Review: Blindness

Blindness

Seorang pengemudi mendadak buta di tengah lalu lintas kota yang ramai. Seorang bocah, pelacur, pencuri mobil, polisi juga mendadak buta. Bahkan seorang dokter mata yang sedang mendiagnosa penyakit ini pun tidak bisa terhindar dari penyakit aneh yang sama: buta putih. Dunia tak menjadi gelap, tapi justru memutih, seperti susu. Ini adalah penyakit menular, pejabat tak bernama dan tentara-tentara yang juga tak bernama mencoba untuk mengkarantina mereka. Pemberontakan pun pecah dan neraka segera menghadang.

Lihatlah ke masa depan selagi Anda masih bisa.

 

Buku Blindness ini merupakan salah satu buku karya Jose Saramago. Buku yang terbit pada tahun 1995 dan baru terbit di Indoesia pada bulan November lalu. Bahasa yang digunakan buku ini cukup berat, mungkin karena buku lama dan membuat saya membacanya berulang kali untuk memahami maksudnya sehingga membutuhkan waktu 3 hari bagi saya untuk menamatkan isi buku ini. Banyak ungkapan-ungkapan yang diberikan oleh penulis yang merupakan salah satu keunggulan dari gaya penulisan sang penulis.

Dilihat dari sinopsisnya, buku ini bercerita tentang keadaan dunia yang sedang dilanda penyakit kebutaan. Namun hal ini berbeda dengan penyakit kebutaan seperti biasanya, buta ini tidak berwarna hitam, melainkan berwarna putih. Selain itu, penyakit kebutaan ini pun menular. Siapapun yang berada dekat dengan si penderita, tak lama kemudian akan menjadi buta. Seperti yang diceritakan pada buku ini, pada awalnya penyakit kebutaan menyerang salah seorang pengemudi lalu lintas, kemudian kebutaan pun menyebar menyerang orang di sekitarnya.

Hal pertama yang terlintas dalam benak saya ketika membaca sinopsisnya adalah dunia yang mengerikan, dimana semua orang menjadi buta. Bagaimana kehidupan akan berjalan jika semua orang tidak dapat melihat? Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membeli buku ini dan tentu saja membacanya. Memang benar, dari awal cerita buku ini langsung menceritakan pada inti permasalahannya, inti dari judulnya. Sesekali penjelasan mengenai latar dan keterangan-keterangan lainnya disisipkan seiring dengan berlangsungnya jalan cerita yang beralur maju ini.

Spoiler:

Cerita berawal dari serangan penyakit kebutaan yang melanda salah seorang pengemudi lalu lintas. Ia tiba-tiba diserang kebutaan dan segera berteriak memberitahu orang-orang bahwa dirinya telah buta, namun ia mengatakan bahwa buta nya berwarna putih. Orang-orang pada saat itu belum terlalu terpengaruh dengan adanya penyakit ini dan masih menganggapnya seperti gejala kesalahan penglihatan seperti biasa yang nantinya akan sembuh dengan sendirinya. Dengan dibantu oleh salah seorang sukarelawan, diantarnya pengemudi itu pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, sukarelawan tersebut meninggalkannya dalam flat nya. Tak lama kemudian, istrinya datang dan mengetahui kejadian terserbut. Mereka baru menyadari bahwa orang yang tadi mengantar si pengemudi buta itu telah mencuri mobilnya. Tak lama kemudian, si pencuri mobil pun ikut-ikutan buta.

Akhirnya si pengemudi buta memeriksakan diri ke dokter mata. Selang beberapa hari kemudian, dokter ahli mata yang memeriksanya menjadi buta, berikut dengan beberapa pasien yang menunggu untuk diperiksa oleh dokter mata tersebut. Kemudian, sang dokter mata tersebut melaporkan kejadian ini sebagia wabah penyakit yang harus diwaspadai kepada menteri kesehatan. Dengan demikian, dilakukan isolasi bagi para penderita kebutaan dan yang diduga telah tertular. Para interniran ini diisolasi dalam sebuah rumah sakit jiwa tidak terpakai dan tidak diperkenankan keluar dari tempat tersebut selama penyembuhan belum diketemukan, dan tentu saja ada tentara yang menjaga di luar gedung. Orang-orang yang pertama diisolasi ini diantaranya adalah si pengemudi, dokter mata, berikut dengan pasien-pasiennya. Namun, ada seroang yang tidak tertular buta, yaitu sang istri dokter.

Hari demi hari berlalu dan penderita buta semakin banyak memenuhi isi bangsal di rumah sakit jiwa. Pada awalnya, keadaan di dalam rumah sakit jiwa masih bisa diorganisir. Semakin banyak penderita baru yang masuk, keadaan semakin ricuh dan terjadilah pemberontakan diakibatkan karena berebut makanan. Pemberontakan antara satu kelompok interniran dan kelompok interniran lainnya tidak dapat dihindari lagi, kemudian muncullah sebuah kebakaran yang menghanguskan sebagian isi dari rumah sakit jiwa. Para interniran panik berlarian. Istri dokter yang tidak buta yang pertama mengetahui bahwa tidak ada lagi tentara yang menjaga di luar, sehingga pada interniran dapat keluar dari gedung. Sebagian yang selamat berhasil keluar dari gedung, sebagian yang tidak terjebak di dalam bersama api yang semakin membara.

Setelah berhasil keluar, kelompok interniran yang dipandu oleh istri dokter yang dapat melihat mulai berjalan menelusuri rumah-rumah lama mereka, mencari tempat tinggal, dan tentu saja makanan. Keadaan di luar gedung tampak lebih mengerikan, karena semua orang telah menjadi buta saat ini. Keadaan kota yang penuh dengan sampah dan orang-orang berjalan tanpa arah. Toko-toko yang menjual makanan telah habis dibobol oleh orang-orang buta. Akhirnya kelompok interniran ini memutuskan untuk singgah di flat rumah dokter dan istrinya, yang keadaannya paling memungkinkan untuk ditempati dibandingkan dengan tempat lainnya. Disanalah mereka singgah selama beberapa hari untuk berteduh dan cukup makan hingga suatu keajaiban muncul. Tiba-tiba saja si pengemudi buta pertama dapat melihat kembali. Disusul dengan dokter dan pasien-pasiennya. Beberapa orang yang berada di luar pun tampak sorak bergembira karena penglihatan mereka telah kembali.

“Kemungkinan kita akan sampai di akhir kebutaan ini,” kata sang dokter.

Demikianlah isi keseluruhan cerita dari Blindness ini. Namun, ada bagian di akhir cerita yang belum terjawab di buku ini dan menimbulkan rasa penasaran saya:

“Mengapa kita menjadi buta?”

“Entahlah, mungkin pada suatu hari nanti kita akan tahu.”

Yap, itulah bagian yang cukup membuat penasaran hahaha. Mungkin akan dijelaskan di buku selanjutnya, yaitu Seeing, Blindness #2. Secara keseluruhan, ceritanya cukup rame dan mengerikan. Mirip seperti cerita dystophia, namun agak berbeda sepertinya. Oke, saya kasih bintang 4 untuk buku ini. Kurang 1 bintang untuk beberapa bagian yang belum terjawab di buku ini😀.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s