Pengalaman Microteaching

Halo~ kali ini saya ingin update tentang sesuatu yang baru *wiiih*. Yap, sekalian mengisi waktu luang saya setelah melalui KP dan sebelum melalui ujian komprehensif. Padahal sebelumnya saya ingin update tentang cerita KP, tapi sepertinya nanti sajalah hahaha soalnya sudah terlalu lama jadi perlu diingat ingat lagi. Yang akan saya tulis disini baru saja kejadiannya waktu hari minggu lalu, jadi kan belum terlalu lama dan saya juga masih ingat, yah walaupun ceritanya ga berhubungan sama kuliah saya sih hehe.

Jadi ceritanya, waktu hari minggu lalu itu saya menghadiri sebuah tahapan microteaching yang diselenggarakan oleh salah satu bimbingan belajar di Bandung. Pengertian microteaching sendiri adalah simulasi mengajar yang dilakukan secara sederhana dan singkat dan dalam skala yang kecil. Jadi, bagaimana ceritanya saya bisa sampai menghadiri tahapan microteaching tersebut?

Bermula dari hanya sekedar iseng, membaca poster yang disebar melalui sebuah grup L*NE oleh salah satu teman saya. Tertera bahwa isi poster tersebut pada intinya sedang membuka lowongan pengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar. Dan berlanjutlah keisengan saya untuk mendaftar. Ternyata yang menerima pesan saya cukup fast response. Akhirnya saya pun menyetujuinya setelah membaca SOP yang diberikan dan pada akhirnya mengisi formulir. Beberapa minggu kemudian, saya dihubungi kembali untuk melakukan tahapan microteaching.

Hari minggu itu saya berangkat ke lokasi yang dituju sendiri. Saya harus mencari cari alamatnya terlebih dahulu, beruntung lokasinya tidak terlalu asing bagi saya jadi mudah untuk ditemukan. Padahal biasanya saya selalu mencari teman untuk diajak, kali ini tidak. Saya ingin mencobanya sendiri. Bahkan ibu saya pun bertanya, “Kamu pergi ke sana sendiri?” Hahaha mungkin tidak biasanya saya pergi sendiri seberani itu, dan ke tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya.

Ketika saya dating, baru ada 1 orang di sana. Seperti biasa yang dilakukan, kami berkenalan dan berbincang-bincang sambil menunggu pengujinya datang. Ternyata pengujinya datang sekitar jam 10 lebih (seharusnya acara mulai jam 10) karena baru pulang dari acara undangan, terlihat dari baju tetehnya yang masih pakai kebaya hahaha. Tahapan microteaching pun langsung dimulai. Sebelum melakukan microteaching, saya diberi sebuah tes kecil yaitu mengerjakan beberapa soal essai matematika (karena pelajaran yang saya pilih adalah matematika). Jujur saya, waktu saya mengerjakannya, saya cukup banyak lupa apalagi rumus-rumusnya sehingga saya harus sedikit mengingat-ingat kembali, membuktikan rumus yang saya ingat karena takut salah. Teman sebelah saya, mengerjakan soal biologi karena ia sendiri berasal dari jurusan biologi UPI.

Akhirnya tes selama 30 menit itupun berakhir, dilanjutkan ke microteaching. Di sana, saya disuruh untuk melakukan simulasi mengajar dengan penguji berpura-pura sebagai muridnya. Saya bebas untuk memilih materi yang akan disampaikan. Di sana, kebetulan tidak ada buku matematika sehingga saya harus mengingat ingat terlebih dahulu materi apa saja yang ada di SMA. Agak sedikit sulit apabila mengajar tanpa buku pegangan. Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih materi trigonometri yang saya ingat sampai sekarang.

Awalnya, saya cukup grogi karena melihat teman sebelah saya yang sudah mulai simulasi terlihat sangat lancar. Mungkin karena ia sudah terbiasa melakukan simulasi mengajar di kampusnya. Akhirnya saya pun mulai tanpa menghiraukan teman sebelah saya. Di tengah-tengah saya mengajar, penguji memberikan banyak sekali pertanyaan. Saya sempat blank, ketika ditanya mengenai aplikasi trigonometri dalam kehidupan. Dan saya baru kepikiran jawabannya setelah selesai microteaching hahaha.

Akhirnya microteaching pun selesai. Penguji pun memberi ulasan/komentar dari hasil saya mengajar tadi. Beberapa poin yang saya dapat yaitu: pertama, penyampaian materi saya yang terlalu to the point, karena seharusnya diceritakan terlebih dahulu darimana asal muasal trigonometri agar siswa mendapatkan bayangan dan pemahaman awal mengenai materi yang disampaikan. Kedua, yaitu pemberian contoh aplikasi pada kehidupan. Yap, memang tadi saya blank ketika ditanya mengenai hal tersebut hehe. Ketiga, bagaimana menghadapi siswa ketika siswa mulai bosan belajar, karena kita harus dapat membujuk dan mengingatkan siswa tersebut untuk kembali focus dalam pelajaran. Keempat, tentu saja penyampaian materi yang tepat agar siswa mengerti apa yang kita sampaikan. Ohya, terakhir penguji berkomentar kalau ia suka cara mengajar saya yang lembut hahahaha. Saya sendiri ingin ketawa waktu mendengarnya :)). Jadi, poin terpenting menurut saya dalam mengajar yaitu komunikasi dan tentu saja kesabaran hahaha.

Setelah microteaching selesai, saya sempat berbincang sebentar dengan teteh penguji yang ternyata baru saja lulus wisuda Juli kemarin, jurusan Kimia ITB. Waah, satu kampus dengan saya ternyata hahaha, dunia memang sempit. Setelah mengetahui jurusan saya, teteh penguji menyebutkan salah satu nama teman saya yang ternyata satu organisasi dengan tetehnya. Setelah berbincang-bincang saling berbagi pengalaman mengajar, saya pun diperbolehkan untuk pulang. Pelajaran yang saya dapat dari hal ini adalah bagaimana keberanian saya untuk berinteraksi dengan orang yang baru saya temui, bagaimana memulai percakapan dan memunculkan topik pembicaraan dengan orang lain, yang dulunya saya hanya menjawab ketika ditanya hahaha. Saya memang terlalu introvert, jadi agak canggung ketika berbicara dengan orang asing hahaha.

Hmm….apalagi ya yang kurang. Rasanya dicukupkan sampai disitu saja, kalau keingetan ada yang kurang nanti bias ditambahkan🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s