Review: Hujan

jual-novel-hujan-karya-tere-liye

Tentang Persahabatan

Tentang Cinta

Tentang Perpisahan

Tentang Melupakan

Tentang Hujan

Buku Hujan ini merupakan salah satu buku karya Tere Liye. Buku yang dapat saya selesaikan hanya dalam waktu 3 hari karena saya tidak bisa berhenti saat membacanya hahaha. Saya selalu penasaran akan setiap cerita pada lembaran berikutnya. Bukunya memang sangat menarik dengan tata bahasa yang mudah dipahami sehingga membuat pembacanya seolah merasakan menjadi tokoh utamanya, ditambah dengan alur maju mundur yang tersusun sangat rapi.

Biasanya di belakang buku selalu ada sinopsisnya, namun pada novel ini hanya terdapat beberapa kata seperti yang sudah saya tuliskan di atas yang membuat semakin penasaran. Awalnya, saya pikir buku ini hanya bercerita tentang persahabatan atau percintaan seorang remaja biasa. Namun ternyata isi cerita yang disuguhkan sang penulis pada buku ini sangatlah berbeda. Novel ini dipadu dengan unsur dystophia dan teknologi masa depan, seperti halnya cerita dalam buku serial Divergent, Maze Runner, atau Hunger Games. Jujur saja, saya baru menemukan novel Indonesia bertemakan unsur dystophia seperti ini hahaha.

Jika dilihat dari beberapa kata yang tercetak di belakang buku, sebenarnya sangat menggambarkan isi dari novel ini—persahabatan, cinta, perpisahan, melupakan, dan hujan. Fokus yang terdapat pada novel ini tentu saja terdapat dalam kata “hujan”. Ada apa sebenarnya dengan hujan?

Spoiler:

Cerita berawal dari kejadian di masa kini, dimana seorang gadis berusia 21 tahun sedang duduk di sebuah ruangan modern dimana terdapat sebuah alat untuk menghapus memori. Ia ingin menghapus kenangan tentang hujan. Kemudian cerita kembali ke masa lalu, ketika gadis itu berusia 13 tahun. Ia baru saja akan berangkat ke sekolah bersama ibunya dengan menggunakan kereta bawah tanah ketika sebuah bencana alam gunung meletus skala 8 terjadi secara tiba-tiba. Kota tempat tinggal gadis itu terkena dampak gempa bumi yang cukup parah. Bagian bawah tanah pun ikut hancur sehingga sebagian besar yang berada di dalam kereta bawah tanah tidak selamat, kecuali si gadis dengan seorang anak laki-laki berusia 15 tahun yang dapat selamat dari reruntuhan di dalam bawah tanah. Namun naas, ibu si gadis tidak sempat menyelamatkan diri naik ke permukaan dan terjebak bersama penumpang lainnya.

Kota sudah rata denga tanah ketika si gadis dengan anak laki-laki itu sampai di permukaan. Tempat tinggal mereka pun tidak ada yang bersisa. Beruntunglah ibu dari anak laki-laki itu selamat ditemukan sedang berada di tokonya—tertimpa reruntuhan—walaupun kedua kakinya harus diamputasi. Akhirnya mereka terpaksa harus tinggal di posko pengungsian terdekat. Anak gadis itu bernama Lail, sedangkan anak laki-laki itu bernama Esok.

Hari demi hari berlalu di posko pengungsian. Hubungan mereka semakin dekat, seperti halnya seorang sahabat. Esok sering sekali menolong Lail. Dimana ada Esok, pasti disitu ada Lail. Mungkin Esok sudah menganggap Lail seperti adiknya sendiri, karena keempat saudara laki-lakinya sudah meninggal tertimbun bersama penumpang lainnya di kereta bawah tanah.

Satu tahun berlalu setelah terjadi bencana itu. Sebagian pengungsi di posko pindah ke rumah masing-masing, sebagian lainnya yang sudah tidak punya keluarga tinggal di panti sosial. Lail tinggal di panti sosial, namun Esok akan diadopsi bersama ibunya oleh seorang Wali Kota sehingga mereka tidak tinggal di panti sosial bersama Lail. Pada akhirnya pertemuan mereka yang bermula setiap hari menjadi sebulan sekali. Di sela-sela cerita, diceritakan pertemuan Lail dan Esok. Secara tidak sengaja mereka akhirnya dipertemukan.

Beberapa tahun kemudian, Esok akhirnya masuk ke perguruan tinggi sedangkan Lail masih melanjutkan sekolahnya. Esok bertemu dengan Lail dan menceritakan bahwa ia akan kuliah di ibu kota sehingga kesempatan mereka untuk betemu akan berkurang, menjadi setahun sekali. Lail berkata bahwa mereka masih dapat berkomunikasi lewat telfon, namun hal tersebut tak kunjung dilakukannya karena Lail takut mengganggu kesibukan Esok. Begitupun halnya dengan Esok yang tidak pernah menelepon Lail karena kesibukannya. Pada akhirnya, untuk melupakan rasa rindunya, Lail mencari kesibukan sendiri dengan mendaftar menjadi tim relawan bersama teman sekamarnya, Maryam.

Beberapa tahun berlalu seiring dengan fenomena alam yang mulai menampakkan perubahan. Iklim bumi berubah total. Daerah kota Lail yang berada di iklim tropis menjadi bersuhu 5 derajat, sedangkan daerah subtropis mengalami perubahan yang cukup parah, hingga suhu berada di bawah 0 derajat. Seluruh dunia mengalami musim dingin ekstrem. Akhirnya, pemimpin dari negara subtropis mengirimkan pesawat ulang alik untuk meluncurkan gas sulfur dioksida ke atmosfer. Alhasil, setelah peluncuran tersebut negara subtropis menjadi kembali normal, namun negara tropis yang terkena dampaknya. Negara tropis menjadi mengalami musim dingin ekstrem, bahkan salju yang sebelumnya tidak pernah turun di kota Lail menjadi dipenuhi salju. Musim dingin terus berlangsung hingga kegiatan di kota Lail lumpuh total. Pemimpin pada akhirnya tidak tinggal diam, mereka segera meluncurkan gas anti sulfur dioksida ke atmosfer. Alhasil, negara tropis kembali ke suhu normal dan kegiatan kembali berjalan seperti semula.

Tak terasa, Esok sudah lulus dari perguruan tinggi di ibu kota. Lail mendapat undangan dari ibu esok untuk hadir di acara wisudanya. Lail datang ditemani dengan sahabatnya, Maryam. Namun, Lail tidak mendapat kesempatan berbincang dengan Esok disana. Esok lebih banyak berbincang dengan keluarganya, bahkan dengan Claudia—saudara tiri esok yang jauh lebih cantik dan baik. Hal tersebut tentu saja membuat Lail merasa cemburu hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari acara.

Lail baru menyadari bahwa dirinya tidak menganggap Esok hanya sebagai kakaknya, namun ia mempunya perasaan lebih pada Esok. Akhirnya, ia menetapkan hatinya untuk melupakan Esok. Namun, hal tersebut gagal dilakukannya ketika Esok tiba-tiba datang tanpa diberitahu ke acara wisuda Lail. Mereka kembali menghabiskan waktu bersama dengan berjalan keliling kota, namun Esok berkata bahwa ini adalah terakhir kalinya mereka akan melihat kota ini. Esok menjelaskan bahwa bumi akan mengalami musim panas ekstrem akibat peluncuran gas anti sulfur dioksida. Lail baru saja menyadari bahwa ternyata suhu yang kembali normal itu tidak biasa. Ia baru menyadari bahwa di langit tidak lagi terdapat awan sedikitpun, yang berarti hujan tidak akan pernah turun lagi. Bumi akan semakin panas hingga bersuhu 60 hingga 80 derajat dalam 50 tahun kedepan. Selama ini, kuliah Esok ternyata hanyalah sebuah kamuflase. Ia selama ini sedang mengerjakan proyek kapal yang dapat menampung 10.000 penduduk bumi yang dapat terbang jauh di atas lapisan troposfer selama 100 tahun hingga iklim bumi kembali normal. Penduduk yang dapat menaiki kapal itu akan dihubungi secara acak berdasarkan ras dan genetik. Namun, Lail teryata tidak termasuk ke dalam penumpang tersebut, begitu pula halnya dengan Wali Kota. Lail diminta Esok untuk tidak memberitahukan hal ini pada siapapun kecuali Maryam dan meminta Lail untuk menunggu hingga Esok menghubunginya kembali.

Beberapa minggu kemudian, Wali Kota mendatangi Lail untuk memohon agar memberikan tiket miliknya pada Claudia—putrinya—karena Esok memiliki dua tiket—satu diperoleh karena jasanya membuat kapa tersebut, satu karena dipilih secara acak muncul nama Esok. Lail sebenarnya tidak ingin menaiki kapal itu, ia hanya ingin tahu apakah Esok mencintainya. Ia dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit. Hingga satu hari sebelum pesawat diluncurkan, Wali Kota kembali menemui Lail dan mengucapkan terima kasih bahwa akhirnya Claudia mendapatkan tiket itu, padahal Lail tidak pernah dihubungi oleh Esok hingga saat ini. Hal tersebut membuat Lail ingin sekali menghapus ingatannya tentang hujan, dan tentu saja Esok. Ia tidak dapat menerima kenyataan bahwa pada akhirnya Esok memilih Claudia untuk berangkat menaiki kapal itu, bukan dirinya.

Pada akhirnya Lail memutuskan untuk pergi ke tempat untuk menghapus ingatan. Ia baru saja akan menghapus ingatan saat Maryam pada akhirnya menghubungi Esok untuk meminta penjelasan. Terjadi kesalahpahaman antara Lail dan Esok. Ternyata, Esok tidak berangkat menaiki kapal itu, namun ia menyerahkan tiketnya pada ibunya sehingga Claudia berangkat bersama ibunya. Esok sedang dalam perjalanan pulang ke kotanya ketika Maryam menghubunginya. Esok cepat-cepat menuju lokasi Lail dan Maryam ketika mengetahui hal tersebut, namun terlambat. Lail sudah selesai menghapus ingatannya. Ia tidak melupakan Maryam, namun Esok? Melegakan bahwa Lail masih ingat dengannya karena di saat saat terakhir, Lail bertindak untuk memeluk erat-erat—menerima—seluruh kenangan pahit tentang Esok yang berwarna merah sehingga mengubahnya menjadi kenangan bewarna biru. Pada akhirnya ketika dilakukan penghapusan ingatan berwarna merah, Lail sudah tidak punya memori berwarna tersebut.

Di akhir cerita, sebulan kemudian mereka menikah, di bawah musim panas yang terik tanpa awan. Esok berjanji akan selalu bersama Lail melewati musim panas yang panjang ini.

Huaaa cukup sedih memang endingnya. Mereka pada akhirnya dapat bersama, namun pada akhirnya akan mati secara perlahan. Perpaduan antara happy ending dengan sad ending😦. Sebenarnya saya masih penasaran cerita selanjutnya, apakah pada akhirnya mereka akan mati atau ternyata Esok membuat proyek bawah tanah agar manusia dapat bertahan selama 50 tahun sehingga mereka dapat bertahan hidup? Entahlah tapi saya berharap endingnya seperti itu😦. Hmmm… tidak ada buku Hujan #2 ya hahaha.

Beberapa kutipan yang cukup menarik dalam buku ini:

“Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa.”

“Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.”

“Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”

Secara keseluruhan, ceritanya sangat rame. Yang saya rasakan setelah membaca adalah perpaduan antara senang dan sedih. Cerita dan setting alurnya saja sampai terbayang bayang hingga sekarang, seolah saya masuk ke dalam jalan ceritanya, seolah saya menjadi seroang Lail :)). Untuk itu, saya akan beri 5 bintang untuk buku ini.

 

Pengalaman Microteaching

Halo~ kali ini saya ingin update tentang sesuatu yang baru *wiiih*. Yap, sekalian mengisi waktu luang saya setelah melalui KP dan sebelum melalui ujian komprehensif. Padahal sebelumnya saya ingin update tentang cerita KP, tapi sepertinya nanti sajalah hahaha soalnya sudah terlalu lama jadi perlu diingat ingat lagi. Yang akan saya tulis disini baru saja kejadiannya waktu hari minggu lalu, jadi kan belum terlalu lama dan saya juga masih ingat, yah walaupun ceritanya ga berhubungan sama kuliah saya sih hehe.

Jadi ceritanya, waktu hari minggu lalu itu saya menghadiri sebuah tahapan microteaching yang diselenggarakan oleh salah satu bimbingan belajar di Bandung. Pengertian microteaching sendiri adalah simulasi mengajar yang dilakukan secara sederhana dan singkat dan dalam skala yang kecil. Jadi, bagaimana ceritanya saya bisa sampai menghadiri tahapan microteaching tersebut?

Bermula dari hanya sekedar iseng, membaca poster yang disebar melalui sebuah grup L*NE oleh salah satu teman saya. Tertera bahwa isi poster tersebut pada intinya sedang membuka lowongan pengajar di salah satu lembaga bimbingan belajar. Dan berlanjutlah keisengan saya untuk mendaftar. Ternyata yang menerima pesan saya cukup fast response. Akhirnya saya pun menyetujuinya setelah membaca SOP yang diberikan dan pada akhirnya mengisi formulir. Beberapa minggu kemudian, saya dihubungi kembali untuk melakukan tahapan microteaching.

Hari minggu itu saya berangkat ke lokasi yang dituju sendiri. Saya harus mencari cari alamatnya terlebih dahulu, beruntung lokasinya tidak terlalu asing bagi saya jadi mudah untuk ditemukan. Padahal biasanya saya selalu mencari teman untuk diajak, kali ini tidak. Saya ingin mencobanya sendiri. Bahkan ibu saya pun bertanya, “Kamu pergi ke sana sendiri?” Hahaha mungkin tidak biasanya saya pergi sendiri seberani itu, dan ke tempat yang belum pernah saya datangi sebelumnya.

Ketika saya dating, baru ada 1 orang di sana. Seperti biasa yang dilakukan, kami berkenalan dan berbincang-bincang sambil menunggu pengujinya datang. Ternyata pengujinya datang sekitar jam 10 lebih (seharusnya acara mulai jam 10) karena baru pulang dari acara undangan, terlihat dari baju tetehnya yang masih pakai kebaya hahaha. Tahapan microteaching pun langsung dimulai. Sebelum melakukan microteaching, saya diberi sebuah tes kecil yaitu mengerjakan beberapa soal essai matematika (karena pelajaran yang saya pilih adalah matematika). Jujur saya, waktu saya mengerjakannya, saya cukup banyak lupa apalagi rumus-rumusnya sehingga saya harus sedikit mengingat-ingat kembali, membuktikan rumus yang saya ingat karena takut salah. Teman sebelah saya, mengerjakan soal biologi karena ia sendiri berasal dari jurusan biologi UPI.

Akhirnya tes selama 30 menit itupun berakhir, dilanjutkan ke microteaching. Di sana, saya disuruh untuk melakukan simulasi mengajar dengan penguji berpura-pura sebagai muridnya. Saya bebas untuk memilih materi yang akan disampaikan. Di sana, kebetulan tidak ada buku matematika sehingga saya harus mengingat ingat terlebih dahulu materi apa saja yang ada di SMA. Agak sedikit sulit apabila mengajar tanpa buku pegangan. Akhirnya, saya memutuskan untuk memilih materi trigonometri yang saya ingat sampai sekarang.

Awalnya, saya cukup grogi karena melihat teman sebelah saya yang sudah mulai simulasi terlihat sangat lancar. Mungkin karena ia sudah terbiasa melakukan simulasi mengajar di kampusnya. Akhirnya saya pun mulai tanpa menghiraukan teman sebelah saya. Di tengah-tengah saya mengajar, penguji memberikan banyak sekali pertanyaan. Saya sempat blank, ketika ditanya mengenai aplikasi trigonometri dalam kehidupan. Dan saya baru kepikiran jawabannya setelah selesai microteaching hahaha.

Akhirnya microteaching pun selesai. Penguji pun memberi ulasan/komentar dari hasil saya mengajar tadi. Beberapa poin yang saya dapat yaitu: pertama, penyampaian materi saya yang terlalu to the point, karena seharusnya diceritakan terlebih dahulu darimana asal muasal trigonometri agar siswa mendapatkan bayangan dan pemahaman awal mengenai materi yang disampaikan. Kedua, yaitu pemberian contoh aplikasi pada kehidupan. Yap, memang tadi saya blank ketika ditanya mengenai hal tersebut hehe. Ketiga, bagaimana menghadapi siswa ketika siswa mulai bosan belajar, karena kita harus dapat membujuk dan mengingatkan siswa tersebut untuk kembali focus dalam pelajaran. Keempat, tentu saja penyampaian materi yang tepat agar siswa mengerti apa yang kita sampaikan. Ohya, terakhir penguji berkomentar kalau ia suka cara mengajar saya yang lembut hahahaha. Saya sendiri ingin ketawa waktu mendengarnya :)). Jadi, poin terpenting menurut saya dalam mengajar yaitu komunikasi dan tentu saja kesabaran hahaha.

Setelah microteaching selesai, saya sempat berbincang sebentar dengan teteh penguji yang ternyata baru saja lulus wisuda Juli kemarin, jurusan Kimia ITB. Waah, satu kampus dengan saya ternyata hahaha, dunia memang sempit. Setelah mengetahui jurusan saya, teteh penguji menyebutkan salah satu nama teman saya yang ternyata satu organisasi dengan tetehnya. Setelah berbincang-bincang saling berbagi pengalaman mengajar, saya pun diperbolehkan untuk pulang. Pelajaran yang saya dapat dari hal ini adalah bagaimana keberanian saya untuk berinteraksi dengan orang yang baru saya temui, bagaimana memulai percakapan dan memunculkan topik pembicaraan dengan orang lain, yang dulunya saya hanya menjawab ketika ditanya hahaha. Saya memang terlalu introvert, jadi agak canggung ketika berbicara dengan orang asing hahaha.

Hmm….apalagi ya yang kurang. Rasanya dicukupkan sampai disitu saja, kalau keingetan ada yang kurang nanti bias ditambahkan🙂.

Hadiah [28-08-2015]

Sudah lama tidak update huhuhu baru kesampean, sampai bingung mau update apa dulu wkwkwk. Update ini dulu aja deh, hadiah-hadiah waktu ultah tahun kemarin😀 (28-08-2015).

Jeng-jeng….

Ini foto-fotonya dulu, tapi ga semua hehe ._.v ada yang ga kepoto….

Hadiah

Hadiah [28-08-2015]

Jelasin yang ada di foto dulu deh wkwkwk. Yang foto pertama hadiah hasil surprise dari hmm pake inisial aja ya: IAR, DDN, FS, YAN, MA, dan AIM. Jadi ceritanya ini surprise nya telat gitu dan sebenernya aku udah tau dari awal kalau mereka mau nyurprise-in (gagal ceritanya). Tapi ya aku pura-pura gatau aja kan kasian kalau udah ketahuan gagal duluan. Ya ujung-ujungnya aku bilang sih kalau udah tau duluan :)). Abisnya mereka kurang bisa menyembunyikan rencananya (?) dan aku ga tertipu :)). Jadi dehh yaudahlahyah yang penting kue nya enak (atau enek) wkwkwk kebanyakan cokelat. Daaan di kue nya ada tulisannya: “Adin, keep ambis & keep strong”. Hmm jadi berasa keliatan banget ambisnya padahal kan ngga hahaha. Terus yang foto kedua yaa terusan foto pertama yang tadi, udah surprise selesai IAR langsung ngasih hadiah itu (awalnya dibungkus hadiahnya). Gatau kenapa ngasih buku itu dan belum dibaca, mungkin lagi diskonan (?) (jahat wkwkwk) tapi makasih bukunya😀. Selesai deh surprise hari itu hehe makasih yang udah surprise-in wkwkwk malu banget padahal udah gede :)).

Lanjut ke foto yang ketiga…. yah kefoto mukanya wkwkwk. Dari MTN, ngasihnya pas hari ultah banget pagi-pagi sebelum masuk kelas arsikom di GKU Timur. Terus ngasihnya barengan sambil ngebalikin solder sama multimeter jadi berasa banyak hadiahnya kan dikantongin semua pake tas. Mana di cie in lagi di kelas gara-gara bawa banyak itu ahhh padahal kan hadiahnya mah kecil -_-. Hadiahnya aku buka di rumah wkwkwk, aku sempet ngira isinya cokelat abisnya bunyi kayak butiran cokelat gitu waktu aku kocok-kocok (?) (untung ga rusak). Eh pas dibuka bukan deng :)). Yee isinya foto-foto dari jaman dulu yang masih polos sampe pas sebelum ngasih hadiah (masih polos juga haha). Tapi…. atuhlah foto akunya yang di tengah kenapa yang itu😦 kayak bocah huaaa :((. Yaudahlahyah tapi makasih hadiahnya jadi bisa disimpen kan kalau cokelat langsung abis dimakan😀.

Nah, terakhir foto keempat siapa ituu? Masha! Gangerti kenapa bisa kepikiran ngasih boneka masha😦. Padahal aku ga ngira itu hadiahnya wkwkwk. Tapi sekarang udah tau sih kenapa haha gara-gara ade aku mirip masha (?) emang -_-. Dari M, ngasihnya telat banget ini mah :)) tapi bilang mau ngasihnya udah dari jauh heuuu gimana sih! Awalnya sempet takut serem gitu waktu ngasihin hadiahnya, ga dibungkus pula dan langsung dikasihin begitu saja .-.. Aku sempet ngira itu kayak boneka bayi yang botak yang matanya bisa kedip-kedip itu loh kan serem aku jadi takut huaaa maap abis bahannya kan sama-sama karet (mukanya). Tapi pas diliat-liat eh ngga deng ga serem wkwkwk (tapi diliat-liatnya pas nyampe rumah wahahaha). Jadinya malah lucu dan gemesin🙂 (suka aku jewer hahaha). Ohya, bonekanya suka aku laundry loh, sama kayak boneka-boneka yang lain (penting). Dah deh itu bingung mau nulis apalagi wkwkwk. Makasih hadiahnya😀.

Sebenernya ada lagi surprise dari geng cewe-cewe pas TPB. Ada DAR yang berhasil jailin aku soalnya aku ngira dia ada di Bandung dan ngajak ketemuan eh taunya dia ga di Bandung. Sebenernya udah tau lagi dari awal kalau mau di surprise-in (yah gagal lagi surprise nya wkwkwk). Yang nyurprise-in nya bukan DAR (beneran ketipu kalau yang ngira dia ada di Bandung mah haha), tapi ada DDN (lagi, wiih 2 kali surprise-in aku :”), ZF, FL, PK, JH, sama VDS, tapi sebenernya harusnya ada 9 dan 1 ketinggalan yaitu HA. Pertama kali di surprise-in sama mereka hehe (biasanya aku yang surprise-in salah satu dari mereka). Yee malu juga sih abisnya surprise nya di jalan deket kkp sambil diliatin orang-orang wkwkwk kan malu udah gede padahal :)). Ohya surprise nya bukan kue bolu gitu tapi sama es krim conello biji gara-gara katanya ga keburu beli kue soalnya takut akunya keburu pulang hehe. Terakhir makasih lagi surprise nya😀.

Yee selesai sudah cerita hadiah ultahnya. Mau update yang lain lagi ah tapi nanti hehe😀.

Bhay~

Review: Blindness

Blindness

Seorang pengemudi mendadak buta di tengah lalu lintas kota yang ramai. Seorang bocah, pelacur, pencuri mobil, polisi juga mendadak buta. Bahkan seorang dokter mata yang sedang mendiagnosa penyakit ini pun tidak bisa terhindar dari penyakit aneh yang sama: buta putih. Dunia tak menjadi gelap, tapi justru memutih, seperti susu. Ini adalah penyakit menular, pejabat tak bernama dan tentara-tentara yang juga tak bernama mencoba untuk mengkarantina mereka. Pemberontakan pun pecah dan neraka segera menghadang.

Lihatlah ke masa depan selagi Anda masih bisa.

 

Buku Blindness ini merupakan salah satu buku karya Jose Saramago. Buku yang terbit pada tahun 1995 dan baru terbit di Indoesia pada bulan November lalu. Bahasa yang digunakan buku ini cukup berat, mungkin karena buku lama dan membuat saya membacanya berulang kali untuk memahami maksudnya sehingga membutuhkan waktu 3 hari bagi saya untuk menamatkan isi buku ini. Banyak ungkapan-ungkapan yang diberikan oleh penulis yang merupakan salah satu keunggulan dari gaya penulisan sang penulis.

Dilihat dari sinopsisnya, buku ini bercerita tentang keadaan dunia yang sedang dilanda penyakit kebutaan. Namun hal ini berbeda dengan penyakit kebutaan seperti biasanya, buta ini tidak berwarna hitam, melainkan berwarna putih. Selain itu, penyakit kebutaan ini pun menular. Siapapun yang berada dekat dengan si penderita, tak lama kemudian akan menjadi buta. Seperti yang diceritakan pada buku ini, pada awalnya penyakit kebutaan menyerang salah seorang pengemudi lalu lintas, kemudian kebutaan pun menyebar menyerang orang di sekitarnya.

Hal pertama yang terlintas dalam benak saya ketika membaca sinopsisnya adalah dunia yang mengerikan, dimana semua orang menjadi buta. Bagaimana kehidupan akan berjalan jika semua orang tidak dapat melihat? Oleh karena itu, saya memutuskan untuk membeli buku ini dan tentu saja membacanya. Memang benar, dari awal cerita buku ini langsung menceritakan pada inti permasalahannya, inti dari judulnya. Sesekali penjelasan mengenai latar dan keterangan-keterangan lainnya disisipkan seiring dengan berlangsungnya jalan cerita yang beralur maju ini.

Spoiler:

Cerita berawal dari serangan penyakit kebutaan yang melanda salah seorang pengemudi lalu lintas. Ia tiba-tiba diserang kebutaan dan segera berteriak memberitahu orang-orang bahwa dirinya telah buta, namun ia mengatakan bahwa buta nya berwarna putih. Orang-orang pada saat itu belum terlalu terpengaruh dengan adanya penyakit ini dan masih menganggapnya seperti gejala kesalahan penglihatan seperti biasa yang nantinya akan sembuh dengan sendirinya. Dengan dibantu oleh salah seorang sukarelawan, diantarnya pengemudi itu pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, sukarelawan tersebut meninggalkannya dalam flat nya. Tak lama kemudian, istrinya datang dan mengetahui kejadian terserbut. Mereka baru menyadari bahwa orang yang tadi mengantar si pengemudi buta itu telah mencuri mobilnya. Tak lama kemudian, si pencuri mobil pun ikut-ikutan buta.

Akhirnya si pengemudi buta memeriksakan diri ke dokter mata. Selang beberapa hari kemudian, dokter ahli mata yang memeriksanya menjadi buta, berikut dengan beberapa pasien yang menunggu untuk diperiksa oleh dokter mata tersebut. Kemudian, sang dokter mata tersebut melaporkan kejadian ini sebagia wabah penyakit yang harus diwaspadai kepada menteri kesehatan. Dengan demikian, dilakukan isolasi bagi para penderita kebutaan dan yang diduga telah tertular. Para interniran ini diisolasi dalam sebuah rumah sakit jiwa tidak terpakai dan tidak diperkenankan keluar dari tempat tersebut selama penyembuhan belum diketemukan, dan tentu saja ada tentara yang menjaga di luar gedung. Orang-orang yang pertama diisolasi ini diantaranya adalah si pengemudi, dokter mata, berikut dengan pasien-pasiennya. Namun, ada seroang yang tidak tertular buta, yaitu sang istri dokter.

Hari demi hari berlalu dan penderita buta semakin banyak memenuhi isi bangsal di rumah sakit jiwa. Pada awalnya, keadaan di dalam rumah sakit jiwa masih bisa diorganisir. Semakin banyak penderita baru yang masuk, keadaan semakin ricuh dan terjadilah pemberontakan diakibatkan karena berebut makanan. Pemberontakan antara satu kelompok interniran dan kelompok interniran lainnya tidak dapat dihindari lagi, kemudian muncullah sebuah kebakaran yang menghanguskan sebagian isi dari rumah sakit jiwa. Para interniran panik berlarian. Istri dokter yang tidak buta yang pertama mengetahui bahwa tidak ada lagi tentara yang menjaga di luar, sehingga pada interniran dapat keluar dari gedung. Sebagian yang selamat berhasil keluar dari gedung, sebagian yang tidak terjebak di dalam bersama api yang semakin membara.

Setelah berhasil keluar, kelompok interniran yang dipandu oleh istri dokter yang dapat melihat mulai berjalan menelusuri rumah-rumah lama mereka, mencari tempat tinggal, dan tentu saja makanan. Keadaan di luar gedung tampak lebih mengerikan, karena semua orang telah menjadi buta saat ini. Keadaan kota yang penuh dengan sampah dan orang-orang berjalan tanpa arah. Toko-toko yang menjual makanan telah habis dibobol oleh orang-orang buta. Akhirnya kelompok interniran ini memutuskan untuk singgah di flat rumah dokter dan istrinya, yang keadaannya paling memungkinkan untuk ditempati dibandingkan dengan tempat lainnya. Disanalah mereka singgah selama beberapa hari untuk berteduh dan cukup makan hingga suatu keajaiban muncul. Tiba-tiba saja si pengemudi buta pertama dapat melihat kembali. Disusul dengan dokter dan pasien-pasiennya. Beberapa orang yang berada di luar pun tampak sorak bergembira karena penglihatan mereka telah kembali.

“Kemungkinan kita akan sampai di akhir kebutaan ini,” kata sang dokter.

Demikianlah isi keseluruhan cerita dari Blindness ini. Namun, ada bagian di akhir cerita yang belum terjawab di buku ini dan menimbulkan rasa penasaran saya:

“Mengapa kita menjadi buta?”

“Entahlah, mungkin pada suatu hari nanti kita akan tahu.”

Yap, itulah bagian yang cukup membuat penasaran hahaha. Mungkin akan dijelaskan di buku selanjutnya, yaitu Seeing, Blindness #2. Secara keseluruhan, ceritanya cukup rame dan mengerikan. Mirip seperti cerita dystophia, namun agak berbeda sepertinya. Oke, saya kasih bintang 4 untuk buku ini. Kurang 1 bintang untuk beberapa bagian yang belum terjawab di buku ini😀.

Review: The Kill Order

The Kill Order

               The Kill Order

Sebelum WICKED dibentuk, sebelum Glade dibangun, sebelumThomas memasuki Maze, ledakan sinar matahari menerpa bumi, dan umat manusia terserang penyakit.

Mark dan Trina di sana saat semua itu terjadi, dan mereka selamat. Tapi, selamat dari ledakan matahari adalah hal yang mudah jika dibandingkan dengan apa yang terjadi setelah itu. Sekarang penyakit kegilaan menyebar di Amerika Serikat bagian timur, dan ada yang mencurigakan tentang asal usul penyakit itu. Parahnya lagi, penyakit itu bermutasi, dan semua bukti menunjukan bahwa umat manusia akan bertekuk lutut karenanya.

Mark dan Trina yakin ada cara untuk menyelamatkan manusia yang tersisa sebelum mereka semua terjangkit kegilaan. Mereka bertekad untuk menemukan jalan keluarnya—kalau mereka masih bisa bertahan hidup. Karena di dunia baru yang luluh lantak saat ini, semua nyawa ada harganya. Dan bagi sebagian orang, ada yang dianggap lebih pantas mati alih-alih dibiarkan hidup.

Buku The Kill Order ini merupakan seri prekuel-nya dari seri trilogi Maze Runner. Buku yang cukup rame kalau dibaca menurut saya hahaha. Buku ini memang memberi sebuah cerita baru yang berbeda. Awalnya saya pikir buku ini akan menceritakan kejadian masa lalu yang menimpa Thomas dan Teressa ketika ledakan matahari menyerang dan mengungkap darimana asal mula penyakit itu berasal, dan tentu saja bagaimana WICKED bisa dibentuk. Namun ternyata tidak. Bagian Thomas dan Teressa hanya diceritakan sedikit di bagian awal buku ini (prolog) dan epilog. Keseluruhan cerita ini ternyata terfokus pada peran utama dari seorang anak laki-laki bernama Mark dan seorang gadis bernama Trina yang berjuang untuk bertahan hitup dimulai dari ketika ledakan matahari menyerang hingga mereka berhasil melaksanakan misi terakhir mereka yang akan membawa perubahan besar bagi dunia yang telah luluh lantak akibat ledakan sinar matahari.

Cerita antara Thomas-Teressa memang tidak ada hubungannya dengan cerita Mark-Trina. Namun, dalam buku ini dijelaskan asal mula kejadian ketika ledakan matahari datang dan mengubah segalanya, kemudian bagaimana asal mula virus bernama Flare tersebut muncul yang mengakibatkan Thomas dan teman-temannya harus menjalani segenap tes demi memerangi virus tersebut. Cerita dalam buku ini bersifat alur maju-mundur. Sesekali diceritakan mengenai kejadian di masa lalu Mark ketika dirinya berjuang saat pertama kali ledakan matahari menyerang. Hal tersebut diceritakan dalam bentuk mimpi-mimpi yang dialami Mark dalam tidurnya.

Spoiler:

Berawal dari kehidupan Mark dengan Trina yang sudah hidup dengan tenang di salah satu kawasan pemukiman di atas Pegunungan Appalachian di wilayah barat North Carolina—salah satu tempat yang aman setelah terjadinya ledakan sinar matahari. Mereka dapat selamat sampai ke sana berkat bantuan seroang mantan tentara bernama Alec dan rekan perempuannya bernama Lana. Berikut dengan rekan lainnya bernama Misty, Toad, dan Darnell. Ketenangan mereka tiba-tiba direnggut begitu saja ketika sebuah Berg datang dan meluncurkan serangan anak panah mematikan secara membabi buta. Setiap yang terkena anak panah akan langsung mati, namun mereka semua berhasil selamat. Alec dan Mark akhirnya memutuskan untuk naik ke atas Berg untuk melakukan serangan pada para penembaknya. Mereka berhasil melakukan itu dan akhirnya menjatuhkan Berg di suatu tempat. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali melihat keadaan dan tentu saja pemukiman mereka telah berubah dipenuhi bau busuk dari mayat-mayat yang ditumpuk. Beberapa yang ikut membantu menindahkan mayat justru menjadi terserang sebuah penyakit aneh yang merusak otak dan membuat gila. Darnell yang terkena pertama kali penyakit itu, kemudian disusul Misty, kemudian Toad.

Ada suatu keanehan yang terjadi pada penyakit itu. Pada awalnya, penyakit itu mematikan ketika pertama kali mengenai korbannya. Lama-kelamaan, penyakit tersebut bermutasi sehingga korbannya menjadi mati secara perlahan-lahan. Penyakit tersebut menyebar secara cepat. Mark dan teman-temannya mengira bahwa mereka juga telah tertular penyakit itu. Hal yang sama pun terjadi pada suatu pemukiman di tempat lain. Mayat-mayat ditemukan di sana dan mereka menemukan seorang anak kecil yang tidak sakit walaupun terkena anak panah, bernama Deedee. Mereka membawa anak kecil tersebut untuk ikut dengan mereka.

Sesampainya di hutan dalam perjalanan menuju bunker asal mula Berg tersebut, mereka mendengar suara aneh di kejauhan. Setelah Mark dan Alec pergi untuk melacaknya, situasi semakin memburuk. Orang-orang mulai berpikiran tidak waras dan mulai saling menyerang satu sama lain. Setelah berhasil keluar dari kekacauan itu, Mark dan Alec kembali namun mereka kehilangan Lana, Trina, dan Deedee. Akhirnya Mark dan Alec memutuskan untuk pergi ke bunker Berg tersebut dengan berasumsi bahwa teman-temannya pun sedang bergerak menuju ke sana. Sesampainya di sana, mereka menemukan bunker yang terletak di bawah tanah tersebut. Mereka mendapatkan informasi mengenai apa yang sedang terjadi saat ini dan siapa yang bertanggung jawab atas peluncuran virus-virus ini. Dengan informasi tersebut, mereka tahu kemana sebenarnya tujuan mereka, yaitu menemui pemerintah sementara sebelum semuanya menghilang masuk ke dalam Flat Trans dan meninggalkan dunia di baliknya dalam kegilaan. Namun, sebelum itu mereka harus menemukan ketiga perempuan itu.

Akhirnya Alec menemukan lokasi dimana ketiga perempuan itu berada, di tengah kerumunan orang-orang yang telah terinfeksi penyakit dan telah sepenuhnya gila. Mark dan Alec mencari cara agar dapat membawa ketiga perempuan itu dari kumpulan orang-orang yang terinfeksi. Pada akhirnya mereka memasuki pemukiman dan melakukan serangan dengan menggunakan Transvice (sebuah senjata yang dapat menghilangkan manusia). Namun terlambat, mereka menemukan Lana telah dikerumuni oleh orang-orang gila yang sedang menikamnya, memukulinya, dan mencakarnya. Setelah melenyapkan semua orang di kerumunan tersebut—termasuk Lana—dengan Transvice-nya, mereka memfokuskan pencarian pada Trina dan Lana. Mereka akhirnya menemukan kedua perempuan itu di salah satu rumah. Setelah berjuang cukup panjang dan melelahkan dalam melewati kerumunan orang-orang gila, ahirnya mereka berhasil kembali ke Berg.

Ketika sesampainya di Berg, Mark membuka salah satu tablet pemilik pesawat tersebut dan menemukan sebuah fakta bahwa ternyata penyerangan virus tersebut memang disengaja dan merupakan perintah langsung dari pemerintah sementara (seperti judul dari buku ini yaitu ‘Perintah Membunuh’). Penyerangan virus tersebut terpaksa dilakukan demi mencegah kepunahan ras manusia dengan keadaan semakin menipisnya sumber daya alam yang tersedia. Pada saat itu pun Mark dan Alec tersadar bahwa semua ini akan segera berakhir. Mark tersadar dari perkataan Trina mengenai Deedee yang kebal terhadap virus dan mereka harus mengantarkan anak itu melewati Flat Trans lalu semuanya berakhir, termasuk hidup mereka. Mereka pun sudah mulai merasakan tanda-tanda bahwa sebentar lagi mereka akan sama seperti orang-orang yang terinfeksi dan mulai gila. Akhirnya Alec memutuskan untuk menerbangkan Berg menuju markas pemerintahan, kemudian Mark dan Trina akan turun dan mengantarkan Deedee menuju flat trans. Cerita yang cukup membuat sedih di akhir buku ini, ketika Mark, Trina, dan Deedee mengucapkan kata-kata perpisahan. Akhirnya setelah Deedee berhasil melewati Flat Trans, tinggal tersisa Mark dan Trina serta kerumunan orang terinfeksi yang sedang menuju pintu gedung dimana Flat Trans berada. Berg pun datang mendekat, Alec melaksanakan tugasnya—menabrakkan Berg untuk menghancurhan gedung berikut dengan Flat Trans-nya. Cerita kehidupan Mark dan Trina pun berakhir sampai di sana.

Yap, cerita yang cukup rame walaupun sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Thomas dan Teressa, walaupun tidak berakhir dengan bahagia huhuhu L. Sedih juga karena ceritanya ga ada lagi wkwkwk. Sebenarnya, saya masih belum mendapatkan jawaban dari berbagai pertanyaan yang belum terjawab pada seri trilogi maze runner, yaitu mengenai WICKED. Hmm, saya pikir saya akan menemukan jawabannya di buku ini, namun ternyata buku ini tidak membahas WICKED sama sekali. Yaaah cukup disayangkan memang. Apalagi dengan akhir dari buku prekuel ini yang sangat menggantung. Di akhir buku diceritakan Thomas yang baru saja diambil dari ibunya oleh 3 orang (mungkin dari WICKED) untuk membawa perubahan besar bagi dunia. Yah, setelah itu tidak diceritakan apa-apa lagi tentang Thomas dan WICKED hahaha. Secara keseluruhan, bukunya rame. Saya kasih bintang 4 untuk buku ini. Kurang 1 bintang untuk beberapa pertanyaan yang belum terjawab di seri trilogi-nya hehehe😀.

Udah Lama Ga Post

Hmmm kayaknya udah lama banget deh ga post sesuatu di sini hahaha sudah usang😦. Terakhir nulis aja bulan Januari itu juga nulis tentang Infinite wkwkwk.

Pengen nulis-nulis lagi tapi…. masih keos sama tugas + pr + pre test + post test + praktikum + laprak + dll.

Nanti deh ya, kalau ada waktu nulis-nulis lagi hahaha dengan theme blog yang baru yeee udah ganti theme sekarang ^^. Sebenernya banyak sih yang pengen di post. Pengen post waktu ulang tahun kemaren tanggal 28 Agustus waaa :”.

Yaksudah deh tunggu saja ya semoga aku ada waktu luang buat nge-post he he heee.

Eh, tapi kenapa pengunjungnya nambah terus ya? Orang-orang pada liat apa sih padahal kan isinya geje wkwkwk. Yaksudahlah.

Sekian.