kata Myung-Jae yang berusaha untuk meyakinkan gadis itu bahwa semuanya baik-baik saja.

Gadis itu mulai mengangkat wajahnya secara perlahan. Dari tempatnya berdiri, Jong-Min dapat melihat wajahnya yang kusut dan lengket karena bekas air mata.

“Sudahlah tidak apa-apa,” kata Yuki, kemudian memeluk gadis di sampingnya itu.

“Sebaiknya kita bergegas sebelum mereka tersadar lagi.” Pria-pria itu memang kini masih terbaring di jalanan dan belum tersadar.

“Mereka semua dalam keadaan mabuk. Beruntunglah mereka tidak membawa senjata tajam selain pecahan botol itu,” kata Jong-Min tiba-tiba. Ia ingat bagaimana pecahan botol itu yang tampak mengilat di bagian ujungnya yang tajam—yang akan dapat membunuhnya dengan seketika jika saja Myung-Jae tidak datang menolongnya.

Yuki membantu gadis itu berdiri sementara Jong-Min dan Myung-Jae sudah berjalan duluan keluar dari jalanan sempit itu. Mengayuh sepedanya melewati jalanan di malam hari sementara mereka bergerak menuju rumah gadis itu setelah tadi Yuki berusaha menanyakan di mana alamat tempat tinggalnya.

Yuki mengayuh sepedanya sambil membonceng gadis itu di belakangnya. Ia memimpin jalan di depan dan gadis itu menunjukkan jalan menuju rumahnya.

Yuki mengehentikan laju sepedanya tepat di depan pagar sebuah rumah yang sangat sederhana. Jong-Min pikir, ia bukan berasal dari keluarga yang berada. Dari luar, rumah itu tampak berukuran kecil dan bentuknya sangat sederhana.

Mereka mengikuti gadis itu berjalan melewati pagar dan berhenti di depan pintu rumahnya. Seorang wanita paruh baya—mungkin ia ibunya—membukakan pintu dan menatap putrinya dengan raut terkejut. Gadis itu segera memeluk ibunya dan menangis. Ini pasti hari terberat yang pernah dialaminya.

Mereka bertiga bergeming di tempat mereka berdiri, menyaksikan apa yang tengah mereka lihat di hadapan mereka.

“Masuklah,” kata ibu gadis itu, menyuruh mereka bertiga masuk ke dalam rumah. “Maaf, rumah kami kecil,” gumamnya ketika mereka telah duduk di sebuah kursi di ruang tamu. Rambutnya yang sedikit beruban diikat rendah di kepalanya.

“Tidak apa-apa,” kata Yuki sambil tersenyum pada ibu gadis itu.

“Ah, sepertinya kau terluka. Tunggu sebentar.” Ibu gadis itu menghilang di balik sebuah pintu kayu tua. Mungkin itu ruang dapur.

Mereka sontak melihat ke arah Myung-Jae dan memang benar terdapat luka memar di seputar pipinya. Ujung bibir bagian kirinya terlihat sedikit sobek. Luka itu memang tidak terlihat jelas di jalanan sempit tadi. Ibu gadis itu akhirnya datang dengan membawa kotak kecil berisi obat-obatan dan nampan yang berisi beberapa gelas ocha. Kemudian, ia menyodorkan cangkir-cangkir tersebut dan mulai mengobati luka Myung-Jae. Myung-Jae sedikit meringis ketika obat itu mulai menyentuh lukanya.

“Terima kasih kalian telah menolong Haruka. Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi padanya kalau tidak ada kalian,” kata ibu gadis itu setelah selesai mengobati luka Myung-Jae, kemudian duduk di samping anak gadisnya itu. Gadis itu masih memasang raut cemas. Matanya tampak sembab karena bekas air mata yang keluar dari matanya. Oh, jadi nama gadis itu Haruka. Mereka bahkan belum sempat menanyakan nama gadis itu.

“Yuki-san yang pertama kali melihat kejadian itu,” gumam Myung-Jae angkat bicara sementara dirinya masih meringis karena lukanya.

Yuki menyesap tehnya, lalu tersenyum. “Tapi, berkat mereka.” Ia menunjuk kedua laki-laki bersahabat itu. “Preman-preman itu berhasil dikalahkan. Apalagi Jong-Min-san yang berhasil melumpuhkan preman-preman itu.” Matanya beralih pada Jong-Min, lalu kembali pada wajah ibu Haruka dan melanjutkan, “Aku tidak menyangka kalau ternyata Jong-Min-san diam-diam dapat melakukannya. Dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ketika dia melumpuhkan satu persatu preman itu dengan mudahnya,” kata Yuki bercerita panjang lebar, kemudian menaruh cangkirnya di atas meja.

“Tentu saja, sabuk hitam Tae Kwon Do,” gumam Myung-Jae yang masih saja dapat bercanda ketika dirinya sedang terluka. Ia meringis tepat setelah ia selesai bicara. Perkataan Myung-Jae sontak membuat seisi rumah menggumamkan sesuatu yang menunjukkan kekaguman mereka pada sosok Jong-Min.

Jong-Min mengambil cangkir berisi teh. “Myung-Jae, sudahlah jangan banyak bicara. Kau sedang terluka,” kata Jong-Min merasa hal itu tidak perlu Myung-Jae sebarkan, apalagi pada orang baru seperti Haruka dan ibunya. Kemudian, ia menyesap minumannya.

“Kau tidak pernah bercerita kalau kau jago bela diri taekwondo,” kata Yuki sambil mengerutkan keningnya dan menatap Jong-Min.

Jong-Min menaruh cangkirnya, lalu balas menatap Yuki. “Untuk apa aku bercerita padamu?”

“Oh.” Mata Yuki seketika melebar seperti baru tersadar akan sesuatu. “Kalau begitu, kenapa tadi kau bersembunyi di belakang Myung-Jae? Kalau saja kau yang maju duluan mungkin masalah akan cepat selesai dan Myung-Jae tidak akan terluka seperti ini,” katanya menjelaskan alasan perubahan raut mukanya.

“Itu tidak semudah yang kau pikirkan. Tadi saja aku sudah hampir mati ditusuk oleh pecahan botol,” balas Jong-Min tidak mau kalah. Ia pikir kemampuan bahasa Jepangnya semakin meningkat akibat dirinya yang akhir-akhir ini sering berdebat dengan gadis freak itu.

“Tapi setidaknya hal itu akan memperbaiki keadaan. Coba saja kau bayangkan seandainya—.”

“Diamlah, kau selalu banyak bicara. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.”

Ibu Haruka tertawa melihat kelakuan mereka. Jong-Min pikir kelakuannya benar-benar memalukan. Bagaimana tidak, membuat keributan dengan berdebat di rumah orang yang baru saja mereka kenal. “Sudahlah, tidak perlu dipermasalahkan. Semuanya sudah terjadi. Mungkin setiap orang akan mempunyai cara pandang yang berbeda dalam menyikapi suatu masalah. Jadi, tidak ada yang perlu disalahkan. Mungkin Jong-Min-san mempunyai pilihannya sendiri mengapa ia melakukan hal itu.” Kata-katanya terdengar begitu bijak dan menenangkan. Untuk sesaat, laki-laki itu teringat ibunya sendiri.

“Kalau begitu, kami pamit karena sudah larut malam. Terima kasih atas bantuannya. Ehm, maaf kalau sudah merepotkan,” gumam Myung-Jae angkat bicara setelah selesai menyesap tehnya.

“Oh, ya. Seharusnya ibu yang berterima kasih pada kalian karena sudah mau repot-repot menolong Haruka. Sekali lagi, terima kasih banyak. Oh, ya. Ngomong-ngomong kalian teman sekelas Haruka?”

“Bukan,” jawab mereka bertiga secara bersamaan.

“Oh, begitu.” Ibu Haruka mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian beralih menatap anaknya. “Nah, Haruka sekarang sudah tidak apa-apa. Lain kali, berhati-hatilah dan usahakan jangan berjalan sendirian.” Ibu Haruka menghela napas sejenak, lalu melanjutkan, “Jadi, tidak apa-apa, kan? Kau sudah bisa sekolah lagi besok.”

Gadis itu masih memasang raut cemas, lalu menggelengkan kepalanya. “Aku… masih… takut,” gumamnya terbata-bata. Gadis itu pasti masih trauma akan kejadian di jalanan sempit tadi.

“Ah!” Yuki menepuk tangannya. “Tidak usah khawatir. Besok kita akan pergi ke sekolah bersama, ya kan?” Yuki menatap dua teman laki-lakinya itu. Myung-Jae sudah mengangguk setuju sementara Jong-Min masih bergeming.

Jong-Min merasakan sebelah kakinya diinjak Yuki yang duduk di sebelahnya. “Aaa… ya,” jawab Jong-Min pada akirnya. Ia tahu, gadis itu memaksanya untuk setuju.

“Lagipula, apartemen kami tidak terlalu jauh dari rumahmu,” kata Yuki melanjutkan.

Haruka tampak malu-malu. “Terima kasih,” gumamnya sambil tersenyum tipis. “Tapi maaf kalau sudah merepotkan.”

“Tidak apa-apa. Siapa tahu kita bisa menjadi teman baik, bahkan sahabat, mungkin?” gumam Yuki sambil tersenyum ramah. Ia mulai bangkit dari duduknya, diikuti oleh yang lainnya.

“Ah, jadi kalian tinggal satu apartemen?” tanya ibu Haruka sementara dirinya mengantar mereka bertiga ke ambang pintu depan rumahnya.

“Ya,” jawab Myung-Jae. “Yuki-san sudah lebih dulu tinggal di sana. Aku dan Jong-Min-san pendatang baru.”

“Oh, kalau begitu berhati-hatilah. Sekali lagi, terima kasih banyak.”

“Iie. Dō itashimashite.”

Untuk saat ini, Jong-Min merasa hatinya begitu lega karena dirinya berhasil melalui peristiwa yang baru saja ia alami selama hidupnya. Percayalah, membayangkan ketika hidup akan segera berakhir bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ia bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup.

Dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s