Friendship [Part 5]

Kriiing.

Bel tanda istirahat berbunyi. Sensei baru saja pergi meninggalkan kelas, diikuti oleh sebagian besar murid yang berhamburan keluar menuju kegiatan mereka masing-masing. Ada pula yang masih tinggal di kelas dan menghabiskan waktu mereka dengan belajar bersama. Ada juga yang seorang diri tengah asyik membaca sebuah komik.

Jong-Min memperhatikan gerak-gerik Yuki yang sedikit terlihat aneh. Gadis itu dengan terburu-buru meninggalkan kelas sambil senyum-senyum sendiri.

“Jong-Min-ssi!” Myung-Jae menepuk bahu Jong-Min. “Aku akan ke perpustakaan sebentar. Kau ke kantin duluan saja,” katanya, lalu berjalan menuju pintu dan menghilang di baliknya.

Jong-Min ingin tahu apa yang tengah terjadi pada gadis freak itu. Ia mencoba untuk mengikutinya keluar kelas dan mendapati gadis itu yang sepertinya sedang mengintip diam-diam di sebuah sudut koridor. Gadis itu sesekali berbalik dan mengeluarkan seulas senyum di bibirnya. Kemudian ia kembali mengintip.

“Apa yang sedang kau lakukan?” kata Jong-Min setelah berada begitu dekat dengan Yuki.

“Ssst… jangan berbicara keras-keras, nanti dia dengar. Aku sedang memata-matainya.” Yuki tampak memata-matai orang itu dengan muka serius. “Oh, Tuhan. Dia tampan sekali.”

Jong-Min penasaran dan mencoba ikut mengintip siapa yang sebenarnya sedang Yuki mata-matai. Ia melihat ke balik dinding dan terdapat dua laki-laki di sana. Yang satu berambut pendek berwarna hitam dan yang satunya lagi berambut panjang, namun sepertinya laki-laki itu sengaja mengecat rambutnya ala orang barat dengan cat rambut warna blonde.

Jong-Min mengangkat alisnya. “Siapa? Yang mana?” gumamnya setengah berbisik. Ia masih mengintip di dari balik dinding.

“Dia yang berambut panjang.”

“Oh, yang itu,” kata Jong-Min datar sambil melipat tangannya di depan dada. “Kau terlalu berlebihan.”

Yuki mendengus pelan, lalu menatap Jong-Min tajam. “Kau tahu? Dia adalah salah satu anak populer di sekolah kita ia masih berada di tingkat pertama,” jelas Yuki.

Jong-Min berpikir-pikir. “Hmm… dia tidak satu kelas dengan kita, kan?”

Yuki memutar kedua bola matanya. “Tentu saja tidak.” Ia mengangkat sebelah tangannya seraya menjelaskan. “Kalau saja dia satu kelas dengan kita, aku tidak perlu repot-repot memata-matainya seperti ini.”

“Oke, terserah padamu saja. Lagipula, itu bukan urusanku.” Jong-Min mengangkat bahu tak acuh. “Lebih baik aku pergi ke kantin saja.”

 

***

 

“Hai, cowok-cowok!”

Yuki baru saja sampai di kantin. Ia menyusul Jong-Min dan Myung-Jae yang sudah mulai menyantap makan siangnya di salah satu meja karena tadi dirinya harus memata-matai Ryosuke—laki-laki yang mampu mengalihkan perhatiannya di sekolah. Hatinya kini tengah berbunga-bunga karena tadi ia mendapat sedikit informasi mengenai Ryosuke, seperti siapa saja teman-temannya dan apa kebiasaan yang dilakukannya.

“Yuki-san sepertinya sedang bahagia hari ini,” seru Myung-Jae di sela-sela makannya, sementara Yuki baru saja menarik kursi di depan laki-laki itu.

“Ya, dia baru saja memata-matai cowok impiannya,” gumam Jong-Min tak acuh.

Myung-Jae terkekeh pelan. “Seperti apa cowok impian Yuki?”

“Tentu saja ia orang yang tampan, populer, baik hati, dan tidak sombong.” Yuki mulai duduk dan menyantap makanannya. Kegembiraan masih terpampang di wajahnya.

“Oh, apakah itu Haruka-san?”

Yuki membalikkan tubuhnya untuk mengikuti arah mata Myung-Jae. Ya, benar. Haruka-san terlihat sedang mengantre mengambil makan siangnya sendirian. Yuki sempat berpikir apakah gadis itu akan menyantap makan siang sendirian? Sungguh bukan hal yang menyenangkan dan tentu membosankan. Apakah setidaknya ia mempunyai seorang teman?

Yuki terus mengikuti arah gerak Haruka. Ternyata benar dugaannya, ia menuju salah meja kosong yang terletak tiga meja darinya dan menyantap makan siangnya seorang diri. Ia berpikir kalau sebaiknya ia mengajaknya bergabung dengan mereka. “Tunggu sebentar!”

Yuki meninggalkan makan siangnya dan menghampiri meja Haruka. “Hai, Haruka-san!” sapanya ramah setelah sampai tepat di samping meja Haruka, membuat gadis berambut panjang itu berhenti makan dan menoleh ke arahnya.

Haruka balas tersenyum tipis. “Oh, hai Yuki-san!” Gadis itu kembali melanjutkan makan siangnya.

“Hmm… kalau kau tidak keberatan, maukah kau bergabung dengan kami?” Yuki mengangkat ibu jarinya dan menunjuk ke arah mejanya. Terlihat Jong-Min dan Myung-Jae sedang menatap ke arah mereka. “Aku tahu sepertinya lebih baik kalau kau tidak menyantap makan siangmu sendirian. Itu pasti membosankan,” jelas Yuki sambil tersenyum untuk meyakinkan Haruka untuk segera bergabung dengan mereka.

Haruka menoleh ke meja Yuki dan kawan-kawan sejenak, lalu kembali menatap Yuki. Tak lama kemudian, ia menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia setuju untuk bergabung.

“Baiklah, ayo!”

Akhirnya Yuki berhasil membujuk Haruka untuk bergabung. Ia tampak menghampiri meja mereka dengan sungkan. Ia menundukkan kepalanya sedikit, kemudian menarik salah satu kursi kosong.

Mereka menyantap makan siang dalam keheningan. Tiba-tiba keheningan itu terpecahkan oleh suara Yuki. “Oh Tuhan, itu dia.” Mereka berempat seketika mengikuti arah pandang Yuki yang tertuju pada sekelompok orang yang baru saja menuju salah satu meja kosong yang sebelumnya ditempati oleh Haruka.

“Oh, dia si ‘rambut blonde’ itu,” gumam Jong-Min ketus.

Yuki mendengus kesal sambil menatap Jong-Min tajam. “Namanya Ryosuke.” Entah sejak kapan laki-laki itu menggunakan julukan ‘rambut blonde’ kepada laki-laki yang ia sukai. “Oh, Tuhan. Dia membuatku tergila-gila.” Mata Yuki kembali tertuju pada Ryosuke.

“Apanya yang spesial? Dia terlihat biasa saja. Kupikir Myung-Jae-ssi masih terlihat lebih tampan.” Jong-Min menggerakkan dagunya ke arah sahabatnya itu.

“Kau gila! Myung-Jae sudah punya pacar, jadi aku tidak akan merebutnya.” Yuki tersenyum lebar, lalu mengedipkan sebelah mata pada Myung-Jae.

“Benarkah?” gumam Haruka tidak percaya. Sejak kehadirannya ketika bergabung, baru kali ini ia mengucapkan sepatah kata.

Jong-Min tampak memutar bola matanya. “Ssst! Yuki-san!”

Yuki tersadar kalau ia baru saja membocorkan rahasia kalau Myung-Jae sudah punya pacar kepada Haruka. Gadis itu menutup mulutnya cepat-cepat. “Gomen ne!” Kemudian gadis itu tersenyum lebar ke arah Myung-Jae.

Jong-Min tak kuasa menghadapi kelakuan gadis yang terlalu banyak bicara dan tidak dapat menyimpan rahasia itu. Ia menepuk jidatnya dan tampak menyesal telah memberitahu Yuki.

“Oke, sekali lagi maafkan aku. Aku akan menjamin hanya sebatas kita saja yang tahu.”

 

***

 

Mereka sampai di depan sebuah rumah mewah ber cat putih dan lantai dengan ubin mengkilat milik Akihiro. Mereka memang sudah memuat kesepakatan untuk mengerjakan lanjutan tugas kelompok di rumah Akhiriho hari ini. Sebelumnya, mereka baru saja mengantar Haruka pulang ke rumahnya. Walaupun Yuki telah mengajaknya untuk bergabung ke rumah Akhirio, namun Haruka menolak dengan halus.

“Wah, Akihiro. Rumahmu besar juga, ya?” seru Yuki. Dari nada bicaranya, ia tampaknya terkagum-kagum pada rumah Akihiro.

Akihiro menggaruk kepalanya. “Ah, bisa saja. Ayo masuk!”

Mereka membuka sepatu dan meletakkannya di depan undakan yang terletak di sebelum pintu masuk berbahan kayu. Akihiro membuka pintu rumahnya. Dari luar, tampak bagian dalam rumah itu yang bernuansa mewah. Lampunya menggantung tinggi di sebuah ruangan yang dapat disebut sebagai ruang tamu. Sebuah meja besar rendah dan jajaran kursi empuk berada di dalam ruangan itu. Sebagai penambah kesan mewah, sebuah grand piano diletakkan di ruangan itu, tepatnya di sebelah tangga menuju lantai dua.

“Jadi, kita akan mengerjakan tugasnya di mana? Di atas? Di bawah? Di halaman? Atau di kamarku mungkin? Oh, ya. Kalian mau minum apa?”

“Ngomong-ngomong…,” Myung-Jae bergumam, membuat seluruh perhatian tertuju padanya. “Apakah kita akan menggunkaan taruhan playstation lagi?” Ia mengangkat alisnya menunggu jawaban.

Yuki mengangkat kedua tangannya. “Tidak. Jangan-lagi. Kalau begitu, yang jago dalam permainan akan mendapatkan tugas lebih sedikit. Dan itu rasanya tidak adil.” Gadis itu melipat tangannya di depan dada, kemudian matanya tertuju pada Akihiro, seseorang yang dimaksud Yuki dalam pembicaraannya.

Akihiro tersenyum lebar, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita memakai tradisi hompimpah saja? Yang kalah akan mengerjakan tugas duluan, diakhiri dengan yang menang. Yang tidak sedang mendapat giliran boleh melakukan apa saja. Hmm… termasuk bermain playstation misalnya?”

“Oke, setuju!”

“Myung-Jae-ssi, maaf, tapi sepertinya kali ini kau yang akan mengerjakan tugasnya duluan,” kata Jong-Min sambil menepuk pundak temannya itu. Ia tahu, kalau temannya yang satu itu selalu kalah ketika bermain hompimpah. Mungkin keberuntungan tidak berada padanya setiap kali bermain hompompah.

“Oh, ya? Siapa bilang?” Sebelah bibir Myung-Jae terangkat, menandakan ia menantang temannya itu.

“Ayo lakukan!”

Semua pilihan pada masing-masing tangan dijatuhkan. Sesuai dugaan Jong-Min, Myung-Jae kalah pada putaran pertama, menandakan ia harus mengerjakan tugas terlebih dahulu. Merek tertawa ketika melihat Myung-Jae berjongkok dan memegangi kepalanya, menyesali kekalahannya itu. Sepertinya sebuah awan hitam tak kasat mata kini sedang berada di atas kepalanya.

Permainan seketika berakhir, dengan Akhiro sebagai pemenang, Jong-Min kedua, dan Yuki ketiga. Sepertinya Akhirio memang dilahirkan jago di berbagai jenis permainan.

“Selamat mengerjakan Myung-Jae! Semoga pekerjaanmu menyenangkan,” seru Jong-Min setengah meledek kekalahan sahabatnya itu.

“Ayo kita bermain playstation sambil menunggu Myung-Jae selesai mengerjakan tugasnya!” Akihiro berseru dengan penuh semangat.

Sementara Myung-Jae hanya memasang wajah pasrah menerima kekalahannya itu.

 

***

 

Langit sudah hampir gelap. Jong-Min, Myung-Jae, dan Yuki tengah dalam perjalanan pulang dari rumah Akihiro. Tugas kelompok mereka pada akhirnya selesai dikerjakan, walaupun sepertiya hari ini Myung-Jae lebih banyak mengerjakan bagian tugas itu. Ya, anggap saja ini sebagai balasan akibat kemarin dirinya terlambat datang karena harus mengantar Haruka pulang terlebih dahulu.

Mereka sudah sampai di halaman apartemen, kemudian memarkir sepeda di tempatnya dan berjalan menuju ruang apartemen masing-masing.

“Myung-Jae-san!” seru Yuki tiba-tiba di tengah-tengah perjalanan mereka menuju ruang apartemen.

“Ya?”

“Aku heran, kenapa kau ingin merahasiakan kalau kau sudah punya pacar?”

Myung-Jae tersenyum setelah mendengar pertanyaan Yuki. “Aku hanya tidak ingin hubunganku terlalu diumbar dan diketahui orang banyak.” Ia menghela nasas sejenak, kemudian melanjutkan, “Bukankah kau akan merasa malu kalau hubunganmu diketahui orang banyak ketika pada akhirnya hubunganmu harus berakhir, tentu kau tidak ingin orang lain tahu akan hal ini.”

“Ah.” Seulas senyum tersungging di bibir gadis itu. Mungkin ia baru mengerti megapa selama ini Myung-Jae tidak mengumbar hubungannya.

“Tapi aku berharap itu tidak akan terjadi,” kata Myung-Jae santai. Tanpa terasa, mereka telah sampai di depan pintu apartemen.

Yuki mengangguk pelan. “Baiklah, aku mengerti.” Ia mengangkat sebelah tangannya dan jarinya membentuk huruf ‘V’. “Oke, aku berjanji tidak akan memberitahu siapa-siapa lagi tentang ini.”

“Lebih baik seperti itu,” gumam Jong-Min ketus, namun matanya tertuju pada arah lain. Myung-Jae hanya terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu.

“Pasti ia seorang gadis yang cantik. Kapan-kapan kau ajak dia ke sini. Daaah!”

Myung-Jae mengangguk pelan, kemudian beranjak memasuki apartemennya yang tanpa disadari telah dibuka oleh Jong-Min. Ia menaruh tas dengan sembarang, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, tepat di sebelah Jong-Min. Mereka terlalu lelah hari ini. Sebenarnya lelah karena telah mengerahkan tenaga untuk melawan karakter Akhiro dalam playstation yang memang sulit untuk dikalahkan. Walau bagaimanapun, hari ini tetap hari yang menyenangkan.

“Myung-Jae-ah!” seru Jong-Min tiba-tiba. Kepalanya masih bersandar pada sandaran sofa dan matanya terpejam. “Aku lapar.”

“Aku juga.” Mereka memang belum makan dan hanya makan makanan ringan ketika berada di rumah Akihiro. Tentu saja itu tidak disebut sebagai makan.

Myung-Jae segera beranjak dari tempatnya, kemudian melangkah menuju dapur. Ia mulai membuka-buka isi lemari. “Hanya ada ramen bungkusan,” gumamnya separuh ditujukan pada Jong-Min. Entah laki-laki itu mendengarnya atau tidak.

Tak lama kemudian, Jong-Min beranjak dan menghampirinya menuju dapur. “Aku punya ide bagus.” Ia menyodorkan ponsel miliknya pada Myung-Jae.

“Apa ini?” tanya Myung-Jae tidak mengerti. Tatapannya beralih antara ponsel dan Jong-Min.

Mulut Jong-Min sedikit terangkat. “Pizza delivery. Kita makan itu saja malam ini.” Ia menaruh ponselnya ke tangan Myung-Jae. “Kau saja yang menelepon. Kita tahu kau yang lebih mahir dalam bahasa Jepang.”

“Hmm… baiklah.”

Terdengar nada sambung. Mereka akhirnya berhasil memesan pizza berukuran sedang dengan topping keju dan daging.

“Katanya pizza nya akan sampai dalam waktu 20 menit,” kata Myung-Jae setelah menutup telepon.

Sementara itu, Jong-Min telah kembali duduk di sofa, namun ada yang berbeda kali ini. Ia tengah memegangi gitarnya, bersiap memainkan sebuah lagu. Myung-Jae menghampiri sahabatnya itu dan duduk di sebelahnya. Ia mulai memperhatikan gerakan tangan Jong-Min yang sudah lihai dalam berpindah dari satu kord ke kord lainnya dengan cepat.

Geuh den nah eh sarang beet~

       Jong-Min selesai memainkan lagunya. Myung-Jae memperhatikan dengan terkagum-kagum. Tiba-tiba pikirannya dilayangkan pada seseorang. “Aku berharap bisa membawakan lagu itu untuk Sun-Young,” gumamnya. Tangannya bertopang pada dagunya.

“Kau bisa melakukannya,” kata Jong-Min dengan nada penuh keyakinan. Ia baru hendak memainkan lagu lagi, namun tiba-tiba dirinya seperti teringat sesuatu. “Oh ya, aku ingin bertanya suatu hal yang bersifat pribadi padamu.”

Myung-Jae ragu-ragu sejenak. “Apa?”

Jong-Min menghela napas sejenak. “Apakah sulit bagimu untuk menjalani suatu hubungan, apalagi dalam jarak jauh sepertimu.”

Myung-Jae tersenyum tipis. “Tidak, selama kedua pihak saling percaya. Aku percaya Sun-Young, sebaliknya Sun-Young percaya aku. Tapi, mungkin beberapa masalah akan muncul, dan di sana kau ditantang apakah kau dapat mempertahankan itu atau tidak.” Ia menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan. “Sebagian besar masalah timbul karena rasa cemburu dan ketidakcocokan. Percayalah kau tidak akan pernah menemukan keocokan sepenuhnya sampai kapan pun, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang mempunya sifat yang sama.”

Jong-Min hanya mengangguk-angguk pelan mendengar penjelasan sahabatnya itu yang lebih berpengalaman dalam masalah hubungan.

“Aneh sekali. Tidak biasanya kau menanyakan hal yang seperti ini.” Myung-Jae terkekeh pelan. Memang benar, temannya yang bersifat dingin dan tak acuh ini tidak pernah membahas hal yang seperti ini sebelumnya.

“Hmm… hanya ingin tahu. Bukankah kita juga harus belajar dari pengalaman orang lain?”

“Kau benar.” Myung-Jae menunjuk gitar Jong-Min dengan dagunya. “Kapan-kapan ajari aku.”

Jong-Min melirik gitarnya sejenak. “Bukan hal yang sulit. Percayalah.” Baru saja ia hendak memainkan sebuah lagu lagi, sebuah pikiran sepertinya menghentikannya lagi. Matanya beralih pada Myung-Jae. “Hei, Mung-Jae-ssi, tumben Yuki tidak menumpang makan.”

Myung-Jae mengangkat bahu tak acuh. “Entahlah, mungkin kompornya sudah selesai diperbaiki.”

“Bagus kalau begitu. Aku akan merasa rugi kalau bagian pizza ku diambil olehnya.”

 

***

Entah sudah berapa kali Jong-Min mengubah posisi tidurnya. Ia meraih bantal untuk menutupi telinganya dari sebuah suara yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak malam ini. Aneh, suara darimana itu? pikirnya. Pasti suara itu berada tidak jauh dari apartemennya, karena suaranya terdengar begitu jelas hingga ruang apartemennya. Ia berusaha untuk mencari sumber suara itu. Mungkin saja suara itu berasal dari apartemen sebelah… ternyata benar. Ia yakin setelah menempelkan telinganya ke dinding yang menempel dengan ruang apartemen Yuki. Ah, rupanya si cewek banyak bicara itu.

Ia beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar Myung-Jae dan mengintip sedikit dari balik pintu. Ia melihat Myung-Jae yang hanya terusik sedikit, kemudian melanjutkan tidurnya kembali. Bagaimana bisa ia melanjutkan tidur dengan nyenyak dengan suara berisik seperti ini?

Ia mengurungkan niatnya untuk mengajak Myung-Jae memarahi Yuki. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukannya sendiri. Ia mengetuk pintu apartemen Yuki dengan keras. Suara itu masih terdengar jelas dari luar. Tak lama kemudian, suara itu berhenti. Sang pemilik menghampiri pintu dan membukanya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jong-Min ketus. Ia menatap gadis yang lebih pendek darinya itu dengan penuh kekesalan.

Yuki hanya tersenyum lebar dan memamerkan giginya yang putih. “Hmm… hanya….”

“Kau tahu ini pukul berapa? Aku dan Myung-Jae tidak bisa tidur karena ulahmu.” Jong-Min berbohong dengan membesar-besarkannya.

“Gomen. Kukira suaranya tidak sekeras itu,” kata Yuki penuh penyesalan. Jong-Min tahu kalau gadis itu hanya berpura-pura menyesal.

Jong-Min mencoba mengintip ke dalam apartemen Yuki dan menemukan sebuah gitar listrik yang terhubung dengan sebuah amplifier. “Kali ini kuperingatkan kau. Jangan membuat masalah lagi,” katanya sambil menatap gadis itu tajam. Ia kemudian berbalik dan kembali menuju ruang apartemennya. Baru beberapa hari bertetangga dengannya saja sudah membuat banyak masalah, apalagi selama berbulan-bulan, bertahun-tahun.

Ia tidak dapat membayangkan jika hal itu terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s