Friendship [Part 4]

Jong-Min, Myung-Jae dan Yuki menghentikan sepedanya tepat di depan sebuah rumah mungil yang baru saja mereka lihat kemarin. Rupanya terlihat masih sama, hanya saja tampak lebih jelas karena ini pagi hari. Yuki sudah terlanjur berjanji pada Haruka bahwa mereka akan berangkat ke sekolah bersama-sama. Ia hanya ingin membantu gadis itu agar tetap bersekolah dan tidak ingin kejadian tadi malam menjadi penghambat untuk bersekolah, walaupun ia tahu gadis itu pasti masih sedikit trauma.

“Kalian tunggu di sini saja. Biar aku yang masuk ke dalam,” kata Yuki menyuruh dua laki-laki itu untuk menunggu di luar sementara dirinya masuk ke dalam dan menjemput Haruka.

Ia turun dari sepedanya dan berjalan melewati pagar pendek, berdiri tepat di depan pintu rumah Haruka kemudian mengetuknya.

Pintu tak kunjung membuka. Ia mencoba mengetuknya sekali lagi dan pintu mengayun terbuka.

“Oh, Yuki-san. Tunggu sebentar, ya.” Ibu Haruka yang tadi sempat membukakan pintu telah kembali ke dalam rumah. Pintu itu terbuka separuhnya sehingga Yuki dapat melihat ke dalamnya. Ia melihat Ibu Haruka dan Haruka yang sepertinya tengah berdiskusi. Ia pikir Ibu Haruka masih berusaha membujuk putrinya itu untuk bersekolah. Haruka menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali. Mungkin ia harus bertindak.

“Haruka!” Yuki menerobos masuk ke dalam rumah walaupun ia tahu itu tidak sopan rasanya. “Ayo, tidak perlu takut. Ada kami yang akan menemanimu.”

Yuki mengulurkan sebelah tangannya menunggu untuk disambut Haruka. Gadis itu tampak masih berpikir-pikir.

“Ayo, mereka sudah menunggumu di luar.”

Gadis itu beralih menatap ibunya menanti jawaban. Ibunya hanya mengangguk untuk memastikan. Akhirnya Haruka menyambut uluran tangan Yuki dan mengikuti Yuki berjalan ke luar.

“Kami berangkat dulu. Mata ashita!” Yuki melambaikan tangan pada ibu Haruka tepat di ambang pintu, lalu berjalan menuju sepedanya sementara Haruka masih berpegangan pada tangan Yuki.

Myung-Jae tersenyum pada Haruka ketika gadis itu berjalan mendekat, sementara Jong-Min seperti biasa dengan ekspresi datarnya dan sedikit mengangguk.

“Maaf agak lama. Tadi aku harus sedikit memaksanya,” bisik Haruka pada telinga Myung-Jae, kemudian menaiki sepedanya dan Haruka duduk di belakangnya.

Melajukan sepeda mereka sambil menikmati pemandangan musim semi yang mereka lewati.

 

***

 

Tidak ada hal menarik yang terjadi di sekolah. Hanya dimulai dari belajar di kelas, pergi istirahat ke kantin bersama Myung-Jae—mungkin juga dengan Yuk—lalu kembali ke kelas untuk melanjutkan kelas yang begitu membosankan dan melelahkan. Mungkin, seperti itulah menurut pandangan seorang Jong-Min yang kini tengah menghadapi dua orang teman sekelompoknya—Akihiro dan Yuki—di ruang apartemennya. Mereka sepakat untuk melanjutkan kerja kelompok di apartemennya dan besok di rumah Akihiro. Myung-Jae tengah pergi sebentar untuk menemani Haruka pulang ke rumahnya. Tentu saja Myung-Jae yang harus melakukannya mengingat ia adalah seorang laki-laki yang bisa melindungi seorang perempuan, jadi bukan Yuki yang melakukannya. Ia juga tahu jalan menuju rumah Haruka dan jalan menuju apartemennya, Akihiro juga tidak bisa melakukannya.

Jong-Min tahu, dirinya dapat melakukan dua-duanya, namun ia berbeda dengan Myung-Jae yang dapat dengan mudah melakukan pembicaraan dengan seseorang. Bayangkan saja apabila dirinya yang harus menemani Haruka, mungkin saja tidak akan ada pembicaraan diantara mereka kecuali gadis itu yang memulai.

Masalahnya sekarang adalah, ia tengah berada bersama dua orang teman Jepangnya, di ruang apartemennya tanpa Myung-Jae. Ia tidak tahu harus bertanya pada siapa jika ada pembicaraan mereka yang tidak dimengerti olehnya. Ia hanya berharap sahabatnya itu cepat datang.

“Jadi, bisa kita mulai sekarang?”

 

***

 

Myung-Jae tengah menaiki tangga menuju ruang apartemennya. Ia baru saja mengantar Haruka ke rumahnya. Selama perjalanan, ia tak banyak melakukan pembicaraan dengan gadis itu. Sesekali ia bertanya dengan pertanyaan seputar identitasnya, seperti jumlah saudara kandungnya, di kelas mana ia berada—yang ternyata ia masih tingkat satu SMA, sama seperti Myung-Jae, Jong-Min dan Yuki, hanya saja beda kelas— dan apa kegiatan yang dilakukannya sehari-hari. Gadis itu tidak banyak bicara tanpa ditanya terlebih dahulu. Mungkin karena ia merasa canggung dengan orang yang baru dikenalnya. Oleh karena itu, Myung-Jae akhirnya bercerita tentang dirinya dan sedikit mengulas tentang Korea—negara asalnya.

Gadis itu berbicara ketika Myung-Jae sampai di depan pagar rumah gadis itu. “Terima kasih banyak Myung-Jae-san. Maaf kalau merepotkan. Sampaikan salamku pada Yuki-san dan Jong-Min-san.” Gadis itu tersenyum, lalu berjalan menjauh dan menghilang di balik pintu rumahnya.

Myung-Jae melambaikan tangan untuk yang terakhir kalinya, kemudian melajukan sepedanya kembali ke apartemen. Ia pikir, gadis itu adalah gadis yang ramah dan sopan, namun sedikit pemalu. Tanpa disadarinya, gadis itu mengingatkannya kepada seseorang yang kini berada di Korea—rambut panjang hitamnya yang terjuntai ke belakang punggungnya, tampak belakang mereka terlihat serupa. Sempat ia berpikir bahwa itu adalah dia, namun ia tahu gadis itu adalah Haruka. Ah, andai saja ia ada di sini bersamanya, ia rindu padanya.

Myung-Jae membuka pintu apartemen. Pintu itu tidak terkunci. Ia seketika mengangkat alisnya ketika mendapati apa yang pertama kali ia lihat ketika membuka pintu apartemennya.

Akihiro, dan tentunya sahabatnya itu—Jong-Min tengah asyik bermain playstation, sedangkan Yuki tampak berpikir keras di depan layar laptop yang sepertinya ia sedang mengerjakan tugas kelompok. Mereka begitu memusatkan perhatian pada permainannya sampai-sampai tidak merasakan kehadiran Myung-Jae.

Yuki meninggalkan laptopnya dan bergerak mendekati Jong-Min. “Kau kalah, sekarang giliranku,” gumamnya yang sedang berusaha merebut joystick dari tangan Jong-Min.

Jong-Min tidak memberikan joystrick itu kepada Yuki, ia malah menjauhkannya dari gadis itu. “Tidak. Tadi kau sudah bermain dua kali. Jadi, sekarang giliranku lagi.”

“Apa? Itu kan salahmu. Kenapa kau lama sekali mengerjakan tugasmu?”

“Sudahlah, lebih baik kau kembali mengerjakan tugasmu. Lagipula tugasmu belum selesai, kan?”

“Tidak. Sekarang giliranmu yang melanjutkannya karena kau sudah kalah melawan Akihiro.”  Oh, rupanya mereka sedang melakukan sebuah pertarungan. Siapa yang kalah maka harus melanjutkan tugas kelompok. Ide yang cukup menarik. Tapi sepertinya tidak adil bagi yang selalu menang. Dan, kali ini Akihiro yang menjadi juaranya.

“Hei, Yuki! Kau ini kan anak perempuan. Kenapa kau memainkan permainan anak laki-laki?”

“Lalu, apa masalahnya?”

“Lebih baik sekarang giliranku,” kata Myung-Jae setelah bergerak dengan cepat untuk merebut joystick dari tangan Jong-Min dan mulai memainkan permainannya melawan Akihiro.

“Myung-Jae-ssi, kapan kau datang?” tanya Jong-Min yang menatapnya dengan bingung.

Myung-Jae tidak menjawab pertanyaan Jong-Min. ia hanya menatap temannya itu sambil tersenyum lebar, lalu beralih menatap layar televisi karena permainan akan segera dimulai.

Yuki dan Jong-Min hanya dapat pasrah tidak melakukan apa-apa. Tidak beranjak menuju depan layar laptop untuk melanjutkan pekerjaan kelompok mereka. Asyik memperhatikan aksi dari karakter yang sedang Akihiro dan Myung-Jae mainkan.

“Ngomong-ngomong, sudah sejauh mana tugas kelompok kita?”

 

***

 

Jong-Min menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Dirinya sudah cukup lelah hari ini, terutama dengan kedua tangannya yang mulai terasa pegal karena cukup lama memainkan joystick dengan gerakan cepat tanpa henti—berusaha untuk memenangkan karakternya melawan karakter Akihiro. Laki-laki itu ternyata memiliki hobi bermain game, sehingga tidak salah kalau laki-laki itu selalu memenangi pertarungan dan hal itu yang menjadikannya mendapat bagian tugas paling sedikit.

Jong-Min melirik jam dinding yang terletak tepat di atas pintu masuk, sudah pukul tujuh malam. Akihiro sudah pulang satu jam yang lalu, begitu juga dengan Yuki yang sudah kembali ke apartemennya. Kini dirinya hanya seorang diri di apartemen. Myung-Jae sedang pergi keluar sebentar. Ia akan menunggu temannya itu untuk makan malam.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu terdengar melalui telinganya. Aneh, biasanya Myung-Jae selalu langsung masuk tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia terlalu malas untuk beranjak dari sofa, jadi ia membiarkannya dan menunggu Myung-Jae untuk langsung membuka pintunya.

Tok tok tok.

Bunyi ketukan pintu itu terdengar lagi. Terpaksa ia bangkit dan berjalan membukakan pintu. Mungkin saja dugaannya salah, itu bukan Myung-Jae. Mungkin saja itu bibi apartemen atau—

“Hai!”

Ya, atau mungkin gadis itu lagi dan ternyata memang benar. “Kau lagi,” gumam Jong-Min ketus. Ia melipat tangannya di depan dada dan berdiri di ambang pintu. “Ada apa lagi?”

Yuki memamerkan senyum lebarnya. “Hmm… begini. Aku…” Ia memainkan jari-jari tangannya, sengaja memperlambat ucapannya sementara Jong-Min menunggu kata-katanya selanjutnya. “Ehm… maksudku aku ingin berkata kalau kompor di apartemenku masih rusak.”

Alis Jong-Min terangkat. “Lalu?”

“Hmm… kau punya makanan?”

Mata Jong-Min melebar. “Apa? Kenapa kau tidak membeli makanan di luar saja?”

“Uangku sudah mulai menipis. Lagipula aku takut keluar sendirian malam-malam.”

“Kenapa tidak minta pada bibi saja?”

Yuki memutar bola matanya. “Jarak apartemen kalian lebih dekat dengan apartemenku. Lagipula aku sudah terlalu banyak merepotkan bibi.”

“Ya, kau memang merepotkan,” gumam Jong-Min terlalu jujur.

Yuki mendesah keras. “Mana Myung-Jae oppa?”

Jong-Min merubah posisinya berdiri. “Dia sedang keluar menghubungi pacarnya.”

“Wah?” Mata Yuki melebar seketika. “Myung-Jae oppa sudah punya pacar?” Gadis itu masih menunjukkan ekspresi tak percayanya. “Dia tidak pernah bercerita padaku—.”

Jong-Min berdecak kesal. Ia mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “Haruskah semua orang bercerita tentang kehidupannya padamu?” Ia kembali melipat tangannya sambil memiringkan kepalanya. “Lagipula, kenapa kau mencarinya? Kau menyukainya?”

Yuki menggeleng pelan. “Bukan begitu maksudku. Hanya saja kalau  dia yang membukakan pintunya, ia pasti langsung menyambutku dengan ramah. Tidak sepertimu.”

Jong-Min memutar matanya. “Aku-bukan-Myung-Jae,” gumamnya. Kata-katanya sengaja dipisah-pisahkan.

Yuki mengganggukkan kepalanya. “Ya, aku tahu itu.” Gadis itu mendesah pelan. “Jadi, kau punya makanan?”

 

***

 

Dengan terpaksa Jong-Min membiarkan gadis itu memasuki ruang apartemennya untuk menumpang makan malam. Sial, sudah berapa kali dirinya bertemu dengan gadis freak itu dalam sehari? Ia tidak tahu kapan dirinya akan terbebas dari gadis itu. Bagaimana bisa terbebas kalau gadis itu tinggal di sebelah apartemennya, berada satu sekolah—bahkan satu kelas—, dan berhubung apartemen dan sekolahnya sama, mereka akan selalu pergi dan pulang bersama-sama. Ia tidak akan bisa terbebas dari gadis itu walaupun hanya sehari saja.

Jong-Min tengah memperhatikan Yuki yang tengah menyantap makanan buatan Myung-Jae dengan lahap. Ia terpaksa ikut makan dan meninggalkan Myung-Jae yang sampai saat ini belum pulang. Aneh, ke makna perginya sahabatnya itu malam-malam begini?

“Hei, Jong-Min oppa. Kenapa menatapku seperti itu?” Yuki tersadar kalau dirinya sedang diperhatikan.

“Kau makan cepat sekali, dan porsi makanmu cukup banyak.” Jong-Min merasa kalau Yuki makan dengan sangat cepat. Sempat ia berpikir kalau gadis itu langsung menelan makanannya tanpa perlu mengunyahnya sebanyak tiga puluh dua kali—sesuai dengan yang dianjurkan untuk kesehatan.

“Oppa, siapa pacar Myung-Jae oppa? Aku tidak menyangka dia sudah punya pacar,” gumam Yuki yang masih sibuk mengaduk-aduk makanannya tanpa mempedulikan pernyataan Jong-Min tadi.

Jong-Min mendengus kesal. “Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil kita dengan sebutan ‘oppa’!”

Yuki beralih menatap Jong-Min, lalu berkata, “Yasudah, maaf. Jadi, siapa pacar Myung-Jae-san?”

“Kenapa kau begitu ingin mengetahuinya?”

Yuki mengangkat bahu tak acuh. “Aku hanya ingin tahu. Dia kan… yah, cukup tampan. Apakah dia mendapatkan seorang gadis yang cantik?”

“Tentu saja,” sahut Jong-Min cepat lalu melanjutkan, “Lagipula dia tidak ada di sini. Dia ada di Korea.”

“Ooh, begitu rupanya.” Jong-Min merasa kata ‘oh’ terasa dilebih-lebihkan. Yuki menyantap satu sendok makanannya, kemudian kembali menatap laki-laki di hadapannya itu. “Lalu, bagaimana denganmu? Jangan-jangan kau juga sudah punya pacar yang tinggal di Korea, ya?”

Napas Jong-Min tercekat. Bagaimana bisa topik pembicaraannya menuju ke arah tentang hubungan percintaannya. Ini benar-benar sudah kacau. Ia menggeleng pelan. “Tidak.”

“Masa?”

“Ya. Untuk apa aku berbohong,” katanya tak acuh, kemudian melanjutkan menyantap makanannya yang selama beberapa saat tadi terhenti.

Terdengar suara pintu mengayun terbuka. Pasti itu Myung-Jae. Suara langkah kakinya terdengar semakin dekat menuju ruang dapur.

“Hei, Yuki-san ada di sini rupanya,” gumam Myung-Jae ketika dirinya sampai di ruang dapur, lalu segera mengambil makan dan duduk di sebelah Jong-Min.

“Myung-Jae-san!” seru Yuki tiba-tiba.

“Ya?”

“Aku baru tahu kalau ternyata kau sudah punya pacar.”

Mata Myung-Jae sesaat melebar. “Darimana kau—.“

Jong-Min angkat bicara sambil menatap sahabatnya itu. “Myung-Jae-ssi, aku berjanji hanya dia yang tahu.”

Gadis itu benar-benar terlalu banyak bicara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s